
Pesta ulang tahun Vivian sudah berakhir tepat pukul dua belas malam, para tamu mulai berpamitan untuk pulang. Teman-teman Vivian sendiri masih tinggal, Tuan tua meminta mereka untuk menginap saja.
Lagi pula ujian semester sudah berakhir, dan sekarang mereka memasuki masa libur selama tiga Minggu kedepannya, pada bagian ini tidak ada yang berbeda dengan dunia aslinya.
Hanya saja jika itu di dunia aslinya, Vivian akan mengisi hari liburnya dengan membantu warung makan Ibunya, atau mencari kerja paruh waktu lain selain di toko buku. Biasanya dai akan bekerja di kafe, membantu di bagian dapur.
Sedangkan di dunia ini, beberapa Minggu sebelum ulang tahunnya, dia sudah mendapatkan hadiah untuk liburan. Memang berbanding terbalik, karena kondisi keluarganya juga terbalik..
Di dunia aslinya dia tidak punya ayah, sementara di dunia ini dia tidak memiliki Ibu. Di dunia nyata, kakeknya sudah meninggal sementara di dunia ini kakeknya masih hidup. Kakeknya hanya memiliki Ibunya sebagai anak tunggal, di dunia ini kakeknya memiliki tiga anak.
Tuan tua melihat Vivian, lalu berkata padanya; “Apa yang sedang kau pikirkan?”
“Tidak kakek, aku hanya tiba-tiba memikirkan Ibu.”
“Apa kau merindukan Ibu? Kita bisa pergi mengunjungi makam Ibu dan nenekmu,”
“Tentu, Ayah,” Vivian tersenyum dan itu di perhatikan oleh Tuan tua.
Malang sekali cucunya ini, Ibunya pergi terlalu cepat karena kondisi tubuhnya yang lemah. Pada saat itu usia Vivian baru 5 tahun, dia tidak tahu apa-apa. Setelah kepergian Ibunya, Ayahnya yang terpuruk lebih menyibukkan diri dengan kerjaan, agar tidak selalu mengingat Ibu Vivian.
Dirinya sendiri, apa pedulinya saat itu? Dia hanya melirik Vivian kecil yang menangis mencari keberadaan Ibunya, Dia tidak pernah menghampiri Vivian, dan menenangkannya.
Hingga, mungkin karena salah satu faktor Inilah yang membuat Vivian tumbuh menjadi anak yang pendiam, bahkan jika sedang bersama dengan keluarganya.
Tuan tua tersenyum ketika mengingat kejadian dua bulan lalu, pada hari Vivian di bedakan. Tuan tua berpikir bahwa mungkin saja Vivian tampak berubah karena benturan yang mengakibatkan ingatan Vivian menjadi buruk.
Kemudian Tuan Tua melirik pada cucu laki-lakinya dan berkata; “Dan kau mengapa pulang tidak bilang-bilang?”
Farel mengernyit dan balas menatap Tuan tua; “Apakah aku harus selalu melapor ketika pulang ke rumah sendiri?”
Farel melihat Tuan Tua, sebenarnya Farel merasa bahwa kedatangannya sendiri agak tiba-tiba, memang ada persiapan dan Farel sudah memberitahu Ibunya akan datang lusa nanti. Akan tetapi ketika dia mengingat hari ini adalah ulang tahun adik sepupunya, dia langsung buru-buru menuju bandara.
“Sudah, mau datang yah datang saja. Tidak perlu melapor padaku, bagaimana kuliahmu?”
“Baik, lancar, Jika tidak aku tidak mungkin disini.”
Tuan tua melihatnya lalu mendengus, memang benar kata orang tempo Doeloe, cucu perempuan lebih menyenangkan dari cucu laki-laki. Membandingkan keduanya, tentu saja secara pribadi Tuan tua selalu merasa kesal jika mengobrol dengan Farel.
“Lalu sampai kapan kau disini?”
“Apa kakek tidak suka aku disini?”
__ADS_1
Lihat kan! Pertanyaannya di jawab dengan pertanyaan, entah ini salah kalimatnya atau memang Farel yang mau menambah pasokan darahnya.
“Kak, Kakek hanya bertanya mengapa kau menjawab dengan memberi pertanyaan? Mana ada kakek yang tidak menginginkan kehadiran Cucunya,” Suara Vivian membuat Farel diam, dan Tuan tua diam-diam bersorak dalam hatinya.
“Baiklah, aku rencana akan menghabiskan liburanku disini.”
“Itu bagus, kakak kau bisa menemani kakek di rumah.”
“Eh, apa kau tidak akan di rumah?”
“Aku juga, tapi tidak untuk satu Minggu kedepan.”
“Mengapa? Apakah kau memiliki sesuatu yang mendesak?”
