Another VR World Accident

Another VR World Accident
Chapter 158, Aku Menolak


__ADS_3

Ruangan singgasana Raja Artur


"Dari surat yang berisikan informasi penyerangan tertera bahwa para monster tersebut dikendalikan oleh iblis yang membunuh kepala keluarga bangsawan Vermilion sebelumnya jadi bisa dikatakan insiden kali ini adalah serangan dari dunia iblis dan kita mendapatkan informasi baru lagi yaitu." Raja Artur membuang napas panjang menahan kalimatnya.


"Ada apa yang mulia?" Salah satu menteri bertanya.


"Huhh.. bukan apa apa." Raja Artur melirik kearah puterinya sebentar.


"..." disisi lain puteri Arfenit semakin jengkel saat dilirik oleh ayahnya dengan tatapan yang biasanya akhir dari itu pasti sangat merepotkan karena itulah puteri Arfenit mulai merasakan firasat aneh dan rasanya ingin kabur.


"Nyonya Vermilion terkena kutukan iblis yang hanya mampu dibersihkan oleh pengguna elemen suci." Ucap raja Artis yang melihat ekspresi puterinya sedikit tidak enak.


"Apa yang akan yang mulia lakukan?" Seorang menteri bertanya.


"Jendral itu dan puteri Vermilion mengirim surat permohonan untuk menyembuhkan ibunya jadi aku bermaksud untuk mengirim puteri arf-"


"Aku menolak!" Cepat Puteri Arfenit berdiri dan menolak perintah ayahnya.


"Aku belum menyelesaikan perkataanku loh." Sebagai ayah raja Artur merasa sangat gagal kali ini.


"Itu sangat merepotkan aku menolak, dah aku mau latihan." Puteri Arfenit berjalan menuju pintu keluar.


"Yah aku memang sudah menduga ya, tapi bagaimana jika jendral Dark yang memintaku." Ucap raja Artur memperlihatkan logo pada surat yang ia baca tadi.


Puteri Arfenit berhenti dan cepat berbalik merebut surat dari tangan ayahnya sebelum membacanya dan memastikan itu dari David. "Aku akan berangkat sekarang." Ucap puteri Arfenit mantap.


Semua mata langsung tertuju padanya dengan pemandangan aneh yang segera disadari oleh puteri Arfenit. "Ukhhum.. aku hanya merasa membantu warga adalah perbuatan yang baik saja, hanya itu." Cepat Puteri Arfenit menjelaskan.


"Kalau begitu segera bersiap ini adalah misimu." Ucap raja Artur. "Semangat." Bisik raja Artis dengan mata berbinar menyemangati puterinya.


"Aku pergi!" Puteri Arfenit berlari keluar dengan mengambil surat tadi.


"Suratnya?" Raja Artur sempat ingin menggapainya tapi puteri Arfenit sudah hilang.


...


Kota pengungsian.


Pagi hari terlihat kesibukan semua orang saat sudah mulai bersiap untuk menempuh perjalanan jauh menuju kota yang akan mereka tuju masing masing serta perjalanan yang akan menentukan nasib dan masa depan mereka.

__ADS_1


Beberapa kerabat yang harus berpisah saling mengucapkan kata perpisahan sebelum berangkat karena Stella juga tidak dapat menghindari perpisahan kerabat atau keluarga saat masing masing dari mereka memiliki kemampuannya masing masing.


"Pagi ini cukup cerah untuk kita semua berangkat, sepertinya dewa sangat mendukung kita hari ini untuk membangun masa depan masing masing." Ucap Stella pada warganya.


Stella sempat melirik dan memandangi dari ujung kuning barisan warganya yang s3paruh membawa kuda dan kereta adapun yang hanya berjalan kaki, tentunya yang menunggangi kuda maupun kereta hanya orang yang tidak dapat melakukan perjalanan jauh saja.


"Sepertinya kalian sudah benar benar siap, kalau begitu kita langsung berangkat saja sebelum matahari sudah benar benar terang." Ucap Stella memimpin warganya.


Tiga kelompok langsung berangkat dengan perjalanan yang sangatlah lambat jika dibandingkan dengan perajurit tapi mau bagaimana lagi ini adalah warga yang setiap harinya harus mengurut makanan dan disuruh untuk melakukan perjalanan demi masa depan mereka.


David sebenarnya bisa saja menunda perjalanan mereka dan mengirim kereta dan kuda untuk membantu tapi ini dapat meningkatkan kebersamaan mereka selama perjalanan, selain itu ini juga adalah masa depan mereka jadi David tidak ingin terlalu banyak membantu.


