
Kamar David
Perlahan sesuatu yang besar masuk kebagian bawah Stella dan itu sangat menyakitkan karena ukurannya yang luar lebih besar dari pada lubangnnya.
"Akh! David sakit!" Stella sempat berteriak saat ujung dari senjata David perlahan masuk.
"Tahanlah sebentar, kamu akan menikmatinya sebentar lagi." David masih berusaha untuk memasukkannya sedikit lagi.
Kuat cengkraman Astein pada punggung David saat perlahan senjata David semakin masuk pada bagian bawahnya dan berhenti saat setengah dari semuanya sudah masuk.
"Huh huh hah.." Stella sudah sangat kesulitan untuk bernapas.
"Meskipun bagian atasmu besar tapi aku tidak menyangka dibawa sangat sempit." Komentar David yang membiarkan bagian bawahnya tetap beristirhaat didalam milik Stella dimana Stella mengeliat aneh berusaha untuk memperbaiki posisinya tapi tetap sangat kesulitan karena selangk*ngannya kemasukan sesuatu yang besar.
"David.. huh milikmu yang ah.. terlalu, besar.. huh.." ucap Stella yang sangat kesulitan untuk berbicara.
"Apa sudah agak baikan?" Bertanya David saat melihat Stella mulai tenang tapi masuh memelukanya.
"Ya." Jawab Stella singkat karena tidak dapat berbicara terlalu banyak akibat napasnya yang masih memburuk.
"Aku mulai yah." David mulai menarik kembali senjatanya.
"Eh! sebentar akh! Ha.." Stella mulai kesulitan saat David memaingkan punggungnya dan itu benar benar sakit tapi sedikit Stella merakana kenimatan.
"Kamu akan menimatinya sebentar lagi bertahanlah." David masih memainkan pinggangnya yang mulai semakin cepat.
"Ya ah mm..m uh ah.." Stella hanya menjawab ya sebelum mulai benar benar menikmatinya.
Tangan David tidak lagi diam dimana dia memegang dan meremas keras kedua gunung milik Stella yang sesuatu tidak dimiliki oleh Astein.
"Em ah.. David huh.. kau terlalu jeras me uh remasnya.." ucap Stella sat merasakan dadanya dikoyak koyak.
Tapi David semakin keras dan mulai menggigitnya dan menioatinya.
Darah segar terciprat keluar dari lubang bagian bawah Stella.
"Sudah keluar." Ucap David berhenti tapi tidka mencabut miliknya.
"Bisakah kau berhenti sebentar." Ucap Stella yang seakan memohon.
"Maaf."
"Akh!!!" Kuat Stella berteriak saat David memasukkan semua bagian yang tersisa tanpa permisi.
"Aku akan melakukannya lagi." David kembali menggoyangkan pinggangnya dan membuat Stella sangat kelelahan dimana tubuh Stella mulai mengeluarkan beberapa percikan ap8 akibat aliran mananya yang kacau.
"David.. aku bisa.. huh mati... kamu sangat gila." Ucap Stella yang sudah kesulitan dimana bagian bawahnya terus mebgekuarkan darah dengan api yang mulai membakar milik David tapi David tidak memperdulikannya meskipun api tersebut dapat melelehkan baja tapi tisak dengan senjata David.
__ADS_1
"Aku akan bingung jika kamu bisa menikah dengan orang lain Stella." David sedikit terkejut saat melihat api yang membakar miliknya dan Stella tapi tidak terjadi apa apa selain kobaran api yang sangat panas bahkan membakar tempat tidu4 hinga mereka berdua ambruk dilantai.
"Seharusnya begitu dan kau harus menikahiku!! Huh.." Stella menagan untuk berteriak sekali dalam kalimat yang cukup panjang.
"Aku akan melakukannya tapi untuk sekarang aku akan memuaskanmu terlebih dahulu." David mencabut mil8knya dimana langsung menyemburkan cairan yang lengket tepat diwajah Stella.
"Mm apa ini!." Stella sedikit berteriak saat memegangi wjahnya dan sedikit lengket dan menjijikkan.
"Itu yang selalu diinginkan oleh perempuan loh." Ucap David yang mengangkat kedua kaki Stella sebelum memasukkan miliknya lagi dan langsung menggoyangnya.
"Ah! Ah.. uh.. um.. David.. huh." Stella mulai beradaptasi dan sangat menikatinya hingga mencapai *******. "Ah.h.h aa.." Stella sudah mencapai titinya dan tidak lagi bergerak saat David mencabut miliknya dan menyemburkan cairan lengket kearah tubuhnya lagi.
"Ketahananmu cukup rendah dibandingkan Astein." Ucap David yang sudah ingin menyudahinya karena Stella sudah mencapai titik batasnya.
