Assassin Terhebat Terjebak Di dunia Novel Sebagai Antagonis

Assassin Terhebat Terjebak Di dunia Novel Sebagai Antagonis
221.Nafsu Pembunuh Seorang Monster


__ADS_3

Aura pembunuh adalah energi spesial yang hampir bisa dimiliki semua makhluk hidup atau yang sudah mati, ini adalah sebuah energi yang mudah didapatkan di manapun tempatnya.


Hanya dengan membunuh makhluk hidup sebanyak-banyaknya maka seseorang bisa mendapatkan aura pembunuh, yang mana sangat membantu dalam pertarungan ataupun peperangan.


Meski terdengar mengiurkan perlu diketahui aura pembunuh adalah pedang bermata dua.


Semakin banyak aura pembunuh yang dikumpulkan seseorang, maka jiwa dan kemanusiaan akan terganggu dan berakhir menjadi orang gila yang senang membunuh ataupun monster haus darah.


Maka dari itu banyak orang berusaha untuk tidak membunuh dan menghilangkan aura pembunuh didalam tubuh mereka dengan teknik khusus.


Tapi terdapat beberapa makhluk yang enggan atau tidak mau menghilangkan aura pembunuh didalam tubuh, biasanya ini adalah mahkluk seperti iblis ataupun makhluk-makhluk keji lainnya yang pada dasarnya tidak memiliki kemanusiaan.


Ares adalah salah satu dari makhluk itu, karena sejak dulu dan setelah dia bereinkarnasi menjadi Ares. Dia tidak pernah menghilangkan aura pembunuh nya yang mana jumlahnya sangat banyak, karena Ares adalah seorang assassin yang telah membunuh jutaan bahkan puluhan juta orang dengan tangannya.


Normalnya orang yang memiliki aura pembunuh sebesar dan mengerikan Ares akan menjadi gila dan kehilangan kewarasannya, berubah menjadi orang gila atau juga monster haus darah.


Tapi bagaimana mungkin Ares menjadi orang gila sekaligus monster haus darah jika dirinya sendiri adalah orang gila dan monster haus darah itu sendiri.


Sepanjang Ares berada di Yggdrasil, dia tidak pernah mengeluarkan aura pembunuh sebanyak ini. Biasanya dia akan menggunakan aura pembunuh untuk menakuti monster-monster saat bermalam di hutan, agar tidak menyerangnya.


Tapi kali ini dia benar-benar melepaskan semua aura pembunuhnya, dibawah tekanan dari aura pembunuh mereka berbaring tidak berdaya dalam keadaan pingsan, tidak ada yang bisa bertahan di bawah aura pembunuh Ares selain tiga swormaster yang Zeke bawa.


Itupun mereka dalam kondisi kritis karena beberapa saat kemudian mereka mengalami kejang-kejang dengan tubuh pucat pasi dan akhirnya pingsan sama seperti yang lain.


Ares tersenyum puas dan menarik kembali aura pembunuhnya, "Inilah yang akan kalian dapatkan jika mengganggu waktu ku...." Ares tersenyum bengis lalu melirik kesamping dan menatap kearah sana, senyumannya semakin lama semakin melengkung membentuk senyuman lebar yang menggambarkan sosok seekor monster.


Utusan keluarga Lagrance yang melihat Ares seketika terdiam membisu, keringat dingin mengucur bersamaan dengan warna tubuhnya yang berubah pucat pasi. Mata tidak bisa lepas dari Ares yang menatapnya dari jauh.


Jarak antara Ares dan dirinya cukup jauh, tapi aura pembunuh yang Ares lepaskan barusan benar-benar membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa terdiam seperti seekor tikus saat berhadapan dengan seekor elang.


Tatapan mata Ares terasa benar-benar menusuk seakan bisa membunuhnya kapan saja, dia yakin jika dia bergerak sekarang maka dirinya tidak akan selamat.

__ADS_1


Dia bisa melihat dan membaca pergerakan bibir dari Ares, yang membuatnya semakin ketakutan.


Ares mendengus kesal, "Kau selamat kali ini, tapi tidak dengan selanjutnya." Senyum diwajahnya hilang dan dirinya pergi dari sana setelah menjarah harta benda milik Zeke dan bangsawan lainnya.


Utusan keluarga Lagrance tidak menunggu perintah dari Ares untuk pergi secepatnya dari sana, dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk pergi sejauh mungkin dari sana apapun caranya. Bahkan dia sampai lupa dia jika dirinya baru saja kencing di celana.


"Aku harus lari! Aku harus lari!! Aku harus lari!!!. Seperti rekaman yang rusak, dia terus mengulang dan mengulang perkataannya sambil terus memacu kakinya untuk bergerak lebih dan lebih cepat lagi.


Jenderal Nero pada saat yang sama berada disana hanya bisa terdiam membisu merasakan aura pembunuh yang Ares lepaskan, rasanya dia seperti berhadapan dengan beberapa demon king sekaligus.


