
Malam hari
Kota pengungsian
Kamar David
"Kurasa tidur seharian hingga malam seperti ini tidak akan berefek apa apa pada tubuhku." Ucap David yang baru saja bangun tengah malam dan meregangkan sedikit tubuhnya walaupun itu tidak perlu tapi itu adalah kebiasaannya.
Tok! tok! tok!
"David! Aku masuk yah." Suara Stella terdengar dari balik pintu.
"Stella? Masuklah." David segera memperbaiki duduknya.
Stella masuk setelah pintu terbuka memperlihatkan Stella yang menggunakan gaun tipis.
"Kenapa kamu baru bangun?" Stella bertanya yang artinya dia sudah menunggu diluar dari tadi.
"Ah maaf Stella aku ketiduran sekarang sudah tengah malam aku hampir melupakan janji kita." David meminta maaf dengan menggaruk bagian belakang kepalannya.
"David bukankah kita terlalu cepat untuk melakukan ini." Ucap Stella agak malu malu mengangkat naik gaunnya.
"Menurutku ini sudah terlalu lambat seharusnya kita melakukannya sedikit lebih cepat." Ucap David yang membuka bajunnya.
'Kenapa rasanya David lebih keren saat membuka bajunnya.' Batin Stella terperanga melihat tubuh David. "Kamu mengatakan ini lambat?" Tanya Stella memastikan ucapan David dan mulai berjalan mendekat kearah David tapi berhenti saat melihat David menggunakan kembali bajunnya.
"Yah lambat kita seharusnya melakukannya dari tadi." Ucap David yang telah selesai mengganti bajunnya.
"Eh bukankah kita akan melakukan 'itu'?" Tanya Stella yang terkejut dan bingung.
"Itu? Oh ayo." David segera menarik tangan Stella dan melompat keluar melewati jendela.
"Aaa..!!" Stella sempat berteriak tapi berhenti saat sebuah Skeleton Dragon tiba tiba datang dan mereka menungganginya membawa mereka keatas.
"Bukankah bulan malam ini sedikit aneh." Ucap David menujuk kearah bulan yang malam ini sedikit berwarna emas.
"Itu bukan aneh tapi indah." Ucap Stella memandangi bulan.
"Ini yang ingin aku lakukan bersamamu malam ini." Ucap David.
"Eh baukannya itu?" Stella sekarang mengerti.
"Itu?" David sedikit bingung.
"Ukhhu!.. maaf lupakan saja." Cepat Stella mengelak.
"Bulan purnama emas ini hanya muncul setiap seratus tahun, tadinya aku ingin melihatnya bersama Astein tapi dia tidak ada jadi aku akan menujukkannya padamu." Ucap David menjelaskan.
'Ternyata aku bisa menggantikan Astein disaat seperti ini.' Batin Stella tersenyum malu dan mulai memegangi pipinnya.
"Kamu kenapa Stella?" David bertanya saat melihat Stella bertingkah aneh.
__ADS_1
"Eh! Tidak apa apa, oh ita dari mana kamu tahu kalau bulan purnama emas ini hanya muncul setiap seratus tahun?" Bertanya Stella mengganti topik.
"Aku membacanya diperpustakaan dulu dan tahu bahwa bulan purnama emas ini akan muncul malam ini." Jawab David.
"Ohh." Stella hanya mengangguk karena sebenarnya dia juga tahu tentang bulan purnama emas hanya saja dia tidak tahu bahwa hari ini akan muncul.
Beberapa saat kemudian saat mereka menikmati bulan purnama emas, Stella mulai bertingkat aneh dan menggosok lengannya.
"Kau kenapa Stella?" David bertanya.
"Tidak apa apa." Stella masih berusaha untuk bertahan tapi terlihat jelas dia sedang kedinginan dengan gaun tipianya itu.
"Kamu kedinginan?" Tanya David memastikan.
"..." Stella tidak menjawab.
"Dengan level stinggi itu kau masih bisa kedinginan?" David sedikit kebingungan.
"Berbeda dengan kami perempuan, kalian laki laki selalu meningkatkan tubuh kalian saat menaikkan level sedangkan kami tentu tidak ingin memiliki otot karena itu akan sangat mengganggu penampilan perempuan." Stella langsung berterus terang.
"Dengan kata lain tubuhmu tidak dapat menahan dingin." Ucap David sedikit menggeleng.
"Nm." Mengangguk Stella.
"Bukankah kamu ini berelemen api? Kenapa kamu tidak menggunakan api untuk menghangatkan tubuhmu atau mungkin ada cara lain." David mengusulkan.
"Api terlalu terang akan mengganggu disaat seperti ini." Tapi Stella menolaknya.
