Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Akademi


__ADS_3

Asrama Akademi terdiri dari dua gedung yang saling berdampingan, masing-masing gedung di pisah oleh gerbang pembatas dengan kode sandi yang hanya diketahui oleh penjaga asrama. Jadi tidak ada penghuni asrama yang bebas untuk keluar masuk atau menyelinap ke asrama lain.


Sementara Gending akademi berada tepat di belakang gedung asrama, dengan lapangan yang luas. Akademi ini didominasi oleh Beta, dan sisanya Alpha dan Omega yang harus mendapatkan pendidikan kesopanan yang keras.


Seperti sekolah yang lain, gedung asrama terdiri dari tiga lantai, Alpha berada di lantai paling atas dan Beta serta omega mereka gabung untuk dua lantai terakhir, masing-masing dua sampai tiga orang dalam satu ruangan, dengan fasilitas kamar mandi dalam dan lemari pakaian.


Ruang kamar milik Stella sendiri di isi oleh tiga orang, seorang dari mereka Omega dan dua sisanya adalah Beta. Dengan tiga kasur dan tiga meja belajar, di dalam ruangan yang lumayan luas.


“Kau sudah siap untuk hari pertama belajar?” Lala, teman sekamar Stella yang bicara.


“Iya...” Stella menjawab seadanya saja. Sekolah sudah mulai seminggu yang lalu, dan pembelajaran akan dimulai dalam Minggu ini.


Selama satu Minggu Stella bernapas dengan lega karena belum melihat tanda-tanda Lion. Jadi dia berpikir bahwa mungkin saja orang itu hanya bercanda padanya, dan bersekolah di sekolah yang lain.


Stella bersama kedua temannya keluar dari kamar asrama, dan menuju ke gedung kelas mereka. Karena jumlah omega yang lebih sedikit, lantai dua dan lantai satu adalah kelas gabungan mereka. Alpha dan Omega tidak pernah di tempatkan di kelas yang sama, semua ini guna untuk menghindari adanya tindakan tidak hormat.


Pada saat mereka memasuki kelas pandangan teman sekelas langsung mengarah pada Stella dan kedua temannya, Mungkin dulu jika dia masih seorang Omega, Stella akan sangat percaya diri sampai menyombongkan. diri.


Tetapi sekarang, Stella merasa sudah bosan dengan pandangan seperti itu, jadi dia sudah tampak biasa dan tidak peduli, pelajar tampan saja Stella bahkan tidak melirik mereka.


“Kau semakin terkenal saja,” Lea teman sekamar Stella membuka pembicaraan.


“Itu benar, banyak dari Beta pria yang selalu melirik mu, kau bajakan mengalahkan kepopuleran primadona sekolah.”


“Primadona sekolah, siapa?”


“Ah, aku lupa kamu belum satu tahun disini, Bella Warkiston. Dia di nobatkan enam bulan sebelum kau datang ke sekolah, dia pemegang sejarah paling sebentar untuk kategori kecantikan alami.”

__ADS_1


Stella hanya bergumam saja setelah mendengar Lala menjelaskan tentang primadona sekolah, kemudian Stella mengambil ponselnya untuk mengecek media sosialnya. Tidak ada banyak pembaharuan terbaru, yang sudah di muat oleh pengembang.


Stella baru saja akan membuka bukunya namun gerakannya terhenti karena sebuah gebrakan di atas mejanya. Stella menoleh untuk melihat si pelakunya, seorang gadis asing berdiri tepat di depannya.


Byur!!!


Gbrak!!


Stella naik pitam ketika kepalanya di siram oleh jus jeruk, dia menggebrak meja lalu menatap tajam si pelaku, lalu bertanya; “Apa salahku, hah! aku gak kenal kamu dan kamu datang-datang marah ke aku!”


“Salahmu....Salahmu karena sudah merebut posisiku sebagai primadona, Kau juga menarik perhatian Lio kan?”


“Apa? apakah otakmu sudah tersangkut di pohon tomat? Pertama yang mengatakan aku primadona adalah mereka yang ada di dalam ambulance.”


