Assassin Terhebat Terjebak Di dunia Novel Sebagai Antagonis

Assassin Terhebat Terjebak Di dunia Novel Sebagai Antagonis
119.Sebuah kenangan yang tidak tergantikan


__ADS_3

Ares dikehidupan sebelumnya memiliki teman-teman yang sudah dianggap sebagai saudara sini, jalinan pertemanan yang mereka ikat selalu terikat kuat selama puluhan tahun. meski terdapat beberapa momen yang membuat tali pertemanan mereka renggang tapi itu tidak cukup memutus dari yang mereka buat selama puluhan tahun.


Temen-temennya dikehidupan sebelumnya memiliki perbedaan umur yang cukup jauh darinya, maka dari itu dirinya sering dianggap Kakak tertua oleh mereka. Ares dan teman-temannya dikehidupan sebelumnya selalu bertarung bersama dan pernah merasakan hampir mati bersama-sama.


ikatan dari Ratusan pertempuran dan ribuan pertarungan Membuat tali pertemanan mereka berubah menjadi tali persaudaraan yang sangat erat, bahkan saking eratnya mereka bisa memahami jalan pikir satu sama lain hingga titik tertentu.


mereka adalah orang-orang yang tidak akan bisa digantikan dihatinya, meski dirinya sekarang memiliki kehidupan yang sebenarnya cukup normal namun dia saat-saat tertentu, Ares masih suka tertawa setiap saat mengingat moment-moment indah saat bersama dengan mereka.


Mereka adalah orang-orang yang akan selalu diingat dan dikenang olehnya sebagai saudara, dia tidak akan pernah membiarkan siapapun menghina nama mereka atau mencoba meniru mereka. dia tidak segan-segan membunuh, menyiksa dan memutilasi mereka jika perlu.


Namun sekarang didepannya, terdapat sebuah ilusi yang meniru mereka dan berbicara seperti mereka. kemurkaan dihatinya berkecamuk. dia ingin segera menarik pedangnya dan memotong-motong mereka, tapi setiap kali dirinya melihat mereka tangannya gemetar dan hatinya goyah.


"Zero? kenapa?."Seorang pria menghampirinya, dia Pemuda berambut emas dengan mata hitam pekat, dia memakai jas setelan emas dan memasang wajah khawatir saat menghampirinya. dia mengulurkan tangannya dan Ares hanya menatapnya bengong.


"Lucifer?."Ares langsung mengenalinya, pemudah didepannya adalah salah satu temannya yang bernama Lucifer.


"Ya? apa ada sesuatu diwajahku?."Dia terlihat heran melihat Ares, dia merasa Ares melihat sesuatu yang aneh diwajahnya yang membuatnya berpikir terdapat sesuatu diwajahnya.


Orang-orang yang berad dibawah pohon itu berjalan kearahnya, Ares bisa melihat wajah mereka dengan jelas dan sekali lagi hatinya merasa goyah. dia merasa tidak punya kekuatan untuk menarik pedangnya.


"Lucifer, Zero. kenapa lama sekali? ayo kita pergi makannya keburu dingin itu!."Ucap seorang pria tinggi kekar, dengan rambut hitam yang dikepang dengan tubuh yang terlihat penuh luka dan mata seperti elang.


Ares segera mengenalnya"Roger?."Ucapnya dengan suara Bergetar, dia melihat kesamping pria besar dan menemukan teman-temannya yang lain. mereka melihat Ares dengan Khawatir dan beberapa dari bertanya dengan Khawatir padanya.


"Kakek! apa kakek tidak apa-apa?! kakek kenapa?! apa Kakek sakit?!."Seorang Gadis kecil langsung memegang tangannya dengan khawatir, suara gadis itu bergetar dan dipenuhi kekhwatiran. Rambutnya Merah mudanya terurai dan sudut matanya keluar air.


hanya ada beberapa orang yang memanggilnya dengan sebutan Kakek, dan Gadis kecil Didepannya merupakan salah satunya"Rena?."Ares membelainya lembut, hatinya sungguh bergetar melihat gadis kecil itu.


