Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Stella [Mulai bergerak]


__ADS_3

Pada hari keempat Vivian dibawa pergi oleh orang asing, Semua orang bersiap untuk melaksanakan rencana yang sudah mereka susun kemarin, Mereka berada di sebuah ruang kosong di rumah Alisher.


Ruangan ini adalah ruangan kosong yang sudah malam tidak digunakan, isinya hanyalah barang-barang yang sudah tidak digunakan lagi, bisa di bilang seperti gudang hanya saja tidak sepenuhnya mirip.


Stella duduk di kursi dan kedua tangan dan kakinya juga di ikat, Leon berdiri di pintu dan menatap marah pada Stella, gadis ini dia sudah bilang jika dia tidak mau kalau sampai Stella terluka tapi dengan bodohnya dia melukai dirinya sendiri.


“Aku seharusnya tidak setuju dengan rencanamu, bagaimana bisa kau melukai dirimu sendiri?” Leo sangat kesal, sayangnya dia tidak bisa mengamuk di rumah orang lain, mukanya mau di letakkan di mana nanti?


Ini adalah rumah calon mertuanya...


“Ini hanya luka kecil, kau tidak perlu khawatir...” Stella tersenyum padanya, dia tahu bahwa pacarnya ini protes karena tindakannya sendiri.


Bagaimana tidak, Stella menampar wajahnya sendiri sampai merah, dagunya ada bekas cengkraman, juga lebam di mana-mana karena pukulannya sendiri.


“Ck, kau bawel... bagaimana dengan itu... apa sudah ketemu?”


“Hm...haruskah aku bergerak sekarang dan mengirim wajah buruk mu?” Leon bertanya, sambil mengambil ponselnya dan memotret Stella.


“Tunggu sebentar, berikan aku ponselmu aku ingin lihat seperti apa wajahku.”


“Ck, dasar cewek, disaat seperti ini masih harus merepotkan diri sendiri.”


Leo memperlihatkan hasil potretnya pada Stella, kemudian Stella mulai berkomentar, “Apa ini? kau sangat buruk dalam fotografi, ulang itu tidak terlihat alami.”


”Dasar Beta wanita...” Leo akhirnya mengambil ulang potret Stella.


Tidak lama setelah itu, Tuan tua, Excel dan Alex berkumpul dalam ruangan dan mengelilingi Stella, Leo siap dengan ponselnya untuk merekam kejadian, rekaman itu akan berisi tentang Kemarahan ketiga alpha Alisher terhadap Stella.


Video memperlihatkan Stella yang menahan rasa sakitnya dengan menangis, seperti tidak percaya bahwa ayahnya sendiri juga ikut andil dalam penyiksaan itu. Dalam Video itu, seolah-olah Excel sangat murka akibat masalah yang terjadi.


Excel menyebut berulang kali Nama Tania, dalam kemarahannya. tatapan ketiga Alpha itu tajam, Alex seolah-olah memberikan kecurigaan pada Stella dan menuduh Stella masih bekerja sama dengan Tania dan juga orang yang menculik Vivian.


Tuan tua mengambil peran seperti dalam pandangan Tania yang lama, membahas tentang pewaris sah kekayaan Alisher yang sudah dia tetapkan pada Vivian:

__ADS_1


“Tunggy dan lihat, jika terjadi sesuatu pada cucuku, aku tidak akan memberikanmu hidup enggan matipun takut...,”


“Huhuhu... aku tidak melakukan itu... kakek aku juga cucumu! bagaimana kau bisa lakukan ini padaku... hiks... ayah, aku putrimu... bagaimana kau...”


“Diam! Putriku tidak akan mengecewakan aku berulang kali! kau sama saja seperti ibumu... kalian berdua adalah serigala berbulu domba!" wajah Excel merah, tampak sangat marah.


Plak!


“Huhuhu...Paman, percaya padaku... aku tidak ada kaitannya dengan hilangnya Vivian...”


“Jangan sebut nama putriku, dengan mulut kotor mu itu! dan katakan dimana wanita iblis itu menyekap putriku!” Alex juga menggunakan wajah marahnya.


Leo yang melihat drama di depannya diam-diam menggelengkan kepalanya, Keluarga ini pintar akting rupanya. Varel dan yang lainnya juga terkejut melihat kekompakan mereka, dari belakang Leon mereka melihat bagaimana kebohongan itu di mulai.


“Sebentar lagi adalah giliranku,” Varel ikutan bersiap, dia memasuki ruangan itu dengan tatapan yang tajam pada Stella dan tampak seolah-olah mengabaikan keberadaan ketiga Alpha itu.


