Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Feromon


__ADS_3

Vivian terbaring didalam kamarnya, sambil menahan panasnya. Ini bukan panas biasa ini adalah panas yang menandakan bahwa dirinya membutuhkan sentuhan, membutuhkan Feromon pasangannya tetapi sayangnya pacar yang seperti anjing gila itu sekarang tidak tahu entah dimana, dan tidak ada kabar sama sekali.


Orang itu seharusnya tahu bahwa dalam masa sensitifnya ini, dia sangat butuh dirinya. dia butuh feromon pemuda itu, dia butuh sentuhannya. Hanya Feromon pasangannya yang bisa dengan mudah merendahkan panas dalam dirinya, menangkan Tubuhnya dan membuatnya jauh lebih nyaman.


Feromon pasangan di butuhkan untuk menekan sebaran Feromon yang tidak berada dalam kendali pemiliknya, Sentuhan dari pasangan dibutuhkan untuk membantu memberikan kenyamanan pada Tubuh agar bisa terasa lebih ringan dan rileks.


“Sial! kemana perginya anjing gila itu?”


“Jika seperti. ini terus aku lama-lama akan mencari Omega saja..Uhm... Panas sekali, ” Vivian melenguh, bahkan setelah dia mengatur suhu ruangan, itu sama sekali tidak membantu dirinya.


“Aaaaa.... sialan, huhuhu.... Ibu aku ingin pulang, aku tidak ingin berada di dunia aneh ini lagi... hwaaa.... ” kemudian kali ini dia merengek memanggil nama sang Ibu.


Itu cukup membuat pemuda yang baru saja tiba di depan kamarnya terdiam. Uh separah itulah siklus kali ini? Dia diam dan mendengarkan semua keluhan Vivian jangan tanya kenapa dia bisa masuk kedalam apartemen Vivian, tidak lama setelah mereka pacaran Vivian memberitahu Sandi apartemennya, paling tidak itu berguna untuk nya hari ini.


“Ini dunia yang penuh aturan, tidak ada kebenasan dalam memilih pasangan, mendapatkan pasangan tampan pun tidak menjamin bahwa pasangan mu akan peduli padamu saat kau berada dalam masa sulit seperti ini.... ”


“Di duniaku lebih baik meskipun aku singel, tidak pernah menjalin hubungan pacaran dengan orang, saat aku sakit aku masih memikliki beberapa teman yang akan datang menjenguk ku, Ibu ku selalu merawat aku dengan baik dan teman-teman ku akan membawakan aku banyak makanan dari rumah mereka.”


“Dasar anjing gila! Jika dia butuh aku dia akan langsung menyerang tapi ketika aku yang butuh dia, dia menghilang tidak ada kabar sama sekali.... ”


“Huhuhu.... Anjing gila kau dimana? Hwaaa.... ”


Jadi setelah melihat kondisi pacarnya yang sedangerengek seperti bayi kecil yang kelaparan meminta makanannya, Kendra mendekati ranjang Vivian. Aroma Feromon milik Vivian tercium diseluruh ruangan itu, dan membuatnya harus menahan dirinya agar tidak sampai kelepasan.


Kendra secara perlahan melepaskan feromon nya juga, dengan perlahan aroma feromon nya itu mulai bergabung dengan Feromon Vivian di udara Ketika dia sudah mendekat, tangan Kendra mengusap kepala Vivian.


Merasakan seseorang menyentuh kepalanya, Vivian membuka matanya yang sudah agak merah karena menangis. Dia melihat wajah pacarnya terpampang jelas di depannya sekarang.

__ADS_1


“Anjing gila, kau kemana saja? Huhu aku tidak tahan....” Vivian bangun dan mengaitkan tangannya di leher Kendra, menelik pacarnya dan menghirup aroma khas yang sudah di rindukan sejak kemarin.


“Aku disini, kucing liar. Maaf membuatmu melewati semua ini sendiri. Maaf telah mengabaikanmu kemarin, hirup saja Feromon ku sepuasnya.” Ucap Kendra, tangannya menyentuh kepala belakang Vivian dan ikut memeluk.


“Aku.... Uhm.... ” Wajah Vivian mulai memerah, mungkin. karena sudah terlalu lama sejak terakhir kali mereka saling menanen buah delima sehingga Vivian nersss sedikit malu jika memulainya duluan.


“Ada apa? Emm.....” suara rendah Kendra terdengsr di telinga Vivian dan membuat telingah putihnya menyerah malu.


