Another VR World Accident

Another VR World Accident
Chapter 117, Serangan Monster


__ADS_3

Benedict City


"Dari informasi yang saya dapatkan, rombongan monster selalu menyerang setiap tiga bulan dan mereka adalah monster yang berasal dari dungeon diluar kota." Virinda melapor.


"Dungeon break kah.. Ini akan menjadi sangat menarik jika aku mengambil semua drop itemnya apa lagi ini semua adalah monster yang berasal dari dungeon." David memikirkan rencana bagus.


"Apa yang harus kita lakukan tuan?"


"Celina dan Celicia pasti sudah mengetahui ini makanya dia sudah bersiap lebih dulu jadi kemungkinan serangan ini masih dapat mereka atasi tapi aku memiliki firasat buruk jadi kita juga akan bersiap." Ucap David. "Ganti identitas kalian." Lanjut David.


"Baik tuan!"


Kelima pasukan bayangannya langsung mengganti pisau mereka dengan pedang berabagai bentuk tergantung tingkat penguasaan mereka serta pakaian mereka yang mereka ganti dengan gaun merah hitam.


David cukup terkejut dengan perubahan Virinda dan pasukan bayangannya karena biasanya dia selalu bertarung dengan satu pisau kecil dan ringan tapi sekarang dia malah menggunakan pedang super besar ditangan kirinya yang bahkan lebih tinggi dari pada tubuhnya juga sebuah pedang tipis bermata satu serta pendek mirip katana terbalik ditangan kanannya.


Bawahan Virinda sendiri semuanya juga menggunakan pedang tipis berbagai bentuk dan ringan tapi hanya satu orang yang menggunakan pedang bermata dua mirip raiper.


Yang memastikan identitas mereka sebagai anggota Dark Dragon hanyalah pisau mereka karena semua anggota Dark Dragon selalu membawa pisau tersebut.


"Segera menuju kedepan gerbang dan tunggu perintah selanjutnya."


"Baik."


Model kota Benedict lumayan unik karena memiliki dinding tebing disetiap sisi kecuali arah masuk kota, tebing disetiap sisi tersebut berfungsi sebagai tembok kota dan tidak mungkin bisa dipanjat dari dalam maupun luar kota kecuali terbang.


Saat David tiba diatas tembok lebih tepatnya diatas tebing karena dari sana dia tidak akan diperhatikan oleh siapapun, David menoleh kebawah dan melihat Celina dan Cecilia memimpin prajurit bersama beberapa komandan prajurit diluar gerbang kota serta lautan monster dihadapan mereka yang terus bertambah.


"Mereka menggunakan strategi pertempuran langsung kah? Apa dua jendral itu gila?" David berkomentar saat melihat lautan monster dihadapan mereka.


Walaupun David cukup tahu kekuatan Celina dan Cecilia tapi ribuan monster didepannya sudah pasti mereka akan kalah, tapi mereka memilih untuk menyerang langsung dimana akan mengakhiri perang dengan cepat dari pada strategi tembok pertahanan yang dapat mengulur waktu serta dapat mengurangi jumlah korban.


"Tuan.. sepertinya mereka tidak menyangka monsternya akan sebanyak ini sehingga memilih untuk langsung menyerang dari pada mempertahankan tembok." Ucap Virinda.


"Dari mana kau tahu?"


"Informasinya mengatakan jika monster yang menyerang kali ini dua kali lebih banyak dari pada tiga bulan lalu." Jawab Virinda.


"Tapi tiga bulan lalu pastinya hanya ada pemimpin prajurit serta pemimpin kota yang mengatasinya dan sekarang mereka mendapatkan bantuan dari dua jendral elit kerajaan yaitu Celina dan Cecilia?" David berusaha memastikan.


"Benar tuan."


"Tetap saja mereka tidak akan bisa menang lihatlah Celina mulai mengarahkan para prajurit untuk kembali kedalam tembok." Tunjuk David kearah beberapa pasukan dibawahnya.


"Dia cukup cerdas untuk menilai kekuatan

__ADS_1


musuh tuan." Virinda berkata dengan dingin.


"Monster ini berasal dari dungeon yang dekat dengan tambang besi dengan kata lain kemungkinan ingot yang dijatuhkan monster ini akan lebih banyak." Ucap David saat melihat para mosnter mulai mempercepat langkahnya untuk menyerang sementara para prajurit masih belum sepenuhnya memasuki kota.


...


Sementara itu disisi Celina dan Cecilia.


"Kalau kalian tidak ingin menjadi makanan monster percepat lari kalian!" Celina masih terus mengarahkan prajurit yang sudah menggunakan kekuatan penuh mereka untuk memasuki gerbang kota.


"Kakak! Apa yang harus kita lakukan!? Para monster semakin mendekat!" Bertanya Celicia ditengah kegaduhan para prajurit.


"Cih! Oi kau!.. segera pimpin prajurit diatas tembok untuk mulai menyerang dengan panah!" Celina meneriaki salah satu komandan pasukan.


"Baik jendral!" Komandan tersebut dengan cepat mengarahkan prajurit yang ada diatas tembok.


