
Ibu kota kerajaan
David membawa puteri Arfenit menuju sebuah toko pakaian yang terlihat sangat mewah.
"Hm?" Puteri Arfenit sedikit kebingungan sebelum tangannya ditarik oleh David untuk masuk.
"Selamat datang tuan, nona, gaun seperti apa yang anda inginginkan?" Seorang pelayan bertanya pada David dan puteri Arfenit setelah menyambut mereka.
Jelas didalam toko itu hanya ada gaun dan pakaian wanita lainnya yang penuh dengan renda dan sekarang puteri Arfenit mengerti kenapa David membawanya kesini.
"Hmm mungkin ini cocok." David langsung memilih sendiri dan memberikannya pada puteri Arfenit.
"Eh apa ini?" Puteri Arfenit masih agak kesulitan untuk mencerna situasi.
"Pakailah aku ingin melihatnya." David segera memberikan gaun yang ada ditangannya.
"Baiklah."
Puteri Arfenit segera diantar keruang ganti sebelum beberapa menit akhirnya keluar memperlihatkan penampilannya pada David.
"Bagaimana?" Bertanya puteri Arfenit yang sedikit agak malu karena harus bertanya pada David.
"Itu cantik, selanjutnya ini." David memberikan banyak gaun yang sudah ia pilih.
"Haa! Itu kebanyakan." Puteri Arfenit menganga memikirkan bagaimana dia akan hidup setelah mencoba semua gaun yabg dipilihkan oleh David.
"Pakai saja." David memaksa.
"Ba-baiklah." Puteri Arfenit menurut.
Akhirnya selama beberapa jam puteri Arfenit harus bolak balik ruangan ganti dimana David sering memujinya kadang juga tidak.
"Ini sudah yang kedua puluh lima, apa kau masih belum puas?" Puteri Arfenit berkata saat keluar dari kamar ganti.
"Tetap saja masih kurang." David menggeleng.
"Seriuslah aku sudah capek." Puteri Arfenit langsung lemas.
"Sepertinya memang yang sajalah yang bagus kalau begitu bungkus yang pertama saja." Ucap David memberikan gaun paling pertama yang puteri Arfenit coba.
"Baik tuan." Pelayan tersebut masih berusaha untuk tetap tersenyum saat melihat hobi aneh David.
"Haa!! Lalu untuk apa aku bolak balik kamar ganti selama dua puluh lima kali!" Teriak puteri Arfenit yang seakan lemas memikirkannya.
"Kualitas tentu harus dibandingkan terlebih dahulu puteri." Singkat saja David memberikan alasan.
"Tuan ini ganunya." Ucap pelayan tadi yang sudah membungkus gaunya serta tertera jelas harganya disana.
"Ini ambil saja kembaliannya sebagai komisi." David memberikan sekantong emas yang jumlahnya dua kali lipat dari harga gaun.
"Terima kasih tuan, datang lagi!" Ucap pelayan yang langsung membungkuk semangat dari yang tadi terlihat lesu dan kesulitan mempertahankan senyumnya.
"Pulang." Ucap David berjalan keluar.
__ADS_1
"Aku ganti dulu." Ucap puteri Arfenit yang segera berlari kearah ruang ganti.
Setelahnya David langsung mengantar puteri Arfenit pulang ke kediamannya sebelum kembali kemansionnya.
...
Malam hari
Mansion David.
"Uwaa.., benar benar hari yang melelahkan." Ucap David melemparkan tubuhnya diatas sofa setelah mandi.
"Teh anda tuan." Ucap Virinda menyimpan secangkir teh diatas meja didepan David.
"Oke thanks a lot." Ucap David sebelum menyeruput tehnya. "Oh iya mana yang lain?" Bertanya David menurunkan cangkir tehnya.
"Didapur tuan." Singkat saja Virinda menjawab karena David pun bertanya karena hanya dasar basa basi.
'Celina, Cecilia.' Panggil David lewat skill telepatinya.
David dapat merasakan jika Celina dan Cecilia terus mengikutinya keibu kota dari sejak terakhir kali melihatnya dikapal.
Meskipun bukan seorang assassin tapi keahlian mereka dalam menyergap bisa membuat mereka hebat dalam bersembunyi maupun membuntuti seseorang.
"Tuan memanggil kami?" Ucap Celina dan Cecilia yang datang bersamaan tidak lama setelah David memanggil.
Tapi David melihat ada yang aneh dengan penampilan Celina dan Cecilia. "Ada apa dengan telinga dan ekor kalian itu?" Bertanya David saat melihat telinga serigala yang ada dikepala mereka dan ekor yang terus bergoyang dibokongnya.