Vivian menggeleng, dan berkata; “Tidak ada, sebenarnya kakek memberikan aku empat tiket liburan ke kota Gold, jadi aku akan pergi bersama teman-teman ku.”
“Kapan kau berangkat?”
“Mungkin Lusa atau besok, kau juga tidak tahu kak. Kami masih harus membahasnya lagi.”
Baiklah setelah mendengar ini Farel mengangguk dan tersenyum, kemudian dia mengelus kepala Vivian, seperti yang sering dia lakukan saat muda dulu. Vivian yang mendapatkan perlakukan seperti itu, sedikit kaget namun itu tidak lama.
Vivian menikmatinya sambil memakan kue ulang tahunnya, lalu dengan tiba-tiba Chihuahua nongol tepat dibawah kakinya dan berkata; [Tuan Rumah! Tuan Rumah! Berhentilah menabur bubuk cabe.]
[Anda bisa menghabiskan poin keluarga anda, Ting...Ting... Poin misi keluarga dikurang -5 total poin sekarang sebanyak 40. Tuan mohon perhatikan Antagonis.]
Mata Vivian melotot, seperti akan terlempar keluar. Kue di garpu miliknya jatuh kelantai, sehingga Vivian mencuri perhatian keluarganya, Alexis memberikan minum pada Vivian.
“Ada apa, Vian?” tanyanya.
“Tidak ayah, aku hanya tiba-tiba tersedak karena terlalu terburu-buru.”
“Lain kali, lakukan dengan santai. Sudah ada orang yang meninggal karena tersedak.”
“!!!”
Vivian kembali melirik Chihuahua dan bertanya; “Mengapa yang sebelumnya di potong -20 sementara sekarang hanya -5?”
[Tuan, poin yang sebelumnya itu di kumpulkan, berapa kali Anda membuat karakter antagonis tidak menyukai anda.]
Tidak adil, Vivian mendengus dalam hatinya. Mengapa hanya pada Stella itu berpengaruh, bahkan sampai nilai berada di bawah 50? Apa hanya karena Stella adalah karakter antagonis dalam cerita aslinya, sehingga itu berpengaruh pada poin Vivian.
__ADS_1
“Aku mana tahu, lagi pula menatap dia begitu cemburuan? Padahal dulu Vivian asli tidak pernah merasa cemburu ketika Stella di manja.”
[Itu karena dia antagonis, dia suka menyiksa orang.]
“....”
Hening untuk sejenak, Kemudian Vivian melihat bahwa Farel kembali melirik Kendra yang sedang berkumpul dengan teman-temannya yang lain, lalu berkata; “Apakah orang yang bernama Kendra itu adalah pacarmu?”
Vivian mengernyit dan berkata; “Hah, mengapa aku, kak? Aku adalah Alpha.”
“Kecil, itu tidak menutup kemungkinkan kau mungkin bisa saja tertarik pada Alpha nanti.”
“...Itu benar, tapi tidak untuk sekarang kak. ku baru berusia 17 tahun, dan aku masih tidak memiliki niat untuk menjalin hubungan.”
Farel mengangguk, memang usia Vivian masih sangat muda. Tetapi dia bertanya tentang itu karena ingin memastikan sesuatu, dari gelagat milik Alpha dominan tadi pasti ada sesuatu yang tersembunyi.
Farel tahu betul, Meskipun dia Beta. Sejak kecil Ibunya Anna sudah sering mengajak dirinya ke tempat pelatihan feromon, disana dia mempelajari banyak hal tentang Alpha dan Omega.
Secara umum Alpha akan sangat sensitif ketika Omeganya di sentuh oleh orang lain, entah orang itu adalah Alpha atau Beta. Farel menemukan ini pada diri Kendra, ketika dia melihat kemarahannya tadi.
Terkejut! Farel kemudian menyadari bahwa Kendra sejak tadi terus melirik Diam-diam ke Vivian. Tidak mungkin! Jika sekarang adiknya masih belum kepikiran tentang pasangan, maka itu artinya akan di mulai dari Kendra.
Alpha dominan itu tidak mungkin memiliki ketertarikan pada adiknya kan? Terutama adiknya juga seorang Alpha yang masih lugu, Orang bernama Kendra itu tidak mungkin mengidap penyakit Kelainan Istimewa.
...•••...
...**Hai, Halo ...
...Author sadar betul bahwa alur cerita belakangan ini terlalu lambat....
...Jadi mohon maaf karena sudah jalan seperti siput, semoga kedepannya bisa lebih baik lagi akunya....
...XieXie ...
...Danke ...
...Arigatō...
...Marcy...
...Gracia...
__ADS_1
...Thankyou...
...Terima kasih**...