
Vivian memandangi langit malam, dia selalu berpikir bahwa dunia ini penuh dengan drama, lebih parah dari kondisi di dunia aslinya. Ya, itu mungkin saja pengaturan dari penulis buku asli The end of poor omega.
Penulisnya itu pasti menulis cerita tersebut saat usianya masih muda, dan ketika dia menerbitkan bukunya, mungkin saja tidak terlalu laku di pasaran, buktinya saja temanya bisa menemukan buku ini entah dimana.
Ketika Vivian bertanya, teman sekelasnya di dunia aslinya hanya berkata bahwa dia menemukan buku itu di atas loteng rumah neneknya, itu yang benar saja dengan sampul yang rapi dan tidak kusut, hanya warna kertasnya saja yang menguning. Setua apa buku ini sebenarnya?
Ibunya tidak mungkin pernah membaca buku kematian ini kan? Sehingga ketika dia lahir, ibunya memberi nama yang sama dengan karakter di dalam buku tersebut. Untuk Alisher, mungkin saja penulisnya adalah pengagum rahasia kakeknya sehingga menggunakan nama kakeknya didalam tulisan yang dia buat.
Vivian berhenti memikirkan ini dan pergi mengikuti Stella, dia duduk di dekat Farel. Entah bagaimana setalah Vivian duduk, dia perlahan menyadari adanya atmosfer yang memburuk. Apa lagi yang terjadi pada Kakak dan temannya ini?
Apakah keduanya masih tidak bisa melupakan insiden di kemarin? Dasar bocah. Farel sesekali menyesap coklat hangatnya, lalu menatap Kendra lagi, begitu juga sebaliknya.
“Hei, mengapa suasananya menjadi aneh begini?” Mario ikut duduk bersama dengan Kesya yang membawa jagung bakar lagi.
“Jangan bertanya dulu, apa kau tidak menyadarinya?” Nila mengangkat sebelah alisnya dan melirik Mario.
“Apa? Apakah kalian sedang memainkan suatu game?” Mario memakan jagungnya, sambil terus bertanya pada Nila.
“Apa yang kau katakan sedang bermain? Mereka sedang berperang melalui pandangan mata.”
“Itu gila, mengapa tidak langsung baku hantam saja?”
“Kau pikir itu bagus?”
“Tapi...”
“Diam dan makan jagung mu sekarang.”
Setelah berbicara, dia meraih Chihuahua yang kebetulan lewat di dekatnya. Sementara itu, Vivian melihat bahwa sejak Kesya ikut bergabung dengan mereka, gadis satu ini hanya menundukkan kepalanya saja.
__ADS_1
Di sampingnya ada Liam, satu-satunya tempat yang kosong. Liam terus memperhatikannya, kemudian bertanya; “Hei, ada apa? Apakah kau tidak enak badan?”
Kesya menggeleng, masih dengan kepala yang menunduk. Vivian melihat tangan Kesya kembali terkepal, gadis yang malang. Sial, Vivian tiba-tiba menjadi kesal.
Tujuan utamanya mengajak Kesya adalah untuk menghibur hati gadis satu ini selain menghabiskan waktu santai. Tetapi sepertinya itu akan gagal karena kehadiran Stella.
Kesya tidak ingin membuat temannya khawatir sehingga dia hanya berkata; “Tidak apa-apa, kepalaku sedikit pusing tadi. Tapi sekarang sudah mendingan, terima kasih.”
“Istirahatlah, apakah kau mau aku antar ke kamarmu?”
“Tidak perlu, aku sudah jauh lebih baik.”
Stella melihatnya, dan wajahnya berubah menjadi jelek seketika. Bentuk kepedulian Liam pada Kesya tampak sederhana, karena hanya menanyakan keadaan. Tetapi di mata seorang Omega sepertinya, itu sangat membuat iri.
Omega menyukai bentuk perhatiaan dari Alpha mereka, selain itu mereka juga sangat suka di manja, Stella kembali memeluk lengan Kendra. Dia melakukan seperti apa yang dia lakukan kemarin.
“Ken, kepala aku pusing.”
“Aku... Aku mau kau menemani aku, boleh kah?”
“Heh? Kau bukan anak kecil lagi, jadi berhentilah untuk merengek.”
