Assassin Terhebat Terjebak Di dunia Novel Sebagai Antagonis

Assassin Terhebat Terjebak Di dunia Novel Sebagai Antagonis
210.Terusirnya Bangsa Hobbit


__ADS_3

"Hhmmmm.... Perlahan-lahan aku mulai merasa perasaan yang dirasakan ayahku dulu. Hahaha, apa ini yang dirasakan ayahanda dulu?."Raja Fritz tertawa pelan merasakan tubuh yang semakin melemah. Samar-samar dia juga bisa melihat kilas balik hidupnya dan semua dosa yang telah dia lakukan.


Hal ini membuatnya merasa seperti ayahnya sendiri dimasa lalu. Dia akhirnya benar-benar mengerti perasaan yang dirasakan ayahnya dulu saat dekat dengan kematian.


"Aku tidak bisa terus seperti ini, meski waktuku tidaklah banyak setidaknya aku bisa mengurus beberapa masalah."Tidak ingin waktunya terbuang sia-sia hanya untuk berbaring di ranjang. Raja Fritz memutuskan untuk bangkit dan mengurus semua kesalahannya sebagai seorang Raja untuk terakhir kalinya.


Dengan karisma yang kuat dia memerintahkan ketiga dewan kerajaan dan pejabat-pejabat penting untuk melakukan rapat darurat. Kali ini mereka harus benar-benar menemukan jalan keluar dalam masala kali ini atau mereka akan benar-benar menghadapi masalah yang jauh lebih besar.


Diluar dugaan rapat yang diperkirakan akan berjalan dengan lancar malah berjalan dengan alot. Rapat ini malah menjadi ajang debat para pejabat penting. Mereka tidak henti-hentinya memberikan ide-ide yang mungkin bisa menjadi jalan keluar.


Suasan yang memanas membuat kesabaran Raja Fritz habis dan dia melakukan hal yang tidak terduga.


Raja Fritz meremat senderan tangan kursi takhtanya hingga hancur"Cukup dengan omong kosong kalian!!! Aku memanggil kalian bukan untuk berdebat seperti ini!!!."Raja Fritz membentak para pejabat dan tiga dewan kerajaan. Wajah mereka seketika memucat dan tidak bisa berkata-kata.


Seakan Raja Fritz baru saja menyiram mereka dengan air es. Tidak ada satupun orang disana yang berani berbicara dihadapan tatapan mata Raja Fritz yang seakan-akan bisa menelan orang.


Raja Fritz melirik tiga dewan kerajaan yang ada disampingnya"Great Commander, Chief Magician of the Kingdom, Forgemaster. Apa kalian benar-benar tidak memikirkan jalan keluar permasalahan ini selama aku koma? Apa yang sebenarnya kalian lakukan selama ini sebenarnya?."Raja Fritz mendengus kesal memandang ketiga dewan kerajaan dengan kesal.


Mendengar ucapan dari Raja Fritz mereka ingin menjawab dan menjelaskannya. Tapi melihat tatapan Raja Fritz membuat ucapan mereka seakan tersangkut di tenggorokan.


Raja Fritz mengedarkan pandangan ke sekitar. Tiga dewan kerajaan maupun para pejabat-pejabat penting tidak satupun yang ingin berbicara, mereka berkeringat dingin tidak berani melihat Raja secara langsung. Seakan Raja Fritz adalah predator puncak disana.


"Yang Mulia, saya memiliki usulan yang mungkin bisa menjadi jalan keluar."Seorang pejabat memberanikan diri untuk mengutarakan usulannya. Tiga dewan kerajaan dan pejabat-pejabat penting lain menatap pejabat itu dengan penuh harap, mereka berharap usulan pejabat itu mungkin bisa menjadi jalan pembuka pembicaraan.


Raja Fritz tersenyum tipis dan mendengus senang. Dia lalu memerintahkan pejabat itu untuk mengutarakan usulannya. Baru saja dia memulai usulannya sebuah asbak rokok yang ada diatas meja terbang melewati kepala pejabat tersebut, asbak rokok itu hampir membuat kepala hampir melayang.


