
Livius Empire
Istana kerajaan
"Cih aku tidak menyangka kita hanya mendapatkan pahlawan pendukung."
"Seharusnya kita mendapatkan pahlawan pedang, itu sangat cocok untuk kerajaan kita yang kuat ini."
Beberapa bangsawan mulai mencemooh class pahlawan yang hanya sebagai suport saja, sementara Alex sendiri tidak memikirkannya dan malah sibuk megoda puteri bangsawan.
...
Beaster Empire
Istana kerajaan
Dor! Dor! Dor!
Shut shut shut..
Bom!
Seorang pemuda terus menembakkan peluru dari pistolnya dan memantulkan peluru serta membelokkan ke segala arah hingga berkumpul ke satu titik dan meledakkannya.
"Fiuuhh kuharap kakak dan semuanya baik baik saja." Ucapnya sebelum seekor burung Pheonix kecil singgah dopundaknya.
Prok prok prok!
"Sungguh sangat hebat, memang pahlawan penempa tapi aku tidak menyangka memiliki teknik bertarung yang sangat hebat." Raja Beaser memberikan tepuk tangan saat menghampiri Candra pahlawan penempa sedang berlatih menembak.
"Aku lebih berharap dapat berkumpul bersama pahlawan lain secepatnya." Ucap Candra menyimpan kedua pistolnya.
"Haha anak muda selalu bersemangat, tenang saja kalian akan berkumpul saat pertemuan Knight's Of The Round Table diadakan." Ucap raja Beaser menepuk nepuk punggung Candra yang kecil.
"Yah aku berharap itu bisa diadakan secepatnya om." -_-
...
Archipelago Empire
Istana kerajaan
"Nona Dinda santai saja." Beberapa orang terus menenangkan Dinda saat dia tidak terbiasa menggunakan gaun dan menghadiri acara seperti ini terlebih dialah bintang utamanya.
"Aku rasa sebaiknya aku belajar banyak pada Naviza tentang bagaimana menjadi wanita feminim." Gumam Dinda pahlawan pemanah seakan ingin menangis.
...
Romulus Empire
Istana kerajaan
Dipagi hari saat David baru saja terbangun dari tidurnya dimana semalam dia mendatangi pesta penyambutan pahlawan pedang David malah mendapatkan panggilan dari raja Artur.
__ADS_1
Berjalan David memasuki aula istana dimana hanya ada raja Artur dan seorang kasim setianya.
"Saya Jendral David Von Dark menghadap yang mulia." Ucap David langsung berlutut.
"Hm." Dengan aura kebijaksanaan raja Artur ia memberikan isyarat agar David kembali berdiri.
"Kalau bisa saya tahu ada apa anda memanggil saya yang mulia?." Bertanya David saat raja Artur terdiam beberapa saat.
"Begini David.. emm.. sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu." Entah kenapa aura kebijaksanaan raja Artur langsung menghilang saat ia terlihat malu malu untuk meminta bantuan pada jendelanya sendiri.
'Tolong jangan bertingkah seperti ABG yang mulia, bagaimana kalau orang lain melihat!?' David ingin berteriak namun jelas itu tidak sopan.
"Ukhhum David sebenarnya pahlawan Aron ingin lebih mengenal kerajaan ini jadi bisakah kamu menemaninya?" Ucap raja Artur berusaha mengembalikan auranya.
"Yang mulia sebenarnya saya harus segera kembali kekota saya, bagaimana dengan yang mulia puteri Arfenit?." David merasa sangat sulit untuk menolak namun David tetap meyakinkan tekadnya untuk menolak.
"Arfenit sama sekali tidak ingin terlibat banyak dengan laki laki lain." Ucap raja Artur membuang napas sulit.
"Saya paham itu, bagaimana dengan yang mulia pangeran Arifureta?" David kembali memberi saran.
"Arifureta sedang sibuk mengurus kerajaan ini."
"Anda sendiri?"
"Apa yang akan dikatakan oleh orang lain jika aku ketahuan bermalas malasan dan hanya melimpahkan tugas pada putra mahkota."
'Yah aslinya memang begitu kan?' Batin David.
"Tapi saya harus kembali kekota saya." David mencari alasan.
"Bawa pahlawan bersamamu." Ucap raja Artur.
"Ehh? Bukankah pahlawan harus tetap berada diibu kota sebelum mengerjakan misi?" David terkejut.
"Lagi pula pahlawan Aron sepertinya tidak akan betah diistana dan lagi saat ini raja iblis belum sepenuhnya bangkit." Ucap raja Artur.
'Belum sepenuhnya bangkit? Berarti raja Artur tahu bagaimana raja iblis itu.' Batin David.
