
Kendra duduk tidak jauh dari Vivian, dia diam mendengarkan gadis itu terus berbicara dengan Stella. Mereka sekarang sedang berada di ruangan Stella, baru saja Stella sadar dan langsung meminta untuk bertemu dengan Vivian.
Kepalanya masih agak pusing, Vivian tidak memaksa dirinya untuk langsung mengatakan kejadian yang sebenarnya, Stella sedikit ragu apakah dia harus menanyakan tentang Ibunya dan mengaitkannya dengan kematian Ibunya.
Vivian mengetahui Ibunya memiliki tubuh yang lemah, meninggal karena memang sudah tidak kuat menahan rasa sakit. Bagaimana reaksi Vivian jika tahu bahwa Ibunya meninggal bukan karena sakit tapi karena Ibunya.
Stella menatap Vivian, wajah Vivian masih tampak khawatir. Didepannya adalah sosok adik yang sebelumnya selalu dia gertak, Stella memegang tangan Vivian lalu tersenyum dan berkata; “Vi, maaf.”
“Kak, apa yang baru saja kau katakan?”
“Tidak, jangan di pikirkan. Kau pergilah istirahat, tidak perlu menemani aku disini, lagi pula ada perawat.”
“Tapi aku...”
“Pergilah bersama Ken, aku rasa dia memiliki sesuatu untuk di bicarakan denganmu.”
Stella senyum, dan beralih melirik Kendra. Pemuda itu masih tetap menempel saja pada Vivian selama beberapa hari ini, sudah berlalu dua hari sejak kejadian itu, dan saat dirinya membuka matanya, dia sudah mendapati Kendra di ruangannya.
Mereka cukup berbicara sebentar tentang beberapa hal di masa lalu, dan progres ke masa mendatang, Kendra juga tampak berubah sejak terakhir kali mereka bertemu, pemuda ini jauh lebih banyak bicara dan berekspresi dari pada sebelumnya.
Mendengar Stella berucap seperti itu membuat Vivian langsung menoleh dan menatap Kendra, mungkin memang dirinya harus memberikan kesempatan pada Kendra untuk bicara.
”Ayo, kita bicara,” Ajak Vivian.
Kendra beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah Vivian, sudah lama sekali Kendra ingin bicara dengan Vivan, tapi selalu ada penolakan. dan beberapa hari ini karena kondisi Stella, Vivian terus menjaganya.
Gadis itu mengabaikan kehadirannya, atau mungkin memilih untuk terus menghindarinya. Kendra hanya mengikuti kemana arah Vivian pergi, hingga mereka sampai di taman belakang rumah sakit.
__ADS_1
Taman rumah sakit sedikit ramai dengan beberapa pasien rawat jalan, Vivian memilih duduk di sebuah kursi di taman tersebut. udara sekitar taman menyebarkan karena di penuhi dengan tanaman hijau dan pohon yang rindang.
Kendra duduk di samping Vivian, lalu dia bergumam sebelum berkata; “Maaf...”
Vivian meliriknya, dan menghela napasnya tetap menunggu Kendra untuk kembali berbicara.
“Maaf tentang perbuatan ku padamu, terakhir kali.”
“Perbuatan yang mana?” Tanya Vivian, pada bagian ini memang ada dua jenis tindakan yang tidak sopan.
Pertama, leher Vivian di gigit tanpa persetujuan Vivian sendiri, itu menyebabkan rasa sakit yang sangat di dalam tubuhnya, belum lagi memang umurnya belum mencukupi untuk bisa diberi tanda kepemilikan.
Kedua, tindakan Kendra pada pagi keesokan harinya, Delimanya di serang dan di panen oleh Kendra tanpa persetujuan Vivian. Hal ini membuatnya kaget, bahkan pada saat dia masih berada di dunianya, dia tidak pernah melakukannya.
Boro-boro mau melakukannya saja Vivian adalah orang yang tidak pernah berpikir untuk membangun hubungan di usia muda, jadi sekalipun dia tidak pernah menyandang status sedang berpacaran dengan...