Wajah Stella terlihat tidak bertenaga, dia menatap Varel dengan harapan bahwa Varel akan membantunya, tapi dia salah. Varel menarik rambutnya, dan bertanya sambil menunjukkan sebuah screen layar ponsel percakapan terkahir Stella dan ibunya.


“Masih tidak ingin menjawab?” Varel terlihat tidak memiliki kesabaran lagi.


Plak!


Stella bermain seolah-olah kepalanya sangat sakit sehingga dia akhirnya tidak sadarkan diri. rekaman berkahir dan semua orang masuk ke ruangan itu, bunyi tamparan berasal dari ponsel Stella.


“Apa mereka bisa di bodohi dengan rekaman ini?” Keisya memeluk kedua tangannya, dan menoleh pada Liam yang dari tadi bertugas membunyikan ponsel Stella.


“Aku tidak tahu, tapi aku berharap itu terjadi. Dengan pembawaan mereka, seharusnya bibi iblis itu bisa di bodohi.”


Kendra tidak memilik komentar tentang bagian ini, hanya saja apa tidak akan mudah di tebak? Dia sendiri tidak tahu kenapa dia harus setuju untuk ini, dia berpikir bahwa Stella hanya akan menjadi pihak yang di tawan saja tidak pernah berpikir keluarga kekasihnya akan membuat drama seperti ini.


“Aki harap mereka tidak pernah nonton drama televisi...” Ucapnya setelah itu Kendra keluar dari ruangan untuk menenangkan dirinya. Dia menuju ke kamar Vivian dan mencium aroma feromon Vivian yang masih tertinggal di sana.


“Aku merindukanmu, Kucing liar"

__ADS_1


Di dalam ruangan, tali yang mengikat Stella di lepaskan, Excel dan Varel menatap Stella khawatir. Mereka berdua mengambil bagian dalam adegan tampar dan tarik rambut, Alex pada bagian mencengkram dagunya..Tuan tua karena usianya, dia hanya kebagian mata tajam yang melotot dan amarah yang berlebihan.


“Apa wajahmu baik-baik saja, apa ayah menyamar dengan keras?” Excel khawatir, seumur hidupnya dia tidak pernah melakukan kekerasan pada Putrinya.


“Aku tidak apa ayah, jangan khawatir... aku sudah mengatur semuanya.” Stella tersenyum lalu memeluk Ayahnya.


“Bagaimana dengan kepalamu?” Varel bertanya, dia khawatir sudah menarik rambut Stella dengan keras.


“Kepalaku.baik kak, tidak perlu di khawatirkan.”


“Dagu...”


Stella tersenyum pada Alex dan mengatakan bahwa dia baik, mereka sudah merencanakan ini semua kemarin, tapi keluarganya masih khawatir padanya, Padahal mereka hanya menyentuh dan tidak ada tindakan yang kasar.


Tuan tua Alisher pergi dan meninggalkan ruangan itu, tenggorokannya sakit karena harus berteriak dengan nada marah lagi setelah sekian lamanya. Usianya sudah tua, dan itu tidak baik untuknya jika marah-marah, meskipun hanya sebuah akting saja.


“Aku harus istirahat, ini hari yang melelahkan untuk usia tuaku,”


Setelah orang dewasa meninggalkan ruangan, sekarang giliran kaum muda yang kembali membicarakan langkah selanjutnya. Mereka duduk melingkar dan mulai pembicaraan mereka:


“Aku akan melakukan editing pada rekamannya agar tampak lebih nyata, dan kapan aku bisa mengirim ini?” Leo bertanya.


“Apa kau menemukan kontak milik bibi Iblis?” Varel bertanya.


“Aku rasa iya, tapi belum pasti juga karena ini hanyalah informasi yang sudah aku sadap dari ponsel Sam...”


“Sam?”


“Itu adalah pemilik toko mainan yang ada di depan restoran kak, belakangan ini kami memiliki sesuatu untuk di kerjakan dengannya,” Stella menjawab.


“Ngomong-ngomong, dimana Kendra?” tambahnya.


“Dia keluar untuk menenangkan dirinya mungkin ke kamar Vivian,” jawab Mario.

__ADS_1


Stella menganggukkan kepalanya paham, anak itu memang harus menenangkan dirinya setelah empat hari ini disibukkan dengan banyaknya pekerjaan mereka. dan kamar Vivian adalah tempat paling aman untuknya .


__ADS_2