
Green Luck City
Penduduk dikota Green enam puluh persen adalah pekerja dalam kota seperti pekerja rumah pegawai atau beberapa pengurus yang sebenarnya diutus dari berbagai kota dibawah perintah keluarga Lugard.
Sedangkan untuk empat puluh persenya lagi adalah pedagang luar kota atau petualang yang selalu keluar kota sehingga mereka lah yang sering membawa info memasuki kota.
Akhirnya David tiba dimansionnya, dia juga masih melihat dua orang yang pernah dia sewa untuk berjaga didepan mansionnya sampai sekarang masih bekerja disana dan membukakannya gerbang.
Saat David sudah berada dalam halaman dan memghentikan mobilnya Teador segera mendatanginya bersama beberapa maid yang berbaris dibelakangnya menyambut David.
"Selamat datang tuan!" Semuanya menunduk hormat memberikan jalan pada David.
'Ek sejak kapan aku menyewa banyak maid?' David habis pikir. "Dimana Astein dan Merly?" David lebih memilih menanyakan istri dan tunangannya yang sampai sekarang belum nikah nikah.
"Nona Astein ada didalam bersama tuan muda Dastein tuan sedangkan nona Merly sedang berkunjung kepenginapan tuan Herly." Teador menjawab mengikuti David masuk kedalam Mansion bersama pasukan Virinda yang sudah seperti maid pada umunya tapi jelas aura mereka sangat kuat.
"Ah iya juga aku harus sesekali mengunjungi paman Herly ini sudah satu tahun aku tidak mengunjunginya." Tentu David ingat dengan satu calon mertuanya itu.
"Apa tuan ingin berkunjung sekarang?" Bertanya Teador yang pastinya akan mempersiapkan segala keperluan David jika ingin berkunjung.
"Tidak dulu aku lebih ingin bertemu dengan Astein dan Dastein." David berjalan kearah taman samping mansion karena merasakan keberadaan Astein dan Dastein disana.
"Baiklah tuan." Teador undur diri.
"Oh iyah Teador! Aku tidak merasakan kehadiran Selartain, kemana dia?" David berbalik menghentikan Teador.
"Nona Selartain katanya sedang ada urusan apa perlu saya panggilkan tuan?" Jawab Teador kembali bertanya.
"Biarkan saja." David berbalik dan melanjutkan perjalanannya.
David terus berjalan bersama Virinda sampai akhirnya tiba disebuah taman yang terlihat seorang wanita berambut emas panjang terurai dan seiring mengembangnya tertiup angin bersama seorang anak kecil berambut hitam bermata emas dan hitam yang rambutnya bahkan belum tumbuh semua tapi sudah mulai mencoba untuk berdiri.
"Aku tidak tahu jika anak didunia ini secepat itu mencoba berjalan?" David berjalan mendekat dan menyapa Astein.
__ADS_1
Tentu Asteim tidak sendirian dan hanya diteman oleh Dastein karena ada Lousi didekatnya.
"Semua anak normal didunia ini akan belajar berjalan setelah berumur satu tahun, anak kita bahkan masih dua bulan dan sudah belajar berjalan aku merasa Dastein mengikuti ketidak normalan ayahnya." Sindir Astein.
"Tolong jangan mengatakan aku tidak normal Astein." Ucap David tersenyum lemas menangkap Dastein yang mencoba meraihnya tapi malah terjatuh.
"Kau tidak bisa mengatakan dirimu tidak normal saat punya mu saja tidak normal David." Astein memberikan kode pada ************ David yang tentunya Astein sedikit merindukannya karena selama kehamilanmya dia hanya melakukan sekali itupun saat bulan pertama.
"Astein bisakah agak menahan diri Virinda dan Lousi masih disini loh." David menunjuk kearah dua maidnya dan memberikan kode untuk menyingkir.
Cepat mereka berdua berlari masuk kedalam mansion meninggalkan taman, Lousi masih David anggap normal jika lari terbirit birit tapi Virinda juga ikut ikutan jelasnya Virinda bisa berlari dengan kecepatan cahaya dalam beberapa detik tapi kenapa dia malah lari terbirit birit seperti orang normal, apa dia lupa?.
"Aku merasa ada yang aneh dengan Virinda." David bergumam.
"Kau membahas wanita lain didepan istrimu apa kau masih laki laki?" Bersuara Astein dengan nada menyindir.
