
Pada keesokan harinya Chihuahua bangun lebih dulu dari Vivian. Matanya berkedip-kedip menyesuaikan pandangannya, kemudian dia melihat Vivian masih tidur begitu nyenyak. Chihuahua mendekat, menjulurkan lidah kecilnya dan menjilat pipi Vivian: [,Tuan rumah, kau harus bangun! Sudah pagi, kau tidur seperti kerbau saja.]
“Siapa bilang aku belum bangun?”
[Lalu kenapa tidak membuka mata sejak tadi?]
“Hanya ingin melihat bagaimana seekor anak anjing membangunkan tuannya, ternyata mereka menggunakan saliva yah,”
[Sial, Aku bukan Anjing Tuan rumah, aku sistem yang terhormat.]
“Baik-baik, Kau terhormat. Ayo bangun, kita akan berkeliling di kota hari ini.”
Setelah merapikan kasurnya, Vivian membuka tirai dan jendela. Angin pagi yang menyegarkan berhembus dengan lembut, dan sinar matahari pagi yang hangat membuat Vivian tersenyum.
Ini adalah pagi yang menyegarkan, sebelum keluar Vivian tidak lupa untuk membersihkan dirinya. Chihuahua berlari kecil mengikutinya, sampai ke ruang makan.
Vivian membuka kulkas dan mengambil bahan-bahan yang dia butuhkan untuk memasak sarapan, kebetulan Farel melewati dapur dan melihat Vivian sudah ada disana.
“Kecil, apa yang kau lakukan di situ? Makanan akan disediakan oleh pihak penginapan.”
“Tidak perlu kak, minta saja mereka membatalkannya. Aku akan memasak sarapan pagi untuk semua.”
“Kau, sejak kapan bisa memasak?”
“Sudah sejak lama, kak.”
Farel duduk di kursi, area dapur di penginapan ini berada di luar. Setelah masakan Vivian selesai, Farel membantunya untuk meletakkan beberapa piring nasi goreng buatan Vivian di meja.
Vivian melihat mereka dan menemukan bahwa Stella masih belum ada di sana, jadi dia menuju ke kamar lagi untuk membangunkan Stella, akan tetapi itu sulit untuk dia lakukan.
Mungkin karena terlalu lelah, sehingga Stella masih sangat nyenyak tertidur, Vivian mengecek jam di dinding, itu sudah waktunya untuk mereka pergi. Jadi Vivian meninggalkan nota kecil di atas meja, untuk di lihat oleh Stella nanti.
__ADS_1
“Vivian, Ayo pergi. Sudah waktunya, aku akan membawamu berkeliling.”
“Baiklah, dimana yang lain?”
“Aku tidak tahu, mungkin masih tidur. Aku hanya bertemu Nila dan kak Farel.”
“Oh, kalau begitu tinggalkan Kota untuk mereka, mereka pasti akan mencari kita nanti.”
“Nila sudah mengurusnya,” Kesya berjalan di sampingnya, jarak pantai dengan kota tidak terlalu jauh, hanya saja mereka memang harus menggunakan kendaraan agar bisa lebih cepat tiba.
Hari pertama sesuai dengan rencana mereka sebelumnya, Kesya membawa ketiga temanya mengunjungi beberapa destinasi terkenal di kota Gold.
Vivian juga mengunjungi beberapa monumen bersejarah di kota Gold, ketika sedang asik memotret dengan ponselnya, Vivian terkejut karena melihat miniatur candi Borobudur juga ada disana, sehingga dia bertanya pada Chihuahua.
“Apakah penulis sengaja memasukkan benda-benda dari dunia asli ke dalam ceritanya? Seperti Indomie dan mie sedap, dan sekarang aku melihat miniatur candi Borobudur disini?”
[Tuan Rumah, segala hal yang ada di dalam dunia ini adalah hasil imajinasi penulis sendiri, benda-benda itu mungkin saja termasuk.]
Kesya melihat Vivian melamun dan memandangi miniatur bangunan yang menjadi icon kota ini. Dia lalu menyentuh pundak Vivian dan bertanya; “Apa kau penasaran dengan miniatur bangunan itu?”
Vivian terkejut dan keluar dari lamunannya, kemudian dia menatap Kesya dan bertanya; “Tentu bangunannya unik, apa lagi desainnya.”
“Aku sudah berpikir kau akan mengatakan seperti itu. Bangunan itu menjadi yang paling diminati oleh para pengunjung.”
