Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Ruang kelas


__ADS_3

Pagi ini Vivian terbangun dengan linglung, dia merasa kalau dia sudah melewatkan hal penting kemarin, tapi otaknya yang lelah tidak bisa menampung kejadian itu. Vivian hanya mengingat tentang pertarungan lidah buaya mereka.


Ah, sial! Vivian sangat malu, bagaimana dia sekarang berani menatap Kendra? Kemarin adalah pertama kalinya Vivian memberikan serangan balik pada si penyerang. Bahkan lidah buayanya masih merasakan efek serangan dari Kendra.


Kendra pasti sudah mengetahui perasaannya, Jika tidak bagaimana bisa dia mendapatkan kalimat gombalan pagi hari dan panggilan telpon manis tadi, dengan suara Kendra yang terasa khas din telinga Vivian, sampai membuat wajah dan telinganya panas karena malu.


Vivian menyentuh Delima merahnya, kemudian berguling-guling di atas ranjangnya. Semua ini disebabkan oleh kebodohannya yang meminta tolong pada Kendra untuk mengajarinya bahasa alien dalam pelajaran sejarah, bagaimana dia bisa melakukan hal itu tanpa berpikir?


Benar-benar pilihan yang bodoh, dia mengantarkan dirinya sendiri kedalam sarang harimau lapar. Tapi... tidak tahu sejak kapan, Vivian merasa sudah mulai terbiasa dengan sentuhan Kendra, jujur saja pelukannya hangat, dan nyaman.


[Tuan, bagaimana perkembangan anda dengan protagonis pria?]


“Apa aku benar-benar tidak punya pilihan lain? Maksudku bisakah aku tetap tinggal setelah tugas selesai?”


[Tuan Anda sekarang adalah protagonis utama, sudah seharusnya anda melakukanya. Untuk pertanyaan kedua anda, saya akan tanyakan pada pusat.]


“Tolong yah, aku sudah dipusingkan dengan masalah itu sejak kau mengatakan Tugas baru.”


[Baik, tuan. Saya akan berusaha dengan baik.]


Setelah mengobrol dengan Chihuahua di kamar, Vivian yang sudah siap dengan seragamnya akhirnya keluar dari kamar. Kedua temannya sudah menunggu di meja makan, mereka memperhatikan Vivian dan merasa bahwa lagi-lagi Vivian tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Nila memperhatikan bentuk delima Vivian agak berbeda, jadi dia bertanya; “Vi, apa yang sudah terjadi dengan Delima mu? kurasa sedang bengkak.”


“Tidak apa-apa, aku bermimpi bertarung dengan monster lalu tidak sengaja jatuh dari tempat tidur,” Vivian asal menjawab.


Malam kemarin Mario dan Nila terlambat pulang karena masih mengurus restoran, mereka tiba di apartemen sekitar pukul 10 malam, dimana Vivian sudah lebih dulu tidur, jadi keduanya tidak curiga dengan delima Vivian yang bengkak.


Nila kemudian mengangguk setelah mendengar alasan Vivian, dia awalnya berpikir mungkin saja ada orang yang sudah berniat menyakiti temannya itu, tapi dia menepis pikirannya setelah mengingat kalau kemarin Mario mengatakan Vivian pergi bersama Kendra karena suatu urusan.


“Oh, benar...Apa yang kalian lakukan kemarin? Rio berkata kalau pergi bersama Kendra.”


“Bukan hal besar, dia hanya membantuku untuk memahami beberapa mata pelajaran.”


“Kenapa tidak mengajakku juga? kita adalah teman sekelas.”

__ADS_1


“Sudahlah, ayo berangkat. kita akan terlambat kalau tetap disini," Vivian mengabaikan Mario, lalu beranjak dari duduknya dan segera menuju ke parkiran.


Sekolah tampak sunyi, sama seperti yang lalu, para pelajar mulai mempersiapkan diri mereka untuk mengikuti ujian akhir semester, Vivian dan Mario masuk kedalam kelas mereka dan mendapati teman sekelas sedang sedang sibuk dengan pekerjaan sekolah.


Vivian duduk di kursinya lalu mengambil bukunya, untuk mempelajari tentang bahasa alien kemarin.Karena terlalu fokus pada bukunya, Vivian tidak menyadari bahwa Kendra sudah ada di tempatnya.