Dengan amarah yang memuncak Raja Fritz tidak henti-hentinya membentak dan memarahi Pejabat itu"Dasar tolol!! Apa maksudmu dengan mengusir mereka dapat menyelesaikan segala masalah?! Mereka adalah rakyatku!! Rakyat yang kucintai sama seperti yang lain!!!."Bentak Raja Fritz dengan suara keras.


Bagaimana ia tidak marah? Usulan dari pejabat itu merupakan usulan yang paling dia benci!! Pejabat-pejabat itu memberikan usulan untuk mengusir bangsa Hobbit dari kerajaan Erde's untuk menekan kekhwatiran penduduk akan pemberontakan dan berpikir bisa menyelesaikan masalah yang ada.


Usulan dari pejabat itu malah membuat Raja Fritz murka dan marah bukan main. Aura intimidasi seorang raja membuat semua yang ada disana sesak nafas dan berkeringat dingin, kini tidak ada satupun dari mereka yang berpikir untuk berbicara atau menenangkan Raja Fritz.


Dengan kondisi marah besar mereka hanya bisa menunggu amarahnya mereda lalu menenangkannya. Raja Fritz memijit keningnya dan menjatuhkannya dirinya kesenderan takhtanya.


"Benar-benar bodoh! Apa mereka berpikir semua dapat diselesaikan dengan mengusir bangsa Hobbit? Itu tidak mungkin!."Gumam Raja Fritz dengan kesal, dia memijit keningnya yang terasa sakit karena darahnya naik karena marah.


Raja Fritz menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafas selama beberapa kali sampai ia merasa tenang. Setelah merasa tenang dia membiarkan ketiga dewan kerajaan dulu untuk memberikan usulan yang mereka pikirkan.


Tapi itu yang menjadi masalah sekarang. Ketiga dewan kerajaan saat ini tidak memiliki usulan atau ide apapun yang dapat membantu menyelesaikan masalah mereka. Mereka memutar otak mereka dan mengobrak-abrik isi kepala mereka untuk menemukan sebuah ide.


Keringat mengucur dari kening mereka karena berpikir terlalu keras, dan dibawah tekanan Raja Fritz membuat mereka menjadi amat tertekan. Mereka menjadi kesulitan bernafas dan wajah mereka memucat.


Setelah beberapa saat berlalu Forgemaster pihak yang tidak diduga-duga mengangkat tangan dan memberikan usulan. Sontak saja Forgemaster menjadi fokus perhatian disana.


"Yang Mulia, mungkin ini akan menyakiti hati anda apa boleh saja lanjutkan?."Forgemaster memastikan agar dirinya tidak bernasib sama seperti pejabat sebelumnya. Raja Fritz mengangguk setuju dan setelahnya Forgemaster menjelaskan usulannya.


"Jadi, Yang Mulia...."Forgemaster secara rinci menjelaskan usulannya pada Raja melakukan dan yang lain. Mereka hanya diam mendengarkan penjelasan dari Forgemaster.


Suara halus dan lembut dari Forgemaster tentu membuat semua orang disana kebingungan, karena Forgemaster terkenal dengan suara kasar dan tinggi. Tapi sekarang Forgemaster seakan dirasuki oleh orang lain.


Tidak bisa dipungkiri usulan dari Forgemaster membuat Raja Fritz berpikir dua kali. Karena usulannya sangat cocok dengan situasi genting mereka sekarang.


"Apa kekurangan dari rencanamu ini? Pasti terdapat kekurangannya bukan."Raja Fritz memastikan terlebih dahulu kekurangan dari rencana ini, karena jika saja memiliki banyak kekurangan mereka bisa memperbaiki rencana Forgemaster dengan segera.


Forgemaster tersenyum masam menanggapi pertanyaan Raja Fritz. Rencana yang dia buat ini hanya memikirkan apa yang terlintas di otaknya tanpa memikirkan kekurangan, jadi bisa dikatakan pembuat rencana ini sendiri tidak tahu kekurangan dari rencananya.


Tapi tentu Forgemaster tidak bisa mengatakan sesuatu yang dia tidak tahu. Dia memutar otaknya dan berbicara selaras dengan pikirannya. Hasilnya penjelasan Forgemaster agak sulit untuk dicerna orang-orang yang mendengarnya.


Tapi mereka bisa memahami rasa gugup yang Forgemaster rasakan. Rasa gugup yang datang dari tatapan mata Raja Fritz yang begitu tajam.


