Another VR World Accident

Another VR World Accident
Chalter 65, Kapal Astein


__ADS_3

Kapal Astein


"Kemarilah." David tersenyum dan menarik Astein yang memang sudah berdiri didekatnya karena ingin diajari mengemudi.


"Ah..!" Astein terkejut saat David menariknya kepangkuanya dan wajahnya mulai memerah.


"Ada apa Astein? Bukanya kamu tadi yang menggodaku?" Tanya David mulai mencium leher Astein.


"Ak-aku hanya ingin diajari mengemudi saja!" Sontak saja Astein menjawab.


"Lalu kenapa kamu ingin duduk dipangkuanku?" David masih terus menggoda Astein.


"I-itu aku..." Astein sudah tidak tahan lagi dan hanya menunduk malu saat wajahnya sudah memerah dan panas.


"Hm ada apa sayang?" David mulai mengelitik leher Astein dengan ciumanya.


"Mm- David ini.. aku sudah tidak bisa." Astein terus mengerang saat David mulai memegang sesuatu yang kenyal dari aset pribadinya.


Memang Astein hanya menggunakan gaun tipis karena menganggap ini perburuan ini hanyalah sebuah liburan sama seperti David yang hanya menggunakan celana pendek seperti biasa jika mereka berada dilaut.


"Jadi apa maumu Astein." David tidak berhenti dan mulai memajukan wajahnya untuk mencium Astein.


"Mm.. David mm.. mha! aku tidak bisa bernafas mm..." Astein segera menarik wajahnya sebelum akhirnya David kembali menciumnya.


"Astein." David kali ini sudah mulai terbawa.


"David mm..." Astein sudah semakin panas begitu merasakan tangan hangat milik David mulai menyentuh kulit bagian perutnuya.


'Virinda! Segera kemari aku perlu bantuanmu' David segera memanggil Virinda karena kapal sudah mulai linglung tapi David juga tidak berhenti untuk menjelajahi setiap tubuh milik tunanganya ini.


'Segera tuan' tepat saat Virinda menjawab David segera meninggalkan ruang kemudi menggendong Astein menuju kamarmya.


"David apa tidak terlalu cepat?" Astein masih agak ragu.


"Jika begitu apa aku perlu memanggil Virinda untuk memuaskanku?" David bertanya lembut tepat ditelinga Astein saat dia membaringkanya dikasur.


"B-biar aku saja! Mmm." Sedikit suaranya tiba tiba membesar tapi segera David tahan meggunakan mulutnya.


"Astein." David mulai meletakkan tanganya dipaha milik Astein yang perlahan naik.


"Da-david! Ah hm" Astein mulai menger*ng aneh saat David menyentuh bagian bawahnya.


"Astein" David melepaskan tanganya pada Astein setelah membuka semua pakaian milik Astein, Astein tidak menyadari bahwa dia sudah telanj*ng bulat segera dia menutupi asetnya dengan tangan dan seluruh tubuhnya sudah memanas.


David segera melepaskan celananya dan memunculkan senjata yang sudah siap ditancapkan.


"Aa.. Dadadadavid! Itu aku tidak akan bisa jika itu terlalu.. mm" perkataan Astein berhenti saat David membungkam mulutnya.


"Astein apa kamu menyesal sekarang?" David bertanya mengoda Astein dan mulai memasukkan ujung senjatanya.

__ADS_1


"Ah! David itu sakit David" kuat Astein mencengkram punggung David saat dia memeluknya bahkan David sendiri merasakan bagaiman Astein mulai mencakarnya.


"Tahan lah Astein.. mm aku akan memasukkanya lebih dalam m..mm." David memasukkanya lebih dalam secara lembut dan pelan dimana cakaran Astein mulai membekas pada kulit David.


"Akhhh! Hah huh.. David ini sakit." Astein mulai tidak bisa menahan lagi dimana nafasnya semakin memburuk saat David mulai menariknya kembali diikuti darah Astein yang keluar.


"Maaf Astein tapi bertahanlah." David kembali memasukkannya dan mulai memompa.


"Mm..Ah!" Astein benar benar tidak dapat menahanya dan berteriak saat David mulai mempercepat gerakan pinggangnya.


**********


Pagi hari


Suatu kamar dikapal Astein.


Cup..


"Hm.. istirahatlah dengan baik" David terus mengelus kepala Astein yang masih lemas dalam pelukannya karena David terlalu memaksakanya semalam.


"Setelah kita kembali aku akan melamarmu" David terus membelai rambut Astein dan mencium keningnya karena melihat wajah lelas Astein membuat David tersenyum.