“Itu benar, kira-kira siapa yang mendesainnya? Dia pasti orang yang sangat jenius.”
Kesya terdiam sangat lama, karena memikirkan pertanyaan Vivian. Sebenarnya meksipun dia sudah sering datang ke kota ini dulu, bersama dengan ayahnya, sampai sekarang dia juga tidak mengetahui siapa yang sudah membuatnya.
Vivian bertanya lagi, “Apakah orangnya misterius?”
Kesya menghela napasnya lalu berkata; “Itu bener, sampai sekarang tidak ada yang tahu. Masyarakat kota ini percaya bahwa benda itu muncul sendiri, sekitar 200 tahun lalu.”
__ADS_1
Heh, dua ratus tahun yah? Baiklah Vivian tidak akan bertanya lagi. Mungkin saja saat sedang menulis, penulis asli buku ini sedang memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa mengunjungi kabupaten Magelang untuk melihat Candi Borobudur.
Masalah mie goreng juga itu pasti makanan kesukaan penulis sama seperti dirinya. Siapa di dunia ini yang tidak menyukai Indomie goreng, rasanya sangat enak. Orang luar negeri saja sekali makan pasti ketagihaan.
“Menurutmu kejadian itu sangat misterius kan, tidak mungkin miniatur bangunan itu langsung jatuh dari langit, atau muncul seperti hantu.”
Iya, memang misterius. Vivian saja sampai sekarang tidak tahu siapa penulis buku kematian ini, dan bisa-bisanya menggunakan nama keluarga kakeknya untuk menadi bagian dari isi ceritanya.
Jika pun itu pengagum rahasia kakeknya, seharusnya dia memberikan ending bahagia untuk keluarga Alisher didalam buku. Kecuali jika si penulis adalah pengagum yang cintanya di tolak oleh kakeknya, barulah sedikit masuk akal jika karakter penting dari keluarga Alisher di dalam cerita ini berakhir dengan buruk.
Mati karena diracun oleh saudara sepupunya sendiri, si pelaku pembunuhan mendekam di penjara, ibu si pelaku menjadi gila karena anaknya. Ayah si korban mengurung diri dan tidak ingin makan hanya memandangi foto keluarga kecilnya, dan menangis.
Untuk kakek dan paman pemilik tubuh asli tidak dikatakan dalam ending novel, jadi Vivian tidak tau berkahir seperti apa kedua karakter ini, tetapi itu pasti tidak jauh dari kata buruk. Penulis mungkin saja menggunakan jalur tulisan untuk balas dendam pada kakeknya. Sehingga dia membuat keluarga Alisher memiliki akhir yang jelek.
Istilah lainnya, lebih baik santet mereka melalui sebuah tulisan cerita, yang bisa memberi manfaat bagi perasaan si penulis menjadi lebih lega, tidak perlu takut orang-orang akan menemukan mu dan netizen akan terus berkoar-koar di media.
Jika mereka menemukan kalian, katakan saja bahwa itu hanya di tulis berdasarkan imajinsis, tidak mengaitkan pihak lain, semuanya hanya fiksi belaka. Vivian memuji-muji para penulis yang menggunakan cara seperti ini, mereka sangat hebat dan pembaca pasti hanya akan berpikir bahwa karakter dalam cerita sangat buruk.
Mereka akan memaki-maki karakter tersebut, atau memberikan sumpah serapah. Vivian adalah salah satu tipe pembaca yang seperti itu, ketika dia sampai di penghujung bab cerita ini, dia menggerakkan giginya marah karena menemukan ending yang buruk, tidak sesuai dengan keinginannya.
Vivian menutup matanya, dan berkata; “Kau benar, kejadian itu sangat misterius. Orang yang bisa memecahkan ini pasti akan menjadi orang yang terkenal di dunia.”
“Eh, kau juga berpikir seperti itu?” Kesya meliriknya dan bertanya padanya.
“Tentu saja, siapa yang tidak ingin terkenal? Sayangnya meskipun diriset sedalam mungkin, memang tidak akan ada menemukan jawabannya.”
Karena orang-orang disini pasti tidak akan mempercayai bahwa ada dunia lain di luar dunia mereka, dunia yang sangat berbeda dengan apa yang selama ini mereka kenal, dunia dimana mereka tidak harus terikat dengan feromon, dunia manusia yang sebenarnya.
...•••...
...Udah pada bisa tebak kan, siapa penulis The End Of Poor Omega? 😂😂😂...
__ADS_1