
Taman Mansion Puteri Arfenit
David berjongkok dan melihat kearah akar bunga. "Mereka sangat cantik tuan puteri, sayangnya kebanyakan memberikan pupuk akan berakibat fatal." Tunjuk David pada akar bunga.
"Hm?" Puteri Arfenit ikut berjongkok dan melihat kearah yang ditunjuk David.
"Lihatlah, kebanyakan pupuk mengakibatkan akar dan tanahnya membusuk dengan cepat." Ucap David.
"..." puteri Arfenit langsung diam.
"Aku akan merekomendasikan pupuk untuk tuan puteri nanti serta takarannya agar bunga kesayangan tuan puteri tidak rusak." Saran David.
"Baiklah terima kasih." Ucap Puteri Arfenit kecil.
"Hm?" David mendengar apa yang dikatakan puteri Arfenit dan mengelus kepalanya tepatnya rambut peraknya. "Tadi kamu mengatakan terima kasih bukan." Ucap David tersenyum seakan meledek.
Pak
Cepat puteri Arfenit menyingkirkan tangan David dari kepalanya yang sempat ia nikmati elusan David sebelumnya. "Aku tidak mengatakannya! Juga jangan memanggilku dengan kata kamu! Panggil aku tuan puteri!" Teriaknya.
"Baiklah baiklah, My Princess." David menangkap tangan Puteri Arfenit dan menciumnya.
Sempat terlintas senyuman dibibir mungil puteri Arfenit sebelum tersadar.
Plak!
-100!
Satu tamparan mendarat diwajah David dan memberikan Damage yang sangat kecil.
"A-apa yang kau lakukan!?" Teriak puteri Arfenit.
"Aduh puteri itu sakit loh." Ucap David mengelus wajahnya padahal tidak sakit sama sekali. "Juga kurasa tuan puteri paham apa yang saya lakukan tadi, saya mencium tangan puteri." Jelas David.
"Kau berani menciumnya, i-ini adalah pertama kalinya ada yang mencium tanganku kau harus bertanggung jawab." Ucap puteri Arfenit dengan suara kecil tapi terburu buru.
"Ini adalaha hal biasa bagi bangsawan puteri, bahkan raja sendiri yang mengatakan bahwa ini adalah suatu formalitas." Tapi David menanggapi perkataan puteri Arfenit dengan hal lain.
"Aku tidak ingin mendengar alsanmu lagi pokoknya keluar!" Teriak puteri Arfenit.
"Baiklah kalau itu perintah tuan puteri, saya pamit." Ucap David kemudian perlahan melangkah menjauh dan menghilang.
Seorang pelayan datang kepada puteri Arfenit.
"Itu sangat jahat loh tuan puteri." Tegur pelayan tersebut kepada puteri Arfenit.
"Uwaa! Sangat memalukan, mungkin aku tidak akan mencuci tanganku selamanya." Puteri Arfenit sudah tidak dapat menahan malunya yang sudah dari tadi ia tahan didepan David dan langsung meledak dimana wajahnya berwarna merah hingga ketelinga saat kepalanya mengeluarkan asap.
__ADS_1
"Ternyata puteri mengusir tuan jendral karena tidak ingin dia melihat wajah memalukan tuan puteri, benar benar sifat tuan puteri sekali, tapi tuan puteri bahkan sampai mengoleksi gambar dan semua informasi tentang tuan jendral bahkan-"
"Hentikan itu! Aaa! Aku ingin sendiri sekarang!" Cepat Puteri Arfenit berlari kearah kamarnya.
"Dasar, tuan puteri."
...
Sementara itu didalam kereta David.
"Sepertinya tuan sangat senang bermainnya." Ucap Virinda saat melihat David tersenyum puas.
"Kak David bermain? Kenapa tidak mengajak Merly!?" Melry langsung mengguncang guncang tubuh David.
"Haha lain kali aku akan mengajakmu Merly." Ucap David tersenyum canggung.
"Baiklah, janji yah."
"Okke!"
Setelahnya David menyempatkan diri untuk singga dimansionya yang ada dikota kerajaan untuk beristirahat selama sehari sebelum kembali kekota pelabuhan untuk pulang kekota Green.
...
Beberapa hari kemudian
Setelah pulang dari kota kerajaan, David mulai merancang kembali berbagai hal yang akan dia bangun termasuk jalan dan pertahanan di tempat para Dwarf dan berencana untuk membuat pemukiman manusia diatasnya untuk mengecoh orang lain.
Tapi David jelas hanya akan membuat markas perajurit terpilih saja disana dan membuat alasan latihan untuk tinggal disana.
David juga merancang beberapa senjata beru termasuk kapal perang yang akan ia buat, kali ini David ingin membuat kapal yang khusus untuk berperang dilautan karena jika hanya Ocean Dragon saja jelas itu masih belum cukup.