Perjalanan semakin membaik karena tidak ada monster atau apapun yang menghalangi mereka hingga akhirnya tiba waktu makan siang.


Semua warga maupun perajurit segera diistirahatkan dan memakan bekal mereka masing masing.


Hanya perlu istirahat selama satu jam saja sebelum perjalanan kembali dilanjutkan, satu kelompok kemudian berpisah karena jalan yang mereka tempuh untuk menuju ke kota yang akan mereka tinggalin berbeda.


Tentu diantara mereka sudah ada pemandu atau pemimpin yang Stella siapkan untuk mengarahkan mereka bersama dengan beberapa perajurit yang akan membantu.


Dua kelompok tetap melanjutkan perjalanan dalam satu jalur lurus untuk menuju kejora selanjutnya hingga akhirnya dua hari kemudian satu kelompok kembali berpisah sebelum kelompok terakhir yang dipimpin oleh Stella dan David tiba dikota selanjutnya setelah satu hari berpisah dengan kelompok sebelumnya.


Setelah sampai Stella langsung mengatur warganya sebelum menuju kemansion Lord kota sedangkan David sudah menghilang saat memasuki kota.


"Huh.. perjalanan seperti ini ternyata lumayan melelahkan." Ucap Stella melap keringat didahinya.


"Itu kalau setiap perjalanan kau harus berteriak teriak." Santai saja David membalas.


"Huh aku semakin bingung bagaimana kau bisa memimpin dan mengatur pasukan hingga begitu disiplin." Ucap Stella dengan wajah bingung dan melemparkan tubuhnya keatas sofa disamping David.


"Sebenarnya bukan aku yang mengurus mereka jika kau ingin bertanya kau bisa bertanya pada kelima pemimpin pasukanku, mereka lah yang mengatur warga dan pasukanku, aku hanya memberi perintah saja." Tapi David seakan tidak terlalu memikirkannya.


"Ah so!" Stella sudah habis pikir lagi.


"Bagaimana keadaan warga?" David bertanya karena dia langsung menuju kamar mandiin lord kota yang setengah utuh untuk memilih kamar yang paling baik untuk beristirahat.


"Mereka semua sangat kelelahan dan sedang beristirahat ditenda yang mereka buat." Ucap Stella.


Memang dikota ini hanya ada beberapa rumah yang bisa ditempati itupun setengah utuh sehingga banyak warga yang memilih untuk membangun tenda sementara dari pada memperbaiki rumah untuk ditinggali.

__ADS_1


"Jadi kapan kau akan menggerakkan warganya untuk bekerja?" Tanya David melihat Stella yang sedang mager.


"Besok saja, uh besok mungkin nun bisa, lusa saja.." Ucap Stella tapi terlihat masih terus berpikir.


"Baiklah kau bisa membagi warganya besok sebagian bisa membangun rumah dan sebagiannya lagi bisa memperbaiki lahan yang ada diluar kota." Ucap David memotong.


Stella langsung memutar bola matanya. "Huwaa... muwalas." Ucap Stella menjulurkan lidahnya.


"Haih mungkin aku harus berpikir dua kali untuk menikahinya." Ucap David dengan suara kecil tapi memastikan Stella mendengarnya.


"Ha!! Baiklah akan kulakukan Cih!" Teriak Stella yang merasa tersinggung atas kemalasannya.


"Dimana ibumu?" Berdiri David bertanya.


"Aku sudah mengantarnya kekamar." Tunjuk Stella kekamar yang paling dekat.


"Baiklah aku akan mengunjunginya sebentar." David berjalan menuju kearah kamar yang ditunjuk Stella meskipun dia sempat melihat Stella mengantar ibunya tadi.


"Aku ikut." Stella segera menyusul.


David membuka pintu kamar tanpa mengetuk.


"Permisi. David masuk." David hanya menyapa sebentar sebelum melihat seorang wanita berambut merah terbaring diatas kasur dengan beberapa bintik hitam disekujur kulitnya.


"..mm David, terima kasih karena sudah banyak membantu Stella." Ucap ibu Stella dengan suara yang sangat halus dan pelan saat melihat David.


"Saya melakukannya karena tugas saya sebagai kesatria romulus tante." Ucap David tidak mengelak.


"Haha kau terlalu merendah David, andai bukan karena aku sudah bingung apa yang bisa dilakukan oleh putriku." Ucap ibu Stella sedikit bercanda tapi jelas dia sangat berterima kasih.


"Ibunda!" Stella sedikit kesal saat diledek oleh ibunya.


...----------------...


Thank you untuk para donatur tetap


-Xn


-Ma'ke Seto

__ADS_1


-Zefaanatasya_


-[M.S.R]


__ADS_2