
Ujian akhir semester dilaksanakan dengan baik, selama masa ujian Vivian dan Kendra tidak pernah saling menyapa, meskipun berada di kelas yang sama, Vivian selalu menjauh dari Kendra dan tidak ingin mengganggu si dominan, Dia masih merasa bahwa Kendra pasti masih belum menerima apa yang sudah dia katakan terakhir kali.
Jadi Vivian merasa bahwa keduanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, mereka membutuhkan waktu untuk saling berpikir dan menilai situasi berdasarkan apa yang sudah menimpah mereka.
Oleh karena itu setiap kali kelas ujian selesai, selesai mereka akan saling menunggu lalu pulang bersama. Berbicara tentang hari dimana Vivian memiliki masalah dengan Kendra, Mario dan Nila berusaha untuk menutupinya dari luar.
Situasi ini mengambil waktu selama kurang lebih satu Minggu, Setiap kali ujian ada jeda, Mario selalu mengajak Vivian mengobrol sehingga tidak memberikan kesempatan pada Kendra. Kendra biasanya akan menuju ke atap sekolah ketika dia tidak berada di kelas.
Atap sekolah adalah tempat yang damai dan jauh dari kebisingan, semilir angin berhembus, menerpa wajah Kendra, dan membuat Kendra menatap jauh ke depan, pikirannya masih terus mengingat tentang bagaimana Vivian mengerjakan semua hal yang dia minta. Pintu terbuka dan menampilkan sosok Liam, yang sedang berjalan kearahnya.
“Sudah aku duga, ternyata kau benar-benar ada disini?”
“Ada apa mencari ku?” tanya Kendra.
“Tidak ada, aku hanya merasa bahwa kau butuh seseorang untuk bercerita.”
“...” itu alasan yang bodoh, jangan ganggu aku sekarang. Kendra hanya melirik untuk sekilas lalu kembali menatap ke depan.
“Masalah dengan Vivian belum selesai lagi? Kau sudah bicara dengannya kan?”
Kendra mengangguk, “Aku hanya butuh waktu untuk memahami semua.”
“Senang rasanya kalau aku akhirnya mau bertanya padanya, dan tidak melakukan hal buruk.”
“...Apa selanjutnya yang harus aku lakukan?” Kendra bertanya, tidak tahu mengapa dia mau mengajak orang ini untuk bertukar saran.
“Semua ada didalam hatimu. Setidaknya cobalah melihat dari sisi lain, aku tidak tahu apa jawaban Vivian atas pertanyaan mu, tapi aku yakin Vivian memiliki alasannya sendiri.”
“...kau benar, aku harus bicara padanya,” Ucap Kendra ketika dia selesai memikirkan perkataan Liam dan Kedua temannya terakhir kali.
Liam menepuk pundak Kendra lalu pergi dari sana, Setelah seminggu bergulat dengan ujian, para pelajar tidak langsung diliburkan seperti sebelumnya. Mereka harus menunggu hasil ujian untuk melihat apakah lulus atau harus remedial.
__ADS_1
Vivian adalah salah satunya, jantungnya berdebar karena takut pada hasil ujian sejarahnya. Pada saat ujian, Vivian gugup dan tidak yakin bahwa dia akan memperoleh nilai yang baik.
“Ayo buka amplop mu dan mari kita lihat berapa nilai yang kau dapatkan dari hasil kerja kerasmu beberapa Minggu ini.”
“Tidak bisakah aku tidak membukanya?” Vivian dengan ragu menatap amplop di tangannya, Guru baru saja memberikannya pada mereka.
“Buka saja, liat beberapa orang sudah membukanya,” Mario merebut milik Vivian lalu membuka dan memeriksa hasilnya.
Mario melihatnya dan kemudian dia mengernyit dan balik menatap Vivian dengan pandangan yang tidak bisa di percaya, “Bagaimana kau bisa lulus sekolah menengah pertama?"
“Bagaimana hasilnya, apakah sangat buruk? aku gagal yah?”
“Tidak bisa di katakan gagal juga sih, hanya saja aku rasa kau akan berada di peringkat terbawah untuk mata pelajaran sejarah.”
Nilai Vivian standar, dia mendapatkan nilai Cukup untuk ujian sejarahnya, Nilai C setara dengan 55 poin paling standar dan nilai Vivian jika dalam angka hanya mendapatkan 60 poin, Mario rasa 5 poin tambahan adalah kebaikan dari pengajar pada Vivian, yang bodoh di mata pelajarannya.
“Itu berarti aku lulus yah?"
