Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Vivian [Where is Stella ]


__ADS_3

Vivian duduk di ruang keluarga, hari sudah sore dan Vivian belum bertemu dengan Stella sepanjang hari, Vivian sudah menunggunya sejak dia bangun tadi, tapi tidak ada tanda-tanda kalau Stella ada di rumah. Vivian juga dengan sudah memeriksa ruang kamar Stella, dan itu kosong.


Chihuahua duduk di sampingnya, ruang sekarang sedang sepi karena Tuan tua pergi keluar untuk bertemu dengan temanya, Ayah dan pamannya tentu saja sibuk di kantor, jadi di rumah hanya ada Vivian dan Chihuahua.


Teman-temannya yang lain juga sedang memiliki urusan sendiri. Nila dan Mario kembali ke tempat penelitian feromon untuk mengunjungi Bibi Vivian, sekaligus membicarakan tentang hubungan mereka berdua. Kesya dan Liam jangan tanya, mereka pasti sedang bersama sekarang.


Lalu, Kendra... Vivian jujur tidak mau memasukkan Kendra dalam list teman yang mungkin bisa menemaninya. Vivian tidak akan, biarkan saja nanti juga kalau kangen dia akan datang sendiri.


Vivian bertanya; “Apa yang harus kita lakukan pada Stella? aku tidak melihat dia dari tadi.”


Chihuahua melirik dan berkata; [Gampang, hanya membuat kakak anda mau bersama dengan pemeran baru.]


“Apa identitas pemeran baru?”


[Teman sekolah kakak anda, dulu pernah menyatakan cinta saat masih di elementary school, tapi ditolak. Dia seorang Beta.]


“Maksudmu dia kekasih masa kecil Stella juga?”


[Kurang lebih, Tuan.]


Apa-apaan itu? aku rasa lebih tepat kalau di sebut cinta monyet anak TK, usia mereka saat itu masih sangat muda, kenapa Beta kecil melakukan itu pada Gadis omega kecil.


Vivian tahu usia seperti itu masih begitu lugu, Vivian juga dulu seperti itu dia banyak membanggakan diri akan menjadi dokter, menikah dengan pangeran berkuda putih, dan menikah lalu hidup bahagia selamanya.


Pada saat suasana menjadi hening, bel rumah berbunyi, Vivian Langsung membukakan pintu dan melihat pengirim paket, Vivian mengernyit dan bertanya; ”Atas nama siapa kak?”


“Vivian Alisher...” pengirim paket menjawab. Vivian menerima paket berupa sebuket bunga mawar, dia mengernyit karena karena tidak ada nama pengirim.


Vivian meletakkan buket bunga tersebut di atas meja, kemudian kembali uduk, mengambil ponselnya dan bertanya pada Kendra, apakah dia pengirimnya sehingga tidak meletakkan namanya, pesannya juga hanya di baca Saja.


Tidak lama bel pintu kembali berbunyi, disusul oleh ketukan pintu yang keras. Vivian mendengus karena sedang dalam suasana hati yang buruk, dia berdiri lalu membuka pintunya.


Wajah pacarnya langsung terlihat dengan jelas, Vivian kemudian kembali duduk dan diikuti oleh Kendra. Pandangan Kendra langsung tertuju pada sebuket bunga mawar yang ada di atas meja.


“Siapa yang kirim!” nadanya agak tinggi.


“Kalau aku tahu, aku tidak mungkin hubungin kamu. Aku pikir pengirimnya kamu jadi tadi aku tanya untuk memastikan.”

__ADS_1


“Apa ada nama pengirimnya? alamat atau sesuatu gitu?”


“Kalau ada, aku gak mungkin tanya kamu lagi.”


“Oh, jadi maksudnya kalau identitas pengirimnya ada kamu diam aja gitu? Gak lapor aku?”


“Buat apa aku laporan? kalau aku baik-baik saja.”


Kamu ingat yah, kucing liar kamu sudah ada yang punya, kamu punya aku.”


“Iya, aku tau. Udah diam deh, jangan bertingkah seperti anjing gila hari ini, aku lagi pusing tahu gak.”


Kendra melihatnya kemudian dia memeluk Vivian, dan bertanya; “Ada apa?”


