
"Bagaimana jendral Dark bisa se yakin itu?" Bertanya raja Artur yang sedari tadi diam.
"Itu karena saya dapat mengendalikan istana itu sepenuh nya." Ucap David yang tiba tiba atap mansion tersebut menghilang dan memperlihatkan istana yang sudah berada tepat di atas mansion.
"Apa itu!?"
"Benar benar bisa di kendalikan."
"Apakah kami bisa mempercayai anda, jendral Dark?" Bertanya salh satu menteri.
"Saya sangat berharap kalian dapat mempe-" ucapan David terpotong.
"Selama ini jendral Dark telah berkontribusi bagi kerajaan dan merupakan jendral yang mengabdikan diri nya pada kerajaan, sekarang tidak ada hal yang membuat kita mencurigainya bukan?" Ucap puteri Arfenit yang sedari tadi diam sekarang bersuara untuk membela David.
"Sebenarnya tadi nya saya ingin menaikkan pangkat jendral Dark setelah perang kemarin tapi karena kejadian ini semuanya di tunda." Ucap raja Artur yang memang menyadari kebohongan David namun tidak mempermasalahkan nya selama itu dapat di terima oleh para menteri.
"Yang di katakan puteri Arfenit ada benarnya."
"Maaf kami berlebihan jendral Dark."
"Untuk saat ini kami akan sebisa mungkin membuat seluruh kerajaan mempercayai jendral Dark." Semua menteri langsung meminta maaf.
"Saya sangat minta maaf karena telah menyembunyikan nya." Ucap David mengulangi permintaan maaf nya.
"Tidak masalah, sejak awal jendral Dark sudah melakukan yang terbaik, menyegel sesuatu yang tidak jelas dan berbahaya adalah keputusan yang bijak, namun sekarang semuanya sudah terbukti aman jadi masalah ini.. apa kah biaa di anggap selesai?" Jelas puteri Arfenit bertanya.
Semua menteri yang hadir terlebih dahulu saling memandang sebelum melihat kearah puteri Arfenit dan mengangguk setuju.
"Marena yang mulia raja dan para menteri sudah repot repot datang kesini, bagaimana jika beristirahat dulu dan menikmati jamuan kota kecil saya ini?" David menawarkan.
"Itu saran yang bagus, kami akan menetap di sini selama tiga hari sebelum kembali ke istana." Ucap raja Artur mengangguk setuju.
...
Ruang tamu setelah raja Artur dan para menteri menuju kemansion khusus yang di bangun untuk menyambut tamu khusus.
"Jadi, sebenarnya apa apaan istana terbang itu?" Bertanya Puteri Arfenit setelah di ruangan tersebut hanya tersisa ia dan Virinda.
__ADS_1
"Entahlah aku pun kurang paham, istana itu hanya muncul begitu saja setelah kamu pulang dua minggu lalu." Ucap David tidak berniat untuk menjelaskan.
"Aku sedang serius David, meskipun ayahanda membantumu untuk menjelaskan namun ayahanda juga masih membutuhkan penjelasan mu." Ucap puteri Arfenit meninggikan suaranya.
"Huh.." David membuang napas kasar karena sebenarnya puteri Arfenit tidak perlu tahu hal seperti ini, dia hanya perlu menjadi puteri kerajaan yang cantik dan polos.
"David." Puteri Arfenit menatap David tajam.
"Cukup beri tahu raja Artur saja, istana ini adalah milik raja pemangsa Beelzebub." Ucap David.
"Tuanku!" Virinda langsung menegur David karena menyebut hal tersebut kepada kerajaan manusia sama saja menantang seluruh ras manusia.
"Tenang saja Virinda, meskipun raja Artur mengenal raja pemangsa Beelzebu, raja Artur pasti tidak akan membocorkan pada orang lain." Ucap David.
"Siap Beelzebub itu?" Puteri Arfenit bertanya.
"Nanti akan ku beri tahu." Ucap David dengan senyum bodoh seakan mengatakan bahwa ia tidak akan pernah mengatakannya meskipun nanti.
Brak!
"Aku sedang serius David!" Puteri Arfenit menggebrak meja.
"Ya! Aku segera kesana!... puteri, saya pamit dulu permisi." Ucap David sebelum berlari kearah halaman mansion di bagian samping.
