
Pada Senin pagi langit tiba-tiba mendung, mirip seperti perasaan Vivian yang sedang mendung juga. Sepanjang hari kemarin gadis ini terlalu memikirkan banyak hal, meski Kendra termasuk dalam hitungannya, Kedekatan Kesya dengan Liam jauh lebih membuatnya pusing.
Vivian tidak pernah berpikir bahwa mengabaikan karakter penting akan membuat plot dalam cerita berubah menjadi dua jalur yang berbeda, Vivian sadar setelah berpikiran seharian kemarin. Selama ini dia hanya fokus mengurusi protagonis pria dan melupakan protagonis wanita.
Seharusnya Vivian juga melihat dari sudut pandang Kesya, bagaimana dia jika bersama dengan Kendra, Kesya masih memiliki rasa takut. Gadis itu selalu menundukkan kepalanya jika sudah berada di depan Kendra, seperti merasa bahwa Kendra adalah predator yang yang menyeramkan.
Siapa yang bisa dia salahkan?
Satu-satunya adalah kebodohannya karena terlalu sering mengurus protagonis pria, dan mengabaikan Protagonis wanita.
Sekarang apa yang sebaiknya Vivian lakukan?
Vivian merasa sepertinya jalannya untuk kembali perlahan akan tertutup, Dua jalur sudah terbentuk di depan matanya, satu jalur untuk Kendra yang mengejar dirinya dan jalur lainnya adalah plot baru perjalanan cinta protagonis wanita.
“Aku rasa kau kurang tidur belakangan ini, lingkaran hitam di matamu tampak jelas. Apa sesuatu terjadi?” Liam berdiri di sampingnya.
“Tidak ada, aku hanya kurang istirahat.”
Sekarang posisi mereka sedang ada di koridor lantai tiga, jam pelajaran untuk jam pertama sudah berakhir beberapa menit lalu, Vivian merasa sedang malas untuk pergi ke kafetaria sehingga dia memilih untuk berada di sekitar kelasnya saja.
Liam sendiri baru saja kembali entah dari mana, dia melihat Vivian yang sedang melamun sehingga dia memiliki inisiatif untuk mendekat dan mengajaknya berbicara. Lingkar hitam di area mata Vivian, dapat dengan jelas dia lihat.
“Jika ada masalah, sebaiknya kau ungkapkan saja. Tidak baik memendam sendiri.”
“Aku tahu, terima kasih.”
“Sekarang apa kau mau berbagi denganku?”
“H'um, akan aku coba...Bagaimana pendapatmu jika kau tiba-tiba ditarik masuk ke dalam buku dan di tugaskan untuk menyatukan tokoh utama cerita, tapi tokoh utama justru memiliki jalannya sendiri?”
“Apakah kau baru saja menyelesaikan sebuah novel bacaan?”
“Ya, bagaimana pendapatmu tentang konsep transmigrasi? perpindahan jiwa ke tubuh orang lain di dunia yang berbeda.”
“Apa kau bercanda? aku merasa itu keren, kau bisa mengubah alur cerita yang buruk menjadi baik.”
“Meski tidak menyatukan tokoh utama?”
“Tentu saja, jika ending aslinya buruk, kau akan mengubahnya menjadi ending yang menyenangkan. Tidak peduli dengan siapa mereka berakhir, jika semuanya senang bukankah hal tersebut termasuk ending yang kau inginkan?”
“Kau benar...”
Tapi dengan begitu, aku tidak akan bisa kembali ke duniaku lagi, pikir Vivian yang menjadi linglung. Meskipun dunia ini cukup baik karena keluarga Alisher yang kaya, Vivian merindukan pelukan Ibunya.
__ADS_1
Berulang kali Vivian mengingatkan pada dirinya untuk tidak terlena dengan dunia khayalan si penulis. Dunia ini sempurna meskipun harus menggunakan dua Gender.
“Istirahatlah dengan baik, akan buruk jika kau sakit dan pekerjaanmu terganggu.”
Vivian mengangguk dan tersenyum, kemudian memandangi langit yang mendung; “Terima kasih... Apakah belakangan ini kau dekat dengan Kesya?”
“Iya, ada apa?”
“Bukan hal penting, aku hanya tidak menyangkah kalau kalian sedang membangun hubungan.”
“Terlihat jelas, yah?"
Vivian mengangguk, “Ya...”
