
Sudah lebih dari sebulan David tinggal di wilayah Vermilion untuk membantu Stella dan puteri Arfenit atau mungkin bisa juga dibilang menemani Stella untuk membangun kembali kota.
Jelas terlihat bahwa beberapa rumah kayu sederhana telah terbangun dan tersusun rapi disetiap kota bahkan sistem perekonomian perlahan membaik begitupun dua kota lainnya.
Puteri Arfenit sendiri setiap harinya terus berusaha menyembuhkan nyonya Vermilion atau ibu Stella dan mengangkat kutukannya dimana keadaan ibu Stella sekarang sudah lumayan membaik.
David bukan tidak melakukan apa apa karena David sendiri terus menyusun dan memantau kota agar bisa membangkitkan perekonomian dengan cepat.
Untuk saat ini warga hanya fokus dalam pangan tapi memang hanya itulah yang bisa mereka lakukan karena kebanyakan warga kota kekuasaan Vermilion adalah petani gandum.
David sudah mengirim surat ke Forts untuk membuat sesuatu yang dapat membangkitkan perekonomian kota ini dengan cepat, dengan kecerdasan Stella dalam mengurus kota akhirnya semuanya bisa berjalan dengan lancar.
"Kau hebat juga, hanya perlu sebulan uang bisa kembali digunakan dengan baik." Puji David pada Stella yang tiba tiba masuk keruang kerja mansion.
"Sayangnya aku belum bisa mengakses jalur perdagangan kekota lain karena aku mendapatkan surat bahwa beberapa bangsawan tetangga terbunuh." Ucap Stella yang duduk disofa didepan meja David.
"Aku akan membantumu mengakses jalur dagang laut." Ucap David memberi bantuan tapi memang ia sudah merencanakannya.
"Itu sangat membantu." Ucap Stella yang seakan tidak terlalu memikirkannya dan malah semakin merebahkan tubuhnya kesofa karena merasa kelelahan.
"Tapi masalah jalur darat dan bangsawan tetangga.. hmm.. mungkin untuk saat ini sebaiknya kita diam saja dulu." Ucap David yang bermaksud belum bisa membantu Stella melewati jalur dagang darat.
"Aku juga berpikir sama, memang beberapa bangsawan tetangga sudah mengirim permintaan pengiriman pangan karena mendengar kota kita mulai bangkit tapi sepertinya masih agak sulit karena kudengar bandit kembali merajalela dijalur dagang darat saat mendengar bangsawannya meninggal." Ucap Stella memperbaiki duduknya.
"Tidak mungkin mereka sudah kehabisan pangan secepat itu ditambah lagi mereka memiliki lahan gandum sendiri hanya saja tidak sebesar milik keluargamu." Jelas David yang menyetujui Stella.
"Itu dulu." Stella menolak untuk mengakui lahan keluarganya adalah yang paling besar karena sekarang memang hanya setara dengan bangsawan tingkat baron padahal dulu meskipun keluarga Vermilion hanya setingkat Marques tapi kekayaannya bahkan setingkat duke.
Melihat ekspresi Stella, David langsung mengubah topik. "Kapan kalian bisa panen?" David bertanya meskipun sudah tahu karena para warga keluarga Vermilion memiliki caranya sendiri hingga panen mereka lebih cepat dari biasanya.
"Kita sudah panen minggu kemarin dan itu cukup untuk tiga bulan kedepan sedangkan kita bisa kembali panen bulan depan jadi aku berencana untuk menjual hasil panen bulan depan dan memulai kembali bisnis keluargaku." Jawab Stella menjelaskan.
"Nm, aku akan segera mengirim surat pada Tiger untuk membuka jalur dagang bulan depan dipelabuhan keluargamu." Mengangguk David.
"Terima kasih kalau begitu." Ucap Stella tersenyum.
"Sayangnya aku ingin hal lain." Tapi David seakan memberi kode.
"Tidak." Stella menolak.
Pintu ruangan tiba tiba terbuka. "David aku kehabisan mana potion." Ucap Puteri Arfenit yang langsung menerobos pintu tanpa permisi. "Stella juga ada disini, sekalian saja nyonya Vermilion memanggilmu." Lanjut puteri Arfenit saat melihat Stella.
__ADS_1
Dalam beberapa hari mereka terus berinteraksi akhirnya mereka berdua menjadi sedikit lebih akrab dari pada sebelumnya.
Jika ada yang bertanya kemana Virinda maka dia sedang berada didua kota lainnya untuk membantu warga disana bersama dengan tim nya.
"Baiklah, David aku akan menemui ibu dulu." Stella segera keluar dari ruangan.
"Oke." David hanya memberikan jembol kecil dengan senyum aneh saja.
"Baj*ngan." Ucap puteri Arfenit tiba tiba saat Stella keluar.