"Ya? kakek Kenapa?! apa Kakek sakit?! jika Kakek sakit tenang saja dengan ilmu kedokteran superku penyakit kakek pasti akan sembuh!."Dia memegang kedua pipinya dan memaksanya untuk menatap matanya.


"Hei Zero! kau kenapa sih?! apa kau sakit?."Pria paruh baya disampingnya melihatnya kesal, meski dia terlihat kesal matanya dan suaranya dipenuhi kekhwatiran akut. dia mengikat rambutnya dan dipinggulnya terdapat sebuah katana panjang.

__ADS_1


Ares tentu mengenali siapa pria paruh baya ini"Hiro?."Ares melihat kesampingnya dan menemukan Teman-temannya yang lain.


Seorang pria muda dengan tangan robot dan jubah Kedokteran, wanita cantik yang memakai gaun pengantin dengan GreatSword dibelakangnya, Pemuda bertudung dan bermasker hitam dengan Sniper berat dipunggungnya, seorang pria tua bungkuk dengan katana dipinggulnya dan pemuda kembar identik dengan dua buah senjata melengkung dimasing-masing Punggung mereka.


Memori terdalam Ares kembali tergali, Ares tentu sangat mengingat siapa orang-orang didepannya sekarang"Lucifer, Roger, Rena, Hiro, Glenn, Lili, Osman, Miyoshi, Amryong dan Umryong."Ares menyebutkan nama mereka satu persatu, Air matanya mulai mengalir setiap kali dia mengingat kenangan-kenangan indah merasa mereka.


Mereka semua melihat Ares dengan heran dan khawatir, Roger yang sepertinya tidak tahan melihat Ares langsung membopongnya lalu berlari dengan cepat kebawah pohon, ares sama sekali tidak merasa heran dengan ini karena ini memang kebiasaan Roger. Teman-temannya yang lain menghampirinya yang duduk terdiam dibawah pohon.


dibawah pohon itu sudah diberi alas dan didepannya sudah terdapat banyak makanan yang menggugah selera, satu persatu teman-temannya duduk membentuk lingkaran tidak sempurna. Rena, gadis kecil itu terlihat sangat mengkhawatirkannya. dia tidak henti-hentinya menanyakan alasan dirinya menangis.


Begitupun teman-temannya yang lain, mereka semua bertanya dengan suara bergetar dan khawatir, bahkan terdapat beberapa orang temannya yang ikut meneteskan air mata. mereka semua terlihat sangat mengkhawatirkannya kondisinya sekarang.


Ares menatap secangkir teh hangat yang dituangkan salah satu temannya, dia mengambil teh hangat itu dan bayangan wajahnya bisa terlihat dicangkir teh tersebut.


wajahnya sekarang merupakan wajahnya dikehidupan sebelumnya, ini adalah wajah Zero. Ares mengusap air matanya dan tertegun sesaat, dia lalu melihat teman-temannya yang lain. mereka semua memperhatikannya dengan mata penuh kekhwatiran.


'Meski ini hanya sebuah Ilusi, aku ingin membuat ini menjadi sebuah kenangan yang tidak tergantikan'Batinnya.


mereka semua Tertegun melihat tingkahnya yang berubah tiba-tiba, Ares melihat teman-temannya yang lain yang sedang menatapnya heran"Kenapa? kalian tidak ikut makan? oh?! apa kalian ingin semua makanan ini aku habiskan semua?!."Ares menyeringai tajam.


Rena tertawa kecil sementara Teman-temannya terlihat kesal, urat-urat dikepala mereka mulai terlihat dan tangan mereka mengepal.


"SIALAN! percuma aku mengkhawatirkanmu tadi! kembali rasa khawatirku sialan!."Hiro kesal dan membanting sendok yang ia pegang, semua yang melihat hal itu juga kesal dan menghakimi Ares, namun tawa bahagianya membuat mereka juga ikut tertawa dan melupakan semua masalah yang ada.


mereka semua sibuk memperebutkan makanan yang ada didepan mereka, dan beberapa kali tertawa keras dan bercanda. Ares ikut tertawa dan bercanda dengan mereka lalu ikuti bermain-main dengan mereka, mereka semua asik mengobrol, tertawa dan bercanda seakan-akan dunia milik mereka.


