Another VR World Accident

Another VR World Accident
Chapter 146, Tiba ditempat pengungsian.


__ADS_3

Daerah kekuasaan keluarga Vermilion


David memang ingin melatih perajurit tapi kali ini masalahnya menyangkut nyawa warga yang menjadi target monster.


"Apa kau melihat itu tadi?"


"Ya sepertinya itu adalah lima kelebat bayangan."


"Kelebat bayangan apanya itu adalah pisau pembantai milik tuan jendral."


"Kudengar mereka tidak akan bergerak sebelum diberi perintah."


"Mereka benar benar mesin pembunuh."


"Tapi katanya belum pernah ada orang yang melihat rupa mereka bahkan perajurit assassin lainnya pun belum pernah."


"Namanya juga rahasia tuan jendral."


Berbagai komentar dari para perajurit yang sempat melihat bayangan tim Virinda terdengar dan mereka memang tidak tahu bahwa maid yang selalu ikut pada jendral mereka adalah mesin pembunuh yang mereka bicarakan, saat Tiger ingin menegur, David menghentikannya setidaknya itu sedikit dapat memotifasi perajurit.


...


Dikota penampungan


"Sial mereka terus bermunculan, manaku hampir habis." Gerutu Stella yang terus kesusahan menebas monster yang naik keatas tembok menggunakan pedangnya yang seluruh bagiannya terus terbakar oleh api berderajat tinggi yang bahkan bisa melelehkan baja tapi anehnya pedangnya baik baik saja.


"Sebaiknya puteri Stella melarikan diri saja kekota tetangga mungkin bisa mendapatkan bantuan. Kami akan menahan mereka sebisa mungkin nona!" Ucap seorang perajurit yang terus kesusahan dalam menangani monster yang naik keatas tembok.


"Jangan bercanda! Mereka bahkan tidak mengirimkan bantuan saat kita mengirimkan surat darurat!" Balas Stella berteriak.


"..." perajurit tadi langsung diam karena tidak tahu apa lagi yang harus menjadi harapan mereka.


"Oi lihat itu!" Teriak seorang perajurit menujuk kebawah merekat tepatnya dibawah tembok dimana monster terus berjatuhan.


"Mereka menghabisi monster?"


"Mereka Maid?"


"Jangan mempertanyakan itu sekarang, mereka sudah membantu kita cepat kerahkan tenaga kalian!" Teriak seorang komandan perajurit lain.


"Siapa mereka?" Stella bertanya merasa aneh akan hal ini meskipun ia senang mendapatkan bantuan.


"Setidaknya sekarang mereka bukan musuh tuan puteri." Jawab komandan perajurit.


"Baiklah."


Disisi lain tempat tim Virinda

__ADS_1


"Kalian sih tidak masalah jika diperintahkan oleh tuan, tapi kenapa aku harus melakukan ini?" Bertanya Moar yang terus membantai monster pada bawahan Virinda yang menggunakan sabit besar.


"Bersabarlah tuan Moar ini perintah tuan David." Jawab bawahan Virinda.


Yah meski bagaimanapun, Moar juga pernah melatih mereka berlima saat baru saja dipungut oleh David.


"Haih.. aku sekarang merasa kecil saat berhadapan dengan kalian." Keluh Moar yang tidak terlalu nyaman saat melihat muridnya dulu sekarang bahkan lebih hebat.


"Jangan berkata begitu tuan Moar, bagaimanapun anda pernah melatih kami." Kali ini Virinda yang menjawab.


"Baiklah baiklah terserah kalian saja." Moar yang biasanya tidak banyak bicara sekarang malah keseringan mengeluh seandainya Tiger Lily Ahrul dan Bord bahkan David sendiri ada disini mungkin mereka akan termuntah muntah karena terkejut.


Pembantaian terus berlanjut tapi tugas mereka hanya mengulur waktu jadi santai saja mereka membantai monster yang ingin menyentuh tembok saja selebihnya mereka tidak membunuhnya.


Setelah lima jam sejak penyerangan monster yaitu pagi buta tadi, rombongan perajurit mulai terlihat dimana mereka langsung membantai monster dari belakang dengan cepat.


"Itu pasukan bantuan! Pasukan bantuan datang!" Berteriak seorang perajurit setelah keputus asaan karena yang membantu mereka dari tadi juga seperti terlihat kewalahan padahal Moar dan tim Virinda hanya mencoba mengirit stamina saja.


"Pasukan bantuan datang!!"


"Kita selamat!!"


"Kita selamata hahaha!"


Berbagai teriakan perajurit keluarga Vermiluon terdengar setelah banyak rekan mereka yang berguguran.


"Bendera jendral Dark." Gumam Stella melihat bendera perajurit yang berkibar.


"Benar, tuan kami datang menolong kalian atas perintah raja Artur." Virinda tiba tiba datang didekat Stella.


