
Kamar ibu Stella
"Yah aku juga berpikir sama tante." David ikut mengiyakan seraya menutup wajahnya dan menggeleng.
"David! Kau juga!" Berbalik Stella meneriaki David.
"Stella, kau harus berterima kasih pada David dengan baik nanti." Ucap ibu Stella.
"Baik ibunda." Ucap Stella menunduk patuh.
"Saya ingin mengatakan sesuatu tante, mengenai suami anda.." Ucap David yang tidak tahu cara menjelaskannya karena tidak ingin berbohong pada ibu Stella tapi stella sendiri masih ada disini.
"Sudahlah Stella sudah memberitahuku, kau tidak perlu mempermasalahkannya lagi David." Ucap ibu Stella tapi jelas terlihat raut wajahnya yang sedih.
"Maaf saya membahasnya." David sedikit merasa canggung untuk situasi saat ini.
"Aku akan mengurus pemakaman ayahanda, kita akan mengadakan upacara bersama saat ibunda sudah sembuh." Ucap Stella yang menahan kesedihannya dan menghibur ibunya.
Terukir sebuah senyuman dibibir ibu Stella. "Ya." Ucapnya kecil sebelum mencium rambut Stella yang sedang memeluknya.
'Sepertinya sekarang bukanlah saat yang tepat untuk menjelaskan hubunganku dengan Stella.' Batin David.
Setelah melihat kondisi ibu Stella, David kembali mengawasi pekerjaan Stella yang sedang mengurus berbagai hal dengan beberapa pemimpin warga atau pemimpin pasukan untuk urusan pembangunan selanjutnya.
David bukannya tidak terlalu mengerti pada hal seperti ini tapi dia ingin melihat bagaimana Stella bekerja saja karena menurutnya Stella bukannya tidak pandai mengurus kota hanya saja dia terlalu malas untuk urusan seperti ini.
"Kau seharusnya lebih menghargai bakatmu Stella." Gumam David tersenyum melihat Stella dari jauh saat mengadakan rapat bersama bawahannya.
David terus memandangi Stella yang sibuk dari tengah hari hingga hari mulai gelap dan membubarkan rapat dengan hasil yang cukup bagus untuk perkembangan kota.
"Kau disini." Ucap Stella melihat David saat keluar dari ruangan.
"Yah ternyata kau sangat pandai mengurus kota, aku baru tahu itu." Ucap David tersenyum tapi berwajah bingung.
"Hehh.. tapi ini sangat melelahkan, aku tidak akan melakukannya lain kali, kedepannya kuserahkan padamu." Ucap Stella yang tiba tiba merubah raut wajahnya menjadi sangat jellek dan mager.
"Itu setelah kita menikah mungkin aku akan mengurus semuanya." Ucap David sedikit menggoda Stella.
"Mungkin? Kau masih ragu." Stella sedikit tidak senang untuk kata kata David.
"Kau mau kemana Stella." David segera menyusul Stella yang berjalan sambil menghentak hentakkan kakinya.
"Makan." Stella berjalan dan membuka salah satu pintu yang menuu keruangan makan.
Brak!!
Stella langsung terdiam saat melihat meja makan kosong sama sekali tidak ada apa apa.
"Maaf tapi kita tidak memiliki pelayan sama sekali jadi makanan tidak disiapkan." Ucap David karena entah kenapa Virinda langsung meminta izin untuk mengurus hal lain sebelum disuruh untuk membuat makanan meskipun David sebenarnya sudah tahu alasan Virinda langsung lari.
"Dasar tante tante." Stella menggerutu saat tahu bahwa Virinda pasti lari karena tidak ingin membuatkannya makanan.
__ADS_1
"Aku akan membuatkannya... segera." Cepat David menuju kedapur saat melihat Stella sudah mengeluarkan api ditangannya.
Sepuluh menit kemudian.
"David! Kau seharusnya lebih cepat sebelum milikmu kurebus!" Ucap Stella yang sudah tidak sabaran menunggu.
"Sebentar lagi siap!" David berusaha untuk memaksimalkan kecepatan memasaknya.
"Waktu itu apiku masih kecil, aku masih bisa menaikkan suhunya loh." Ucap Stella mengancam.
"Baik." David kali ini benar benar takut karena waktu itu David merasakan bagian bawahnya cukup panas bahkan seandainya tidak memiliki skill regenerasi mungkin miliknya sudah melepuh dan sekarang Stella ingin menaikkan suhunya.
"Cepatlah!!" Stella tidak pernah sabar jika berhubungan soal makanan apalagi saat ini dia ditambah kesal oleh Virinda.
