Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Lapangan


__ADS_3

Vivian duduk dan masih memperhatikan ketiga karakter dalam novel, dari  pinggiran lapangan. Sangat kebetulan Liam memiliki nomor yang sama dengan Nila, dan sesuai urutannya sekarang adalah giliran mereka yang berlomba.


Kendra dan juga Kesya sudah berada di tempat star, Vivian memperhatikan wajah Kesya tampak merah. Mungkin Omega satu ini sedang menahan malu karena setim dengan Alpha yang dia sukai.


Vivian tersenyum melihat bagaimana tingkah gadis itu, dia lalu mengubah pandangannya pada Liam. Antagonis novel tampak suntuk dan matanya tidak pernah lepas dari Kendra, dia terus mengawasi si dominan.


Si dominan yang sedang di awasi tidak peduli dengan pandangan yang menurutnya sendiri terlihat bodoh. Dia hanya berharap semoga kegiatan ini cepat berkahir, sehingga dirinya bisa terbebas dari sini.


Seorang dari kelas Beta membawa banyak tali untuk mereka gunakan, Vivian melihat itu dan menghampirinya lalu berkata; “Mari biarkan aku membantumu.”


Gadis dari kelas Beta; “Ah, baiklah.”


Vivian mengambil dua tali dan mulai mengikatnya pada dua tim yang berbeda, kemudian berkata; “Anggap saja ikatan ini merupakan tali takdir yang menyatukan kalian untuk terus berjuang bersama menghadapi masa depan.”


“Heh, itu konyol. Teman setim ku adalah Beta, Alpha seharusnya bersama dengan Omega. Barulah bisa dikatakan tali takdir,” Liam berkata dengan agak keras seperti ingin menantang seseorang.


“Lucu sekali, segeralah mulai permainannya. Aku tidak ingin terus berada di sini.”


Vivian menghela napas, matanya melirik Kesya lalu berbalik melihat Kendra, pemuda Alpha ini tidak banyak komentar, tapi mengapa Vivian merasa kalau mata Alpha dominan yang satu ini terus menatap ke arahnya?


Vivian kemudian menggeleng menghilangkan pemikiran anehnya. Chihuahua tidak ada di sini sehingga menyulitkan Vivian untuk berkomunikasi, kemudian Vivian berpikir sebentar lalu berkata; “Permainan ini untuk meningkatkan konsentrasi dan kerjasama kalian. Jadi nikmati saja, siapa tahu kalian akan mendapatkan hal yang menarik.”


Setelah peluit di bunyikan kelima pasangan itu pun memulainya, mereka berjalan menuju garis finis dengan satu kaki yang saling terikat. Pelajar lainnya memperhatikan mereka dan mulai berteriak mendukung teman-teman mereka.

__ADS_1


Tampak sulit memang karena mereka harus betul-betul berkonsentrasi dalam melakukannya. Vivian memperhatikan Liam dan Nila, keduanya jauh lebih baik dalam bekerjasama. Meksipun sesekali mata Liam akan teralih pada Kendra dan Kesya yang menempati posisi terakhir.


Wajah Alpha itu sedikit memerah, menahan emosinya. Vivian berpikir bahwa sekarang Liam sedang minum cuka, tatapan mata Liam pada Kesya terlihat sangat jelas, meskipun di dalam buku aslinya tidak di katakan, melihat kejadian ini secara langsung membuat Vivian merasa seperti sedang menonton live actionnya..


Vivian beralih melihat pasangan Kendra dan Kesya. Kemudian dia mengernyit, mengapa mereka sangat lambat? Kendra bahkan tidak memperhatikan kesulitan yang sedang di alami oleh Kesya.


Kesya melihatnya dan kemudian berkata; “Ken, Kendra... Bisakah kau berjalan agak pelan? Kakiku sedikit sakit.”


“Uhm...” Kendra membalas dengan hanya bergumam. Dalam pikirannya dia sudah berulang kali berkata bahwa permainan ini sangat membosankan.


Kendra kemudian melihat Vivian di pinggir lapangan, duduk berdua dengan Mario, dan menonton permainan membosankan ini. Jangan kira bahwa Kendra sama sekali tidak menyadari bahwa sejak pelajaran olahraga di mulai tadi, dia tidak memperhatikan gerak-gerik Vivian.