"Jadi maksudmu rencana ini memiliki resiko yang jauh lebih besar, begitu?."Raja Fritz berbicara setelah mencerna sebagian dari penjelasan Forgemaster. Forgemaster tersenyum cerah dan mengangguk, "Benar, Yang Mulia. Seperti yang saya katakan barusan rencana ini memiliki banyak resiko, meski kecil resiko-resiko yang disebabkan rencana ini harus dicegah bagaimanapun caranya."Forgemaster berbicara dengan lancar seperti tidak ada masalah, tapi sebenarnya sekarang punggungnya basah karena keringat.


Raja Fritz mengangguk dan mengusap dagunya. Rencana yang diusulkan Forgemaster memang cocok dengan situasi mereka. Tapi karena banyaknya resiko yang ada membuat rencana ini memiliki resiko yang jauh lebih besar, bahkan bisa saja rencana ini malah akan berakhir naas.


"Hmmm... Kalau begitu bagaimana kita—!!!!."


Belum sempat Raja Fritz menyelesaikan ucapannya. Suara ledakan besar diikuti gelombang angin kencang menerpa mereka hingga menyebabkan segala macam objek yang ada diruang rapat berterbangan kemana dan pecahan-pecahan kaca jendela terpencar hampir kesemua tempat.


Beberapa mengenai para pejabat penting hingga menyebabkan luka yang cukup dalam. Sementara tiga dewan kerajaan dan Raja Fritz beruntung bisa beraksi sebelum terkena gelombang angin kencang.


Tapi telinga mereka masih terasa sakit setelah mendengar suara berfrekuensi tinggi yang merupakan suara dari ledakan besar tadi.


Dengan kuping yang masih berdenging Raja Fritz berusaha untuk berdiri"Ughh.... Apa yang sebenarnya terjadi? Apa-apaan ledakan itu?."Raja Fritz berjalan tertatih-tatih menghampiri jendela yang kini kacanya sepenuhnya hancur.


Diluar dia bisa melihat asap hitam pekat membumbung tinggi kelangit dengan tempat ledakan yang sekarang hancur berantakan. Tempat ledakan besar barusan berada cukup dekat dengan istana dan kalau dia tidak salah itu tempat yang sering terjadi bentrokan antara para hobbit dan para dwarf.


Tampak disana juga terdapat cukup banyak orang yang berdiri disekitar tempat terjadinya ledakan.


"Sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi?."


"Yang Mulia!! Kita harus pergi mencari tempat aman!!."Great Commander datang dengan membawa segerombolan prajurit, dibelakangnya terdapat Chief Magician of the Kingdom yang membawa beberapa mage dan priest.


"Ayo Yang Mulia, kita pergi dari sini."Great Commander mengajak Raja Fritz pergi dari sana dan Raja Fritz ikut bersama dengan Great Commander dan Chief Magician of the Kingdom. Dirinya dijaga dengan begitu ketat.


"Gunakan mantra pertahanan pada Yang Mulia!!."Seru Chief Magician of the Kingdom memerintahkan mage kerajaan. Mage kerajaan dengan sigap menggunakan mantra pertahanan pada Raja Fritz sembari membawanya ketempat aman.


"Great Commander mau kemana kita sebenarnya?!."


"Kita akan pergi menuju bunker kerajaan, karena disana satu-satunya tempat yang paling aman di istana."


Setelah itu mereka bergegas pergi menuju bunker kerajaan yang ada dibawah istana kerajaan. Letaknya cukup dalam dan memiliki ketahanan yang luar biasa, bisa dikatakan bunker kerajaan merupakan tempat paling selamat dan aman jika terjadi penyerangan. Karena bunker itu hampir tidak bisa ditembus dari luar maupun dalam.


***********************************

__ADS_1


Ares menghirup aroma dari udara di balkon kamarnya, sambil menikmati secangkir teh dia tersenyum penuh makna memandang kekacauan yang berada didekatnya"Aaahhhh... Berapa lama aku tidak mencium aroma ini? Aroma dari tubuh yang hancur dan terbakar, aroma dari daging anak-anak yang terbakar dan aroma dari kekacauan... Aaahhhh... Ini sungguh membuatku bernostalgia..."Ares tersenyum penuh kenikmatan dan menyeruput teh hitam ditangannya.


