Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita

Transmigrasi: Aku Jadi Alpha Wanita
Stella[Pergi]


__ADS_3

Setelah dua hari itu adalah waktu dimana Stella akan pergi ke Asrama Akademi. Stella sepanjang malam tidak dapat tidur, kepalanya terus terbayang kenangan masa lalu, entahlah bagaimana bisa memorinya membawanya kembali ke masa-masa bahagia, setelah semua perbuatannya terungkap.


Angin malam kemarin kemarin datang membawa sebuah perasaan yang familiar, rasanya seperti bibinya datang untuk mengingatkannya bahwa keluarga adalah bagian terpenting yang harus dijaga.


Mengembalikan semua memori indah yang sempat dia lupakan, Stella jalan menuruni tangga ke ruang keluarga, di masa lalu Stella sangat ingin tinggal di luar, dia sempat cemburu ketika mendengar Vivian mendapatkan apartemen.


Sekarang ketika dia akan meninggalkan rumah ini, hatinya menjadi berat. Aneh memang, terkadang apa yang kita inginkan di awal biasanya bukanlah apa yang benar-benar kita inginkan.


Orang jahat menyebutnya sebagai penyesalan. Orang yang suka menebar gosip mungkin akan berkata rasakan dan mulai menghina. Orang yang ingin balas dendam pada orang yang jahat mungkin akan menyumpahinya mampus kau, kena karma!


Stella tidak tahu apa yang akan ia lakukan di Akademi Bertaraf Militer itu nantinya, bisakah dia menyelesaikan pendidikannya disana dan dapatkah dia menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan yang buruk lagi?


Paling tidak dia harus melakukan yang terbaik, diruang keluarga tampak anggota keluarganya sudah menunggu. Semuanya hadir kecuali Ibunya, yah wanita itu hadir atau tidak dia juga tidak ingin memikirkannya, dia masih sakit hati.


“Kak, kau akan pergi sekarang?” suara Vivian membuka dialog di antara mereka, Oh lihat gadis yang selama ini dia targetkan, dia masihlah sangat baik.


“Iya, Aku akan pergi. Jaga dirimu baik-baik.”


“Kakak yang harus menjaga diri baik-baik, aku harap kakak akan segera kembali.”


“Akan aku usahakan.”


Excelo dan Alexis melihat putri mereka, oh ini sudah sangat lama sejak terakhir kali mereka melihat keduanya sangat dekat, tanpa jarak.


“Belajarlah dengan baik, jangan membuat masalah lagi,” kali ini suara Farel, dia menepuk kepala Stella seperti yang pernah dia lakukan dulu, itu membuat Stella tertegun sejenak.


“Akan aku usahakan Kak,” Stella tersenyum tulus, bukan seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya, hanya sebuah formalitas saja.


Perasaannya kian menjadi damai, inilah yang seharusnya dia lakukan sejak dulu. Semua sisi bahagia, dan tidak ada iri hati dan kebencian, tidak ada  bisikan-bisikan yang memaksanya untuk bertindak buruk.


Inilah yang namanya hidup.

__ADS_1


Stella melihat Tuan tua, Paman dan Ayahnya tersenyum lalu berkata; “Kalau begitu aku sudah harus pergi,”


Setelah berpamitan dengan keluarganya, Stella memasuki mobil. Sopir yang akan mengantarnya ke Asrama, setalah Stella pergi rumah menjadi hening, Semuanya masih tetap berkumpul.


Vivian kemudian merasakan bosan lagi, sejak dia kembali dari liburannya Vivian belum pernah kemana-mana, selain minimarket dekat rumah dua hari lalu. Padahal dirinya sudah membaik, tetapi Ayahnya masih terus melarangnya untuk bepergian.


Dia kan merindukan teman-temannya juga, Nila dan Mario tidak tahu kemana, keduanya tidak memberikan kabar setelah mengantar mereka ke rumah utama.


Jadi Vivian memutuskan untuk meminta izin pada Tuan tua saja, dia berkata; “Kakek, apa aku bisa pergi keluar? Aku sudah sehat, tidak sakit lagi.”


“Tidak bisa,” dua kata menyakitkan itu terdengar di teling Vivian.


“Kakek, aku mohon. Sekolah akan di mulai tapi aku sama sekali tidak menikmati liburan.”


“Tidak bisa, kau harus banyak istirahat.”


“Tapi kakek, aku sangat bosan disini. Aku tidak tau mau melakukan apa lagi.”


