
Sore hari di rumah Kendra, Vivian dengan senang hati semangat untuk belajar, sementara itu si pemilik rumah sedang dilanda kekesalan, sampai sekarang Kendra belum paham, Kenapa Mario dan Liam juga ada disini.
Siang tadi saat jam sekolah selesai, Vivian meminta izin sebentar untuk pergi menemui ayahnya, setelah urusannya selesai, Vivian datang ke rumah Kendra bersama dengan kedua alpha laki-laki.
Vivian berkata bahwa Ayahnya meminta untuk Mario tetap disisi Vivian, tidak bisa meninggalkannya sendiri apa lagi berduaan dengan Kendra. Sementara untuk Liam, Pemuda ini hanya ikut saja, katanya dia bosan jika hanya menunggu Kesya dalam diam.
“Kenapa wajahmu jelek begitu?”
“Urus urusanmu sendiri, paham?”
“Huh? Apa yang bisa aku lakukan disini? sangat membosankan."
“Silahkan pulang kalau begitu, gerbang rumahku masih terbuka.”
“Kau kesal karena tidak bisa berduaan dengan Vivian, kan?”
“...Hum, kenapa kau ada disini? Bukankah kau menempel pada omega mu?”
“Kesya yang meminta aku untuk ikut dengan Vivian, agar aku tidak bosan menunggu, bagaimana denganmu?”
“Aku, kenapa?”
“Tanda permanen, kalian sudah terbentuk kan? Aku bisa merasakan auramu pada Vivian.”
“Ya, kau benar. Tapi sepertinya Vivi, melupakan kejadian itu lagi.”
“Itu karena kau bertindak sepihak lagi kan? kau tidak berubah dari kejadian sebelumnya.”
“...Aku tidak punya pilihan lain, Vivian tidak ingin jujur dan selalu menolak perasaannya."
“Vivi, mungkin belum siap. Apakah kau tidak pernah bertanya padanya hal apa yang membuat dia merasa ragu?”
Kendra menimbang kalimat Liam, lalu hatinya berkata bahwa semua itu benar. Kendra memiliki batas kesabaran, namun dia tidak pernah bertanya pada Vivian tentang hal ini, lagi-lagi dia bertindak dengan egois, meskipun dia sendiri tahu kalau Vivian membutuhkan banyak waktu.
Kendra tidak pernah bertanya apa pendapat Vivian, apakah dia mau tetap berada disisinya, apa yang membuatnya merasa ragu, sehingga tidak ingin jujur pada dirinya sendiri. Bertindak sepihak karena Tidak sabar, dan rasa takut yang terus mendatangi dia setiap malam ketika pikiran buruknya timbul lagi.
Kendra seharusnya mencoba untuk memahami Vivian, Pasti ada sesuatu yang membuat Vivian selalu tidak mau mengakui perasaannya, sebuah beban yang dipikul oleh Vivian dan enggan untuk dia sampaikan.
__ADS_1
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Kendra bertanya pada Liam, jarak mereka cukup jauh dari Mario dan Vivian, sekarang ini mereka berada di taman belakang rumah Leonard
“Carilah waktu yang pas untuk bicara empat mata dengannya. Aku yakin jika Vivian menyukaimu, dia pasti akan mengatakan yang sebenarnya.”
“Kau benar, terima kasih sudah membantu.”
“Tidak perlu berterima kasih, anggap saja ini sebagai balasan kecil padamu karena tidak tertarik pada Omega.”
“Apa hubungannya saran ringan dari my dan aku yang tidak menyukai Omega?”
“Tidak perlu dibahas, tidak penting juga.”
“...Dasar aneh.”
Kendra melirik Vivian yang masih serius mengerjakan latihannya, Vivian lupa dengan adegan saat giginya tertancap di leher Kendra, mungkin kemarin Kendra terlalu banyak mengeluarkan feromon, sehingga membawa pengaruh pada ingatan Vivian.
Kendra kemudian melirik balik ke Mario, Anak ini tidak dapat merasakan keterikatan mereka karena masalah penciumannya pada feromon, sampai kini Mario belum menyelesaikan masalahnya.
