Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Sekolah [Teman Semeja]


__ADS_3

Beberapa hari sebelum sekolah di mulai lagi, Vivian akhirnya memiliki kebebasan untuk bepergian. Dia menghabiskan waktunya di Restoran untuk menyelesaikan apa yang belum dia selesaikan. Tuan tua mempekerjakan beberapa koki muda untuk urusan dapur, beberapa pelayan di restoran.


Restoran milik Vivian dia beri nama Kania Resto, Vivian memilih menggunakan nama Ibunya di dunia asli, akan tetapi Vivian tidak menyangkah bahwa nama Ibu pemilik tubuh asli juga bernama Kania.


Terlalu banyak kebetulan disini, tidak mungkin si penulis buku asli The End Of Poor Omega, terus mengawasi kehidupan kakeknya sampai ibunya lahirkan? Kan tidak mungkin mending Kakek atau neneknya, tidak sengaja membaca buku itu lalu mengikuti nama karakter didalam buku tersebut sebagai referensi nama untuk ibunya.


Jadi ketika Alexis mendengar bahwa Vivian menggunakan nama mendiang istrinya untuk menjadi nama restorannya, dia sempat bertanya apa alasannya dan Vivian hanya mengatakan bahwa dengan begitu dia akan merasa dekat dengan ibunya.


Alexis jadi merasa bersalah kembali pada putrinya, Karena dia terlalu menghabiskan waktu di pekerjaan pada masa lalu, sehingga membuat Vivian tumbuh dengan tidak baik dan kekurangan kasih sayang keluarga. Tubuhnya sebelum di bedakan begitu kurus, kulitnya juga tampak kering. Sekarang hampir tiga bulan lamanya, tubuh Vivian jadi lebih berisi, kulitnya putih dan terawat.


Parasnya hampir menyerupai sosok sang istri, Alexis selalu merasa bahwa meksipun Kania sudah pergi, dia tetap tinggal dalam diri putri mereka. Jadi setiap kali Alexis melihat putrinya, dia pasti akan kembali tersenyum.


“Ayah, apa yang Ayah pikirkan?” Suara Vivian terdengar, sehingga membuat Alexis sadar.


“Ah, maaf ayah tadi sedang memikirkan pekerjaan. Sampai mana tadi?”


“Ayah tidak mendengar apa yang aku katakan tadi? Aku berkata bagaimana menurut Ayah jika aku menambahkan puding dan dessert juga dalam menu?”


“Itu bagus, kau bisa menjadikan mereka sebagai makanan penutup. Para omega biasanya menyukai yang manis-manis.”


“Begitu yah, Apakah ibu juga menyukai makanan manis? Rasa apa yang Ibu suka?”


“Ibumu...”


Bagaimana Alexis menggambarkannya yah, Kania begitu suka ngemil dan makan, Jika itu makanan manis dia akan makan semua, tidak pernah pilih-pilih. Kecuali untuk makanan, dia makan semua kecuali Seafood.


“Ayah rasa Ibumu suka semua rasa, tidak pilih-pilih.”


“Baiklah, sudah aku putuskan akan membuat beberapa jenis puding dan Dessert saja.”

__ADS_1


“Apakah semua daftarnya sudah selesai?”


“Tentu, apakah ayah ingin memeriksanya?” Vivian menyerahkan daftar rencana menunya, Alexis melihat daftar menu tersebut, lalu dia mengernyit kala melihat sebuah menu.


“Mie merah? Apa mienya merah, Ayah baru dengar?” Tanyanya


“Itu yang pernah aku buat di rumah Ayah, dua hari sebelum keberangkatan Kak Stella.”


Oh, Mie pedas itu? Ya, itu mungkin akan menarik minat pelanggan. Selama ini Alexis bekum pernah menemukan makanan seperti itu, sehingga ketika dia pulang pada hari itu, dia melihat Stella dengan wajah memerah menagis.


Alexis awalnya mengira bahwa kedua gadis itu sedang tidak akur, atau Stella mulai menggertak Vivian lagi, tapi kali ini Vivian melawannya sampai membuat keponakanya menangis.


Siapa yang sangkah ketika dia mendekat, dia menemukan Stella sedang makan mie merah yang dia yakin pasti sangat pedas. Alexis juga mencobanya, dan dia merasakan seperti apa yang ada di pikirannya tadi, meski begitu mie buatan Vivian seperti tali yang terus menarik mereka untuk terus mencobanya.