David tidak terkejut lagi karena entah kenapa panggilan itu sudah melekat pada David saat mereka hanya berdua dan Davidpun sudah terbiasa.
"Ada apa? Puteri." Bertanya David yang kembali duduk dikursinya.
"Bukan apa apa hanya saja aku ingin memberitahumu sesuatu." Ucap Puteri Arfenit yang ikut duduk didepan David dalam keadaan serius.
"..." David juga menjadi sedikit lebih serius menangapinya karena puteri Arfenit sangat jarang bermain main saat auranya begitu serius seperti ini.
"Aku sudah berusaha mengangkat kutukan ibu Stella selama sebulan dan itu berjalan dengan baik tapi sejak satu minggu yang lalu aku sudah tidak dapat mengangkat kutukannya lagi." Ucap puteri Arfenit.
"Dengan kata lain kutukannya tidak dapat diangkat jika hanya menggunakan kekuatanmu?" David berusaha menebak.
"Setengah benar dan setengah salah karena aku sudah mengangkat sembilan puluh persen kutukannya tapi tiba tiba kutukannya tidak dapat dapat dihilangkan yang sepuluh persen, aku sudah mencobanya selama seminggu dan baru memberi tahumu sekarang." Jelas puteri Arfenit meralat tebakan David.
"Itu yang aku tidak tahu." Ucap puteri Arfenit menghembuskan napas panjang.
"Mungkin memang harus bangsa iblis yang menariknya." Gumam David.
"Tapi dimana kita bisa menemukannya bahkan jika kita menemukannya mungkin dia tidak akan mau mengangkatnya." Ucap puteri Arfenit kebingungan.
Memang benar yang dikatakan puteri Arfenit, karena Selartain meskipun merupakan bangsa Demon tapi dia tidak bisa mengangkat kutukannya karena dia sudah berubah menjadi demon undead vampir.
"Aku mengenal dua bangsa iblis meskipun tempatnya jauh tapi dia pasti mau membantu." Ucap David.
"Ternyata benar kau memiliki hubungan dengan iblis." Ucap puteri Arfenit yang ingin marah tapi juga sangat menyukai laki laki didepannya sehingga hanya bibir bawahnya saja yang maju dan memasang wajah cemberut yang benar benar imut dengan pipinya yang tiba tiba menggembung.
"Aku tidak akan menyangkalnya.. yang jelasnya dia adalah iblis yang memiliki keluarga lumayan berpengaruh didunia iblis tapi itu dulu tidak sekarang." Ucap David memberikan sedikit informasi.
"Maksudmu dulu?" Puteri Arfenit bertanya lebih lanjut.
"Yah sebelum keluarganya dibantai oleh bangsa iblis lain dan dia terpaksa melarikan diri kedunia manusia." Jawab David.
__ADS_1
"Kurang lebih aku mengerti." Mengangguk puteri Arfenit sambil mengelus dagunya.
"Meskipun aku yakin dia akan datang saat aku memanggilnya tapi aku tidak tahu kapan dia akan tiba jadi apa kau masih bisa menjaga ibu Stella." Ucap David yang sama sekali tanpa formalitas karena ini sudah biasa sejak kepulangan jenderal Salamo.
"Selama aku merawatnya maka kutukannya tidak akan bisa menyebar lagi." Ucap puteri Arfenit menyetujuinya.
"Baiklah begitu saja aku akan segera mengirim surat untuk meminta mereka datang." Ucap David bermaksud membuat surat burung.
"Kalau begitu aku akan kembali ketempat nyonya Vermilion." Puteri Arfenit langsung pamit.
"Potionnya?" David bertanya menghentikan puteri Arfenit karena perasaan dia tadi datang meminta potion.
"Masih banyak." Singkat saja puteri Arfenit menjawab tanpa menoleh dan langsung menghilang dari balik pintu.
"Entah bagaimana keadaan Dastein sekarang." Gumam David sebelum melanjutkan pekerjaannya saat pintu ruangan tertutup.
"Apa yang harus kukatakan kepada mereka agar mereka datang?" Ucap David tiba tiba bingung menulis surat karena yang akan dia kirimi adalah dua jenderal dari Beaster Empire.
Selain kenyataan bahwa mereka adalah bangsa iblis tapi mereka juga merupakan jenderal kerajaan yang tidak sembarangan boleh keluar dari kerajaan.
"Aghh.. sudahlah tulis saja yang ada kurasa mereka akan datang, ... mungkin?" Ucap David yang mulai ragu tapi tetap menulis surat apa adanya.
...----------------...
Thank you banget buat kalian yang masih terus mendukung Anothe Vr World Accident guys dan untuk user yang menempati posisi rank donatur teratas minggu lalu ini dia.
-Silver
-helmi nst
-Gerald Bismantara
-~Leo~
Dan thank you untuk rank umum para Donatur
-Xn
-Ma'ke Seto
-Zefaanatasya_
__ADS_1
-[M.S.R]