
"Hehehe jangan remehkan pahlawan, aku mendapatkan uang jajan dari raja Artur dong selain itu aku juga pernah menemukan sebuah harta karun yang isinya banyak koin emas." Jawab Aron.
"Hihi.. jadi kita sama sama penikmat uang jajan yah." Tersenyum Selartain.
"Kurasa begitu haha." Aron menanggapi candaan Selartain.
Singkat cerita mereka pun tiba dipusat kota dimana terdapat banyak toko sampai membuat Aron bingung untuk memilih yang mana.
"Kau ternyata sangat terkenal disini, mirip idol." Aron memuji Selartain saat setiap warga yang melihatnya akan menundukkan kepala bahkan banyak anak kecil yang seakan mengaguminya.
"Idol?" Selartain bingung dengan kata yang tidak ia kenali.
"Ahh itu adalah sebutan untuk seorang gadis yang sangat cantik dan imut." Aron mendeskripsikan dengan cara lain untuk memuji Selartain.
"Ohh..." Selartain seakan menahan sesuatu dan memasang wajah datar.
"Kau kenapa dari tadi?." Aron mulai bingung karena biasanya saat dipuji seperti itu Selartain pasti akan menyombongkan dirinya dan sekarang dia tampak menahannya.
"Didepan warga aku harus bersikap layaknya puteri bangsawan, itu yang diajarkan Teador agar tidak merusak reputasi kak David, meskipun aku dikenal sebagai adiknya tapi kak David tetaplah tuanku." Bisik Selartain.
'Kenapa sekarang dia malah bersikap seperti idol beneran? -_-' Batin Aron merasa aneh.
"Ah disitu tempatnya bagus." Tunuuk Selartain pada sebuah restoran.
"Restaurant Monetti?" Aron berusaha membaca tulisan diatas gedung restorant tersebut.
Meskipun bahasa sama namun hurufnya sangatlah berbeda tapi dengan bantuan sistem hunter Aron dapat mengubah tulisan kedalam bahasanya.
"Ayo masuk masakan disini sangat enak loh." Selartain langsung menarik tangan Aron.
Begitu mereka masuk mereka berdua segera duduk disalah satu meja kosong yang dekat dengan jendela.
"Nona Selartain selamat datang." Seorang pelayan yang cukup mengenal Selartain karena sering mampir menyapa nya. "Mau pesan apa nona?" Pelayan tersebut bertanya dengan senyum yang sangat profesional terlebih tamunya kali ini adalah Selartain Von Dark adik dari penguasa kota.
"Seperti biasa saja." Ucap Selartain.
"Puding a la mode yah." Pelayan tersebut mencatat dan tahu persis apa yang biasanya Selartain pesan.
"Kau mau pesan apa?" Bertanya Selartain pada Aron.
"Yah mana aku tahu jika buku menunya tidak ada." Ucap Aron menyinggung.
"Ah maaf tuan ini buku menunya." Pelayan tersebut segera meminta maaf karena tidak menyadari keberadaan Aron karena biasanya Selartain datang sendiri bahkan tidak pernah membawa pengawal atau pelayan yang biasanya dilakukan oleh puteri bangsawan lainnya.
"Hm hm." Aron memperhatikan setiap lembar dari buku menu tersebut sebelum memilih. "Udang goreng dengan bir." Aron langsung memesan setelah menutup buku menu tersebut.
"Baik tolong tunggu sebentar." Ucap pelayan tersebut sebelum pergi menyediakan pesanan Selartain dan Aron.
Lima menit kemudian satu porsi puding a la mode dan udang goreng combo bir siap dimeja mereka.
__ADS_1
"Silahkan menikmati makanan tuan dan nona, silahkan memanggil saya jika ada pesanan lain." Ucap pelayan tersebut sebelum kembali melayani pelanggan lain.
Terlihat jelas mata Selartain sangat berbinar saat melihat puding yang diberikan lumuran coklat diatasnya serta berbagai buah yang melengkapi rasanya dengan krim vanila.
Selartain mulai memakan sesendok demi sesendok buah dan krimmnya namun tidak menyentuh pudingnya sama sekali yang membuat Aron kebingungan.
"Hmm ini enak." Puji Aron saat pertama kalinya merasakan makanan yang sangat enak didunia ini meskipun belum bisa menyamai makanan enak dibumi.
Namun Aron lebih suka melihat gadis kecil didepannya yang memakan makanannya dengan sangat nikmat disetiap gigitan, setiap rasa dapat Selartain ekspresikan melalui wajahnya.
"Sela kenapa kamu belum memakan pudingnya?" Bertanya Aron setelah meminun birnya.
"Yang paling enak harus disisakan diakhir hmmm." Jawab Selartain sebelum kembali memasukkan satu sendok kecil krim ke mulutnya.
Cekrek!
Aron tiba tiba mengeluarkan ponselnya dan memotret Selartain namun karena Selartain terkejut membuat satu sendok krim vanilanya menempel di pipinya membuatnya semakin imut dipotret.
"Uu.. jangan mengagetkan ku." Ucap Selartain menghapus krim diwajahnya menggunakan sapu tangannya sendiri.
Selartain mengabaikan ponsel Aron karena merasakan tidak memiliki energi sihir sama sekali dan menganggapnya sebagai benda aneh saja, puding terakhir Selartain lebih menarik perhatiannya dari pada ponsel Aron.
"Hm hm." Aron berusaha menahan tawanya saat melihat foto Selartain dilayar ponselnya.
Sementara Selartain bersiap pada setiap gigitan terakhir pudingnya. "Hmm memeang enak biar berapa kali pun aku memakannya." Selartain memegang pipinya seakan sangat menikmatinya.
