Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Farel [Maaf Ini Salah Kakak]


__ADS_3

Sebelumnya rencana awal Nila itu cukup sederhana, hanya untuk mengawasi gerak-gerik Stella, karena kejadian di malam ulangtahun Vivian. Nila yakin bahwa Stella akan melakukan hal yang sama, pada saat itulah mereka akan memergoki Stella di tempat, dan mengamankan buktinya, berupa CCTV dan sampel dari makanan yang sebelumnya sudah Stella sudah campur dengan serbuk.


Masalah tentang alergi Vivian, itu di luar rencana mereka. Mereka sama sekali tidak mengetahui bagian ini, ketika Nila dan Mario pertama kali bertemu dengan Tuan tua, semua informasi Vivian sudah di cantumkan selain masalah alergi itu. Mungkin saja karena usia Tuan Tua yang sudah tidak muda lagi, sehingga Tuan Tua lupa untuk memasukkannya.


Insiden ini meskipun di luar rencana mereka namun tetap berimbas pada Stella sendiri. Bukannya ingin memancing Stella ke dalam perangkap, Nila hanya tidak mau ada kejadian yang lebih buruk dari keracunan makanan.


Jika Stella di cegah sekarang, gadis itu pasti akan semakin berulah kedepannya. Dapat di lihat pada hari ini bahwa, Stella mendengar pembicaraan Nila dan Kesya tetapi tidak mencegah mereka untuk memasak Seafood.


Stella mungkin ingin sesuatu terjadi pada Vivian, meskipun Nila sendiri tidak tahu apa yang membuat Stella sebegitu bencinya dengan Vivian, sehingga dia ingin terus menargetkan Vivian di masa-masa Vivian belum terlalu bisa mengendalikan feromonnya, dan memorinya yang hilang.


“Disini pasti ada kesengajaan. Orang yang mengetahui tentang alergi Vivian hanyalah Stella dan Farel. Farel sibuk bersama kami mengurus panggangan, jadi...”


Kalimat Liam terpotong oleh Stella, “Jadi apa? Karena kakak sibuk dengan kalian, jadi aku satu-satunya orang yang bisa kalian salahkan? Aku tidak pernah menyentuh dapur, dan tidak tahu kalau di sup itu adalah seafood.”


“Kau tahu, tidak mungkin kau tidak bisa membedakan mana Jamur dan kerang, kan?” Liam meliriknya dengan tajam.


Stella melirik ke arah Kendra matanya tampak berawan dan berkata; “Ken, kau harus percaya padaku. Vivian adikku, aku tidak mungkin menyakitinya, ini pasti ulah Kesya.”


“Jangan melempar kesalahanmu pada orang lain, aku sudah mengenal Kesya, dia tidak akan melakukan hal sekotor itu,” Liam terus membalas Stella, sementara Kendra dia diam dan memperhatikan Stella.


Berapa banyak rahasia yang kau sembunyikan dariku? Kendra melihatnya, meskipun dia sudah lama mencurigai warna asli Stella, dia tidak mudah mempercayai bahwa gadis ini sebenarnya sangat hitam.


Dia bahkan menargetkan saudaranya sendiri, kecemburuan miliknya tidak beralasan. Selama dia mengenal Vivian, gadis itu bahkan tidak pernah mencari masalah dengan Stella, jika alasannya hanya karena pesta ulangtahun Vivian yang megah, itu adalah alasan konyol yang pernah dia pikirkan.


“Kau seharusnya diam! Mengapa terus membalas ucapan ku? Aku tidak bicara denganmu,” Stella meliriknya dengan tajam, Alpha ini padahal sudah tidak menargetkannya sudah sejak lama, Kenapa sekarang itu terjadi?


“Mengapa? Aku hanya ingin kau mengakui perbuatan mu dan meminta maaf pada Kesya.”


“Aku tidak melakukannya!!!”


“Diam!! Ini rumah sakit.” Suara Farel menghentikan mereka.


Stella melihat kakaknya, sekarang matanya mulai memerah; “Kak, kau pasti percaya padaku kan? Aku tidak melakukannya. Mereka hanya ingin menargetkan aku kak.”

__ADS_1


“Untuk sekarang tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, kalian akan menganggu tidur Vivian.”


Setelah itu suasana nya menjadi hening, Kesya dan Nila sudah masuk kedalam ruang rawat Vivian. Chihuahua duduk di lantai menunggu Vivian sadar, tidak lama mata Vivian bergerak dan perlahan terbuka.


Vivian langsung merasakan kepalanya umah linglung, kemudian dia mengingat bahwa dia baru saja makan Seafood. Dia masih tidak bisa mempercayai hal ini, bagaimanapun juga di dunia aslinya Seafood adalah salah satu makanan favoritnya.


Sangat tidak menyenangkan di dunia ini ketika tubuh yang dia tempati justru memliki ketidakcocokan dengan makanan laut. Hiks... Mau sampai kapan Vivian berada di dunia dalam buku ini. 


Nila memperhatikan wajah Vivian yang tampak sedih, lalu dia bertanya; “Ada apa, apakah kau merasakan sakit?”


Vivian dengan lemah berkata; “Aku, aku tidak apa-apa. Aku tidak pernah berpikir, kalau sebelumnya aku memiliki alergi.”