"Seharusnya kau menggunakan jubahmu untuk menghangatkanku." Gerutu Stella yang bukannya berterima kasih. 'Selimut ini memikiki bau yang sama dengan David.' Batin Stella.
"Aku masih menggunakannya." Ucap David tidak memiliki niat untuk meminjamkan jubahnya.
"Baiklah." Stella perlahan menikmati kehangatan selimut David yang memiliki bau David dan perlahan tertidur karena angin yang perlahan memberatkan kelopak matannya.
"Stella?" David memanggil nama Stella untuk memastikan kesadarannya.
Tapi tidak ada jawaban dari Stella yang sedang tertidur dan selimutnya yang mulai melorot dan memperlihatkan kedua aset bagian atasnya yang besar dari balik gaun tipisnya.
"Kau seharusnya tidak tidur didepanku saat dalam keadaan seperti ini Stella." David berusaha untuk menahan diri dan segera mengantarkan Stella untuk kembali kekamarnya.
Perlahan David menggendong Stella menuju kearah kamarnya tapi saat didepan pintu kamar Stella malah terkunci.
"Apa yang sebenarnya Stella pikirkan sampai kamarnya pun dikunci, apa dia memiliki rahasia lain, kalau begitu artinya aku tidak bisa masuk." David akhirnya berbalik menuju kamarnya maskipun membuka kunci pintu bukanlah hal sulit baginya tapi David sangat menghargai privasi perempuan.
David berjalan kekamranya karena hanya itulah kamar yang ia pikirkan saat ini untuk Stella beristirahat, Stella mulai tersadar tapi saat merasakan sednag digendong seseorang dan orang itu adalah David ia segera berpura pura tidur.
Sampainya dikamar David, David segera membaringkan Stella ditempat tidur tanpa menyelimutinya.
"Aku tahu kau sudah bangun Stella." Bisik David didekat telinga Stella.
"..." Stella tidak menkawab dan tidak menujukkan ekspresi kecuali terus berpura pura tidur.
__ADS_1
"Haih.. kau seharusnya tidak berpakaian seperti ini saat berada didepanku Stella." Tersenyum David menggelitik perut Stella yang mulai merayap aset bagian atasnya yang besar.
"Nmm..." Stella berusaha untuk menahan diri saat merasakan tangan David.
Satu genggaman tangan David berhasil menggengam sebagian dari aset Stella.
"Kyaa..!" Berteriak Stella dan melayangkan satu tamparan kearah David.
Pak!
Tapi berhasil David tangkap. "Kau yang salah Stella." David tidak berhenti dan mulai mengunci kedua tangan Stella sebelum semakin gila memaingkan dua belah oppai besar Stella.
"Nmm.. David." Stella mulai menimatinya meskipun masih terasa sedikit geli.
David melepaskan kedua tangan Stella dan berhenti melakukannya. "Jangan berpakaian seperti tadi lagi jika ingin bertemu debgan laki laki." David wegera menyadarkan dirinya sendiri.
"..." Stella terdiam sebentar sebelum menngkap tangan David. "Kau bisa melakukannya." Ucap Stella menunduk malu.
"Kau yakin?" David langsung menindih tubuh Stella diatas tempat tidur.
"Lakukanlah dengan cepat, hanya untuk malam ini saja jika tidak besok besok aku tidak akan mau mihatmu lagi karena sudah membuatku malu mengatakan ini." Ucap Stella mengarahkan pandangannya kearah lain untuk menghindari tatapan David yang sangat dekat.
"Dengan senang hati tuan puteri." Ucap David sebelum mencium leher Stella yang terlihat sangat menggoda.
"..mm.. ah." Stella merasakan sangat geli dan beberapa uratnya mulai mengeras dan terluhat menonjol dikulit putihnya.
Tangan David perlahan melingkati tubuh Stella dan membuka tali bagian belakang gaunnya.
"Panas mm-" ucap Stella yang mulutnya langsung disumbat oleh ciuman David.
"Jangan bergerak terlalu banyak Stella." Ucap David yang mulutnya perlahan turun dan menciumi ujung dari oppai Stella.
"Ukh mm ah!" Stella perlahan kesulitan untik menahan diri karena tangan David mulai merayap kearah aset bagian bawahnya bahkan Stella sedikit terkejut saat merasakan dirinya sudah telanj*ng bulat tanpa ia sadari kapan David melepaskan pakaiannya.
"Aku mulai yah." Ucap David yang keadaannya sama dengan Stella.
"Em." Stella mengangguk sambil menutup bibirnya dengan punggung jari jari kananya.
...----------------...
guys! mulai dari 0 hingga 100 berikan nilai untuk novel ini di kolom komentar
...----------------...
Thank you untuk para donatur tetap
-Xn
-Ma'ke Seto
-Zefaanatasya_
__ADS_1
-[M.S.R]