Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Rumah Sakit


__ADS_3

Farel berdiri di depan pintu rawat inap Vivian. Dokter baru saja selesai memeriksanya, dan Farel membiarkan Vivian untuk istirahat. Kondisi Vivian cukup buruk, mungkin jika itu hanya sebuah alergi karena Seafood, gejala gatal pada kulit, bengkak hingga kemerahan Farel masih bisa tenang sedikit.


Tapi apa yang di katakan dokter tadi membuatnya cukup kaget. Dokter mengatakan bahwa ada zat lain yang terkandung dalam makanan yang di konsumsi oleh Vivian, untung takarannya tidak banyak masih di bawah penggunaan seharusnya.


Jadi tidak terlalu memberikan efek yang besar pada tubuhnya. Meski begitu dokter mengatakan untuk membiarkan Vivian menginap di rumah sakit satu sampai dua hari kedepan.


Farel mengingat pertama kalinya Vivian diketahui memiliki ketidakcocokan dengan Seafood itu saat usia Vivian baru empat tahun, saat itu Bibinya masih ada. Jadi sekeluarga memutuskan untuk liburan bersama ke pantai pinker's, yang letaknya di dekat kota Peach.


Masyarakat memberi nama pantai tersebut dengan Pinker's tidak lain karena pasir disana berwarna merah muda. Pada hari itu adalah pertama kalinya mereka liburan sekeluarga, jadi Farel yang saat itu sudah berusia 7 tahun, dia masih memiliki sedikit kenangan.


Farel kecil duduk bersama dengan Stella dan Vivian, di dalam ruangan tempat khusus untuk anak kecil bermain. Stella dan Vivian memainkan boneka mereka, Sementara Farel menyusun pazel.


Farel masih ingat saat itu sudah hampir senja, Anna Ibunya datang menghampiri mereka, membawa semangkuk *Gohu untuk mereka coba.


•Gohu ikan berasal dari Ternate, Maluku Utara, ini disajikan mentah yang disiram minyak tumisan bumbu.


“Makanan mentah? Tidak dimasak dulu, Ibu?” Farel kecil bertanya pada ibunya.


“Cobalah, kau pasti akan suka. Mau ibu suap?”


“Tidak, Arel bisa makan sendiri. Arel sudah besar, Ibu. Jika mau suap, Ibu silahkan suapi mereka berdua saja.”


Farel kecil menunjuk kedua gadis kecil yang sedang memandang dirinya dengan tatapan anak anjing. Ibunya menyuapi kedua gadis itu secara bergantian. Tidak lama setelah itu, suara teriakan Vivian kecil membuat mereka semua saling berpandangan.


Vivian menangis dan terus menggaruk kulitnya yang gatal, sama persis seperti yang baru saja dia alami tadi. Saat itu Ibunya yang panik langsung mengendong Vivian dan membawanya untuk pergi menemui dokter.


Setelah di periksa Mereka pun mengetahui bahwa Vivian memiliki Alergi yang sama dengan yang di alami oleh Ibunya sendiri, Ayah Vivian dan bibinya mulai memperhatikan makanan Vivian sejak saat itu.

__ADS_1


Hanya berlangsung satu tahun sebelum kematian bibinya, setelah kematian Ibunya, Ayah Vivian mulai tidak memperhatikan Vivian lagi. Dan hingga kini mereka pun tidak pernah liburan bersama lagi.


“Sial, sebenarnya bagaimana bisa ada zat seperti itu di dalam makanan?” Farel lelah memikirkan pertanyaan ini sejak tadi, bahkan lupa untuk duduk.


Pada saat dia kembali berpikir, suara langkah kaki terdengar di telinganya, pandanganya dia alihkan sehingga dia mendapati Stella sudah berjalan dekat ke arahnya. Wajah Farel semakin suntuk, dari tiga gadis yang bertugas di dapur, Farel lebih yakin bahwa ini ulah Stella.


Dia tipe gadis pencemburu dan suka Iri, tapi paling gemar memamerkan miliknya dan membuat semua orang Iri padanya. Benar-benar tipe gadis yang tidak pernah ingin dia kenal, menurutnya itu adalah sumber masalah.


