
Mansion Selartina
"Aku adalah Rank platinum, Vampir tersebut harus dibasmi oleh Rank Adamantine sedangkan Rank Adamantine dikota ini sedang melakukan misi lain jadi jika aku mwnyelsaikan misi ini maka apa yang akan terjadi?" Kembali Alfa bertanya membuat teka teki.
"Maka Tuan akan diangkat menjadi petualang Adamantine." Lanjut Selartain.
"Begitulah." Alfa menyeruput tehnya.
"Saya mengerti tuan." Selaratain mengangkat sedikit gaunjya sebagai bentuk penghormatan.
Tok tok tok...!
Sebuah ketukan pitu datang dari pintu mansion yang sepertinya menandakan ada tamu.
"Sepertinya kamu kedatangan tamu." Alfa berkata setelah menghabiskan tehnya.
"Sepertinya begitu tuan." Selartain pun menjawab.
"Dia memiliki urusan dengan Teador jadi biarkan Teador saja yang mengurusnya aku akan pergi tapi sebelum itu aku ingin memberi tahukanmu semua bawahanku selalu menggunakan nama Dark sebagai nama keluarga." Alfa dan Ririn tiba tiba menghilang dari tempatnya.
"Saya merasa terhormat dapat memiliki nama keluarga tuan." Selartain juga ikut menghilang.
Setelah mereka menghilang tiga menit berikutnya Teador masuk keruang tersebut bersama seorang laki laki gendut berkumsi tebal bagaikan lumut dan seoarng pria berotot besar mengikutinya dan langsung saja mereka berdua duduk sebelum Teador duduk.
"Jadi untuk apa tuan Rubbis datang kekediaman saya?" Bertanya Teador tanpa basa basi saat duduk.
"Tuan Teador apakah kau tidak menujukkan sopan santun pada tamu terhormat mu ini setidaknya berikan aku teh." Rubbis pula mengeluh karena diatas meja hanya ada secangkir teh kosong bekad Alfa.
"Tidak usah basa basi." Teador berbicara tenang tapi terasa menakutkan.
"Hehehe tuan Teador tidak perlu terlalu serius aku hanya datang karena mendengar dari salah satu anak buahku bahwa anda membawa budakku ... mereka itu mahal loh tuan Teador." Rubbis berbicara sambil menarik nerik kumisnya.
"Berapa?" Teador langsung bertanya.
"Tidak banyak hanya lima ribu koin emas hehe." Rubbis mulai memeras.
"Kalau begitu minggu depan saya akan datang membayarnya." Teador terlihat tenang tapi seperti mengisyaratkan kedua orang ini untuk keluar.
"Hehehe ternyata tuan Teador cukup dermawan kalau begitu aku tunggu minggu depan dan usahakan untuk datang karena mungkin saja beberapa prajurit akan datang membakar rumah anda jika tidak melunasinya." Rubbis mengancam.
"Aku mengerti segera keluar." Teador masih tenang.
"Baiklah hehe tuan Teador saya permisi." Rubbis dan bawahanya segera kabur karena merasa ada yangsalh dengan Teador.
__ADS_1
Diluar mansion.
"Sialan dia menakutiku!" Rubbis memaki keras.
"Tenang tuan saya tadi melihat perempuan itu dia membawanya dan terlihat lebih cantik dari pada sebelumnya." Pria didekatnya menenangkannya.
"Hehe setelah kita mendapatkan bayarannya segera kirim seseorang untuk membawa wanita itu juga selalu awasi lingkungan mansion ini." Rubbis segera menaiki kereta kudanya yang berbentuk tong sampah jika dibumi tapi didunia ini mana ada yang tahu.
**********
Dua hari kemudian dihutan dekat dengan markas bandit tepatnya ditempat para petualang ingin membasmi para bandit.
"Apa kau yakin markas banfit ada didepan?" Bertanya seorang pemimpin tim.
"Saya telah mengeceknya jadi tidak mungkin salah." Orang yang menggunakan pakaian assassin itu melapor.
"Jadi bagaimana keadaan didepan?" Bertanya sang ketua.
"Mereka membuat markas gua dibawah bukit kecil disana juga memiliki dua penjaga didepan pintu masuk gua." Assassin itu menjelaskan kerinciannya.
"Baiklah jika kita pergi sekarang maka hanya perlu waktu satu jam untuk sampai tapi aku yakin didalam gua pasti ada jebakan jadi kita akan membagi tim untuk mengelilingi bukit dan mencegah jika ada yang kabur setelah kita membunuh dua penjaga mereka dan meledakkan isi gua sampai runtuh." Jelas pemimpin tim pembasmi bandit tersebut.