Kendra yang baru datang setelah meletakkan tasnya dan duduk langsung saja menopang dagunya lalu memandangi Vivian, senyumnya tidak pudar dan moodnya hari ini begitu sangat baik. Kendra melihat delima Vivian yang masih bengkak.


“Sayang apakah itu sakit?”


Deg...deg...deg... Abaikan kehadiran orang di sampingmu Vivian, itu hanya suara angin.Vivian perlahan mengatur napasnya lagi, dan kembali menatap isi bukunya.


“Vivi, mau mengabaikan keberadaan ku lagi? Hm, baiklah. Ayo kita lihat sampai kapan kau bisa bertahan.”


Kendra memandangi wajah Vivian, ada semburan merah disana sehingga membuat Kendra semakin bersemangat saja. Malam tadi tidurnya sangat nyenyak, dia tidak bisa melupakan pertarungan lidah buaya mereka.


Lidah buaya Vivian kenyal dan lembut, seperti jeli,Delima merah Vivian juga tidak kalah dari isinya, manis dan Kendra menyukainya. Kendra sudah berapa kali banyaknya menyerang Vivian, dia belajar banyak dari media sosial dan mempraktikkannya pada Vivian.


Kemarin adalah hari yang paling istimewa, Kendra pasti akan selalu mengingat tanggal istimewa itu. Tanda permanen mereka sudah tercipta, tidak dapat di ganggu lagi. sekalipun masih harus memerlukan restu orang tua Vivian sudah sepenuhnya menjadi milik Kendra.


“Kau ingatkan, setelah kelas kau harus ikut denganku.”


"...”


“Kau benar-benar mau mendiami aku?”


“...”


“Baiklah, artinya kau tidak akan peduli dengan apa yang aku katakan bukan?"


“?”


“Aku suka serangan mu kemarin, hanya saja kau masih kaku...”


“Diam!”

__ADS_1


“Kau harus sering berlatih lagi, aku bisa membantumu membuat taktik serangan.”


“Aku bilang, diam! tutup mulutmu.”


“Jadi kita harus sering melakukannya..."


Vivian mendekap delima Kendra dengan tangannya, Pandanganya tajam dan perasaannya kesal, Kendra mengingatkannya lagi pada pertarungan kemarin, padahal tadi Vivian sudah sedikit lupa karena fokusnya sudah beralih pada buku.


Kendra menatap Vivian, dan tersenyum melalui matanya, lidah buayanya keluar melalui celah delima merahnya, dan membuat Vivian merasakan basah di tangannya.


Arght! Menjijikkan, Vivian langsung melepaskan tangannya dan buru-buru mengambil saputangan di dalam tasnya. Vivian menatap marah pada Kendra, “Kau apa yang baru saja kau lakukan, itu menjijikkan.”


“,Sayang mengapa kau jadi marah? Itu hanya sedikit, kemarin kita bahkan bermain dengan mereka.”


“Siapa.m sayangmu! dan bermain apa? aku tidak bermain apapun kemarin.”


“,Sayang, kau mengelak lagi. Jelas-jelas kemarin kita melakukannya cukup lama..”


“Tidak, aku tidak.”


Vivian menoleh ke luar jendela, agar wajahnya yang panas tidak kendra lihat. Kendra masih ingin terus mengganggu Vivian, namun guru kelas pun datang dan memulai materi hari ini.


Setelah pelajaran pertama selesai, dan pengajar kemudian pamit keluar, Vivian langsung berdiri dan pergi ke luar menuju kafetaria sekolah. Mario baru selesai merapikan mejanya, dia melirik ke Kendra dan mulai menanyakan sesuatu.


“Apa yang terjadi pada Vivi?” Mario bertanya, dan hanya mendapatkan kesunyian dari Kendra.


“Kemarin dia bersamamu kan? apa yang kalian lakukan, sampai terbawa mimpi?”


“Terbawa mimpi?”


“Vivian sepertinya kurang tidur, sehingga dia bermimpi buruk tentang monster, dan jatuh dari tempat tidurnya.”


“Jadi Delimanya bengkak karena mengenai lantai yang keras?” Liam tiba-tiba ikut bertanya.


Bengkak apa? itu semua karena perang kami kemarin tahu, Vivian tidak bisa bertahan lama sehingga dia kalah dan pasrah padaku tahu. Kemudian Kendra kembali berpikir, kucing liarnya itu sedang bertingkah lagi.

__ADS_1


__ADS_2