Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Antagonis pria menyukai Portagonis wanita


__ADS_3

Pada pagi hari jam pertama adalah pelajaran olahraga, sangat kebetulan lapangan di gunakan untuk hari ini di gunakan sekaligus oleh tiga kelas yang berbeda.  Meskipun Lapangan sekolah internasional kota Silver itu luas, para guru yang mengajar harus merundingkan apa yang sebaiknya di lakukan oleh kelas mereka.


Pada akhirnya para pengajar memilih untuk membebaskan muridnya untuk melakukan apa saja, selama tidak kabur di Jam pelajaran. Maka dari itu guru olahraga dari kelas Beta mengumpulkan ketiga kelas sebelum mengumumkan keputusan mereka.


“Baiklah semua, karena sangat kebetulan lapangan akan di gunakan oleh tiga kelas sekaligus. Kami memutuskan untuk membedakan kalian melakukan apa saja...” para pelajar yang mendengar ini bersorak kegirangan, ada dari mereka yang langsung ingin pergi, namun itu dihentikan oleh perkataan pengajar.


“Kecuali meninggalkan pelajaran olahraga, jadi semuanya tetap harus beraktivitas di lapangan, jika ada yang kabur kalian semua akan mendapatkan pengurangan nilai,” para pelajar menjadi ribut karena keputusan pengajar.


Pelajar kelas Omega, “Apa-apaan ini? Aku sedang malas bergerak.”


Pelajar kelas Beta, “Apa yang bisa kita lakukan? Apa kalian ingin bermain sepak bola?”


Pelajar kelas Omega, “Kami omega tidak bisa bermain, jumlah kami lebih banyak para gadis.”


Pelajar kelas Beta, “Bagaimana menurut kalian kelas Alpha?”


Pelajar kelas Alpha, “Menurut kalian apa yang bagus kita lakukan? Bermain basket bagaimana?”


Pelajar Alpha lainnya, “Alpha dan Beta aku rasa masih bisa, tapi para omega itu bagaimana? Guru berkata semuanya harus aktif.”


Vivian memperhatikan situasi yang ada, lalu menemukan bahwa kedua protagonis novel ada di lapangan. Vivian kemudian berpikir untuk memanfaatkan momen ini, mendekatkan Kesya dan Kendra.


Jadi Vivian mengangkat tangannya dan terbentuk agar semua perhatian tertuju padanya, seorang dari kelasnya bertanya; “Apa kau memiliki saran, Vivian?”

__ADS_1


Vivian tersenyum lebar, dan hal ini menarik perhatian Kendra lagi. Vivian mengangguk lalu berkata, “Bagaimana jika kita membuat permainan yang semuanya bisa mengikuti?”


Pelajar Beta bertanya, “Permainan seperti apa?”


“Jalan dengan tiga kaki, bagaimana menurut kalian? Tentu saja untuk pasangannya akan di tentukan sesuai dengan nomor masing-masing.”


“Aku rasa itu cukup mengasikkan. Bagaimana menurut kalian?”


Ketiga kelas menyetujui saran Vivian, sehingga ini membuat Vivian semakin bersemangat. Setiap kelas memiliki jumlah 20 orang, jadi Vivian membuat bulatan nomor hingga 30, dan membagikannya pada mereka, mereka yang memiliki nomor yang sama akan menjadi satu tim.


“Mengapa harus melakukan permainan merepotkan itu?” suara Alpha di depan Vivian membuatnya mengangkat kepalanya, dan terkejut. Sejak kapan Kendra ada di depannya? Bukankah tadi masihlah seorang gadis Omega?


Vivian menghela napasnya dan berkata, “Heh, cobalah. Permainan ini sangat seru, kau pasti akan menemukan hal baru atau kau bisa menemukan Omega mu,” setelah berbicara Vivian mengedipkan sebelah matanya pada Kendra, tertawa lalu pergi menemui yang lain.


Kendra menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vivian, dalam pikirannya dia sudah berkata bahwa gadis ini cukup menarik. Kemudian Kendra melihat nomor miliknya dan berkata; “Omega, yah?”


Kesya berdiri diam, dia sama sekali tidak dekat dengan teman sekelasnya, jadi dia agak canggung jika harus bertanya lebih dulu. Vivian memukul dahinya, bagaimana dia bisa lupa kalau Kendra adalah orang yang tidak memperhatikan sekitarnya.