Tok..tok..tok..


"Ada apa Virinda?" David bertanya karena merasakan kehadiran Virinda didepan pintu sedang mengeruk pintu.


"Masuklah dan taruh makananya dimejaku" David segera menutupi dirinya dan Astein selimut karena memang mereka berdua dsedang dalam keadaan telanjang.


"Permisi tuan" Virinda masuk dengan mengankat sebuah nampan yang berisi makanan porsi dua orang dan ntah apa maksudnya semua makanan yang dia antar adalah pemulih stamina.


"Cepat lah keluar" David tidak ingin diganggu.


"Baik tuan" Virinda juga dengan cepat berlari keluar.


"Hm.. ada apa? Kenapa ribut sekali?" Astein masih mengucek matanya dan setengah bangusn saat melihat dia berada dalan pelukan David dalam keadaan masih tanpa busana.


"Maaf.. pagi Astein" David memberikan sebuah kecupan pada kening Astein.


"Pagi David" Astein segera menurut saat David mengelus kepalanya dengan lembut dan mengecup keningnya.


"Kita harus segera menikah" Astein memperjelas.


"Oh kenapa?" David memasang ekspresi seakan menolak.


"A-aku adalah bangsawan dari keluarga Lugard tentu harus dinikahi oleh seorang lelaki yang mengambil malam pertamaku!" Berteriak Astein.


"Kenapa aku merasa jika ini tidak ada hubungannya dengan gelar putri bangsawan tapi kamu sendirilah yang memang ingin menikah?" David bertanya menghoda Astein.


"A-aku memang i-ingin dinikahimu tapi kamu tau kan jika hubungan kita malam ini tersebar aku yakin ayah pasti marah" Astein agak takut dengan ayahnya.

__ADS_1


"Aku akan memenggal kepala orang yeng berani berkhianat padaku dan menyebarkan berita ini tapi kamu tenang saja setelah kita pulang aku akan menjelaskanya pada ayahmu nanti sekalian melamarmu secara resmi." ucap David yang membuat Astein kembali membenamkan wajahnya didada milik David.


"Mm aku menunggumu." Astein mengangguk.


"Ayo sarapan." David bangun.


"A-aku belum bisa bangun." Astein menjawab dengan wajah memerah.


"Aku akan menyuapimu kali ini." David mengambil makananya dan kembali duduk dikasur bersama Astein.


David mulai menyuapi Astein dan David juga mulai makan, mereka makan denvan hikdmat dan setelah makan David memanggil Virinda untuk membereskanya.


Virinda masuk keruang David saat David mengijinkanya masuk.


"Virinda berapa lama lagi kita akan sampai?" Bertanya David saat Virinda akan keluar membawa nampan.


"Diperkirkan kita akan sampai ditempat perburuan dalam waktu dua hari tuan." Virinda berhenti dan menjawab.


"Baik keluarlah"


"Saya permisi tuan" Virinda akhirnya keluar.


"Mau mandi? Tidak mungkin kamu akan seharian ditempat tidur bukan?" Bertanya David pada Astein sambil menggodanya.


"I-itu aku masih tidak bisa bergerak" berkata Astein atas sebuah alasan.


"Baiklah kita mandi bersama!" David langsung melepas selimut dan mengendong Astein berjalan kearah kamar mandi dengan tanpa busana, Astein terus membenamkan wajahnya kedada David karena malu yang membuat kulit bagaikan giok polesnya itu memerah.


Byurr..


"Berhenti bermain main David!" Berteriak Astein saat David mulai mempermainkanya dikamar mandi.


"Apa kau ingin melanjutkan yang semalam? Astein" bertanya David saat mulai membasuh tubuh Astein.


"Mm". mengerang sedikit tapi segera Astein melihat kearah lain.


"Baiklah aku akan membantumu mandi dan kembali beristirahat seharusnya dengan minum beberapa potion itu akan memulihkan sedikit staminamu." David kali ini harus menahanya karena tidak ingin terlalu menyiksa Astein walau semalam Astein tidak menahan untuk berteriak.


**********


Ruang kemudi kapal


"Virinda biar aku saja yang mengemudi" David berjalan ketempat Virinda saat melihat bawahanya yang sedang mengambil alih kemudi kapal.


"Ba-baik tuan" Virinda yang biasanya selalu tenang tapi saat ketahuan bergosip dengan bawahanya diatas kapal dia langsung gugup.


"Ada apa Virinda?" Bertanya David.


"B-bukan apa apa tuan bi-biar kami saja yang mengemudi" spontan saja Virinda menjawab saat wajahnya memerah.

__ADS_1


__ADS_2