Ares merasakan perasaan Bahagia, senang, sedih dan takut secara bersamaan, tapi Ares melepaskan semua ketakutan dan kesedihan dengan bermain, mengobrol dan tertawa dengan mereka. saat ini mereka terlihat seperti sebuah keluarga.


Rena secara tiba-tiba menarik satu persatu orang disana dan menyuruh mereka untuk berbaris rapi.


"Oy! rena kenapa kau? Aduh!!!...."Hiro yang sedang duduk diatas pohon sambil makan ditarik kakinya hingga terjatuh, "Rena? kenapa sih?."Roger yang sedang tidur juga ikut diseret.

__ADS_1


"Um? kenapa Rena- Adudududuh....."Lucifer yang sedang asik mancing dijambak rambutnya lalu diseret paksa kesana, begitupun yang lain. mereka disuruh berbaris rapi oleh Rena.


Glenn sempat memberontak dan menolak untuk berbaris, namun ia menyesali pilihannya karena dengan segera Rena memukulnya dengan palu raksasa yang entah dia dapat dari mana.


setelah mereka berbaris Rena berjalan sedikit kedepan lalu mengeluarkan sesuatu dari Tas mininya, itu adalah sebuah kamera berkualitas tinggi, dia menyetelnya lalu segera berlari kearah mereka.


ares sempat mempertanyakan Tindakan Rena namun ia lebih memilih untuk diam, mau Bagaimanapun ini adalah sebuah ilusi jadi semua itu tidak perlu dijelaskan.


"Berpose yang rapih!."


Mereka semua berpose rapih lalu kamera itu menangkap gambar mereka, gambar kedua gaya bebas dan seterusnya. mereka sibuk berfoto-foto ria, Tertawa dan bercanda bersama.


Ares ikut tertawa dan bercanda bersama mereka, dia tertawa kencang dan asik bercanda dengan mereka sampai pandangannya jatuh pada Rena yang Tersenyum padanya dan menggerakkan bibirnya seakan-akan sedang berbicara padanya, air matanya mengalir lagi dan pandangannya mulai kabur.


dia mencoba untuk menggapai teman-temannya namun saat itu dia tersadarkan, dia sudah keluar dari susunan Ilusi itu dan kembali Kedunia nyata.


"Jadi, begitu ya? aku kembali, itu semua hanya ilusi, hanya ilusi, Hahaha...hahah.."Dia menangis, perasaan takut, sedih, marah tercampur rata didalam hatinya. kakinya Terasa sangat lemas dan akhirnya jatuh lalu menangis dalam kondisi hampir berlutut.


dia merasakan dia menggenggam sesuatu, bukan sebuah gagang pedang. itu adalah beberapa lembar kertas yang jika dilihat sekilas berjumlah 7~10. Ares merasa heran karena dirinya merasa tidak pernah membawa kertas saat masuk sebelumnya.


Dia melihat sekilas kertas yang ada dibarisan paling depan dan matanya bergetar saat melihat kertas itu, itu adalah Foto dirinya bersama teman-temannya dan beberapa foto yang lain. Tangisan kesedihan tergantikan oleh sebuah Senyum cerah penuh kebahagiaan, di tersenyum bahagia karena sebuah tulisan Dibelakang foto tersebut.


dia mengusap matanya lalu bangkit dan berjalan lurus ke depan dengan penuh tekad, air matanya sudah mengering dan kesedihan sedikit menghilang, sekarang dia akan melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.


saat ares pergi menjauh, terdapat sebuah makhluk putih tranparans melihatnya sambil tersenyum tipis dan menghilang beberapa saat kemudian dan berkata"jangan pernah patah semangat Kakek."


*Isi tulisan yang dibelakang Foto yang Ares lihat.


*Jangan tangisi kami seakan-akan kami sudah pergi, kami selalu bersamamu didalam hatimu dan didalam memorimu, kami akan kekal abadi disana selama kau masih hidup dan selalu mengingat dan merindukan kami Zero.


Dari : Rena De Blume*.

__ADS_1


*******************************


__ADS_2