“Kakak bagaimana kondisi Vivian?” Stella bertanya setelah dia dekat dengan Farel.


“Dia sudah membaik, jangan masuk dulu biarkan dia istirahat.”


Oh, Stella bergumam dan mengutuk Vivian, apakah tadi dosisnya tidak banyak? Atau memang langit masih berpihak pada Vivian ketimbang berpihak padanya. Anak itu sepertinya sangat beruntung, dua kali selamat dari maut.


“Dokter berkata bahwa ada sesuatu di dalam makanan itu,” Farel sengaja membahas ini dan ingin memperhatikan bagaimana respon Stella.


Pertanyaan macam apa itu? Tidak jelas dan mengapa masih bertanya pelakunya siapa? Itu sudah pasti orang yang tidak suka pada Vivian, dan hanya kau saja diantara semuanya yang patut untuk aku curigai.


“Kak, mengapa kau menatap aku seperti itu?” wajahnya terlihat bingung, tapi Farel tahu itu cuma topeng badut.


“Apakah kau benar-benar tidak melihat siapapun di dapur tadi?”


“Sia...maksudku, apakah kakak mencurigai seseorang sengaja melakukannya?”


“Apa kau juga sama?”


“Tentu saja kak, aku mencurigai Kesya. Kesya berasal dari kelas rendah, dan lagi Vivian baru mengenalnya dua bulan. Aku sudah tahu warna asli dia sejak lama kak, dia juga sering menggertak aku di sekolah.”

__ADS_1


“Oh, begitu kah? Tapi mengapa kau diam saja dan tidak memeriksa apa yang mereka lakukan di dapur?”


“Aku... Aku tidak biasa di dapur kak, aku juga tadi sibuk mencari keberadaan Chihuahua.”


Kau sama sekali tidak menyukai hewan berbulu. Jadi jangan menjadikan hewan berkaki pendek itu sebagai tameng mu sekarang. Farel terus menatapnya dan itu membuat Stella tanpa sadar mundur satu langkah.


“Jika aku mengetahui kebenarannya, aku akan pastikan orang itu tidak bisa kabur.”


“Aku mengerti kak, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama jika aku menemukan pelakunya,” Stella berbicara sambil tangannya terkepal menahan marah.


Padahal dirinya juga adalah adik Farel tapi sejak dulu perlakuan Farel padanya dan Vivian sangat berbeda. Farel lebih protektif pada Vivian, sementara jika padanya Farel hanya cukup dengan bertanya, mengetahui alasannya lalu lupakan.


Dulu pernah sekali, Stella menagis dan bertanya pada Farel; “Kakak kenapa lebih memperhatikan Vivian dari pada aku? Padahal aku juga adiknya Kakak.”


“Stella sebagai kakak juga harus melakukan yang sama, melindungi adik kecil.”


“Tapikan kak, Stella juga masih kecil kok, belum besar seperti kakak.”


“Iya, kakak tahu. Tapi kamu dan si kecil beda. Tubuh kamu sehat sedangkan sedangkan adik kecil tubuhnya lemah.”


“Tapi...Tapi...”


“Udah yah, nanti kalau kamu udah ngerti pasti akan ngelakuin hal yang sama kok.”


Stella memikirkan percakapan mereka saat kecil dulu, lalu dia menyadari bahwa semuanya sudah berubah sejak hari itu. Setelah kematian Bibinya, Stella mulai marah-marah pada Vivian dan menyalahkan Vivian atas semua hal yang terjadi padanya.


Hal lain yang sebenarnya membuat benih-benih kebencian dalam hati Stella adalah penampilan Vivian. Sejak kecil Vivian memiliki penampilan yang baik, kulitnya putih dan lembut, matanya bunga persik, bibirnya semerah buah delima, Rambutnya juga hitam dan halus.

__ADS_1


Siapa yang tidak akan cemburu? Dia terlihat tampak sempurna sebagai seorang Omega, untung saja gen milik Vivian adalah lemah sehingga itu memberi efek pada penampilan Vivian juga, dengan tubuh yang kurus, dan lemah.


__ADS_2