“Aku pusing, sekarang udah sore tapi aku belum lihat Stella. Aku telpon tapi ponselnya tidak aktif, kira-kira dia kemana yah?”


“Kamu khawatirkan Stella?;dia udah besar loh, udah bisa jaga diri.”


“Aku tahu, tapi ini bukan tentang khawatirkan Stella, Aku... Aku dapat tugas lagi dari sistem, aku harus ikut campur di hubungan stella.”


“Makanya itu, aku harus tahu situasi mereka tapi sampai sekarang Stella belum kembali. Kamu mau gak bantuin aku?”


“Kalau aku bantu, aku dapat apa?” Kendra tersenyum dan hal ini membuat Vivian lagi-lagi mendengus.


Kendra ini seharusnya membantu yah bantu saja kenapa harus minta hadiah? Vivian lelah tahu gak, dia juga butuh istirahat dan waktu yang santai, tidak meladeni kebiasaan buruk Kendra yang bisa berevolusi menjadi jadi binatang liar.


Kendra terkekeh ketika mendapati wajah Vivian yang nampak suntuk. Dirinya sudah mulai mengurangi kok, seusai dengan apa yang di katakan Tuan tua Alisher dan Alexis kemarin, katanya boleh tapi jangan berlebihan, tunggu resmi baru boleh.


“Aku hanya bergurau saja, tidak akan meminta imbalan kok. mulai sekarang berikan saja aku satu sampai dua sentuhan di wajah, aku akan sangat senang.”


.


Cup!


Kendra,"...Kenapa di pipi?”


“Mulai sekarang berikan saja aku sentuhan di wajah, aku akan sangat senang.”

__ADS_1


“...” Baik, pacarnya ini masih sangat muda sehingga tidak mengerti bahasa sentuhan di wajah. Apa yang di maksud Kendra adalah bagian delima mereka, satu kali saja cukup asal kali ini Vivi yang mulai.


“...Aku maunya Delima, bukan bakpao bulat kecil di pipi.”


“Tidak bisa, kesepakatan adalah di wajah. Yang bertindak adalah Aku, jadi aku bebas menentukan siapa yang duduk dengan siapa?”


“...Aku tarik kata-kataku lagi.”


“Tidak bisa, kesepakatan adalah kesepakatan. Kamu yang buat maka kamu harus bertanggungjawab. Jika masih mau tarik silahkan, tapi aku tidak akan mau melihatmu tiga hari.”


“...” Kendra menjadi diam dan tidak ingin bicara lagi.


Keheningan pun terjadi, tidak lama pintu rumah terbuka, Vivian menoleh mengira bahwa Stella sudah pulan, tapi dia langsung menelan kecewa karena yang memasuki pintu adalah Tuan tua.


Tuan Tua melirik mereka secara bergantian kemudian berkata pada Kendra, “Kau tidak melakukan sesuatu pada cucuku kan?”


Kendra hanya menggeleng, Tuan tua kemudian duduk di sofa tunggal dan melihat Vivian sedang melamun, tuan tua kembali menatap Kendra dan bertanya; “Ada apa dengan Vivi?”


“Kendra.menjawab, “Dia sedang mengajarkan Stella, katanya sejak pagi tadi Vivian tidak melihatnya dan sampai sekarang Stella belum kembali.”


“Oh, pagi tadi Stella berkata ingin keluar untuk mengurus sesuatu tapi tidak mengatakan ingin pergi kemana.”


Vivian keluar dari lamunanya dan langsung bertanya pada Tuan tua “Apakah kakek sudah mendapatkan informasi dari Stella?”


Tuan tua menggelengkan kepala tuanya, cukup aneh memang Stella tidak pulang ke rumah tepat waktu, Tuan tua kemudian menghabiskan waktu untuk menanti malam hari bersama dengan Vivian.


Vivian semakin di buat kepikiran oleh Stella, dia takut kalau misalnya Stella diculik oleh orang asing atau kejadian yang hampir merenggut nyawanya seperti sebelumnya di rumah sakit. Belum lagi, Tania bibinya masih belum di temukan oleh polisi, mungkin saja kali ini Tania benar-benar sudah kabur dan membebankan semaunya pada Stella.


...°°°...


^^^Terima kasih sudah singgah dan baca cerita saya ^^^


... ...


.


.

__ADS_1


__ADS_2