
Vivian, Nila dan Mario serta Chihuahua sudah kembali ke apartemen mereka, Sekolah akan dilangsungkan tiga hari lagi, jadi mereka mulai mengurus kebutuhan sekolah mereka. Pada tingkat ketiga, biasanya pelajar sudah akan mengumpulkan banyak buku pembelajaran, yang sekiranya akan mereka hadapi di ujian masuk perguruan tinggi.
Pada tahun ketiga ini mereka juga hanya akan mempelajari mata pelajaran yang menjadi minat mereka, Sehingga pengajar hanya akan sesekali masuk kedalam kelas untuk mengajar materi penting lainnya.
Vivian memilih untuk masuk ke bidang bisnis jurusan manajemen. Dengan mempelajari manajemen Vivian berharap kelak bisa membantu ayahnya untuk mengelola perusahaan hiburan, Manajemen sepertinya akan jauh lebih muda dijalani dari pada Akuntansi.
Masuk ke akuntansi bisa di bilang cari stres sendiri, apa lagi jika sudah berhadapan dengan jurnal keuangan, seperti prinsip anak akuntansi balance gak balance harus balance. Mendapatkan satu angka saja yang berbeda hal ini sudah bisa memusingkan.
Jadi Vivian mencoba mencari jalur aman saja, dirinya pernah mendengar bahwa jurusan manajemen adalah jurusan yang paling santai, tapi Vivian tidak begitu mempercayainya, dia hanya ingin mencoba saja.
Vivian menyadari bahwa Mario terus saj melihatnya, jadi dia menoleh dan bertanya; “Ada apa?”
“Sebenarnya sudah lewat beberapa hari tapi aku tidak sempat menanyakannya, siapa Lion?”
“Dia orang asing gila yang entah dari mana datang menemui Stella lalu mengaku sebagai ruangannya.”
“Hem? Tidakkah kau merasa ini aneh?”
“Ya, tapi apa yang bisa aku lakukan? Mencampuri urusan singa betina itu?”
“Singa betina? kenapa kau...Astaga! apakah dia transgender?”
“Dia normal, aku hanya mendengar Ken memanggilnya seperti itu.”
“Uh'm... aku hampir saja berpikir yang tidak-tidak.”
Tentu saja tidak! Berbicara tentang singa betina, Vivian tidak tahu bagaimana Stella sekarang, Tuan tua berkata bahwa Stella sudah kembali ke asrama dan akan memulai kehidupan Beta-nya. Vivian tahu mungkin di asrama Stella sedang disulitkan oleh Lion.
__ADS_1
Meskipun gedung asrama putra dan asrama putri di pisah, ini tidak menutup kemungkinan Stella akan sering bertemu dengannya, Stella pernah berkata bahwa orang itu bilang mereka akan berada di kelas yang sama. Vivian khawatir padanya, dan lagi keduanya memang sekeras batu. Vivian bahkan sudah tidak memperdulikan hadiah 10.000.000 miliknya, hampir lupa malahan.
“Berbicara tentang Kendra, kemana perginya pacarmu itu?”
“Dia berkata bahwa dia tidak akan mengganggu ku selama seminggu, aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan. Mungkin saja dia memiliki urusan yang penting.”
“Kau yakin? Sangat aneh jika alpha yang selalu menempel padamu itu, tiba-tiba tidak menempel lagi.”
“Aku tidak pernah memikirkannya, aku hanya butuh waktu tenang. Risih juga kalau selalu ditempeli.”
“Kau...Bagaimana perasaanmu yang sebenarnya padanya? Jangan sampai menyesal, kalian sudah terikat oleh tanda.”
“Aku tahu...” Sebenarnya jika di tanya tentang perasaan, jantung Vivian memang berdetak jika di dekat Kendra tapi, Hatinya seperti belum sepenuhnya dimiliki oleh Kendra.
Kata suka yang pernah dikatakan oleh Vivian, juga belum tentu suka karena cinta lagi pula saat itu dia di buat pusing oleh feromon Kendra, Vivian sebagai alpha biasa tentu saja akan kalah dari feromon Alpha dominan.