“Hm...Sebentar lagi Kesya akan berusia 18 tahun, dan dia tidak pernah mau menyatakan perasaannya pada Alpha impiannya.”.
“Kau sangat mengenalnya?”
“Aku rasa begitu, Dia mengingatkan aku pada seseorang di masa lalu. Jika memang dia orangnya, akan sangat bagus kalau aku bertemu lagi dengannya.”
Liam ikut memandangi langit yang mendung, dia tersenyum dan hal itu tidak lepas dari pandangan Vivian. Vivian baru menyadari bahwa wajah Liam juga tampak baik, setidaknya tidak jelek ah, tentu saja. Proporsi karakter ditentukan oleh penulis buku asli.
“Apa yang kalian lakukan?”
“Kenapa wajahmu punya lingkar hitam?"
Jangan tanya kenapa, aku tidak ingin membahasnya.
“Hei, jawab aku,” Kendra berdiri di samping Vivian, masih mencoba agar Vivian mau bicara.
Liam menepuk pundak Kendra dan berbicara padanya, “Jangan bicara padanya, dia sedang banyak pikiran,”
“Kalau begitu, kau yang jawab apa yang terjadi?”
“Vivi baru saja selesai bercerita tentang sebuah alur dalam buku, mungkin endingnya buruk sehingga sampai terbawa kedalam mimpi.”
Apa yang terbawa kedalam mimpi? jika aku mengatakan yang sebenernya pada kalian, pasti kalian tidak akan percaya kalau aku berasal dari dunia luar, dan kalian hanyalah karakter buatan orang-orang ku.
“Kenapa terlalu kau hayati, isi buku hanyalah karangan penulis saja.”
Tentu saja aku menghayatinya karena aku sampai ditarik oleh sistem bodoh kedalam buku kematian yang memiliki ending jelek.
“Hei, aku sudah dari tadi bicara denganmu. kenapa mengabaikan aku?”
__ADS_1
“Aku malas bicara denganmu.”
“Kenapa, apa salahku?”
.
Karena karaktermu yang tidak dapat di tebak sehingga itu membuat terbentuknya dia jalur. sekarang katakan padaku, bagaimana aku akan memperbaiki kerusakan dalam plot kalian?
“Hei, jawab aku Vivi!”
“Kau lebih baik diam, jangan mengganggu hari-hariku.”
“Itu bagus!”
Apa maksudmu dengan kata bagus? bagus untukmu, buruk untukku. Vivian melotot pada Kendra, jarak mereka sangat dekat karena Kendra berada tepat di samping Vivian dengan tubuh yang sudah dia sejajarkan, jadi saat Vivian menoleh Kendra juga ikutan menoleh.
Hidung mereka bersentuhan.
Vivian semakin melotot, menjauhkan kepalanya dari Kendra secara refleks, sehingga punggungnya tidak sebagai menabrak perisai Liam. Situasi apa ini! Vivian berteriak pada dirinya sendiri kala dia sadar bahwa dia baru saja melakukan hal yang bodoh.
Kendra memegang pergelangan tangannya dan langsung menarik Vivian, sehingga gadis itu menabrak perisainya. Liam melongo melihat kejadian ini, sehingga dia cepat-cepat memilih untuk meninggalkan keduanya di koridor kelas.
Para pelajar juga melihat kejadian ini, Pada saat Vivian sudah sadar dia sontak mendorong Kendra agar dia lepas dari tangan si dominan. Tapi Kendra tidak membiarkannya, dia justru mengunci gerak Vivian di tembok pembatas koridor.
Angin tiba-tiba bertiup menerpa wajah keduanya, Senyum di wajah Kendra tidak hilang, dia kembali memperhatikan wajah Vivian dimana di kedua pipinya sudah tercipta rona merah.
Kendra kemudian menggoda Vivian lagi, wajahnya dia dekatkan di dekat telinga Vivian lalu berbisik; “Lebih nyaman mana, perisai ku atau perisai Liam?”
Suara lembut Kendra membuat Vivian semakin menjadi patung, pikirannya beterbangan jauh entah kemana, jantungnya berdebar kencang dan telinganya pasti sudah memerah karena malu.
Seseorang bawa aku pergi dari sini!
...•••...
Keterangan:
Delima \= Bibir
Perisai \= Dada pria
Bunga persik \= merujuk pada mata
...Terima kasih atas dukungan kalian teman-teman, selamat menunggu untuk istilah lainnya...
__ADS_1