"Kami hanya dapat berubah menjadi manusia seutuhnya selama satu minggu, dan setelahnya kami akan kembali kewujud demon seperti ini selama satu hari penuh sebelum dapat kembali menjadi manusia." Jawab Celina menjelaskan masih dalam keadaan berlutut.
"Eh!?" Terkejut mereka berdua saat David sudah tidak ada ditempat duduknya bahkan Virinda pun terkejut karena David sudah ada dibelakang Celina dan Cecilia.
"Aku memang sempat berpikir akan bertemu dengan wanita bertelinga kucing atau tupai tapi sekarang bertemu dengan wanita bertelinga serigala benar benar lucky, inilah isekai haha." Ucap David yang memainkan ekor Celina dan Cecilia secara bergantian.
"Tuan!" Mereka mulai merasa aneh saat David mengelus daun telinga mereka.
"Bagian ini terasa lebih lembut dan hangat." David tidak bisa berhenti dan terus mengelus telinga mereka berdua.
"Awuu tuan itu sangat geli tuan." Celina sedikit kesulitan untuk merasakan efek dari sentuhan David yang benar benar terasa sangat nyaman.
"Wuu Cecilia merasa mm.." Cecilia pula mulai merasa aneh karena David tambah mengelus lehernya layaknya anak kucing.
David terus mengelus leher mereka berdua layaknya anak kucing yang terus menggoyangkan ekornya dengan cepat.
'Apa yang sebenarnya tuan lakukan?' Batin Virinda menepuk kepalanya saat David malah terbawa susana dan terus menggelitiki dua anak serigala sirius ini.
Selama setengah malam akhirnya Celina dan Cecilia harus mengikuti hobi aneh David yang membuat mereka berdua kelelahan.
...
Pagi hari
Saat pagi semuanya segera bersiap untuk kembali termasuk perajurit sendiri, David tidak ingin berlama lama diibu kota karena tidak ingin bertemu dengan masalah yang lebih merepotkan lagi nantinya.
__ADS_1
Dia hanya ingin pulang menikmati tempat tidur empuknya yang ada dimansion Dark Dragon, meskipun dimana mana dia selalu menggunakan tempat tidur yang kenyamanannya sebelas dua belas saja dengan yang ada dimansion Dark Dragon tapi tetap saja dirumah adalah tempat ternyaman untuk beristirahat.
Pagi hari rombongan perajurit David sudah keluar dari kawasan bangsawan dan akhirnya keluar kota menuju kekota pelabuhan.
Perjalanan perlu waktu dua hari tapi David lebih memilih untuk bersantai dikursi belakang sambil tiduran dan menyuruh seorang perajurit untuk membawa mobil sementara dia hanya tidur dan makan sampai akhirnya tiba dikota pelabuhan.
Tidak ada hal khusus kecuali beberapa warga yang kembali berkerumun sedangkan David memilih untuk segera berangkat bahkan mobil yang seharusnya dimasukkan dengan hati hati menggunakan jembatan akhirnya malah dilemparkan masuk oleh para perajurit sebelum jembatan siap.
"Cepatlah! Jika tidak ingin ketinggalan kapal!" Teriak seorang perajurit yang membantu rekan lainnya mengangkat satu mobil.
Dengan kekuatan para perajurit mereka dapat dengan mudah mengangkat semua mobil tersebut.
"Tolong jangan sampai lecet!" Berteriak Gal.
"Huhu itu adalah karya pertama kami." Gel pula menangis.
Singkat cerita selama perjalanan kembali kekota Green yang memakan waktu selama satu minggu akhirnya mereka tiba dipelabuhan keluarga Lugard.
David tidak memilih untuk singgah melihat pelabuhannya yang ada diluar kota meskipun dari jauh sudah jelas terlihat banyak kapal yang berbaris dengan berbagai bentuk barisan juga peroses pemasangan bahan kapal dan berbagai pekerja yang sibuk disana.
David untuk saat ini masih belum ingin mengunjunginya dan memilih untuk pulang kemansion Dark Dragon.
...
Dua hari kemudian
Green Luck City
Mansion Dark Dragon
Seorang wanita camtik dengan rambut emas serta mata biru sedang asiknya bermain dengan anak kecil berambut hitam dengan beberapa helainya yang berwarna emas serta matanya yang berwarna hitam dengan pupil emas tiba tiba dihampiri oleh seorang pria tua berambut perak dengan mata merah.
"Nona Astein, tuan David akan segera tiba." Ucap Teador menghampiri Astein yang sedang bermain dengan Dastein.
...----------------...
Thank you banget untuk donatur mingguan tercinta. ♡
-Gerald
-Lucas Ray
-Silver
-Muhammad Isyam
Dan thank you untuk rank umum para Donatur
-Xn
-Ma'ke Seto
-Zefaanatasya_
__ADS_1
-[M.S.R]