"Jangan mengatakan itu lagi Astein." David duduk didekat Astein dengan Dastein yang masih digendongannya.
"Jadi bagaimana perjalananmu?" Astein bertanya.
"Kau bahkan tidak mati saat jantungmu dipecah." Kembali Astein menyindir dengan mengangkat cincin pernikahannya yang dia maksud jantung David adalah Core David.
"Meskipun begitu tapi aku bisa saja mati loh." David sudah kehabisan kata kata.
"Baiklah baiklah." Ucap Astein merapikan rambut David yang sudah kembali memanjang. "Meskipun kau bisa merubah setiap bagian tubuhmu tapi kenapa kau tidak bisa merapikan rambutmu David?" Bertanya Astein yang menurunkan Dastein dari pangkuan David dan membiarkannya bermain.
"Kalau begitu mohon bantuannya." Ucap David memohon bantuan Astein untuk merapikan rambutnya yang bahkan sekaran sudah menutupi wajahnya.
"Apa boleh buat akan aku rapikan." Ucap Astein agak sedikit jual mahal sebelum mengeluarkan gunting.
Sedikit demi sedikit rambut David terpotong dan kembali seperti sebelumnya, David sendiri menutup matanya dan membiarkan Astein memberikan gaya rambut padanya sesukanya.
Setelah beberapa saat merasakan rambutnya dipotong sebuah sihir angin yang langsung menghilangkan semua rambut yang sudah terpotong dari tubuh Aron berasal dari Astein.
__ADS_1
"Selesai." Ucap Astein menyimpan guntingnya.
"Hm bukannya gaya rambut ini sama seperti sebelumnya?" Bertanya David karena gaya rambutnya masih sama saat terakhir kali Astein merapikan rambutnya.
"Aku lebih suka yang seperti ini, ini sama seperti saat kita pertama kali bertemu saat itu." Ucap Astein memeluk David dari belakang.
"Ya waktu itu yah.. kenapa aku selalu ingin tertawa saat mengingat kejadian itu." David tentu mengingat saat dia menyelamatkan Astein dan ibunya yang disandra oleh bajak laut.
Satu cubitang berhasil bersarang dipipi David dari Astein dan menariknya. "Itu tidak lucu." Astein mengembungkan pipinya.
"Haha waktu itu ayahmu suka mengatur kami bahkan dia hampir tidak melakukan apa apa untuk mengurus kota jadi saat aku melihat keluarganya disandera aku hampir tertawa terbahak bahak." David tidak lagi menahan tawanya dan langsung tertawa.
"Andai kutahu kau waktu itu sedang menertawaiku maka aku tidak akan memilih untuk menemanimu berlibur dan lebih memilih untuk menyuruhmu mengantarku pulang." Astein semakin keras menarik pipi David.
"Hehwe waktu itu akhu hanya menertawhai Erhik saja." David mulai kesusahan untuk berbicara.
"Sudahlah sifat ayah memang seperti itu tapi dia adalah ayah yang bisa diandalkan." Astein melepaskan David.
"Kemarilah." David tiba tiba menarik Astein dan mengangkatnya kepangkuannya.
"Mmm kenapa tiba tiba." Astein melepaskan ciumannya Dari David.
"Bukankah kau tadi yang menginginkannya Astein." David menggoda Astein dengan menciumi lehernya.
"Itu kita ditaman loh David, juga ini masih siang!." Astein berusaha menghentikan David.
"Kalau begitu bagaimana dengan malam." Bertanya David masih menempelkan wajahnya diwajah Astein.
"Mnn." Mengangguk Astein sebelum melihat kearah lain dengan wajah yang memerah.
"Hehe padahal kau tadi yang menggodaku Astein kenapa sekarang malah kau yang malu malu." Tentu David tidak membiarkan lesempatan langkah untuk memojokkan Astein.
"Sudaulah ayo Dastein." Cepat Astein berdiri dan mengambil Dastein yang dari tadi selalu betusaha untuk bediro tapi terus terjatuh.
__ADS_1
"Hey kau pikir ayahnya pun tidak merindukan anaknya." Cepat juga David menghentikan Astein untuk membawa Dastein pergi.
Akhirnya mereka bertiga malah menghabiskan waktu bersama layaknya keluarga normal dengan hari libur yang bahagia serta tertawa puas melihat tingkah sikecil.