Stella sempat terkejut tapi segera menenangkan diri. "Aku tidak menyangka bahwa rumor yang beredar ternyata benar bahwa perajurit jendral Dark sangatlah menakutkan." Ucap Stella.


"Kau masih terlalu... ukhhum! Kau masih terlalu pemula untuk mengetahui kekuatan yang sebenarnya dari tuanku." Virinda sempat ingin mengatakan masih terlalu kecil tapi segera meralatnya saat melihat dada Stella yang sangat besar.


Stella tentu menyadari pandangan Virinda tadi karena ia pun sudah terbiasa akan oppainya yang besar itu. "Oh apakah kau tertarik dengan dadaku." Ucap Stella menggosok gosokkan oppainya dilengan Virinda.


"Maaf tapi aku memiliki yang lebih besar darimu." Singkat saja Virinda menjawab karena memang begotulah miliknya.


"Kau tidak terlihat memiliki lebih besar dari punyaku." Stella memperhatikan dengan seksama milik Virind ayang tampak biasa biasa saja dibalik pakaian maidnya.


"Itu terlalu mengganggu saat aku bergerak jadi aku amankan." Jawab Virinda dalam maksud yaitu mengikatnya agar tidak bergoyang sana sini.


"Haih baru kali ini aku diabaikan saat masalah dada." Ucap Stella lesu.


"Tapi kurasa tuan David akan menyukainya." Virinda sedikit memberi saran.


"Benarkah!?" Stella ntah kenapa langsung bersemangat.

__ADS_1


"Kau ternyata menyukai tuan." Komentar Virinda menatap Stella datar.


"Tidak!" Tegas Stella menolak perkataan Virinda.


"Kau juga tidak akan mendapatkannya karena nona Astein bahkan jauh lebih baik dari punyamu dasar boneka beruang." Ejek Virinda.


"Kau bantal guling." Stella melawan balik.


"Punyaku bahkan lebih besar." Tapi santai saja Virinda membalas.


"Kalau begitu kaulah gunungnya." Stella tidak mau kalah.


"Maaf aku sudah mengamankannya."


"Ck-" Stella kehabisan kata kata.


Tanpa mereka sadari saat berdebat para perajurit sudah menghabisi seluruh monster yang ada dan hanya menyisahkan mayat dan drop item saja yang segera diamankan oleh perajurit.


"Anda jendral Dark?" Bertanya Stella saat menghampiri David.


"Ya, kau?" Jawab David bertanya. 'Aura iblis?' Batin David merasakan sedikit aura iblis dari tubuh Stella tapi seperti bukan sepenuhnya darinya melainkan seperti seorang yang dekat dengannya yang menularinya aura iblis.


"Maaf belum memperkenalkan diri, saya Stella Von Vermilion berterima kasih karena telah mengirimkan bantuan." Ucap Stella memberi hormat layaknya kesatria dan bukan seperti puteri bangsawan.


"Aku hanya menjalankan misi." Ucap David menyangkal.


"Meskipun begitu saya sangat berterima kasih tuan jendral." Ucap Stella. "Apa aku boleh memanggilmu tuan David?" Lanjut Stella bertanya.


David sebenarnya tidak terlalu suka dipanggil nama saat sedang menjalangkan misi tapi kali ini dia membiarkannya saja. "Baiklah terserahmu saja." Ucap David masih memlihat kondisi sekitar.


Stella yang merasa agak canggung segera mengambil inisiatif. "Kalau begitu sebaiknya tuan David masuk dulu, kita akan mendiskusikan masalah ini didalam." Ajak Stella yang berjalan memasuki kota.


"Baiklah." David mengangguk dan melangkah masuk kekota bersama Virinda mengikuti Stella.


Singkat cerita saat mereka tiba didalam mension lord kota tepatnya disebuah ruangan dengan beberapa kirsi disetiap sisi meja persegi dengan berbagai kertas diatasnya.


"Baiklah, bisa kau ceritakan situsinya sekarang?" Bertanya David saat merasa sudah pas dengan tempat duduknya.


"Situasi yah.. ... benar benar buruk." Ucap Stella setelah membuang napas panjang.


"Aku bisa melihatnya." David menanggapi.


"Hanya kota ini yang tersisa dari kota kekuasaan keluargaku, bahkan sekarang kota ini hampir musnah seandainya tuan David tidak datang." Ucap Stella menggeleng.


"Bagaimana dengan keadaan orang yang selamat?" Bertanya David untuk memastikan situasi warga.


...----------------...

__ADS_1


buat yang ingin lihat ilustrasi novel Another VR World Accident silahkan lihat diinstagram saya saja @Rezaatmaja03 atau kalian bisa cari dengan nama @reza_atmaja03 itu akunnya sama aja.


disana penjelasan karakter serta asal usulnya lengkap guys.


__ADS_2