“Aku... Aku...” Vivian tidak bisa mengatakannya, dia sangat malu. Melihat wajah Vivian. yang semerah tomat, Kendra kemudian tersenyum.


“Ingin aku memanen?” setelah mendapatkan pertanyaan seperti itu, Vivian langsung mengangguk, yah paling tidak pacarnya ini cukup peka.


Jadi dengan lembut, Kendra memegang dagu Vivian, lalu kengangkatnya agar mendongak, Kendra melihat Delima Vivian yang jauh lebih merah sejak terakhir kali dia panen di bus sekolah. Kendra mendekat dan mempertemukan kedua buah delima itu.


Merasakan perasaan yang nyaman karena gerakan dan sentuhan lidah buaya Kendra, pada delimanya, membuat Vivian dengan semangat membuka delimanya sehingga lidah buayanya menuambut kedatangan lidah buaya Kendra membuka akses untuk mereka mulai berdansa dan menari-nari di aula dansa kerajaan di dalam buah delima mereka.


Tangan Kendra mulai menjelajah, dia mengangkat tubuh Vivian yang tidak bertenagah dan meletakkannya di.atas pangkuannya, Para Buaya yang tadinya menari-nari dan berdansa saling berpelukan, sekarang memasuki masa perang yang mana saling ingin menjatuhkan lawan dengan serangan mereka.


Merasakan bahwa pihak bawah mmerlukan istirahat sehenak, Pihak yang memimpin pertarungan di ruang dansa itu memberikannya istirahat untuk sejenak, Mata pemuda itu menatap mata sang gadis, meminta izin untuk mengekspos daerah lain untuk dia panen.


“Tidak apa, aku tidak akan melakukan tirakan yang berlebihan jika kau belum siap.”


“Uhm.... ” Vivian hanya bisa bergumam.


Kemudian Kendra berpindah ke area Leher jerapah Vivian yang agak pemalu, lidah. biayanya. bermain di sana dan hidung anjingnya dengan leluasa menghirup aroma feromon Vivian, kemudian dia mulai meninggalkan beberapa tanda cinta di leher jerapah Vivian.


“Aaah.... kenapa kau menggigit aku?” Vivian bertanya ketika dia merasakan gigitan kecil di area leher jerapahnya.

__ADS_1


“Tidak ada alasan, aku hanya ingin meninggalkan beberapa tanda cinta pada Leher jerapahmu....” Jadi setelah berkata demikian Kendra menurupnya dengan senyum.


Kemudian setelah mengatakannya, dan lama bermain di area sana, Kendra merasa bahwa dia sudah cukup memberikan istirahat para delima dan aula pesta dansa Vivian, sehingga alhirnya di kembali menuju perkebunan Buah delima, dan mulai memanen banyak buah delima. serta mengajak lidah buaya Vivian yang lembut untuk berdamai dan kembali ke alula dansa kersjaan mereka.


Berdansa dengan lembut.....


.


Vivian menikmati momen dansa lidah buaya mereka, sehingga dia menutup matanya dan membiarkan lidah buayanya berada dalam kendali sang dominan. Tubuhnya sudah sedikit lebih nyaman dibandingkan dengan sebelumnya.


Dia sedang dimanjakan,


Tangan Kendra memeluknya memegang punggung dan area paha ayamnya, Tangan yang berada di paha ayam dan juga punggungnya bergerak menuju ke satu daerah yang sama, lapangan kecil yang ramping, Tangannya mencoba untuk membersihkan daerah lapangan itu, dan dia menemukan bahwa permukaan lapangan tampak terasa halus dan bersih (lembut dan putih).


Kemudian sepuluh pasukan yang bertugas di area lapangan tadi, mulai bergerak naik, mendekati daerah yang belum pernah di panen oleh pasukan lidah buaya musuh. Merasakan ancaman, Tubuh Vivian merespon dengan menggigil sehingga kedua matanya yang terpejam karena menikmati dansa di aula keraissn sekarang terbuka lebar, kedua mata membulat menatap tajam ke sang pelaku utama.


“Aaaaaa.... dimana kau menyentuh, dasar mesum!!!”


“Tenanglah, aku hanya memberi si kembar sedikit olahraga, jadi nikmati saja kucing liarku....”


“Aaah... Tidak! dasar anjing gila mesum!!! jauhkan tangannmu dariku!!”


“Diam atau aku panen mereka sekarang?”


Vivian; “!!!” Ibu aku ingin pulang, putrimu sudah di tindas oleh seekor anjing gila....


__ADS_1



__ADS_2