Another VR World Accident

Another VR World Accident
Chapter 109, Bonbon siClass paladin


__ADS_3

Asramah Putri Arfenit


"Ada apa tuan putri?" Bertanya David.


"Ayah ingin kau menjadi pengawalku disekolah selama satu bulan ini apa ayah sudah tahu jika sekolah mengalami masalah sehingga menulis ini. Sial!" Gerutu putri Arfenit.


"Saya akan dengan senang hati mengawal putri." Yah begitulah kata David tapi didalam hati sangat enggan memikirkan bagaimana nantinya dia harus terlibat dengan urusan merepotkan putri ini selama satu bulan.


"Senang hati jidatmu!! Aku yang tidak senang hati jika kau ingin mengawalku potong tanganmu dulu!" Berteriak putri Arfenit dan ini sudah kebalikan dari tampang dinginnya tadi dan Virinda sudah siap dengan pisaunya tapi kali ini Merly masih memiliki akal sehat sehingga menahannya.


Shhhsrrk


"Kalau begini apa tidak masalah tuan putri?" Bertanya David saat setelah mengubah tanganya kembali seperti tangan manusia.


"O-oh itu bagus kalau begitu aku mengizinkanmu untuk mengawalku tapi kamu harus menyamar sebagai murid juga tidak boleh terlalu dekat denganku mengenai seragammu aku akan meninta pelayanku untuk mengantarnya nanti malam." Berkata putri Arfenit walaupun sedikit terkejut dengan perubahan David.


"Baiklah." Tersenyum David.


Setelah berbincang beberapa saat walaupun putri Arfenit masih bersikap sombong tapi sudah tidak lagi memaki atau menghina David seperti tadi. Takut ada kejadian tidak terduga dari Virinda akhirnya David cepat cepat pamit untuk menghindari masalah.


Singkat cerita David sudah sampai dikediamannya yang disiapkan oleh ratu Azela tapi seperti biasa memang disana ada dua Maid dan dua prajurit yang menjaga gerbang. David tidak mempermasalahkannya dan hanya memperingati rekannya untuk tidak mencari masalah begitupun para prajurit yang ada dibarak militer.


Virinda yang biasanya selalu bersikap overprotective selalu mengawasi pekerjaan kedua pelayan tersebut bahkan saat menyiapkan makanan kedua pelayan itu tidak diizinkan menyentuh bahan makanan sama sekali dan hanya Virinda lah yang membuat makan malam.


Makan malam berjalan dengan lancar dan yang ada dimeja makan hanya ada Lily dan Merly yang menemani David.


Setelah makan malam seorang pelayan mengantarkan David sebuah seragam akademi kesatria Holytit serta sebuah surat yang mengatakan jika David harus menggunakan identitas sebagai murid baru tahun kedua dan tidak menggunakan nama aslinya.


David akhirnya beristirahat tapi dia kali ini tidak ingin diganggu jadi semuanya memilih kamar masing masing termasuk Merly.


...


Keesokan harinya saat putri Arfenit berangkat keakademi dia hanya berjalan kaki dan tidak membawa pengawal karena memang lokasinya tidak terlalu jauh. David hanya mengikutinya sepuluh meter dibelakang.


Menurut surat putri mengatakan bahwa aktifitas pembelajaran diakademi tidaklah lancar selama satu bulan ini jadi tidak akan menjadi masalah jika David tidak mengikuti kelas dan hanya berkeliaran.


Singkat cerita David akhirnya masuk kedalam gerbang akademi yang terlihat seperti akademi biasa dengan tinggi mencapai tiga lantai.

__ADS_1


David segera terus mengawasi putri Arfenit walaupun David merasa ini tidak perlu karena yang harus dikhawatirkan adalah dirinya bukan putri Arfenit yang sudah mengetahui sluk beluk akademi.


Biarpun begitu David tetap menjalankan tugasnya dan terus mengawasi putri Arfenit dari jauh walau kadang diplototin karena terlalu dekat.


Ntah hanya perasaan David atau memang seperti itu tapi David merasa jika putri Arfenit sangat dihindari oleh para wanita diakademi tapi sangat digemari oleh para laki laki tapi tetap saja dia hanya bersikap nggak peduli.


David melihat putri masuk kelas dan David sudah tidak dapat mengikutinya. Hingga akhirnya dia menunggu diluar saja tapi baru lima menit putri Arfebit sudah keluar dan memandang aneh David yang menghalangi jalannya.


"Itu.. ada apa putri?" David bertanya canggung.


"Kau menghalangi jalanku." Singkat saja putri Arfenit menjawab sambil menggeser tubuh David.