Lihat, Kendra sudah tidak memperdulikannya lagi. Jika dulu saat dirinya merengek, Kendra pasti akan langung memeluknya. Menghapus air matanya, dan berbicara dengan lembut padanya.
Tetapi sekarang, Stella melihat bahwa sepertinya dirinya dan Kendra sudah semakin membentuk jarak. Kendra adalah impiannya sejak masih muda, dia merasa bahwa dia sudah dekat dengan tujuannya sebelum hari ini...tidak.
“Kak, apakah kau membutuhkan sesuatu? Aku rasa seharusnya aku memberikan kakak teh hangat saja tadi,” suara Vivian membuat Stella lantas menatapnya.
Itu dia, semuanya dimulai sejak kedatangan Vivian di sekolahnya. Jika bukan itu, lalu apa lagi? Kendra tidak mungkin memperlakukannya seperti ini jika bukan karena kedekatannya dengan Vivian, sebagai teman sekelas..
__ADS_1
“Kak, apa kau mendengar aku? Apakah kau mau minum teh hangat saja?”
“Ck, jangan terlalu memanjakan dia.”
Itu suara Kendra, Stella melihatnya. Melihat bahwa pemuda ini sudah merasa jengah padanya, kemudian Stella melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Kendra, lalu duduk dengan baik.
“Apa yang salah? Dia kakakku, aku harus memperhatikan saudari ku kan? Itu benar kan, Kak?”
“Kecil, kau memang benar. Tapi jangan terlalu sering, kau bahkan jauh lebih muda darinya. Seharusnya saudarimu yang memperhatikanmu.”
“Eh, aku tidak membutuhkan itu kak. Aku sudah nyaman dengan kehidupan seperti ini.”
“Kau memang lebih cepat mandiri,” Farel mengelus kepala Vivian dan membawanya agar bersandar di bahunya.
Stella melihatnya dan tidak suka. Memang sih, sejak muda Farel lebih memperhatikan Vivian dari pada dirinya, meskipun Farel tidak pernah mengatakan apapun padanya, Stella dapat peka.
Setiap kali Farel akan bermain ke rumah utama, Farel akan selalu mencari Vivian. Meskipun dirinya sudah meminta Vivian untuk tidak keluar dari kamarnya, Farel tetap ngotot untuk masuk ke dalam kamar Vivian.
Setelah itu, Stella menjadi yang terlupakan ketika suara tawa keduanya pecah karena asik bermain. Dia akan selalu melihat keduanya dari jauh, dan menunggu keduanya untuk mengajaknya bermain bersama.
Tetapi bahkan sampai matahari terbenam pun, Stella tidak pernah mendapatkannya. Ini salah satu hal yang paling membuatnya tidak menyukai Vivian, suara tawa gadis itu dan bagaimana dia bisa sangat akrab dengan orang lain.
“Aku tidak apa-apa, kepala ku sudah agak mendingan, jangan khawatirkan aku.”
Vivian mengernyit dan kepalanya mulai berkerja mengingat bahwa kalimat yang di lontarkan Stella hampir sama persis dengan yang di katakan Kesya tadi. Kemudian, Vivian membulatkan matanya dan mulai berpikir bahwa antagonis cerita sedang berusaha menarik perhatikan protagonis pria!
“Baiklah kalau begitu Kak, jika ada sesuatu katakan saja padaku yah,” jadi Vivian menutup kalimatnya dengan tersenyum padanya.
“Tentu saja.”
__ADS_1
Kendra memperhatikan Vivian, sejak tadi mereka tidak pernah lagi saling bertatapan lagi, Vivian seperti sedang mencoba untuk menghindari kontak matanya. Lalu dia berpikir, mungkin saja karena Stella terus saja menempel padanya, sehingga itu membuat Vivian tidak ingin ikut campur.
Itu memang hampir semuanya benar, Vivian tidak ingin ikut campur agar tidak mempengaruhi poin misi keluarganya. Padahal sebelumnya Vivian hanya tinggal membutuhkan tambahan 15 poin lagi, untuk bisa mendapatkan hadiah renovasi warung makan mereka. Sekarang dia harus mengulang semuanya dari titik rendah lagi, jadi itu artinya Vivian harus pintar-pintar mencari cara untuk bisa mengambil kepercayaan Stella lagi seperti yang sebelumnya.