Mario tidak ingin menerima bantuan dari Nila, anak itu akan sangat menderita jika melakukannya nanti. Lalu bicara tentang omega yang pernah dia temui, Mario sama sekali tidak memiliki ketertarikan pada mereka.
Bahkan jika di bandingkan dengan Nila, Mario juga pasti akan memilih Nila, meski dia Beta berferomon, Mario sudah sangat mengenal seperti apa Nila karena mereka tumbuh bersama.
Vivian menutup bukunya ketika dia sudah merasa lelah, matanya melirik ke arah Kendra untuk sejenak lalu balik menatap Mario yang sedang melamun, Vivian menjadi penasaran karena Mario sangat jarang seperti ini.
“Bagaimana hubunganmu dengan Nilai?” Vivian bertanya sambil melirik Mario.
“Apa maksudnya? Tentu saja kami teman baik, kenapa kau tiba-tiba bertanya?”
“Oh, baiklah. maafkan aku, ayo ganti topik, bagaimana hubunganmu dengan Mery?”
“Mery? siapa, ah maksudmu si Omega itu? Ada apa dengannya?”
“Tidakkah kalian sering bertemu? bagaimana dia menurutmu?”
“Omong kosong! Kapan aku bertemu dengannya? aku selalu sibuk di restoran.”
,“Jadi itu pernyataan palsu yah?"
__ADS_1
Vivian tidak mendapatkan respon. dari Mario, belakangan ini Vivian mendengar rumor di sekolah kalau Mery berkencan dengan seorang Alpha, jadi Vivian berpikir bahwa alpha tersebut adalah Mario, secara dia tahu kalau Mery menyukai Mario.
Mendengar pernyataan ini juga Vivian merasa lega karena beban di punggungnya sudah terangkat. Ini bagus, artinya Vivian masih memiliki harapan untuk hubungan Mario dan Nila.
“Itu bohong, dari mana kau mendengar berita seperti itu? Aku sekalipun tidak pernah mengajak omega itu bicara lebih dulu, dia yang selalu membuka obrolan garing.”
“Aku hanya mendengarnya dari mulut beberapa pelajar di sekolah tadi. Syukurlah jika kau tidak berhubungan dengannya.”
“Memangnya ada apa dengan Omega itu?”
“Dia teman Stella di masa lalu, Bisa saja otaknya lebih buruk dari Stella yang sudah tobat.”
,“Pantas saja aku tidak memiliki kesan baik padanya saat bertemu.”
Mario memikirkan tentang Mery, si omega perempuan, katanya sih feromonnya mirip seperti milik Dean si omega pria yang tidak.tahu sekarang berada dimana, tapi Mario tidak bisa merasakan feromon lecinya. Memang pada awal Mario mengenal Mery, gadis itu terlihat sangat bersemangat dan dia juga meminta nomor ponsel Mario.
Sering kali mengirim pesan pada Mario, dan mengajaknya untuk bertemu namun Mario akan selalu mengabaikannya. Mario tidak memiliki minat seperti itu, bepergian dengan orang asing itu membuatnya merasa kurang nyaman.
Mungkin karena selalu mendapatkan penolakan, sehingga membuat gadis itu menyerah dan berhenti menghubunginya. Mario senang saat nomor itu berhenti menghubunginya, dan memasukkannya ke dalam daftar hitam.
“Bagaimana untuk Maslaah mu, apakah kau sudah memikirkan tawaran Nila?” Vivian tiba-tiba bertanya dan membuat Mario diam beberapa saat.
“Aku, tidak ingin melakukannya untuk saat ini. Jadi biarkan saja tersimpan di lemari pendingin.”
“Kenapa? apakah kau merasa tidak enak karena selalu menyulitkannya lagi seperti di masa lalu? Nila pasti tidak berpikir seperti itu.”
“Selain karena hal itu, aku tidak ingin menyakitinya terus. Aku lebih baik memilih menjadi Alpha yang tidak bisa mencium feromon dari pada menjadi Alpha yang menyakitinya.”
“Kau... Apakah... Bagaimana pandanganmu tentang Nila? Apakah di hatimu Nila hanya bergelar sebatas teman saja?”
“Dia lebih dari itu, istimewa dan orang yang harus aku lindungi.”
Orang yang harus dilindungi, yah?
.
,
__ADS_1