“Jangan di pikirkan, setidaknya kau sudah baik sekarang. Nanti setelah kau sembuh aku akan memasak ikan dari danau kampung halamanku.”


Hiks...itu tidak sama, Vivian menangis dalam hati. Kemudian Chihuahua mulai mengonggong dari bawah lantai, [Tuan, selesaikan semua misi jika anda ingin pulang.]


“Bisakah kau tidak membahas tentang misi sekarang?”


[Maaf tidak bisa Tuan. Ini sudah tugas sistem untuk mengingatkan anda.]


Di luar ruangan sudah sunyi hanya tinggal Mario dan Liam. Farel berkata akan ke kamar kecil, sementara Kendra tadi menarik Stella, dan berbicara secara pribadi, dan memaksanya untuk mengakui semuanya.


Stella yang melihat pandangan mata Kendra yang tajam dan menusuk seperti jarum jahit menjadi gemetar, namun dia masih tidak ingin mengaku bahwa dirinyalah yang sudah melakukannya.


“Ken, kau tumbuh bersamaku 15 tahun aku selalu di sisimu. Apakah kau juga tidak percaya padaku seperti yang lain?” matanya yang sudah agak merah kembali mendung, dan menangis.


“Jangan gunakan air matamu itu untuk kabur dari pertanyaan ku. Katakan, aku benarkan kalau kau pelakunya?”


Stella menunduk dan tangannya terkepal.  Giginya mengerang, dia menenangkan dirinya dan berkata dengan lemah; “Ken, kau sudah berubah. Aku sudah melihatnya, pandangan matamu sangat berbeda ketika kau menatap Vivian. Katakan padaku, kenapa?”


Kendra menghela napasnya, diam untuk beberapa saat kemudian dia berkata; “Kau sudah tahu jawabannya. Kau kenal aku selama itu, artinya kau juga tahukan. Aku tidak perlu meminta jawabannya lagi.”


“Kenapa, aku jelas lebih lama mengenalmu. Mengapa aku dikalahkan oleh seseorang yang baru saja kau kenal selama dua bulan?”

__ADS_1


“Ini tidak ada hubungannya dengan seberapa lama aku mengenal seseorang. Jangan menyalahkan kehadiran Vivian, dia sama sekali tidak mengetahuinya.”


“Bagaimana dia tidak ada hubungannya Ken? Kehadirannya sudah merebut mu dariku.”


“Berhenti berpikir yang bodoh, sejak kapan aku menjadi milikmu? Kita hanya teman masa kecil, yang tidak sengaja tumbuh bersama saja.”


Stella diam untuk sesaat, dia lalu mengingat beberapa kenangan masa kecilnya bersama dengan Kendra. Memorinya berputar, hingga akhirnya tiba di masa sekarang, dengan tanpa sadar Stella mengatakan; “Aku seharusnya menambahkan takarannya tadi, sehingga dia segera menyusul Ibunya.”


“Jadi benar itu kau!” suara Farel terdengar keras dari arah belakangnya. Pembicaraan keduanya tidak sengaja di dengar oleh Farel, sehingga membuat Stella semakin gemetar.


Kemarahannya tiba-tiba menyeruak lagi, namun dia hanya menatap Stella dengan tajam, hari sudah malam sehingga Farel tidak ingin membuat keributan di rumah sakit.


Jadi Farel hanya berkata dengan pandangan mata yang memperlihatkan kekecewaan; “Adikku sendiri ingin menargetkan adikku yang lain. Jika ini kesalahan kakak, hukum Kakak saja, asal jangan Vivian yang tidak tahu apa-apa.”


Stella melihatnya sebentar lalu membuang mukanya ke arah lain. Dia tidak sanggup untuk bertemu dengan pandangan Farel, jadi dia berkata; “Sudah terlambat kak, kebencian ku padanya sudah mendarah daging...”


Stella menghela napasnya lagi, kemudian kembali berkata; “Kakak yang memulai semua ini, kakak yang membeda-bedakan aku dengan Vivian. Hanya karena dia memiliki gen yang lemah dan usianya yang setahun lebih muda dariku...”


“Maaf, kakak yang salah,” Farel menunduk, dia tidak pernah berpikir bahwa perlakuannya selama ini membuat Stella memiliki pemikiran seperti itu. Hingga dia tumbuh menjadi gadis yang seperti sekarang ini.


Suka iri, senang cemburu, tetapi gemar membuat orang lain iri dan cemburu dalam waktu bersamaan. Stella mendengar permintaan maaf Farel namun tidak menanggapinya, melainkan Stella berbalik menatap Kendra dan berkata; “Apakah memang sudah tidak ada kesempatan untukku, Ken? Tolong pikirkan kembali, Aku mohon.”


...•••...


...SURAT AUTHOR...


...Jika teman-teman merasa bahwa alur cerita mulai memburuk, silahkan katakan di komentar, agar saya bisa mencoba untuk merevisi jika ada waktu luang....


....Sejujurnya saya merasa agak buruk dalam penentuan konflik cerita, karena kehidupan saya selalu tenang dan tentram, **jarang berhadapan dengan konflik percintaan dan persaudaraan....


...Terima kasih atas dukungannya teman-teman....


...Tertanda...

__ADS_1


...Pejuang Skripsi**...


__ADS_2