Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Kendra [Seperti Adik Perempuan]


__ADS_3

Keesokan harinya Kendra bangun lebih awal, dia langsung bersiap dan berencana akan menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Vivian. Malam kemarin, Farel tidak membiarkan mereka masuk, selain dua gadis yang bertugas memasak kemarin.


Pembicaraannya dengan Stella kemarin cukup membuatnya membuatnya tidak bisa tidur karena terus memikirkannya. Kendra tidak tahu lagi, slogan seperti apa yang cocok dia pergunakan untuk mendeskripsikan gadis itu.


Omega pencemburu?


Gadis manja yang semaunya saja?


Atau Ratu iri dan dengki?


Tidak, ketiganya. Julukannya terlalu panjang, mari kita sebut dia sebagai lotus hitam bertopeng kelinci putih kecil yang lembut. Kendra mengangguk setelah menetapkan nama itu, aneh memang.


Bisa-bisanya dia mulai memperdulikan sekitarnya, sejak kapan itu dimulai? Angin pagi bertiup agak kencang, dan matahari sudah berada di tempatnya. Kendra melihat kedua Alpha masih pulas tertidur di kasur masing-masing.


Kendra keluar dari kamar mereka, dia berjalan ke arah parkiran penginapan, langkahnya terhenti ketika dia mendapati Stella juga sudah berdiri di luar. Kendra mengernyit, dan hanya menatapnya saja.


Stella dengan ragu-ragu mendekat, dengan kepala yang tertunduk ketika tahu Kendra sudah datang, dia masih tidak berani untuk mengangkat wajahnya dan menatap mata tajam Alpha dominan tersebut.


“Ken...” Suara Stella sedikit lemah dan kecil.


“Bicara jika ingin berbicara, aku tidak ada waktu,” Kendra berbicara dengan santai tapi itu berbeda dengan apa yang pendengaran Stella tangkap.


Terasa dingin dan sangat datar, jadi membuatnya sedikit ragu untuk berbicara lagi, “Ken...Aku...Aku menyukaimu, Tidak, maksudku aku... Aku mencintaimu. Aku sudah...aku sudah lama...”


Tidak ada mimik apapun di wajah Kendra, dia dengan tenang mendengarkan Stella. Untuknya, masalah seperti ini seharusnya segera di selesai agar tidak tertunda dan tidak menimbulkan masalah yang baru lagi.


Jadi Kendra memotong kalimat Stella dan berkata dengan lembut; “Aku tahu, tapi maaf aku tidak bisa. Kau hanya seperti adik perempuanku.”


“Kau tahu lalu, kenapa? Aku tidak percaya di matamu aku hanya mendapat gelar adik perempuan.”


“Itu faktanya Stella, mungkin kau sendiri yang salah mengartikan semuanya.”

__ADS_1


Tidak! Itu tidak mungkin pikiran Stella berteriak, ingatannya kembali datang menghantuinya, bayangan imajinasinya juga datang dimana mereka berdua akan hidup bahagia dan membuat seluruh dunia menjadi iri padanya.


Stella menggeleng, tubuhnya bergetar sampai ke giginya dengan mata yang sembam dia memberanikan dirinya untuk menatap Kendra.


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung Stella berpacu dengan kencang, bukan karena keduanya saling jatuh cinta. Melainkan karena kekhawatirannya pada semua yang ada diri Kendra.


Stella seolah-olah lupa dengan pembicara mereka kemarin, Otak Stella tidak menyimpan ingatan tentang bagian dimana dia menyadari bahwa orang yang selama 13 tahun ini dia kejar justru memiliki keterkaitan pada adik sepupunya sendiri.


“Pikirkan kembali Ken, aku tidak percaya ini. Jelas-jelas aku yang sudah menemani kamu selama 13 tahu, bagaimana bisa di matamu aku hanya seorang...adik perempuan?”


Suara Stella lembut dan terdengar menyedihkan di telinga Kendra. Apa yang bisa dia lakukan jika hal itu sudah menjadi fakta? Diam dan terus membiarkan masalah ini?


Tentu tidak bisa, ulang tahunnya sendiri juga akan tiba beberapa bulan kedepan. Usianya akan mencapai 19 tahun, dimana dia sudah akan mulai memikirkan pasangannya.


*Mantan Omega: Vivian


Mengenai aturan keluarganya, Kendra bisa memikirkan hal itu nanti, lagi pula dia akan selalu menang jika harus bertarung dengan kakeknya, ingat dia Alpha dominan muda, sementara kakeknya adalah Alpha dominan yang sudah berumur.


