Another VR World Accident

Another VR World Accident
Chapter 141, Libur Keluarga.


__ADS_3

Kota pelabuhan


Pelabuhan Dark Dragon


"Maaf mengganggu waktu kalian, tapi apa bisa aku bertanya sebentar?" Ucap Forts yang datang menyapa.


"Ada apa Forts?" Bertanya David saat Dastein masih ditangannya.


"Bukan apa apa hanya saja.. bagaimana kapal ini, apa bisa dipasang sekarang?" Tanya Forts memastikan.


"Pemasangan bagian kapal sudah kuserahkan padamu jadi kau yabg memutuskannya sekarang Forts." Tapi David memang sudah memberikan Forts tanggung jawab kali ini.


"Baiklah." Ucap Forts mengerti.


"Berapa lama kira kira kau bisa memasangnya?" David bertanya.


"Dengan orang sebanyak ini mungkin masih memerlukan waktu satu bulan untuk memasang sepuluh bagian kapal." Ucap Forts memperkirakan.


"Berapa lama lagi kapal barunya akan dikirim?" Kembali David bertanya.


"Untuk sekarang para Dwarf sudah dapat bekerja dengan baik karena masalah pembangunan sudah bisa dianggap selesai jadi Kihai mengatakan jika mereka dapat mengirim kira kira sepuluh kapal dalam waktu tiga minggu." Forts menjawab.


"Itu waktu yang cepat, para pemasang disini akan kewalahan." David mencoba untuk mencari solusi.


"Kau bisa menambah perajurit kemari untuk membantu." Forts memberi saran.


"Sayangnya itu tidak bisa karena perajuritku yang tersisa harus melatih para perajurit baru di Devil Forest." Ucap David menggeleng.


"Baiklah, biar kupikirkan caranya nanti." Forts mencoba untuk bertanggung jawab sepenuhnya atas pekerjaan yang diberikan oleh Leader Guildnya.


"Baiklah kali ini kuserahkan semuanya padamu." David juga mencoba untuk lepas tangan dan mengamati saja.


Tiba tiba Dastein mulai risih dan terus bergerak dipelukan David.


"Ada apa Dastein?" Tanya David agak bingung dan berusaha untuk menenangkan Dastein.


"Mungkin dia lapar." Ucap Astein yang segera mengambil Dastein dari pelukan David. "Aku akan menyusuinya." Ucap Astein yang malah tanpa sadar membuka bagian atas gaunnya.


Cepat David menutupi Astein. "Kau bodohkah?" Kali ini David agak mengeraskan suaranya saat menegur Astein yang hampir saja membuka bagian atasnya didepan umum.


"Maaf." Astein menunduk merasa bersalah karena baru kali ini juga David membentaknya.


David yang melihatnya segera menenanngkan diri. "Maaf aku terlalu keras tadi, ini juga salahku karena jarang mengajakmu kekuar dari mansion." Ucap David menenanngkan Astein.


David berpikir bahwa mungkin saja Astein tidak sengaja melakukan hal tadi karena biasanya ia hanya selalu bersama Lousi saja. David juga merasa agak bersalah karena jarang mengajak Astein keluar.


"..." Astein tidak menjawab dan masih tertunduk saja.


"Baiklah, untuk sekarang kita kerumah saja dulu." David segera menuntun Astein masuk kedalam mobil. "Kali ini kamu tidak ikut, biarkan kami dulu." Tegur David pada Virinda dan Lousi.


Mobil David segera jalan dan masuk kekota pelabuhan menuju kerumahnya yabg ada dipinggir pantai.


"Sepertinya tuan terlalu keras tadi." Ucap Lousi.

__ADS_1


"Tuan David selalu begitu." Tapi santai saja Virinda menjawab.


"Padahal nona Astein selalu menunggunya sekarang malah dibuat hampir menangis." Ucap Lousi agak menyayangkan.


"Itu juga kesalahan nona Astein." Walaupun Virinda tahu ini salah David tapi dia tidak ingin orang lain mengatakan tuannya bersalah secara terang terangan.


"Dasar laki laki yang tidak peka,, tuan Teador bahkan lebih bisa diandalkan." Lousi membandingkan David dengan vampir Teador.


"Kau membandingkan tuanku dengan bawahan?" Bertanya Virinda yang mencoba untuk tenang dan memastikan padahal auranya sudh mulai keluar sedikit demi sedikit.


"Ahhahaha aku hanya bercanda nona Virinda aha aha." Cepat Lousi menghindar dan berlari karena ia pun tahu bahwa Virinda adalah pisau David.


...


Rumah David


Saat ini Astein sedang menyusui Dastein dan David lebih memilih untuk mandi.


"Apa kau masih marah?" Bertanya David dari kamar mandi yang dapat didengar jelas oleh Astein.