"David! Aku belum selesai!" Teriak Puteri Arfenit mencoba menghentikkan David namun David sudah tidak ada di tempat.
"Sebaik nya puteri tidak membahas nya terlalu jauh lagi." Ucap Virinda.
"Kenap- baiklah." Puteri Arfenit tadi nya ingin bertanya namun saat ini ia berpikir bahwa Virinda juga ada benar nya.
Jika puteri Arfenit terus mendesak David, bisa saja David tidak lagi menyukai nya dan malah menjauh dari nya, tentu puteri Arfenit tidak ingin itu terjadi meski pun sebenarnya itu hanya hasil pemikiran puteri Arfenit sendiri.
...
Setelah tiga hari akhir nya rombongan raja Artur memutuskan kembali ke ibu kota kerajaan kecuali puteri Arfenit yang memutuskan untuk tetap tinggal sementara waktu.
Sementara itu pula, David menerima sebuah pesan aneh dari salah satu pemimpin perajurit nya yang bertugas di wilayah keluarga Vermilion.
__ADS_1
Perajurit tersebut melaporkan bahwa melihat Stella sedang menggendong seorang bayi perempuan dengan rambut merah.
Normal nya David tidak akan terlalu memikirkan nya namun ini baru pertama kali perajurit nya melaporkan melihat puteri Stella keluar dari mansion membuat David menebak pada satu hal jika di lihat dari berapa bulan telah berlalu sejak Stella mengurung diri.
Karena hal tersebut, David langsung mengajak Astein, Merly, Virinda dan puteri Arfenit menuju wilayah keluarga Vermilion menggunakan Castile Disaster dengan kecepatan yang sangat tinggi.
David tidak lagi memperdulikan bahwa castile tersebut akan menarik perhatian atau tidak, mencolok atau tidak, saat ini David hanya berpikir dapat sampai di wilayah keluarga Vermilion secepat nya sementara skil gate nya sedang coldown.
Tidsk butuh waktu satu hari hingga akhir nya David berhasil sampai di ibu kota keluarga Vermilion yaitu Angse City dan David langsung mendarat tepat di depan mansion Stella.
Saat semua nya turun dari castile, seorang perajurit langsung datang menghadap pada David.
"Selamat datang jendral." Ucap nya memberi hormat dengan pedang nya layak nya kesatria Romulus.
"Di mana Stella?" Bertanya David.
"No-nona Stella sangat jarang keluar mansion jend-"
"Aku bertanya di mana Stella." David mengulangi pertanyaan nya dengan aura yang berhamburan keluar.
"Di dalam tuan." Jawab perajurit tersebut menunjuk kearah mansion di mana sudah ada banyak pelayan yang mulai berbaris siap menyambut rombongan David.
"..." berjalan David menuju pintu mansion dan masuk.
"Selamat datang jendral Dark!" Ucap semua Maid.
"Selamat datang David." Tersenyum Stella menyambut David dengan bayi perempuan yang ia gendong namun terlihat wajah nya nampak merasa bersalah.
"Stella, ... siapa?" David sekilas melihat wajah Stella sebelum memperhatikan bayi di gendongan Stella.
"Eris, nama nya Eris." Jawab Stella melihat bayi perempuan tersebut dengan pandangan tenang seakan damai.
"Stella." David pun sudah menyadari bahwa Eris adalah anak nya setelah merasakan Core di dalam tubuh Eris,, selain itu David sangat yakin akan firasat dan hubungan darah yang ia rasakan saat ini.
Namun entah kenapa sebuah perasaan bersalah timbul di dalam diri David, saat ini ia merasa seakan Stella tidak membutuhkan nya bahkan merasa diri nya tidak dapat di andalkan sampai Stella harus merahasiakan ini, saat ini David benar benar merasa terpukul dan baru kali ini David merasakan hal tersebut setelah datang ke dunia ini.
Sebuah perasaan yang membawa David kesebuah pikiran yang kacau, sebuah hal yang seharus nya sangat menggembirakan bagi David namun saat ini David merasa kesal pada diri nya sendiri.
__ADS_1
Plak!
Tiba tiba semua pandangan tertuju pada pipi Stella yang memerah akibat tamparan Astein.