“Oh, Itu bagus.”


Setelah mengatakan hal tersebut Alexis mengembalikan daftar menu Vivian, dan pergi menuju ke kamarnya. Pada sore harinya Mario datang menjemputnya untuk kembali ke Apartemen.


Ternyata hari pertama sekolah setelah liburan, itu hampir seperti di Dunia aslinya. Mereka akan sangat sangat pagi ke sekolah hanya untuk menemukan tempat duduk mereka. Setelah tiba di sekolah, mereka pun berjalan ke kelas mereka. Vivian bersama dengan Mario berjalan ke kelas mereka untuk mencari tempat duduk baru.


Pada saat mereka sudah menemukan tempat, keduanya duduk. Tidak lama Kendra yang baru saja tiba langsung menuju ke tempat mereka dan meminta Mario untuk pindah ke kursi belakang.


“Heh, apa yang kau lakukan pada mereka? Mengapa seperti kau sedang di perebutkan?” Seorang teman sekelas yang duduk di depan mejanya bertanya padanya.


“Tidak, bukan aku. Tapi tempat duduknya.”


“Itu maksud ku, keduanya ingin duduk bersamamu.”


Vivian yang mendengar teman sekelasnya berkata seperti itu sedikit terkejut. Hei, mana mungkin kan itu terjadi? Bisa saja mereka benar-benar memperebutkan kursinya, dan bukan dirinya.

__ADS_1


Jadi karena melihat keduanya masih belum berhenti, akhirnya Vivian menggebrak meja sehingga perhatikan Mario dan Kendra tertuju padanya, lalu dia berkata; “Apa yang kalian lakukan, hah? Kau juga mengapa datang-datang langsung meminta Mario pindah?”


“Aku ingin duduk denganmu.”


“lalu mengapa kau tidak bertanya padaku saja, apakah aku mau duduk denganmu atau tidak?”


“Apakah kau juga mau?”


“Tentu saja...tidak. aku sudah nyaman duduk dengan Mario.”


Hehehe, lihat temanku sendiri tidak mau duduk dengan mu. Jadi pergilah jauh-jauh ke belakang, itu adalah apa yang berhasil Kendra baca di wajah Mario. Heh, kau mengejek aku? Tunggu saja nanti, aku yakin akan duduk di samping Vivian.


Kendra tertawa membatin, tersenyum kemenangan. Keduanya adalah murid baru semester lalu, jadi mereka tidak tahu bagaimana sekolah ini akan mengatur tempat duduk untuk setiap awal semester.


“Baiklah, aku menyerah.” Kendra kemudian menuju meja belakang, tepat di samping Liam Lagi.


“Heh, sudah selesai?” mantan musuhnya itu membuka pembicaraan mereka.


“Belum, tapi aku yakin akan duduk di samping Vivian.”


Sangat percaya diri, sungguh hebat kau. Keduanya kemudian diam, beberapa penghuni kelas tidak sengaja melihat keduanya dan membuat mereka mengira bahwa keduanya sudah membaik dan tidak bertarung lagi.


Liam kemudian teringat percakapan mereka di restoran terakhir kali, jadi dia dengan ragu bertanya; “Tentang percakapan di restoran Tempo hari apakah kau benar-benar tidak tertarik pada Vivian?”


Kendra meliriknya lalu berkata; “Mengapa kau sangat ingin tahu?”


Karena kalau kau tertarik padanya, itu juga merupakan kabar bahagia untukku Liam membatin. Tidak berani untuk mengatakannya yang sebenarnya pada Kendra, jadi dia hanya berkata; “Aku hanya tidak akan bisa mudah mempercayai, bahwa kau akan mengalami kelainan istimewa.”


“Menangnya itu kenapa? Hanya karena gender kedua kami sama, sehingga akan menjadi masalah? Belajarlah dari sejarah Alisher. Mereka menikahi sesama Alpha dan Menghasilkan Alpha lainnya.”

__ADS_1


Ketika Liam ingin berbicara, pintu kelas tiba-tiba terbuka dan menampilkan seorang guru wali mereka. Guru itu kemudian masuk dan berkata akan mengatur tempat duduk untuk mereka. Akhirnya Vivian tidak dapat membantah dan membiarkan Kendra duduk di sampingnya.


Lihatkan, aku benar adalah kata yang berhasil Liam tangkap dari pandangan mata Kendra ketika pemuda itu sudah akan beranjak dan pergi ke meja Vivian.


__ADS_2