Tapi belum cukup lima langkah seorang pria dengan wajah tampan tapi arogan dengan pakaian ala paladin yaitu armor lengkap prisai dan pedang menghampiri putri Arfenit.


"Selamat pagi tuan putriku hari ini kita bertemu lagi my lady." Dia langsung berlutut didepan Arfenit.


Arfenit tidak menggubrisnya dan hanya melewatinya. David yang melihat kejadian itu persis seperti dia yang kemarin pas ditolak langsung.


Karena David hampir tertawa ditempatnya saat melihat pertunjukan tersebut akhirnya malah menarik perhatian laki laki muka arogan dengan rambut langkat plus tangannya juga dan mungkin itu alasan utama putri Arfenit menolaknya.


"Apa yang kau tertawakan!" Dia berdiri langsung berteriak kearah David.


"Yang kutunjuk kau bocah!" Dia kembali berteriak saat melihat David mencari orang dibelakangnya.


"Oh aku?." David menunjuk dirinya sendiri. "Aku tidak tertawa sama sekali." Santai saja David menjawab.


"Oi bocah jangan mempermainkanku." Dia mulai emosi.


Tapi David langsung berjalan melewatinya untuk menyusul putri Arfenit dan seperti yang iya dua dia akhirnya ditahan oleh orang itu.


"Oi apa kau murid baru disini? Harusnya kau kenal denganku diakademi ini tidak ada yang boleh menentang perintahku termasuk kau." Ucapnya menuh penekanan.


"Jadi apa yang kau inginkan? Uang? Duel?" Bertanya David.


"Haha uang kau pikir tuan muda butuh uang receh mu haha." Yang disebelahnya tiba tiba tertawa.


"Duel? Asal kau tahu saja bocah, aku adalah Bonbon lulusan tahun ini dan tidak ada yang bisa mengalahkanku diclass paladin." Ucapnya sombong.

__ADS_1


"Jadi apa maumu?" Kembali David bertanya.


"Berlutut jilat sepatuku." Dia menunjuk kearah sepatunya yang kemudian dia ludahi.


David berpikir seandainya Virinda ada disini yakin anak ini bakalan lumpuh seumur hidup.


Tapi David hanya melewatinya dan menginjak sebentar sepatumya sebelum lewat dan berbisik.


"Kau tidak pantas bocah." David berlalu.


"Sialan kau! Kubunuh!" Dia langsung menarik pedangnya dan mengayungkannya kearah David tapi mudah saja David menghancurkannya dengan sekali tarikan pedang dari invertorinya pedang milik pria arogan itu langsung terbelah.


"Ti-tidak mungkin." Dia melihat pedangnya yang hanya tinggal sepotong. "Apa yang kau lakukan dengan pedangku!? Ini adalah pedang tingkat epic dari ayahku!" Berteriak dia tapi David sudah pergi dengan tersenyum karena terlalu bosan dengan menjaga putri Arfenit hingga akhirnya mencari anak untuk bermain.


"Apa itu menyenankan?" Bertanya puteri Arfenit yang tiba tiba bertanya dibalik dinding belokan.


"Saya hanya terlalu bosan tuan puteri jadi lebih baik bermain sedikit. " Tentu David tidak terkejut dengan adanya puteri Arfenit yang tiba tiba disana.


"Jangan mencari banyak masalah dengan anak itu dia pendendam dan berasal dari keluarga merepotkan." Puteri Arfenit memperingati.


"Baik puteri." David membungkuk sebentar.


Hari disekolah membuat David super bosan walaupun terkadang ada kesan nostalgia dimana sekumpulan anak anak sekolah yang saling membantu dan bercerita bersama. Sama seperti dia dahulu dibumi bersama teman teman yang sangat peduli padanya.


Tidak terasa sore akhirnya tiba dan semua murid kembali kekediaman masing masing begitu pula dengan puteri Arfenit dan David.


Walaupun merasa bosan tapi setidaknya David tetap merasa senang karena dapat mengisi waktu luangnya diakademi. David sekarang sudah kembali kekediaman begitu juga puteri Arfenit.


Merly sendiri memaksa Lily untuk menemaninya berkeliling dikota kerajaan tapi pada saat David kembali dan melihat Merly sepertinya baru kali ini dia melihat Merly mengunjungi tempat baru dan pulang dengan wajah lesu seakan tidak ada yang menarik dikota ini.


"Ada apa Merly?" Bertanya David saat melihat Merly duduk menopang dagu dimeja makan.


...----------------...


Follow


IG : Razaatmaja03

__ADS_1


Info lengkap novel, silahkan masuk kegrup.


__ADS_2