Another VR World Accident

Another VR World Accident
Chapter 240, Rasa iri Astein


__ADS_3

"Bagaimana dengan kapal nya?" Bertanya David saat tadi ia menugaskan mereka berdua untuk pergi mengecek kapal di pelabuhan nya.


"Semua kapal masih aman kecuali kapal yang di gunakan untuk menyelamatkan beberapa nelayan yang berada di laut saat serangan bangsa iblis itu rusak parah tuan." Jawab Tiger.


"Aku tidak tahu iblis ini bodoh atau bagaimana sampai tidak merusak alat perang manusia tapi mungkin tujuan mereka hanya menguasai kota perbatasan saja dan mungkin mereka juga ingin memanfaat kan senjata manusia." Ucap David.


"Jadi apa yang harus kami lakukan sekarang tuan?" Bertanya Virinda untuk tugas selanjut nya.


"Warga yang mengungsi butuh makan dan tempat tinggal, urusan seperti ini terlalu berat jika hanya di kerjakan oleh pak tua Erik jadi sebaik nya kita kembali ke Green Luck City untuk membantu." Ucap David.


"Kami mengerti tuan." Jawab Virinda bersama squad nya.


"Juga Tiger jangan lupa mengatur beberapa perajurit untuk datang dan berjaga di sini, pastikan mereka memiliki kemampuan dan alat transportasi untuk melarikan diri." Ucap David.


David bukan nya ingin membiasakan perajurit nya untuk melarikan diri hanya saja percuma mereka bertarung melawan bangsa iblis jika ada bangsa iblis yang muncul di sini karena tidak ada jiwa yang harus mereka lindungi di kota pelabuhan dan bisa di katakan itu hanya mati konyol.


"Baik tuan." Mengangguk Tiger menjawab.


"Kita akan berangkat setelah Lily menyelesaikan tugas nya." Ucap David langsung berteleportasi ke dalam Castile Disaster meninggalkan yang lain nya karena seharus nya mereka bisa naik di ketinggian lima puluh meter dengan cara mereka sendiri.


...


Castile Disaster


"Ayah!" Teriak Dastein langsung memeluk David begitu David muncul di hadapan mereka yang sedang bersantai sambil melihat laut es mulai mencair.


"Yah Dastein, apa yang membuat mu senang?" David sudah memastikan Dastein tidak melihat perang tadi.


"Lihat ayah, itu es krim yang besar dan sangat banyak!" Ucap Dastein yang baru pertama kali melihat es sebesar itu dan menganggap nya sebagai es krim.


"Mau makan es krim?" Bertanya David mengeluarkan satu es krim dari Invertory nya.


"Woah... Nn." Dastein melihat nya dengan mata berbinar sebelum mengangguk.

__ADS_1


"Baik lah ini untuk Dastein." Ucap David memberikan es krim di tangan nya pada Dastein.


"Terima kasih ayah!" Dastein langsung menjilati nya dengan lahap dan mengigit nya secara perlahan.


"Dastein sangat menyukai es krim yah.." Ucap David saat sepenuh nya di abaikan oleh putra nya sendiri.


"Jangan terlalu sering memberikan nya es krim." Ucap Astein yang sedang duduk di sebuah bangku lalu menutup buku nya dan menegur David.


"Tenang saja itu tidak akan merusak gigi nya." Ucap David tertawa sendiri.


"Bukan itu masalah nya, nanti Dastein tidak akan mau makan malam jika kamu kebanyakan memberikan nya es krim." Ucap Astein.


"Eh benar kah?" David tersadar.


"Biasa nya Dastein selalu begitu." Balas Astein menjawab.


"Nn aku akan berhati hati saat memberikan Dastein es krim." Ucap David mengangguk.


"Jadi, apa sudah selesai?" Bertanya Astein tiba tiba mengubah topik.


"Kapan semua nya akan berakhir sebenar nya, bukan kah memiliki keluarga yang berkumpul seperti ini terasa nyaman dan damai?" Ucap Astein menyandarkan kepala nya pada bahu David.