"Baik baik akan segera kuantarkan!!" Cepat David menyiapkannya dan membawa beberapa piring makanan menuju meja. 'Virinda kamu kemana? Kau menyiksaku disini.' David menangis didalam batin.
"Kelihatannya cukup enak." Stella segera mengambil satu sendok sebelum mencicipi satu lauk sayur buatan David.
"Nikmatilah, meskipun aku tidak terlalu panda dalam memasak tapi jika hanya segini aku masih percaya diri bahwa makananku enak." Ucap David berbangga diri dan duduk didepan Stella.
"Memang ini enak tapi belum seenak buatan pelayanmu." Ucap Stella masih menikmati makanannya.
"Kurasa Virinda akan meledekmu saat mendengarnya." Ucap David mendesah pelan mulai memakan masakannya sendiri.
"Cih! Andai dia ada disini mungkin aku sudah membotaknya." Cibir Stella.
"Maa... kau bisa melupakannya untuk sekarang jadi makanlah." David berusaha menenangkan Stella.
Entah kenapa David sangat tidak ingin Stella marah padanya dan Davidpun sangat menurut pada Stella sedangkan biasanya David hanya bersikap seperti itu pada Astein maupun Merly.
Setelah makan malam Stella sempat ingin beristirahat sikamar ibunya karena hany ada dua kamar yang masih utuh yang tersisa yaitu kamar David dan kamar ibu Stella tapi segera dihentikan oleh David.
"Apa?" Stella bertanya saat David memegang lengannya untuk menghentikannya.
"Jangan mengganggu ibumu, beristirahatlah dikamarku." Tawar David meskipun ia tahu seharusnya Stella menemani ibunya disaat sakit seperti ini tapi David tidak ingin kutukan ibu Stella berpengaruh pada Stella nanti.
Stella tidak ingin berdebat sehingga tidak lagi membantah. "Baiklah." Mengangguk Stella mengikuti David.
"Aku akan mulai memperbaiki mansion ini besok." Ucap David.
"Memangnya kau bisa?" Stella sedikit terkejut atas ucapan David.
"Jika hanya untuk memperbaikinya hingga layak huni aku masih bisa." Ucap David percaya diri sebelum memasuki kamarnya.
"Aku tidak tahu kalau kau memiliki keahlian seperti itu." Ucap Stella seakan bertanya.
"Aku masih memiliki keahlian lain termasuk beberapa gaya diatas ranjang yang belum aku tunjukkan." David sedikit menggoda Stella.
"Sudahlah, kamu tidak nyambung." Stella segera membuang tubuhnya keatas tempat tidur untuk tidur.
Stella sedikit kesal saat David tidak membalas perkataannya dengan benar.
__ADS_1
"Loh aku serius." David ikut berbaring didekat Stella.
"Tidor." Stella tidak memperdulikannya dan langsung menutupi tubuhnya.
"Tidak mandi?"
"Sudah."
"Gaun tipis?"
"Nanti aku kecapean."
"Ayolah." David masih memelas.
"Berisik! Aku pindah!" Stella bangun dan bersiap untuk pergi.
"Baiklah baiklah aku akan diam." David segera menenangkan Stella.
"Hng!" Stella kembali menutupi dirinya dengan selimut.
...
Pagi hari
"Hmm... ah." Stella bangun dan langsung meregangkan semua tubuhnya saat melihat David masih terlelap memeluknya.
Perlahan Stella melepaskan tangan David dari tubuhnya sebelum menuju kekamar mandi yang sama sekali tidak memiliki air untungnya David telah memodifikasinya sedikit hingga dapat mengeluarkan air saat mengalirkan mana murni.
"Apa yang dia pikirkan sampai melepaskan kewaspadaannya saat tidur seperti ini." Ucap Stella tersenyum melihat wajah David yang terlelap.
David juga biasanya selalu tersadar dan terjaga saat ada sesuatu yang menggerakkannya tapi kali ini dia merasa aman sehingga tidak terlalu memperdulikan Stella yang menggerakkan tangannya.
Saat David mulai sadar Stella sudah tidak ada dikamar maupun dikamar mandi.
"Stella!" Panggil David masih setengah sadar.
Tapi tidak ada yang menyahut sampai David merasakan keberadaan Stella yang sedang berada didapur.
"Sepertinya dia sedang lapar." David segera menuju kekamar mandi untuk membersihkan diri.
...----------------...
Thank you untuk para donatur tetap
-Xn
-Ma'ke Seto
-Zefaanatasya_
-[M.S.R]
__ADS_1