Memang benar begitu karena setiap kerajaan memiliki alat mereka masing masing yang ditinggalkan oleh pahlawan terdahulu dimana itu akan menandakan kebangkitan raja iblis namun selama lima tahun terakhir kecepatan bangkitnya terus bertambah tepat saat mereka menggunakan sihir Necromancer milik ratu Vexana.
"Kamu bisa kan?" Lagi raja Artur mengulangi ekspresinya.
"B-baiklah saya mengerti." David pasrah.
"Baik saya akan memberi tahu pahlawan Aron nanti." Raja Artur langsung menepuk tangannya.
Dengan begitulah David ditugaskan untuk memandu pahlawan Aron dan mereka bertemu kembali keesokan harinya tepat saat David ingin pulang.
"Hmm kulihat keretamu yang paling keren diantara kereta bangsawan yang lain." Ucap Aron memuji saat merasakan bagaimana empuknya tempat duduk kereta David melebihi mobilnya saat dibumi.
Yang menjadi kusir kali ini adalah Tiger karena orang tua Astein memutuskan untuk tinggal lebih lama diibu kota untuk berlibur dan lagi lagi David dibuat kesal saat Erik memintanya untuk memastikan keamanan kotanya.
Sementara didalam kereta ada David, Astein, Dastein, Virinda dan Aron.
__ADS_1
"Yah tapi ini tidak seempuk sofa milik presiden." Ucap David yang sedikit keceplosan.
"Aku rasa ini jauh lebih empuk- eh presiden?" Aron tiba tiba tersadar saat semua orang disini memanggil raja atau kaisar kenapa David memanggilnya dengan kata presiden.
"Ah aku pernah membaca salah satu buku peninggalan pahlawan terdahulu mengatakan bahwa sofa presiden sangatlah empuk, apa itu presiden? sejenis kapas?" David langsung membual untuk menutupinya, saat ini David masih tidak ingin ketahuan bahwa ia adalah reinkarnasi dari bumi.
"Oh begitu." Aron langsung menerima penjelasan David namun tidak menjawab pertanyaannya.
Singkat cerita saat mereka tiba dipelabuhan Aron kembali bingung saat melihat kapal yang mereka tumpangi merupakan satu satunya kapal berbody besi namun bukan hanya itu karena seluruh fasilitas didalamnya persis seperti dibumi terutama toilet yang berbeda dengan diistana
"Sepertinya tuan tidak bisa menyembunyikannya dalam waktu lama." Bisik Virinda.
"Aku akan menjelaskannya nanti saja." David akhirnya pasrah dan memilih untuk memberitahukan asal usulnya pada Aron namun tidak sekarang.
Berjalan David kearah Aron yang masih memperhatikan kota pelabuhan setelah kapal mulai meninggalkan pelabuhan.
"Mau minum?" David menawarkan jus yang sempat dibuat oleh pelayan dikapal.
"Oke thank you." Aron menerimanya.
"Kau mengatakan kau punya teman yang kau tinggalkan saat berpindah kedunia ini kan?" David memulai pembicaraan.
"Ya." Singkat jawab Aron.
"Apa kau masih khawatir pada mereka?"
"Tidak." Aron menjawab tanpa beban.
"Eh bukankah kemarin kau berteriak begitu pada puteri Arfenit dan raja?" David langsung merasa bingung dengan pola pikir pahlawan ini.
"Ah itukah.. aku tidak khawatir karena ternyata keenam pahlawan lainnya adalah seluruh temanku." Ucap Aron menggaruk kepala bagian belakangnya.
"Teman? Enam pahlawan lainnya?" David bergumam mencerna maksud Aron.
"Ya begitulah. Ada apa?" Jawab Aron namun kebingungan dengan tingkah Aron.
"Bisa kau jelaskan lebih lagi?" David langsung menangkap pundak Aron dan bertanya dengan serius saat wajah mereka berdekatan.
"Bisa kau menjauh? Itu membuatku jijik." Ucap Aron langsung mendorong wajah David karena hampir mirip dengan BL.
"Ah maaf." David menenngkan diri.
"Ah bagaimana yah.. hmm semuanya terjadi begitu saja." Ucap Aron lalu kembali meminum jusnya hingga habis namun tidak melanjutkan ceritanya.
"Eh lanjutannya?" David bertanya.
"Aku belum menjelaskannya yah?" Aron malah balik bertanya.
"Mana mungkin aku bisa mengerti jika hanya itu." David naik emosi sesaat.
"Kami adalah satu tim yang lumayan terkenal didunia asalku yah meskipun itu terbentuk saat dunia kami dilanda kekacauan." Sul membuang gelas jusnya kelaut.
"Kenapa gelasnya dibuang!?" David bingung dan berteriak.
__ADS_1