Universitas di negara Black menetapkan praktik berbahasa alien sebagai ujian tambahan untuk memasuki kampus mereka, Vivian menjadi linglung melihat hasil belajarnya selama tiga Minggu kemarin
Tidak adil! aku sudah mengorbankan delima ku sampai bengkak, dan membiarkan si dominan itu mengendus leher jerapah ku, seperti anak anjing yang menempel pada tuannya, tapi semua itu hanya di bayar dengan nilai standar saja!
Vivian merasa menjadi pihak yang di rugikan disini. Dia sangat marah sehingga dia memilih kembali ke kursinya dan melempar kertas miliknya di atas meja Kendra. Seumur hidupnya bahkan saat di dunianya nilai terendah di mata pelajaran yang pernah di dapat Vivian adalah 75, itu pun hanya di ujian harian karena saat itu Vivian terlalu lelah bekerja paruh waktu jadi dia lupa kalau akan ada ujian pada keesokan harinya.
Kendra melihat kertas di atas mejanya, kemudian melirik Vivian dengan tampang santai, “Jangan lupa kesepakatan kita.”
“Kau...kau...kau...” Vivian rencananya mau memarahi Kendra, atas ketidakadilan yang dia dapatkan, Vivian baru sadar dia seperti kelinci kecil yang ditindas serigala lapar, tapi Kendra tiba-tiba mengingatkan dirinya tentang kesepakatan mereka.
“Kau mau lari lagi? Jangan harap, jika kau kabur jangan salahkan aku jika bertindak kasar padamu tepat di depan keluargamu.”
Mata Vivian kelap-kelip, bertindak kasar untuk bahasa Kendra adalah melakukan itu didepan keluarganya. Dasar gila! dasar mesum! tidak berperasaan,adegan Vivian diterkam di depan umum saja masih menjadi topik panas di sekolahnya, dan sekarang dia ingin membuat Keluarganya jantungan apa?
__ADS_1
“Aku tidak punya kesabaran seperti sebelumnya, aku bisa melakukan apa saja yang belum pernah kau lihat...”
“Kau...Hmpt...” Alpha sialan! ini masih diruang kelas. Vivian diam-diam memberontak dan melirik ke sekitar lalu mulai mengumpat di hati, kenapa kalian tidak ada yang mau menolong! Aku sedang ditindas sekarang!
Kendra melepaskan Vivian yang membutuhkan pasokan udara, dia lalu menatap Vivian lagi, dan berkata; “Maaf, tapi aku tidak bisa seperti sebelumnya. itu hanya akan membuatmu semakin terbiasa, mengira aku adalah dominan yang lembut...”
“...Aku tidak peduli, kau berasal dari mana, dimana pun kau berada aku juga pasti akan ada disana, kau tidak bisa lepas dariku...”
“Diam...Aku yang seharusnya minta maaf karena menggantung perasaanmu terlalu lama, aku ragu mengatakannya sejak awal karena kalian tidak mungkin akan percayakan? Terakhir ketika kau tidak pernah bertanya padaku, aku mungkin tidak memiliki kesempatan untuk jujur.”
“Pada awalnya aku memang tidak percaya tapi temanku berkata itu mungkin benar, karena kau yang mengalaminya sendiri. Maaf karena sudah bertindak kasar padamu hari itu dan meninggalkanmu sendiri.”
Vivian menggeleng, lalu tangannya bergerak untuk memeluk Kendra dan berbisik, “Tidak...tidak... aku tahu kau saat itu sedang marah, tapi bukan padaku dan pikiranmu juga bingung karena apa yang aku katakan.”
Kendra yang sedang di peluk untuk pertama kali oleh inisiatif Vivian sendiri seketika Jantungnya berkoar-koar dan wajahnya menjadi panas, dia balas memeluk Vivian dan berkata di telinga Vivian, “Jadi, apa sekarang kita sudah resmi pasangan?”
"Ya, Mulai hari ini kamu pacarku.”
Blush!!!
Sepasang Alpha ini tidak menyadari bahwa teman sekelas mereka sejak tadi sudah terus menatap mereka berdua, dan diam-diam telinga teman sekelas sudah menjadi telinga kelinci, beberapa ada yang mengabaikan tapi ada juga yang mendengus iri; “Baik, anggap kami tidak ada, kami hanya seekor nyamuk yang tidak sengaja lewat di meja kalian.”
...°°°...
...Alur agak lambat yah, pacaran aja butuh sampai 122 BAB...
......Dasar Author......
...Terima kasih sudah mendukung cerita ini, jangan sungkan untuk memberikan saran di kolom komentar...
...Maaf apabila menemukan Typo yang bertebaran...
__ADS_1