Beta tersebut begitu marah karena Stella, dia kemudian mendengar bisik-bisik tentang dirinya yang menjadi selebriti dalam waktu satu malam. Stella Melakukan beberapa gerakan kecil agar merilekskan lehernya yang kaku.


Informasi bodoh sudah disebarkan oleh orang bodoh juga, sehingga bahkan Lion yang merupakan Beta incaran Bella juga pada akhirnya kecantol pada paras milik Stella sebagai Beta yang baru saja mekar dengan indah.


“Aku tidak mau merebut posisimu, atau ketenaran mu. Aku hanya ingin lulus dengan baik dari sekolah ini, jika ingin salahkan seseorang, cari saja mereka yang menulis artikel berlebihan tentangku.”


“...” Bella merasa malu sehingga area wajah sampai telinganya memerah manis. Dia pergi menyalahkan seseorang, yang tidak tahu apa-apa dan tidak mengenal dirinya, pada akhirnya Bella mendapatkan rasa malunya sendiri.


Semuanya karena pikirannya yang sedang kacau tadi, sehingga dia tanpa sadar larut dalam percakapannya di rumah Lion, sampai-sampai membuat kehidupan normalnya menjadi lebih memusingkan..


Sekarang dengan kepala yang menunduk, Bella mendengarkan semua omongan dari seorang asing sepertinya, Beberapa dari mereka kemudian berargumen ringan tentang tindakan yang sudah terjadi tadi, lalu apa hubungannya semua yang terjadi dengan dirinya?


[Dia berani mencari masalah dengan cucu pertama Alisher! semoga saja kejadian ini tidak sampai ke telinga Tuan Tua.]

__ADS_1


[Apa kau juga berpikir yang sama denganku? Bella begitu berani maju tanpa berpikir dan mulai mengganggunya.]


[Aku dengar bahwa sampai sekarang kursi di samping Stella masih kosong, tidak ada yang berani untuk duduk disana.]


[Aku rasa yang kau katakan memang benar, ada rumor yang beredar bahwa teman sekelas Stella semuanya mendapatkan pesan dari email yang sama.]


[Apa isi pesannya?]


[Tidak ada yang berani membocorkannya, tapi jika aku tidak salah menebak pasti sebuah email ancaman untuk mereka.]


Tangan Bella terkepal dengan erat dan kuat, Giginya menggertak dengan kesalnya, Bella cukup tahu siapa orang yang meneror teman sekelasnya sendiri, dan melarang mereka untuk menemani Stella duduk.


Lion satu-satunya orang yang ada di pikirannya sekarang ini. Kemudian dia mendengar Stella menggeser kursinya karena ingin keluar untuk membersihkan dirinya dari kotoran di wajah dan rambutnya yang terkena minuman tadi.


“Stella, kau mau kemana? haruskah kita kembali ke asrama untuk berganti seragamnya?”


“Aku merasa bahwa hal ini tidak perlu dilajukan Aku hanya terkena jus jeruk saja, di bagian wajahku.”


”Walaupun kepalamu akan menjadi lengket, begitu?” Lala melirik Stella lalu memberinya pertanyaan tantangan lagi.


Stella tidak menjawab dia terus berjalan menuju pintu kelasnya, Jika dirinya tetap berada di sana sudah di pastikan rasa tidak nyaman karena jus yang mengenai mu tadi pasti benar-benar akan membuatnya merasa tidak nyaman.


Stella sampo di koridor dekat tangga, pada saat dirinya ingin berbelok langkahnya menjadi terhenti karena seseorang yang tiba-tiba berdiri didepannya dan menatap penampilan buruk Stella.


Stella di buat terkejut ketika melihat Lion berdiri tepat di depannya, pandangan mata Lion yang di temukan oleh Stella sangat berbeda, seperti ada sesuatu disana, marah bukan?


“Siapa yang melakukannya?” suara yang terkesan dingin di telinga Stella sekarang membuatnya menjadi linglung, tidak bisa berkata apapun.

__ADS_1


__ADS_2