Telinga Stella langsung terangkat saat mendengarnya. "Aku masih bisa." Ucap Stella yang dalam keadaan lemah.
David meliriknya. "Akan aku turuti." David membalik tubuh Stella dan mengangkat bokongnya kearah belakang sehingga Stella bersujud kearah depan dengan David yang sudah siap menancapkan senjatanya dibagian belakang.
"Mm akh." Stella kembali mengerang saat merasakan bagian bawahnya kembali penuh walaupun sudah disasak berkali kali tapi masih saja tetap sempit.
...
Pagi hari
Kamar David
"Mnn.." Stella masih mengeliat didalam selimut yang dalam keadaan tanpa busana memeluk David erat.
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Bertanya David.
Cukup lama Stella terdiam sebelum menjawab. "Aku tidak seperti ayahku ... aku tidak bisa melakukan banyak tapi aku akan melakukan apa yang aku bisa untuk membangun kembali kota dan keluargaku." Ucap Stella tidak merubah posisinya.
"Masalah ayahmu.." David sedikit kebingungan untuk menyampaikannya.
"Sudahlah aku juga tidak berencana untuk membahasnya." Stella tidak ingin mendengar hal buruk tentang ayahnya karena dia pun tahu bahwa ayahnya pasti sudah meninggal karena tidak pulang bersama David.
"... mungkin aku harus tinggal beberapa hari lagi disini." Gumam David mengelus rambut merah Stella.
"Um? Kamu serius?" Stella mendongak dan bertanya kembali.
"Tidak mungkin aku menyerahkan penduduk kota ini kepada puteri kecil ini sendirian." Ucap David menyinggung.
Meskipun seharusnya Stella marah saat dikatakan seperti itu tapi tidak untuk saat ini karena sangat senang saat David ingin tinggal untuk sementara.
"Baiklah mohon bantuannya tuan jendral." Ucap Stella tersenyum.
"Semua perajurit akan pulang jadi mungkin hanya aku yang akan tinggal, tolong persiapkan makanannya karena aku mungkin akan menghabiskan seluruh persediaan kalian." Canda David.
__ADS_1
"Sayangnya aku tidak bisa bergerak untuk saat ini." Dibalas pula dengan Stella yang benar benar tidak dapat berdiri karena punggungnya sedikit keram bahkan bagian bawahnya sedikit masih terasa sakit.
"Mau mandi bersama?" David bertanya.
"Maaf tapi aku akan melakukannya sendiri nanti." Tolak Stella.
"Baiklah kalau begitu aku duluan." David segera berdiri dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
...
Meja makan.
"Tiger, kamu bisa pulang bersama perajurit nanti." Ucap david ditengah tengah makan.
"Maksud tuan? Bukankah tuan akan pulang bersama kami?" Tiger sedikit kebingungan.
"Aku akan tinggal untuk mengurus kota ini beberapa saat hingga kondisinya benar benar membaik, katakan itu pada Astein." Ucap David.
"Saya mengerti tuan." Tiger mengangguk paham.
Sarapan pagi berjalan dengan baik hingga akhirnya semuanya bubar sedangkan Tiger segera memimpin timnya dan para perajurit yang telah bersiap untuk meninggalkan kota dan menuju ke kota pelabuhan untuk pulang.
David sendiri mulai memeriksa data yang diperlukan diruangan kerja Lord kota karena disana juga terdapat berbagai berkas tentang informasi kota lain dan berbagai keahlian setiap kota dengan kata lain tempat tempat yang memiliki tanah yang subur.
Dibantu dengan Virinda, David dengan cepat menemukan beberapa kota yang bagus dan dapat dijadikan tempat tinggal oleh penduduk.
Memastikan jumlah penduduk dan perajurit yang tersisa David hanya dapat membagi mereka hingga tiga kelompok dan mengirimnya ketiga kota untuk bercocok tanam.
Sementara melakukan itu David juga menunggu bantuan dari kerajaan karena dia sudah mengirim surat dan melaporkan situasi termasuk ibu Stella karena selain meminta bantuan itu juga dapat menambah informasi kerajaan tentang kekuatan iblis.
"Ini sudah yang keempat puluh sembilan tuan." Ucap Virinda meletakkan secangkir teh di meja David.
...----------------...
guys ada pengumuman buat kalian! sekarang novel Battle Of Hunter dan MMORPG World For Adventure telah kembali up, silahkan kalian baca like dan komentar kalau mau vote, vote ini aja yah guys thank you.
...----------------...
Thank you untuk para donatur tetap
-Xn
-Ma'ke Seto
-Zefaanatasya_
-[M.S.R]
__ADS_1
dari seribu pembaca hanya 8 yang vote, sebegitu rendahnya kah kualitas novel ini?