Cekrek!
"Kenapa kamu sangat menyukai puding?" Aron bertanya basa basi.
"Yah tentu saja karena rasanya enak." Jawab Selartain.
"Ohh kamu sangat menyukai puding yah."
"Sebenarnya ada alasan lain." Selartain mulai membersihkan mulutnya dengan sangat elegan.
"Hm? Apa itu?"
"Karena puding adalah salah satu makanan yang diperkenalkan kak David pada restoran ini, selain itu masih banyak lagi tapi aku lebih suka dengan puding a la mode ini." Jelas Selartain.
'Pantas saja aku penasaran bagaimana dunia yang ketinggalan pengetahuan akan makanan ini bisa mengetahuinya ternyata David yang memberi tahukanya.' Batin Aron.
Memang banyak makanan yang sangat disukai oleh para gadis yang David perkenalkan pada restoran monetti cabang di kotanya dan tidak meminta hasil paten namun David memberikan syarat bahwa makanan tersebut hanya dijual dikotanya saja.
Itu juga merupakan strategi David dalam mengumpulkan pengunjung yang ingin menikmati berbagai makanan unik.
"Nah saatnya untuk ketempat selanjutnya." Ucap Selartain berdiri.
"Oke. Pelayan! Tolong bill nya." Aron segera membayar sebelum mereka berdua meninggalkan restoran Monetti.
__ADS_1
Setelah keluar dari restoran Selartain langsung mengajak Aron menuju danau ditengah kota dimana terdapat banyak orang yang sedang bersantai karena hari sudah sore.
"Setiap warga terlihat bahagia yah." Ucap Aron memperhatikan setiap senyum dari warga sekitar.
"Bagaimana kakakku hebat kan?" Selartain membanggakan David yang telah mensejahterakan kota ini.
"Baik baik aku salut aku kagum." Namun Aron menjawabnya dengan nada datar.
"Cih." Selartain jengkel saat Aron bersikap seperti itu.
"Apa itu?" Aron menunjuk kesebuah kerumunan yang sedang mengerumuni beberapa orang yang bernyanyi.
"Itu tim penghibur yang cukup terkenal dengan nyanyian mereka, kakak sering menyewa mereka untuk bernyanyi disini." Jawab Selartain.
"Rupanya ada yang seperti itu juga didunia ini." Gumam Aron.
"Mau melihatnya?"
"Baiklah aku juga penasaran dengan nyanyian dunia ini." Aron mengiyakan.
Pada akhirnya mereka menikmati sore mereka di danau dan melihat matahari tenggellam dibalik di seberang danau, meskipun mereka tidak dapat melihat seluruhnya karena terhalang oleh rumah warga namun itu cukup indah untuk Aron potret.
Akhirnya Aron mendapatkan banyak foto imut Selartain namun lupa memberikan sesuatu sebagai hadiah karena telah menemaninya.
Keesokan harinya Aron tidak lagi keluar namun memilih untuk mempelajari beberapa buku diperpustakaan mansion lord kota untuk lebih mengenal dunia ini serta huruf huruf disini karena terlalu ribet untuk terus menggunakan sistem. (Jangan berpikir menggunakan sistem selalu praktis guys)
Sementara David harus sibuk untuk mengurus beberapa berkas yang menumpuk karena ia tinggalkan, memang beberapa telah diurus oleh Tiger atau Bord namun beberapa hal harus dilakukan oleh David sendiri.
"Dana pembuatan kapal dan militer benar benar menguras habis uangku, aku harus segera menemukan cara baru menghasilkan uang yang banyak." David mulai pusing saat peroyek pembuatan kapal hampir selesai namun dananya belum sepenuhnya cukup karena masih ada banyak perajurit yang harus ia gaji.
"Seharusnya raja Artur menaikkan pangkat tuan agar mendapatkan wilayah yang lebih banyak." Ucap Virinda.
"Yah raja Artur pasti punya alasannya sendiri terlebih saat ini aku adalah bangsawan yang diangkat dari rakyat jelata pastilah ada beberapa bangsawan yang tidak suka saat aku naik tingkat." David masih fokus pada berbagai berkas dan mencari solusi yang tepat.
"Memang sepertinya tuan juga terlalu banyak memiliki perajurit untuk bangsawan tingkat jendral Baron." Virinda juga paham dengan pengeluaran yang harus David keluarkan.
"Ada lagi permintaan untuk segera memberikan dana bagi desa desa diluar tembok." David mulai menggaruk kepalanya.
Beberapa desa mulai terbentuk diluar tembok saat lahan warga semakin luas, beberapa orang yang memiliki lahan jauh dari kota memilih untuk membangun desa yang akhirnya terbentuklah sistem pemerintahan sendiri pada desa desa tersebut.
"Kenapa tuan tidak menjual ingot besi yang berlebih saja?" Bertanya Virinda memberikan solusi.
"Hmm ingot besi kah.. produksi ingot besi para Kobold memang sudah melampaui target kebutuhan peroyek kapal dan pembuatan senjata." Gumam David memikirkan lagi.
Cukup lama David mempertimbangkan sebelum ide muncul dikepalanya.
"Aku ingat Magiccary Empire berusaha mencari pemasok ingot tetap, aku bisa menggunakan peluang ini." Mengangguk David sambil memberikan jempol Virinda akan sarannya.
Virinda hanya membalasnya dengan senyum dan ini sudah biasa bagi Virinda untuk memberikan saran pada David baik sebagai asisten pribadi atau pelayannya. (Ingat guys, dibalik perjuangan seseorang ada rekan yang menemani.)
__ADS_1