"Celicia! Bantu aku menahan mereka sebentar!" Celina maju meninggalkan para prajurit untuk menahan monster.


"Baiklah kak!" Celicia berjalan mengikuti Celina.


"Tembak!!"


Shut!..


Shut!..


Shut!..


"Gelombang kedua bersiap! ... Tembak!"


Shut!..


Shut!..


Shut!..


Hujan panah kembali menghujani monster tapi Celina memberikan kode untuk menghentikan gelombang ketiga karena para monster sudah sangat dekat dengan tembok dimana beberapa prajurit yang tersisa berusaha untuk memanjat tembok menggunakan tangga karena gerbang sudah tertutup.


Bom!!..


Tiba tiba sebuah bola berisikan energi sihir yang besar meluncur dari atas tebing dan melemparkan dan membunuh beberapa monster.


"Eh?" Celina menatap kearah atas tebing sebentar dan melihat David melambaikan tangan padanya untuk meneruskan kegiatannya sambil tersenyum.


Celina hanya mengangguk sebentar sebelum kembali memasang kuda kuda serigalanya bersiap untuk meluncur bersama Celicia.

__ADS_1


Satu hentakan kaki mereka berdua berhasil melemparkan mereka menuju kearah bagian depan monster dimana cakar mereka sudah bersinar putih sepanjang satu meter dan mulai mencabik cabik monster yang menghalangi mereka.


...


Diatas tebing.


"Mereka tidak akan bertahan lama tuan." Virinda berkata.


"Haih jika dibiarkan mereka akan kehabisan stamina." David menghembuskan nafas. "Tapi tujuan mereka hanya untuk mengulur waktu sebelum para prajurit berhasil memasuki gerbang ... bantu mereka." Lanjut David.


Dua pasukan bayangan langsung menghilang dan tiba dimedan pertempuran dengan dua pedang mereka.


"Aku tidak tahu kapan kalian belajar menggunakan dual sword." David berkomentar.


Pergerakan monster memang terus maju tapi bagian depan mereka juga terus dihabisi sayangnya jika dibiarkan terus maka keempat penyerang akan kehabisan stamina sehinga begitu para prajurit berhasil memanjat tembok mereka berempat segera mundur.


Saat keempatnya menghilang dari jangkauan serangan jarak jauh berbagai archer dan mage langsung melemparkan serangan mereka secara bergantian juga beberapa monster yang ingin memanjat tembok langsung diburu dengan tombak maupun pedang.


"Ini baru sepuluh persen monster yang mati dan pertahanan tembok sudah berganti hingga lima grup prajurit."


David terus menganalisa hasil pertempuran sambil terus mengumpulkan drop item secara otomatis kedalam invertori nya.


Strategi yang dibuat oleh Celina cukup bagus dengan mengganti grup prajurit diatas tembok agar tidak terlalu menguras tenaga dan stamina mereka sayangnya tembok dan gerbang tidak bertahan lama.


"Virinda bersihkan monster didepan gerbang." Perintah David.


Virinda dan dua pasukan bayangan yang tersisa langsung melindungi gerbang.


Gaya bertarung Virinda cukup unik saat menggunakan pedang besar tapi itu sangat cocok untuk melindungi pintu gerbang bersama para pasukan bayangan yang lainnya.


Kekurangan dari dampak serangan pedang besar Virinda dapat dia kurangi dengan pedang ringan bermata satu ditangan kanannya yang tidak tinggal diam dan terus menebas.


"Dua puluh persen monster telah terbunuh para prajurit juga semakin kelelahan." David tetap melihat kondisi perang.


Celina dan Cecilia tiba tiba melompat keluar tembok dan membersihkan bagian tembok yang mana beberapa monster memang tidak fokus pada memanjat tembok tapi lebih fokus pada menghancurkan tembok sehingga mereka berdua turun untuk membereskannya.


"Apa mereka itu bodoh.. seharusnya mereka menyimpan staminanya untuk serangan terakhir." Ucap David mengutuk dua serigala sirius yang malah kesenangan mencakar.


Dalam perang melawan monster sembilan pulih lima persen mereka pasti akan dipimpin oleh makhluk yang lebih kuat dan sekarang jumlahnya bahkan dua kali lebih banyak sudah pasti level pemimpinya juga lebih tinggi tapi Celina dan Cecilia malah menghabiskan staminanya diawal pertarungan.


...----------------...


Alfa_RZ : guys! guys!! guys!!!... kemana semangat crazy up kalian yang dulu?!! ini gue ngasi kalian peluang loh, hanya perlu tembus 1.000 komentar saja sebelum crazy up.


hanya kurang 450 komentar saja! kenapa kalian malas banget beri komen?! ayolah guys, ini kalian baca gratis kok hanya perlu momen dan like doang juga sekalian kasi bintan lima.

__ADS_1


yah memang dari kalian banyak yang mengorbangkan paket untuk membuka dan membaca novel ini yah aku berterima kasih sekali tapi bagaimana dengan kalian pengguna wifi yang tidak bertanggung jawab, merusak hubungan tetangga dengan cara mencuri wifi!! ha?!


oke maaf aku terlalu terbawa emosi. :]


__ADS_2