"Baik ketua!" Semua menjawab.
"Berangkat!" Ketua mereka berteriak dan semuanya langsung berangkat.
"Hey apa yang terjadi disini?" Bertanya sang pemimpin kepada assassin.
"Saya juga tidak tahu ketua tadi saat saya kesini mereka masih berdiri disini." Assassin menjawab.
"Ini gawat semuanya lari!" Sang ketua merasakan sesuatu dan benar saja semua anggotanya langsung terburu satu persatu.
**********
Satu jam sebelumnya.
Kamp bandit.
Selartina berjalan menuju kearah dua penjaga didepan gua dan mereka segera menyadarinya.
"Oi gadis kecil apa yang kau lakukan disini?!" Bertanya sang penjaga.
"Tidak masalah kawan dia hanya adik kecil lagi pula dia itu sepertinya bisa kita gunakan sebentar hehehe." Yang satunya lagi malah berpikiran aneh.
__ADS_1
"Hihi pamman paman apa kalian bisa menunjukan jalan kekota aku tersesat." Selartain menggunakan wajah polos dan memelasnya.
"Gadis kecil datanglah pada paman hehehe paman akan mengantarmu keluar." Dia mulai mendekat kearah Selartain dengan wajah menjijikkan.
"Cih dasar lolicon." Yang satu tidak peduli dan masih mengawasi hutan.
Sret...sssss
Tiba tiba orang yang mendekati Selartain langsung ambruk dan darah dilehernya mulai terbang keatas kepala selartain membentuk sebuah bola.
"A-apa yang kau lakukan bocah?! Kau membu-ekh!" Berteriak penjaga satunya pada Selartain sebelum satu cakaran kuku putih menyayat lehernya dan perlahan darah keluar dari sana menuju keatas kepala selartain membentuk bola.
"Hihi paman paman terlalu lemah untukku.. memang hanya tuanku yang dapat memuaskanku suatu saat." Selartain melangkah masuk.
Akh..!!
Vampir! Ada vampi-kherrr..
Semuanya Vampir!!!
Berbagai teriakan berasal dari dalam gua dimana Selartain membantai habis para bandit tanpa menyisahkan mereka satupun.
"Hm!? Sepertinya para petualang itu sudah datang ... kata tuanku aku hanya perlu membunuh satu kelompok mereka." Selartain berjalan santai keluar kearah mulut gua dimana seluruh pakaiannya masih bersih tanpa noda darah karena semua darah berkumpul diatas kepalanya serta gigi taringnya yang panjang dan kukunya yang meskipun pendek dan terlihat biasa biasa saja tapi lebih tajam dari pada pisau.
Saat melihat banyak petualang Selartain langsung membantai mereka satu persatu.
"Lari semuanya dia Vampir!" Ketua tim terus mengarahkan para petualang untuk mundur tapi pada akhirnya dia juga terbunuh.
"Haih mereka semua terlalu mudah." Selartain terus mambunuh dan akhirnya tersisa satu perempuan berpenampilan tomboi berambut merah keriting.
"Jangan mendekat!" Berteriak perempuan itu sambil mengayungkan panahnya untuk memukul sambil mundur.
"Heh kau yang terakhir gadis kecil." Selartain menjilat mulutnya yang tertempal beberapa bercak darah.
"Jangan mendekat atau atau hiaaa!" Dia terus mundur akhirnya terjatuh dan asal saja dia menarik satu potion dari kantongnya dan melemparnya pada selartain.
Cshhh...
Bagaikan disiram air panas kulit milik Selartain langsung melepuh.
"Perempuan sialan beraninya kau merusak wajahku dari mana kau mendapatkan benda milik tuanku!"
Meskipun marah tapi Selartain tidak berani untuk menyerang karena jangan sampai manusia didepannya memiliki hubungan dengan tuanya dan membuatnya marah karena dia membawa potion ciptaan tuanya yang mana dia dapat merasakan sisa sisa mana milik tuanya didalam potion tersebut dan hanya potion milik tuanya lah yang bisa melukainya serta perak.
__ADS_1
Tapi wanita itu langsung pingsan begitu Selartain marah.
"Sudahlah lagi pula misiku sudah selesai akan kutanyakan masalah ini pada tuanku nanti." Selartain segera menghisap seluruh darah diatas kepalanya kedalam tubuhnya dan memulihkan seluruh lukanya.