Sejak awal penentuan tim, Kendra mengetahui bahwa Vivian seperti memiliki tujuan untuk mendekatkannya dengan Kesya. Tapi untuk apa? Vivian adalah saudara Stella, bukankah seharusnya dia membantu Stella agar dia tidak punya interaksi dengan gadis lain? 


Kesya menggeleng dan menjawab tidak pernah. Kendra kemudian mengangguk, berpikir bahwa pantas saja kaki Omega yang satu ini cepat sakit, dia belum pernah memainkannya.


Kesya lalu berpikir bahwa karena dirinyalah Kendra tidak menjadi pemenang, sehingga diapun berkata; “Maaf, aku membuatmu kalah.”


“Aku tidak peduli,” tiga kata yang terdengar di telinga Kesya terasa dingin. Itu membuat Kesya sedikit tidak nyaman, belum lagi aura kuat  yang dimilik Kendra, dia merasa seperti di intimidasi.


Dari pinggir lapangan, Vivian tersenyum senang melihat tokoh utama cerita saling berkomunikasi, dia tidak bisa mendengar mereka namun Vivian merasa bahwa ini sudah merupakan hal yang baik.


Beberapa saat kemudian permainan selesai, Kendra dan Kesya berada di urutan paling terakhir, sementara Liam dan Nila berada di urutan ke tiga.  Melihat hal ini, Vivian bangkit dan mengajak Mario untuk menghampiri mereka.

__ADS_1


Kendra memilih duduk agak jauh dari sekumpulan gadis-gadis yang sedang mengobrol, Liam dan Mario juga ada di dekatnya. Liam masih merasa kesal karena tidak satu tim dengan Kesya, sehingga dia berkata; “Hari ini kau beruntung, lain kali aku tidak akan membiarkannya.”


“Mengapa kau berbicara seperti itu? Kalah bukanlah sebuah keberuntungan,” Mario berkata padanya karena didalam pikirannya seharusnya Liam merasa senang karena menang dari Kendra, atau mungkin saja karena dia tidak menempati posisi pertama.


Liam meliriknya lalu menyunggingkan senyum dan berkata sambil memandangi langit biru; “Kau tidak akan mengerti sebelum kau bertemu dengan seseorang yang kau sukai.”


Mario mengernyit, lalu berkata pada Liam; “Apa hubungannya? Apakah kau menyukai seorang gadis? Apa dia menonton tadi?”


“Sudahlah lupakan saja.”


Liam pergi meninggalkan keduanya, sementara itu Vivian sedang berkumpul dengan kedua teman gadisnya. Vivian sangat bersemangat sehingga dia berkata; “Bagaimana permainannya tadi? Apakah menyenangkan?”


Kesya menatapnya dengan wajah bersemu merah muda, tidak tahu harus berkata apa. Kesya lalu mendengar Vivian berkata lagi; “Aku melihat kalian seperti pasangan yang serasi.”


Blush...


Kesya menundukkan kepalanya dan berkata; “Kami tidak...”


Walaupun dia mengagumi Kendra, bukan berarti dia juga bisa terlihat biasa aja ketika berdiri di dekat Alpha Dominan itu. Bagaimanapun juga dia adalah Omega, Kesya bersyukur bahwa dia sudah melewati siklus panasnya beberapa hari lalu.


Melihat tingkah Kesya, Vivian mulai berpikir bahwa mungkin saja gadis omega ini malu mengatakan perasaannya, sehingga dia diam-diam terkekeh. Ketika Omega sedang malu, itu terlihat sangat lucu. Vivian kemudian kembali berpikir, apakah ini semua karena dia sekarang adalah Alpha?


Tidak berselang beberapa lama setelah keheningan terjadi, Vivian tiba-tiba merasakan seseorang menyentuh bahunya, sehingga hal itu membuat Vivian cukup terkejut. Ketika Vivan sudah berbalik dia terkejut lagi karena melihat seorang Omega laki-laki yang tidak senjata dia lihat pada akhir pekan kemarin ada di sekolah yang sama dengannya, bagaimana bisa ini terjadi?

__ADS_1


Omega itu menggunakan seragam olahraga seperti mereka,tubuhnya tinggi masih di atas Vivian, kulitnya putih dan wajahnya cukup tampan. Vivian memperhatikan Omega tersebut, lalu kemudian dia bertanya; “Kau, siapa kau?”


__ADS_2