
Lapangan pelatihan bertarung kesatria.
"Oi leon apa kau tidak melihat aku sedang cacat dan malah menyuruh ku untuk beradu pedang" ucap David menunjuk lengan kirinya yang sudah berganti menjadi tulang naga tapi berwarna hitam.
Walaupun David menggunakan baju lengan panjang tapi bagian lengan kirinya didesain terpotong agar mempermudahkanya untuk mengeluarkan senjatanya.
"Ayolah David aku mendengar kamu dapat menebas ribuan musuh juga kamu akan malu jika menolak ini loh" Leon memberikan pedang kayu pada David.
"Ntah kenapa sekarang kamu mempertanyakan sikap kesatria" David mengambil pedang kayu yang diberikan pada Leon dan segera menuju ketengah lapangan dimana sudah terdapat lima orang siswa yang sudah bersiap dengan pedang dan dua diantara mereka menggunakan prisai kayu.
"Biar kuingatkan David! Lapangan ini dirancang untuk menyetarakan level petarung jadi selama kamu dilapangan maka level kamu akan menurun dan sama dengan lawanmu!" Berteriak Leon dimana sesuatu yang sangat penting baru dia katakan.
Jika mengandalkan kekuatan sudah jelas David yang menang tapi jika mengandalkan teknik berpedang maka David akan kalah walaupun David memiliki keperayaan diri pada tingkat penguasaan pedangnya tapi setidaknya dia hanya bisa melawan dua orang sekarang malah diberi lima orang.
"Kalau begitu apa aku boleh menggunakan tangan kiriku sebagai prisai?" Bertanya David sambil meregangkan tangan kirinya yang lebih mirip tulang berulang saja.
"Baiklah itu akan adil! Apa kau sudah siap?!" Bertanya Leon.
"Ya!"
"Mulai!"
Ting...
Satu pedang jelas ditangkis menggunakan tangan kiri oleh David tapi bunyinya bahkan mirip dengan dentuman besi sekali kena kepala langsung pingsan.
Melompat David mundur dang segera disusul oleh empat orang lainya yang mengarahkan pedang pada David secara bergantian.
"Cih kalian merepotkan" David menangkap satu pedang dan melemparkanya bersama penggunanya serta berhasil menendang satu kaki murid yang membuatnya kehilangan keseimbangan dan David langsung menebas lehernya dengan ringan yang jelasnya David hanya ingin mengeliminasi murid tersebut dimana jika berhasil mengenai kepala atau leher maka akan langsung tereliminasi, eliminasi yang kedua adalah tidak bisa bertarung atau menyerah.
Satu pedang murid dari belakang menebas dengan cepat menuju lehernya tapi satu angkatan siku bersamaan dengan tunduknya David dapat menghindari tebasan tersebut dan pedang David kembali menebas kearah pinggan murid itu tapi satu prisai berhasil menghalanginya dimana membuat David segera melompat mundur tapi saat dia melompat mundur satu pedang berhasil mengenai punggungnya dan dengan cepat David melapisinya dengan pedang dan mendorong murit itu menggunakan tanag kirinya.
"Mereka hebat!" Puji David mengambil nafas.
David kembali memyerang saat satu pedang menyerang kearah dadanya dan disaat itu David tidak menangkisnya hanya bergeser sedikit dan menaruh ujung pedang tepat dileher murid tersebut yang membuatnya menyerah.
__ADS_1
Belum sempat David menurungkan pedangnay satu orang dari belakan melompat dari atas dan menebas kearah kepala David tapi David berhasil menghalaunya dengan tangan kirinya tapi satu pedang lagi berhasil menebasnya dari belakang.
"David menangkap murid yang lompat tadi dan segera mengeliminasinya setelah itu David bergerak cepat mengayungkan pedangnya dimana dapat mengecoh mata dan benar saja tanpa disadari murid tersebut satu pedang sudah berada dilehernya dan hanya tinggal satu murid lagi yang belum yereliminasi.
Murid itu mulai menggunakan segala kemampuanya kecuali skill karena dilarang menggunakan skill.
Dia berlari kearah David dan menebaskan pedanganya terus menerus secara bergantian dan terus mencari celah tapi tidak dapat menemukanya karena pedangnya selalu berhasil ditangkis oleh David jika dia berhasil menghindari pedangnya makan tangan kiri David langsung menghalaunya.
"David cepatlah!" Astein berteriak dan sepertinya ingin menghindarisesuatu.