"Ini memang terasa nyaman saat aku bersama kalian aku bisa melupakan semua masalah yang ada saat ini tapi, aku tidak bisa terus lari dari kenyataan Astein, harus ada seseorang yang menghentikan perang ini." Ucap David memegang tangan Astein dengan memasukkan jari nya kesetiap celah jari Astein.


"Itu bukan tugas mu David." Ucap Astein menggenggam erat tangan David.


"Lalu ini tugas siapa?" Bertanya David.


"Tentu saja pahlawan- tidak, mereka tidak memiliki tugas seperti itu." Ucap Astein kemudian meralat jawaban nya.


"Para pahlawan juga hanya lah manusia yang terdampar di dunia ini dan kita dengan egois nya memberikan mereka tanggung jawab yang bukan milik mereka." Ucap David.


"Nm.." Astein memilih diam.

__ADS_1


"Aku sudah pernah mengatakan nya kan, raja iblis itu adalah sosok yang tidak dapat aku mengerti, jadi kita hanya bisa selalu bersiap terhadap setiap serangan nya kecuali.." David tiba tiba menghentikan ucapan nya.


"Kecuali apa David?" Bertanya Astein yang juga ingin mengetahui cara lain menghentikan perang ini namun dengan sifat suami nya itu sudah pasti cara ini sangat berbahaya bagi nya.


"Ada seseorang yang mengalahkan raja iblis." Ucap David yang entah muncul dari mana sebuah item khusus di tangan nya.


"Bukan kah itu kunci untuk membuka gerbang dimensi menuju benua iblis?" Bertanya Astein memastikan karena tentu ia mengetahui item tersebut karena David pernah memperlihatkan nya.


"Ini hanya berlaku jika raja iblis tidak juga memunculkan diri nya di benua ini." Ucap David tertawa canggung.


"Apa nya yang berlaku!? Pokok nya aku tidak akan membiarkan mu pergi ke benua iblis!" Ucap Astein langsung berdiri dengan suara keras.


"Tenang lah Astein, ini hanya rencana terakhir saja." David berusaha menenangkan Astein meskipun ia tahu ini akan terjadi jika ia memberitahu kan rencana nya.


"Aku tidak peduli itu rencana atau hanya niat mu David, apa kau tahu seberapa besar rasa khawatir ku padamu saat kamu meninggalkan ku David?" Astein terduduk dan menangis di paha David.


"Astein.." David tidak tahu lagi harus berkata apa.


"Kamu selalu meninggalkan mansion membahayakan diri mu tanpa aku tahu kesulitan dan bahaya apa yang sedang kamu alami di luar sana, seharus nya kita bisa hidup tenang dan bahagia seperti bangsawan lain nya tapi kenapa selalu kamu David!?" Ucap Astein mempertanyakan hal yang nyata di mana selalu saja David yang di pilih oleh tuhan untuk melakukan hal hal berbahaya.


"Maaf telah membuat mu khawatir Astein." Ucap David yang juga mulai ikut meneteskan air mata karena rasa bersalah pada keluarga nya ini.


David pernah merasakan hidup tanpa keluarga yang lengkap jadi David benar benar paham akan rasa sepi dan iri terhadap keluarga lain yang di rasakan Astein saat ini.


Saat keheningan yang lama tiba tiba suara telepati Virinda terdengar. 'Tuan kami telah selesai dengan tugas kami.' Ucap Virinda.


'Ah Virinda, apa kalian sudah berada di istana?' Bertanya David.


'Semua sudah berada di atas istana tuan.' Ucap Virinda.


'Baik lah kita pulang sekarang.' Ucap David menutup telepati nya.


"Semua nya sudah selesai, kita pulang sekarang Astein." Ucap David merangkul tubuh Astein dan mengangkat nya.

__ADS_1


"Nn." Astein hanya mengangguk dan menyembunyikan wajah nya di dada David saat David mulai menggendong nya.


__ADS_2