"Tidak." Ucap Astein singkat tapi jelas terdengar nada nya sedikit meninggi.


"\=_\=' kau masih marah." Ucap David datar.


"Kubilang tidak yah tidak!" Astein mencoba untuk mengelak.


"Begini saja, habis ini aku akan menemanimu untuk keliling dikota pelabuhan bagaimana?" Usul David bertanya.


Astein langsung senang. "Baiklah! Aku ingin pergi kerestoran Monetti." Cepat Astein mengusulkan tempat yang ingin ia kunjungi selama dikota pelabuhan.


"Lebih tepatnya memakannya dimansion, aku belum pernah keluar dari mansion semenjak pindah kekota Green." Gerutu Astein.


"Haha maaf maaf, besok kita akan makan puas." David mencoba untuk menenanngkan Astein.


"Baiklah kupegang kata katamu."


"Ngomong ngomong, dimana Merly? Apa dia tidak ikut." Bertanya David.


"Merly masih dikota Green katanya tidak ingin ikut." Ucap Astein seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


"Ini aneh, biasanya disaat seperti ini Merly paling semangat, apa kau melakukan sesuatu?" Sembarang saja David menebak.


"Ti-tidak ada, kami hanya memaingkan permainan perempuan." Cepat Astein mengelak tapi juga menjawab.


"Permainan perempuan?" David bertanya serius.


"I-itu haha ini hanya permainan antara perempuan." Astein mencoba untuk menghindar.


"Oh permainan seperti apa itu?" David sudah keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang dan mambuat seluruh lantai basah yang kemudian mengintrogasi Astein.


"Ka-kami memancing." Astein menjawab.


"Lalu?"

__ADS_1


"Yang menang akan pergi kesini."


"Yang kalah?"


"Tinggal dikota Green."


"Tentu saja Merly yang kalah karena dia tidak bisa memancing." David sedikit menjitak jidat Astein.


"Uh.. itu, Merly awalnya menang." Ucao Astein memegangi kepalanya.


"Alasannya." David kurang lebih sudah menebak alasn Merly menang dan akhirnya kembali dikalahkan oleh Astein.


"Merly menggunakan racun yang dapat menarik perhatian ikan untuk memakan umpannya tapi ketahuan olehku, akhirnya aku menang." Ucap Astein agak senang.


"Apakah kalian harus bertanding?" David agak bingung dengan cara berpikir wanita.


"Tentu saja!" Tegas Astein menjawab.


".?." Dikepala David sekarang hanya ada tanda tanya karena tidak bisa memahami wanita sepenuhnya.


"Besok ayah kamu ngajak liburan loh Dastein hehwe." Kali ini Astein bersikap seperti anak kecil didepan anaknya sendiri.


"Kalau begitu aku akan istirahat." David segera melemparkan tubuhnya diatas ranjang karena sudah beberapa hari atau minggu dia tidak pernah tidur.


"Selamat malam." Ucap Astein lembut kemudian berbaring didekat David bersama Dastein ditengah.


"Ya, selamat malam." David membalas dengan suara kecil.


...


Keesokan harinya


"Jadi kita kemana dulu?" David bertanya tentang tujuan mereka saat David harus menggendong Dastein dan membiarkan Astein menikmati liburannya.


"Benar juga, jika kita langsung kerestoran Monetti 0agi pagi begini itu tidak akan seru, bagaimana jika kita kepusat kota." Usul Astein.


"Ada apa dipusat kota?" Ucap David penasaran tentang apa yang membuat Astein tertarik dipusat kota.


"Aku dengar ada sesuatu disana." Ucap Astein sambil berbelok kearah pusat jota karena dari tadi mereka hanya berjalan jalan dipinggir pelabuhan saja.


"Sesuatu?" Bingung David.


"Sudahlah ayo kita kesana." Astein tidak menjawab dan menarik tangan David.


"Hati hati Astein aku sedang membawa Dastein." Ucap David yang sedikit kerepotan.


"Lihatlah Dastein saja senang, kenapa kamu merasa repot." Astein menunjuk kearah Dastein yang terus memanjaki David dan bergerak terus yang membuat David sangat kerepotan karena ditangannya sudah penuh dengan barang yang entah kenapa Astein melarangnya untuk menggunakan cincin penyimpanan.


"Ais.. Dastein bukan senang lagi, dia terlalu bersemangat." Ucap David sedikit tersenyum saat Dastein sudah ada diatas pundaknya.


"Ayolah jarang jarang Dastein diajak keluar seperti ini tentu saja dia akan senang." Ucap Astein.


...----------------...

__ADS_1


Alfa_RZ: Ekhhem! buat kalian yang ingin melihat ilustrasi setiap karakter silahkan komen atau periksa digrup, disana saya akan ngebagiin setiap ilustrasi karakter guys.


__ADS_2