Pengalaman perang bersama Archipelago empire dimana kapal Ocean Dragon mengalami kekalahan menjadi bukti bahwa kekuatan lait David masih sangat lemah, bahkan Archipelago Empire belum mengeluarkan kapal pamungkas mereka.
Sebenarnya David mendapatkan informasi bahwa Archopelago memiliki kekuatan tempur berupa kapal yang sangat besar dan kuat tapi David tidak mengetahui dengan jelas kekuatannya karena kekurangan informasi.
Yang jelasnya David masih terus ingin menambah kekuatan tempurnya untuk meningkatkan kemenangan setiap peperangan.
Setelah berhari hari terus bekerja diruang kerjanya dimansion Dark Dragon, David akhirnya berhasil menyelsaikan segala sketsa dan arsitek kapal perang yang akan ia buat.
David merancang banyak bentuk kapal setelah merenovasi dari berbagai kapal perang dibumi dari era ke era.
Tentu selain kapal David juga merancang beberapa hal lain yang pastinya akan berguna.
Setelah semuanya selesai dan akhirnya hari harinya yang ia habiskan diruang kerja pun berakhir untuk sementara karena David harus segera menuju ketempat para Dwarf untuk melihat hasil kerja mereka.
Tentu David harus berpamitan dengan orang mansion termasuk Selartain sendiri yang sudah mirip seperti keluarga bahkan diapun juga sudah dikenal sebagai salah satu puteri dari keluarga Dark karena dia menggunakan nama keluarga David.
__ADS_1
Tapi meskipun begitu Selartain selalu bersikap seperti biasa dimana dia tetap tidak ingin diperlakukan seperti seorang puteri bangsawan karena dia menganggapnya sebagai perlakuan anak kecil.
Setelah semuanya selesai David seperti biasa langsung pergi bersama dengan Virinda, meskipun mereka dapat sampai dengan cepat jika hanya berlari tapi mereka berdua tetap menggunakan mobil.
...
Digua bawah tanah Dwarf.
"Tuan Forts, semua rancangan yang anda berikan sangatlah bagus, setelah kami membuatnya ini menjadi tempaan terbaik kami tuan Forts." Berkata Kihai memuji saat setelah melihat dari hasil buatan mereka sendiri berdasrkan sketsa dari David.
"Semuanya dirancang oleh David sendiri, aku pun tidak tau dari mana dia mendapatkan ide seperti ini." Ucap Forts menggeleng.
"Tuan David benar benar sangat mengagumkan." Kembali Kihai memuji.
Tiba tiba datang seorang Dwarf lain. "Tuan Kihai." Sapanya.
"Ada apa?" Kihai bertanya karena nampaknya orang tersebut ingin melaporkan sesuatu.
"Tuan David datang." Ucapnya.
"Oh! Aku akan menyambutnya." Cepat Kihai melangkah menuju keluar gua.
"Aku ikut." Ucap Forts yang mengikuti Kihai.
Setelah berjalan sampai didepan gua, Kihai dan Forts dapat melihat David dan seorang Maid yang baru saja turun dari mobil.
"Selamat datang tuan David." Sapa Kihai.
"Ya Kihai, apa kabar?" David pun menanggapi.
"Kami semua baik baik saja berkat tempat dan perlindungan tuan David, kami juga telah menyelesaikan lima puluh persen pembangunan tempat kami walau begitu kami juga tetap mengerjakan tugas yang diberikan oleh tuan David." Ucap Kihai.
"Aku senang mendengarnya." Ucap David yang berjalan mendekat bersama Virinda.
"Tuan David dapat melihat kedalam." Kihai segera menuntun jalan David.
"Baiklah." David mulai mengikuti Kihai menuju kedalam gua dimana lebar pintu gua semakin besar.
Lebar pintu gua sendiri sekarang sekitar lima puluh meter dengan tinggi dua puluh meter, jika hanya Dwarf tentu mereka akan membuat pintunya semakin kecil tapi David lah yang menyarankan untuk seperti ini.
Setelah semakin masuk dan semakin turun pula David kedalam gua, David dapat melihat didalam sana sudah seperti kota bawah tanah dengan penerangan yang memadai bahkan sudah tercipta beberapa kebijakan didalam kota meskipun semuanya hanya fokus dalam bekerja membangun kota dan membuat pesanan David.
Kihai mengantar David melewati jalan dilorong gua dimana luasnya seluas pintu gua, dipinggir jalan terdapat banyak rumah yang terbuat dari dinding batu yang dipahat.
Semakin dalam David akhirnya mereka tiba disebuah lapangan yang luasnya kurang lebih seluas lapangan sepak bola.
'Ek- ini pembangunannya masih lima puluh persen, bagaimana jika sudah seratus persen nantinya?' Batin David terkejut.
__ADS_1