Maka Vivian berencana untuk turun dan membantu keduanya, namun dia tidak jadi melangkah. Vivian melihat Kendra berjalan kearahnya, ada apa ini sekarang? Sesuai rencananya, Kendra seharusnya berjalan ke arah Kesya dan mulai mengobrol tentang hal-hal kecil..


Vivian menatapnya, dan berkata; “Apa yang kau lakukan disini? Apa kau kesulitan mencari pasanganmu? Mau aku bantu?”


Kendra menggeleng dan menyentuh pergelangan tangan Vivian, menariknya sehingga jarak antara keduanya pun jadi menipis, tatapan mata keduanya saling bertemu, kemudian telinga Vivian mendengar Kendra berkata; “Ingin bersamaku.”

__ADS_1


Vivian tersentak kaget, langsung melepaskan tangannya dari Kendra; “Apa yang kau maksud tadi? Aku sudah memiliki teman setim, kau tidak bisa merubah kelompok. Berapa nomormu? Aku bantu kau menemukannya.”


Vivian merebut kertas yang ada di tangan Kendra dan melihat nomor milik pemuda itu, Vivian kemudian tersenyum dan berkata; “Kau tunggu sebentar, aku akan segera kembali.”


Setelah pergi mencari Kesya, Vivian merasakan kesulitan dari luar tetapi para pengawal ini hanya duduk diam disini tampak santai, padahal situasi sekarang sedang di medan perang.


Vivian sudah mencoba mengatur sebaik mungkin, sehingga Kendra dan Kesya satu kelompok. Jadi ketika dia membawa Kesya ke depan Kendra, Vivian merasakan atmosfer disekitar menjadi sedikit buruk.


Ada apa? Vivian merasa bahwa dirinya sudah melakukan yang terbaik untuk jarak mereka dapat, akan tetapi sekarang rasanya agak berbeda. Vivian memperhatikan wajah Kendra yang semakin jelek.


Dalam pikirnya, Vivian mulai membicarakan Kendra yang katanya sejak pagi belum makan. Apakah protagonis pria sedang minum cuka? Tapi pada siapa, tidak mungkin juga Kendra cemburu karena dirinya kan?


Vivian memperhatikan pikiran anehnya, kemudian Vivian langsung mengambil kesempatan ini untuk membiarkan tokoh utama dalam novel bisa saling mengobrol dan berharap Kendra sudah melihatnya dan tidak banyak berkata apapun.


Kesya masih terus menunduk tidak berani untuk menatap Kendra. Di lain sisi Kendra berbaring menatap langit berawan, udara hari ini sangat baik untuk berolahraga. Melihat tingkah Kesya yang seperti ini membuat Kendra berkata; “Apa yang kau lihat? Jangan pernah berpikir tentang hari ini. Kita hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih. Dan Oh, jangan pernah bicara padaku.”


Kesya tidak mengatakan apa-apa pada Kendra, sesuai dengan perintah. Melihat kondisi kesehatan keduanya terlihat baik, namun disini sama sekali tidak ada perkembangan. Vivian jadi sedikit khawatir pada keduanya.


Setelah selesai dengan pembagian kelompok, berikutnya adalah kegiatan untuk menampilkan suara merdu. Akan tetapi tiba-tiba Vivian menyadari pandangan tidak enak dari arah Liam.


Sekarang apa lagi? Antagonis pria dalam novel baru saja menatap tajam pada Kendra dan menyerahkan sekumpulan dokumen yang mungkin harus segera dia tandatangani.


Makan cuka? Mengapa semuanya seperti terjadi dalam satu hari saja? Apakah kakak sudah bangun? Tiba-tiba ketika Vivian kembali mengingat isi novel tersebut, Vivian dikejutkan dengan pernyataan yang baru saja dia sendiri temukan.

__ADS_1


Antagonis pria dalam Novel ABO ini, menyimpan perasaan pada omega malang yang akan mati dengan tragis di akhir cerita nanti. Jadi inilah alasan paling tepat mengapa setelah kematian Kesya di akhir cerita, dan keputusan Liam untuk pindah ke luar negeri semuanya karena ingin mengubur kenangan-kenangan yang sudah dia ciptakan bersama dengan Kesya.


.


__ADS_2