Vivian sedikit peka pada perasaan orang lain, tetapi tidak peka terhadap perasaannya sendiri, di dunia aslinya jantung Vivian pernah maraton, tapi dia mengira itu bukan karena suka melainkan karena dia baru saja berlari saat pelajaran olahraga.
Chihuahua berkata, bahwa tugas terakhir dia adalah melahirkan anak untuk Kendra, ketika dia melaksanakan tugas itu yang dia dapatkan adalah kematian, jiwanya akan kembali ke dunianya dan otomatis menurut Vivian, pemilik tubuh asli akan kembali mengambil perannya lagi.
Sentuhan di tangan Vivian membuatnya tersadar, tangannya sekarang sudah di genggam oleh Kendra, Vivian mendengar pemuda itu berkata;
“Semua yang aku lakukan, gigitan itu, lalu serangan pada delima mu. Maaf aku melakukannya tanpa persetujuan mu, mulai sekarang aku akan mencoba mendekatimu dengan benar.”
“Kamu...tidak masalah, aku sudah tidak memikirkannya. lagi pula sudah berlalu, kecuali tanda di leher...Aku tidak tahu cara menghadapinya.”
“Maaf, hari itu aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi, aku lepas kontrol atas diriku dan siklus panas yang menjadi liar...Aku menandai mu sebelum waktunya.”
__ADS_1
“Tidak perlu minta maaf, semuanya sudah terlanjur. Kita.tidak.bisa kembali ke satu detik sebelum gigimu menusuk leherku.”
“Aku, tahu dan aku mengerti. Tapi apapun yang selama ini aku katakan padamu, semuanya nyata, aku tertarik padamu, Aku suka kamu.”
“Kapan kau...” Belum juga Vivian selesai bicara, Kendra sudah menarik Vivian semakin dekat dan menerkam Delimanya lagi, matanya tertutup dan menikmati setiap aksinya.
Mata Vivian membulat dan kelapanya menjadi linglung, pemuda di depannya ini baru saja meminta maaf tadi tapi dia melakukannya lagi, dengan tiba-tiba memanen Delimanya.
Kulit Delimanya seperti berkedut, jarak mereka begitu dekat, satu tangan Kendra sekarang tertumpu pada pundaknya, mata Vivian seperti dikunci oleh mata elang milik si dominan.
“Apakah semua tindakanku padamu masih tidak menunjukkan perasaanku?” napas Kendra terasa di wajahnya, Vivian masih melotot dengan kaku.
“Jawab aku, jika tidak maka diam mu menunjukkan semuanya, aku tidak baik dalam melakukan pendekatan.”
“Kau...kau...kau berkata bahwa kau butuh bantuan ku untuk memeriksa apakah kau benar-benar mengalami kelainan istimewa.Aku...Aku... Aku tid-...”
“Sudah, jangan diteruskan lagi. Aku tahu kau belum siap, Kita akan mulai secara perlahan untuk membangun hubungan, Aku tidak akan memaksamu atau bertindak di luar batas, asalkan kau tidak tidak mengabaikan aku...Kau dengar?”
Vivian mengangguk beberapa kali tanpa sadar, delima Kendra membentuk senyum
dan senyum itu tidak lepas dari mata bunga persik Vivian. Wajah Kendra memang terlihat sempurna, tampan dan berkharisma.
Siapapun yang berhasil menarik perhatian kerja, pasti adalah gadis yang sangat beruntung. Meskipun Kendra bisa bertingkah di luar batas, dan menyerang beberapa kali saat ada celah, Vivian membuang pikirannya itu ke tempat sampah.
Kendra tampan, memang tampan, tapi dia hanya karakter imajinasi penulis! Jika saja Vivian bertemu dengan orang seperti Kendra di dunia aslinya, Vivian sudah pasti akan ikut kagum dan menilai pria tampan sepertinya.
“Anak baik...” Kendra menepuk pelan kepala Vivian dan tersenyum padanya sehingga wajah Vivian menjadi memanas.
__ADS_1
“Kau, menjauh dari wajahku! itu panas.”
“Wajahmu merah, itu terlihat imut," goda Kendra, sambil menahan tawanya.