Jadi Kendra menghela napasnya dan berkata lembut pada Stella; “Kau harus bisa menerima kenyataan, meksipun itu sakit. Sama seperti aku yang sudah menerima kenyataan, bahwa aku sepertinya mengidap penyakit kelainan istimewa.”


“Tapi...tapi perlakuan mu padaku selama ini itu...” suara Stella menggantung lagi, air matanya sudah jatuh, dia terisak tetapi tidak ingin mengeluarkan bunyinya.


“Aku melakukannya sebagai seorang kakak, aku menemanimu bermain karena perintah kakek, aku menjagamu karena perintah ayahmu.”


“Aku minta maaf jika tidak pernah mengatakannya padamu. Tetapi kau memang selalu ingin menang, kau akan membuat kekacauan saat kau tidak mendapatkan apa yang kau mau.”

__ADS_1


“Belajarlah untuk menerima kenyataan dan menjadi Omega yang lembut, kau pasti bisa menemukan Alpha mu suatu hari nanti.”


“Aku tidak mau! Kau adalah mimpiku, Kau akan menjadi Alpha ku...Hiks.. Ken kau hanya milikku.”


Stella berlutut di tanah, wajahnya merah karena menangis, tangannya terkepal lagi dan isak tangis darinya semakin terdengar di telinga Kendra. Jujur, dia sedikit iba tapi jika Kendra tidak melakukan ini Stella akan susah untuk menerima kenyataan.


“Ini pasti karena Vivan kan! Kau berubah karena dia, kau tersenyum padanya, kau menjauh dariku. Dia sudah merebut mu dariku... Hiks...Ken, aku mohon kembalilah seperti Ken yang dulu...aku merindukanmu.”


“Maaf Stella, bukan Vivian yang merebut aku darimu. Akan tetapi kesadaran yang membuat aku menyadari semuanya.”


Bahwa aku ingin merebut Vivian dari keluargamu, dari teman-temannya. Aku ingin membawa dia pergi jauh, dan mengurungnya hanya untukku, aku ingin dia selalu ada disisi ku, Aku mau hanya dia.


Feromonnya


Senyumnya


Aku ingin hanya aku yang bisa melihatnya, hanya aku yang bisa mencium aromanya. Dengan berakhirnya pemikiran tersebut, Kendra melangkah meninggalkan Stella yang masih merosot di tanah.


“Kau hanya milikku Ken, siapapun yang merebut mu dariku ahrus mati, tanpa terkecuali.”


Tidak jauh dari sana, ketiga pemuda itu sedang asik menguping. Mereka melihat semuanya sejak awal, Farel lalu berpikir bahwa sepertinya Stella menjadi seperti sekarang ini bukan hanya karena dirinya tetapi juga karena perasaannya.


Sebagai seorang kakak, dia pribadi juga mengawatirkan Stella. Tetapi apa yang di lakukan oleh Stella juga sudah di luar batas karena bermain dengan nyawa seseorang.


“Hei, apa Kalian mendengarnya tadi? Bukankah ini sudah menjadi obsesi?” Mario tiba-tiba bertanya dan membuat Liam tidak segan untuk menjitak kepalanya.


“Huh, kau baru menyadarinya? Aku sih sudah lama, dia sering menargetkan gadis-gadis omega di sekolah sejak dulu. Kesya yang paling sering menjadi korbannya.”


“Eh, tapi sekarang sepertinya berbeda. Vivian sudah masuk dalam list-nya, Kendra tidak mungkin benar-benar mengidap Kelainan Istimewa kan?”


“Mana aku tahu, kita lihat saja kedepannya. Menurutmu kak, bagaimana?” dengan tiba-tiba Liam melirik ke arah Farel di ikuti oleh Mario juga.

__ADS_1


“Mengapa menanyakan itu padaku? Tanyakan saja pada Kakekku, aku sih ikut saja dari keputusannya.” Oh, itu benar. Mereka hampir saja lupa dengan sosok tua yang paling berkuasa di keluarga Alisher.


Farel berkata lagi; “Minta beberapa orang untuk mengawasi dan mengamankan Stella. Setelah Vivian membaik, kita akan langsung kembali ke kota Silver. Siapkan semua bukti yang sudah di kumpulkan sejauh ini.”


__ADS_2