Tapi tetap saja meskipun Vivian masih belum sepenuhnya pada Kendra, dirinya masih harus mengikuti anjuran dari sistem untuk terus menemani alpha itu sampai dia wafat, Jadi meksipun Vivian merasa sedikit geli saat Kendra menyentuhnya, dia memilih untuk patuh.
Pada saat Vivian marah terkahir kali yang membuat Kendra pamit pulang, dia benar-benar tidak tahan, mungkin jika hanya ada Kendra, setidaknya dia tidak menghabiskan isi kulkas. Berbeda dengan Lion, orang tidak tahu malu itu menganggap rumah mereka sebagai rumahnya sendiri, membuka dan mengambil isi kulkas dengan sebebas hati.
Siapa yang tidak akan merasa kesal? Lion bukannya berusaha untuk dekat dengan Stella, pemuda itu justru hanya duduk di ruang keluarga atau berjalan ke ruang makan. Saat Stella keluar dari kamar, barulah Lion bergerak dan mendekati Stella dengan makanan di tangannya.
“Apa kau tidak bertukar pesan dengannya?” Nila bertanya lagi, kemudian Vivian mengangguk untuk mengiyakan.
“Hanya pesan singkat, aku tidak ingin mengganggunya. Dia mungkin memang sedang sibuk mengerjakan sesuatu.”
Mengirim pesan atau melakukan panggilan sebentar adalah rutinitas malam Vivian sebelum tidur, hanya menanyakan kabar, dan sedang apa? tidak ada pertanyaan lain. Kendra selalu mengatakan bahwa dia akan menemui Vivian lagi saat sekolah dimulai.
__ADS_1
Kendra memang sedang tidak berada di tempat sekarang ini, satu hari setelah Kendra kembali dari rumah Vivian, dia langsung memesan tiket penerbangan ke negara Diamond, kota Blue, tempat ayah dan adiknya menetap.
Alasannya karena dirinya ingat bahwa dia tidak pernah membahas tentang hubungannya dengan Vivian pada adik dan ayahnya. Belum lagi aturan negara Black, pertunangan bisa di laksanakan jika dua pihak orang tua dapat hari.
Sementara Ayah Kendra memiliki sedikit Masalah dengan kota Silver, Sang ayah tidak ingin kembali ke kota dimana banyak kenangan yang tersimpan tentang mendiang ibunya. Katanya ayahnya akan merasakan sesak saat menginjakan kaki di tanah kota silver.
“Kak, aku rasa percuma saja membujuk Ayah sekarang. Mungkin jika kakak ingin membahas tentang hubungan kakak tunggu sampai ayah menghubungi kakak lagi,,” Caroline adik perempuan Kendra, membuka pembicaraan setelah melihat wajah jelek sang kakak.
“Apa kau bisa membujuk ayah? Sekolahku tinggal tiga hari lagi. Jadi aku harus segera kembali.”
“Akan aku coba kak, tapi tidak sekarang, Ayah pasti akan sangat marah nanti. Setidaknya aku membutuhkan waktu enam bulan sampai akhir semester selanjutnya.”
“Terlalu lama, Vivi akan segera berusia 18 tahun di akhir tahun ini.”
“Itu bagus, usai 18 tahun bagi seorang Omega adalah waktu yang tepat untuk ditandai.”
“Maaf, sudah mengecewakanmu tapi Kakak ipar mu adalah seorang Alpha.”
“,Apa! Kak...kau seorang pengidap kelainan istimewa? Apa jadinya jika ayah sampai tahu?”
“Apa yang kau takutkan? Ayah tidak pernah menang Alpha dan Omega dengan pandangan yang berbeda.”
“Aku tahu kak, hanya saja ayah pasti akan terkejut ketika mengetahuinya.”
“Biarkan saja dia terkejut,” Setelah mengatakannya Kendra kemudian meninggalkan adiknya dan kembali kedalam kamarnya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Vivian.
Ah, tidak tahu sebesar apa rasa rindu seoeang Kendra pada Vivian, Kendra pergi menemui ayahnya tanpa memberitahu apapun pada Vivian, Kendra berpikir Vivian akan mulai bertanya-tanya tentang keberadaannya, tapi ternyata dia salah Vivian hanya mengatakan bahwa dia harus segera menyelesaikan urusannya lalu cepat kembali.
__ADS_1