Aku tidak mau taman bermain, aku hanya mau keluar! Aku bosan di rumah dan aku ingin jalan-jalan, pikir Vivian. Tuan tua melihat wajah Vivian yang menjadi jelek karena permintaannya tidak disetujui.


Tuan tua kemudian berkata, “Kau tidak bisa keluar, jika merasa bosan aku akan menelpon teman-temanmu untuk datang kesini.”


“Baiklah kakek, panggil teman-temanku saja kenari.”


Tuan tua benar-benar menghubungi teman-teman Vivian, tidak lama pintu rumah diketuk, Farel berdiri dan membuka pintunya, wajahnya menjadi sedikit buruk.


“Kalian berdua kenapa datang lagi? Kakek seharusnya tidak menelpon kalian berdua.”


“Kenapa? Kami juga teman Vivian, kami teman sekelasnya.”


“Aku tidak membicarakan kau teman sekelasnya atau bukan. Aku bertanya mengapa kalian kemari?”

__ADS_1


Bagaimana Farel tidak bertanya kalua dua alpha yang tempo hari datang ke rumah juga ada di antara teman-teman Vivian lagi. Kan jadi mencurigakan, terutama Kendra.


Dia yakin Alpha dominan satu ini pasti memiliki niat pada adik kecilnya. Dia tahu dari cara pandangnya, dan tindakannya, Farel tahu semuanya. Apa lagi jika mengamati seseorang yang kemungkin memiliki kondisi istimewa.


Farel mempersilahkan Nila, Kesya, dan Mario kedalam. Ketiganya mengucapkan salam, lalu ikut duduk dengan Vivian. Vivian memperhatiakan bahwa pandangan mata Ayah dan Pamannya tampak berbeda, ketika melihat Kesya.


Kesya menundukkan kepalanya karena merasa gugup di tatap oleh keluarga Vivian, kemudian dia mendengar seseorang bertanya; “Apakah kau Putri Lenia? Lenia Sabina?”


Kesya terkejut karena pertanyaan tersebut, dari mana dia tahu bahwa namanya adalah Lenia Sabina? Vivian ikut memperhatikannya dan kemudian dia melirik pada Ayahnya yang baru saja bertanya.


“Ayah, kau mengenal Ibu Kesya?” Vivian bertanya, tapi jika tidak ingin menjawabnya, sudahlah.


Alexis melihat putrinya dan berkata; “Teman kuliah ayah, sebenarnya dia juga mantan kekasih Kakakku”


Semua; “!!!”


“Kenapa kau mengatakan itu pada anak-anak?”


“Apa tidka boleh, kak? Lagi pula itu sudah masa lalu mu. Atau jangan bilang kau diam-diam masih memikirkan dia?”


“Apa yang kau katakan? Jangan asal deh. Kau ikut aku ke ruang kerja, masih banyak yang harus di tandatangani.”


Setelah selesai berbicara Excelo menarik Alexis untuk pergi dari sana, meninggalkan sekumpulan anak muda. Vivian mengernyit Apa tadi itu? Mantan kekasih pamannya? Ini tidak di tuliskan dalam buku.


Hal yang sama juga terjadi pada Kesya, dia cukup terkejut mendengarnya. Kesya tidak begitu tahu masa lalu Orangtuanya, dia tumbuh dalam keluarga yang harmonis. Jadi dia tidak pernah berpikir bahwa Ibunya adalah mantan kekasih paman Vivian.


“Apakah karena masalah ini juga Stella sebelumnya menargetkan Kesya?” Liam tiba-tiba bertanya entah dari mana.


Apa yang kau pikirkan! Karena masalah ini, maksudmu Bibinya Dendam pada Ibu Kesya, jadi dia meminta Stella untuk terus berurusan dengan Kesya. Hei, tapi itu mungkin benar juga, Bibinya adalah sosok istri yang posesive kali, atau itu sebuah obsesi seperti mengatakan suami ku milikku.


Heh, posesive dari belakang dapur, di mata Vivian bibi si pemilik asli itu seperti serangga yang tahunya cuma bisa numpang hidup, dan menyiksa keponakannya sendiri. Padahal pamannya saja hanya karena aroma feromon si Bibi, mungkin saja hati Pamannya milik Ibu Kesya tetapi karena feromon bibinya lebih cocok jadi dia memilih bibinya untuk menjadi pasangan.

__ADS_1


__ADS_2