"Ini tidak bisa dibiarkan, keluarga Dunkenheit telah melahirkan seekor monster yang akan menghancurkan kerajaan ini. Keluarga Dunkenheit harus benar-benar dihancurkan!!." Dengan keyakinan bahwa keluarga Dunkenheit akan menghancurkan kerajaan, jenderal Nero berniat untuk melaporkan hal ini pada Raja Petersburg.


Berharap Raja Petersburg bisa mengambil keputusan untuk benar-benar menghancurkan keluarga Dunkenheit, tanpa dia sadari perbuatannya akan menimbulkan perpecahan dikerajaan ini.


******


Setelah Ares kembali, dia menemukan Gerald, Richard dan Catherine bersiap untuk pergi dari istana. Karena sudah tidak memiliki kepentingan lagi disana.


Karena bagi mereka menghindari jamuan tidak terlalu penting, setidaknya mereka datang dan menunjukkan diri mereka disana sudah lebih dari cukup untuk mereka. Dan lagi berlama-lama disana tidak akan membuat keuntungan bagi mereka.


Maka dari itu daripada berlama-lama di sana lebih baik mereka pergi untuk mengerjakan sesuatu yang lebih baik daripada kumpul-kumpul gak jelas membicarakan sesuatu yang tidak penting.


Meski Ares bersikap acuh tak acuh, dia tidak merasa tertarik dengan topik pembicaraan yang dibicarakan para bangsawan atau raja. Maka dari dia memerintahkan dua klonnya untuk tetap berada di istana untuk mengumpulkan informasi disana.


"Ares, apa kau telah melakukan apa yang harus dilakukan?." Richard bertanya sambil tersenyum penuh makna, Ares menghela pelan dan mengangguk pelan.


"Ya, aku sudah melakukannya." Jawab Ares singkat.


"Itu bagus, jadi bagaimana tanggapan mereka?."


"Mereka bilang akan memikirkan terlebih dahulu, tapi melihat mereka memiliki hutang padaku, sepertinya mereka akan setuju."

__ADS_1


"Hoooh.... Bagus bagus. Untuk selanjutnya biar waktu yang menjawabnya." Gerald tersenyum puas, begitu juga dengan Richard dan Catherine.


Ares mendengus dan mengangguk setuju, sambil menggendong Max dan Aisyah yang tertidur pulas Ares menatap pemandangan di luar kereta sambil tersenyum tipis.


"Ares, sepertinya tamu-tamu sedang mengikuti kita. Apa kau tidak mau menyapanya terlebih dahulu?." Catherine tersenyum penuh makna.


Ares tertawa pelan, "Hahahha... Nenek, benar. Aku harus menyapa mereka terlebih dahulu sebelum pulang kerumah, takutnya mereka akan membuat masalah bagi kita nantinya." Sambil menyerahkan Max dan Aisyah pada Catherine, Ares memberikan instruksi pada kusir kereta kuda untuk menggunakan jalan memutar yang terdapat tempat sepi lalu menurunkannya disana.


Kusir kereta kuda menganggukkan dan mengikuti instruksi dari Ares untuk menggunakan jalan memutar, lalu setelahnya menurunkan Ares.


"Tuan Muda."


"Baik-baik aku turun." Ares tersenyum tipis, lalu melirik kearah Gerald, Richard dan Catherine yang tersenyum penuh makna padanya.


"Selesaikan ini dengan cepat agar kau tidak pulang."


"Baik, nenek. Kalau begitu aku titip Max dan Aisyah, aku pergi dulu." Sambil tersenyum cerah Ares turun dari kereta kuda, pintu kereta kuda tertutup dan pergi meninggalkannya bersama dengan orang-orang yang mengikutinya.


"Baiklah.... Bisa kita mulai sekarang?." Ares menarik kedua pedangnya, bersamaan dengan Night Armor of Disaster yang terpasang secara otomatis ditubuhnya.


Disaat yang bersamaan juga keenam orang muncul tidak jauh dari tempatnya berdiri, mereka adalah orang-orang yang dia lihat dan perhatikan saat berada di istana, para pembunuh World Disaster sebelum dirinya.


"Tuan Ares, bisakah kita berbicara terlebih dahulu-."


"[ World Changer ]." Ketika Ares menggunakan special ability miliknya, tempat mereka berpijak sebelumnya berganti dalam waktu sekejap mata.


Hutan belantara tempat mereka berpijak sebelumnya berubah menjadi tanah panas yang dipenuhi lava cair yang mengalir dibawah kaki mereka, perbedaan suhu jelas begitu terasa saat mereka berada disini.


Mereka melebarkan mata, melihat tempat mereka berubah menjadi seperti neraka yang menyala-nyala yang dipenuhi lava cair yang mengalir dibawah kaki mereka, mereka berenam tidak bisa berkata-kata melihat fenomena yang baru pertama kali mereka lihat.


"Apa-apaan ini-?!."

__ADS_1


"Baiklah.... Mari kita mulai pertarungannya. [ Gigantification ]!."


__ADS_2