David dengan cepat menangkan pedang murid tersebut dan mengayungkan pedang tepat kelehernya tapi berhenti begitu pedang tersebut sudah rapat pada leher.
"Terima kasih atas bimbinganya jendral" kelima murid itu langsung hormat pada David.
"Ada apa Aatein" baru kali ini David tidsk peduli pada penghormatan seseorang.
"Kamu lihat disana" Astein sudah menggunakan hidden Cloak.
"Kuta pulang saja" David juga segera menggunakan Hidden cloak.
Yang mereka berdua lihat adalah Andrea dimana sekarang dia sedang berjakan dengan santainya dimana terdapat dua wanita dikir dan kananya.
Bukanya David takut berurusan dengan Andrea tapi David sudah janji ingin memberikan pedang roh pada Exkaliber sore ini, akhirnya mereka berdua memilih untuk pulang.
*****
Mansion kita kerajaan.
"Astein keluarkan pedangmu" ucap David begitu dia juga mengeluarkan pedang rohnya.
"Ini" Astein mengeluarkanya.
"Sentuh pedang rohnya menggunakan Exkaliber dan cobalah untuk mengalirkan manamu agar bisa menghisap seloroh roh milik pedang ini" jelas David.
"Baiklah" Astein melakukan apa yang dikatakan David.
__ADS_1
Astein mulai mengaliri mananya saat kedua pedang tersebut bersentuhan dan hanya dalam waktu 0.1 detik saja setelah mana Astein melapisi pedang exkaliber roh pedang yang David beli dipelelangan langsung hilang.
"Memang pedang legendaris bahkan bisa menghisap roh pedang dengan cepat" David cukup kagum.
"Sudah selesai?!" Astein juga cukup terkejut.
"Yah begitulah" David menyimpan pedang tanpa roh itu kembali setidaknya pedang tersebut nantinya masih bisa digunakan untuk menggali tanah dikota barunya.
**********
Satu minggu David habiskan dengan berlibur bersama Astein dan mengurus beberapa berkas milik kota barunya serta datang keguild untuk membeli beberapa bibit yang ingin David gunakan untuk menjadi penghasilan utama milik kotanya.
David dan Astein menuju kota pelabuhan hanya memerlukan waktu dua puluh empat jam menunggangi Wolf yang dalam wujud besarnya.
Mereka berdua langsung mendatangi ayah dan ibu Aatein yang sudah menunggu dikota pelabuhan kerajaan.
Mereka berangkat kembali kekota Green bersama lima pelayan menggunakan kapal Aatein sehingga waktu tempuh hanya perlu empat hari saja walaupun diperjalanan Lugard selalu mencari gara gara dengan David yang membuat David kadang emosi sendiri.
Mereka sampai dikota pelabuhan dibawah naungan milik meuarga Lugard setelah empat hari perjalanan juga kota pelabuhan sudah banyak perubahan karena dua pelabuhan yang saling terhubung bahkan pelabuhan mereka lebih besar dari pada kota pelabuhan kerajaan.
Banya pedangang yang datang hanya untuk melihat kapal yang kabarnya dapat menumpas tiga puluh kapal dengan hanya sekali tabrak saja, walaupun rumor terlaku melebih lebihkan tapi banyak orang yang percaya setelah melihatnya karena David lupa meminta bawahannya untuk membuka tameng serta pedang besar disisi kapal yang membuatnya terlihat menyeramkan.
David segera mengirim perintah kepada penjaga pelabuhan agar menyampaikan pesanya begitu kapal ocean dragon bersandar untuk membuka tameng dan pedang kapal.
**********
Malam hari
Rumah David kota pelabuhan
"Astein besok aku harus menuju kekota Dargkolli untuk mengurus beberapa masalah pembangunan dan pengurusan kota jadi untum sementara tinggallah dikediaman Lugard dan aku akan datang menjemputmu begitu semuanya selesai" David membelai lembut rambut halus pirang Astein saat berada didalam kamar.
"Kamu pernahbilang jika kamu akan menjemputku begitu kita kembali kekota green" keluh Astein menikmati pelukan David.
"Maaf Astein masih ada beberapa masalah yang harus aku selsaikan" David pun tidak dapat menepati janjinya kali ini karena harus mengurus kota.
__ADS_1
"Baiklah aku akan menunggumu lagi" Astein membenamkan wajahnya dalam pada tubuh David.
"David malam ini aku akan menemanimu" Astein memberi kode dengan suara lirih.