Meski kekacauan dan keributan berada didekatnya itu tidak membuat ketenangan dan kedamaian Ares terganggu. Malah sebaliknya, dia terlihat menikmati semua itu.


"Padahal aku hanya menggunakan sedikit chaos energy, tak disangka efeknya akan seluar biasa ini."Kata Ares setengah bergumam, dia dibuat kagum dengan chaos energy didalam tubuhnya.


Chaos Energy nergy didalam tubuhnya memiliki banyak efek jika diserap atau masuk kedalam tubuh seseorang yang bukan Chaos Human. Memerlukan banyak usaha dan level yang tinggi untuk bisa mengendalikan Chaos Energy jika masuk kedalam tubuh.


Karena jika sejumlah kecil Chaos Energy masuk kedalam tubuh seseorang maka kewarasan serta kemanusiaan orang tersebut akan terkikis sedikit demi sedikit dan akan selalu membuat kekacauan.


Dan jika seseorang terpapar Chaos Energy dalam jumlah yang cukup banyak hasilnya akan diluar dugaan. Kemanusiaan, kewarasan, dan segala macam perasaan akan lenyap seketika menyisakan niat untuk membuat kekacauan yang jauh lebih besar.


Karena efeknya mengerikan jika terpapar membuat Ares tidak terlalu sering menggunakan atau menunjukkan Chaos Energy. Karena dia khawatir jika sedikit saja Chaos Energy tidak dalam kendalinya maka sesuatu yang buruk akan terjadi.


Ares menggelengkan kepalanya menghilangkan segala pikiran yang tidak penting didalam kepalanya"Sudah waktunya bagi ku untuk beraksi."Ares bangkit dari kursinya dan memandang ketiga bawahannya dengan lekat.


"Kalian bebas melakukan apapun sekarang, tapi berjalanlah sesuai rencana."


"Baik, Tuan."Setelah memberi arahan mereka bertiga menghilang begitu saja dari hadapannya. Dan Ares berdiri disana menatap kekacauan yang dibuatnya.


"Mungkin ini agak sedikit berlebihan, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali."Setelah berkata demikian Ares pergi keluar dari kamarnya. Tampak begitu banyak Ksatria dan pelayan yang berlari kesana-kemari di koridor istana.


"Tuan Ares? Kenapa anda keluar? Tolong masuk kembali, karena saat ini ada kekacauan didekat istana dan tidak aman bagi anda untuk keluar kamar."Salah satu Ksatria penjaga memberi penjelasan pendek pada Ares.


Ares tersenyum dan mendengus pelan"Menurutmu apa aku terlihat seperti orang yang butuh perlindungan?."Ujar Ares percaya diri. Ksatria itu baru menyadari sesuatu jika orang dihadapannya jauh lebih kuat darinya.


Tapi sebagai seorang ksatria yang ditempatkan untuk menjaga keamanan Ares sudah sepatutnya dia melakukan hal ini.


"Meski begitu—."


"Tidak perlu khawatirkan aku. Melakukannya hanya akan melukai harga diriku jadi diam saja, ya?."Ares tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak ksatria itu. ksatria itu ingin berbicara pada Ares dan melarangnya tapi seakan ucapannya tersangkut di tenggorokan dan dia memilih untuk diam.


Ares tersenyum puas lalu pergi dari sana meninggalkan kamarnya. Berselang lama dia berjalan suara dari kekacauan terdengar.


Umpatan-umpatan saling mereka lemparkan untuk mencela satu sama lain, diikuti oleh serangan yang tidak henti-hentinya.


Para ksatria kerajaan turun langsung untuk meredakan bentrokan, tapi malah mereka yang terjebak ditengah-tengah bentrokan antar bangsa. Mereka terjebak dan diserang dari depan maupun belakang.


"Kau ini memang penuh licik dari iblis ya? Bisa-bisanya kau membuat kekacauan separah ini."Long Yuan mendengus kesal sambil menatap kekacauan yang berada tidak jauh darinya. Ares orang yang membuat kekacauan ini hanya tertawa pelan dan terlihat mengawasi saja.


"Meski kau mau berkata aku iblis atau apapun aku tidak perduli. Karena aku adalah orang yang akan melakukan apapun untuk keuntungan ku sendiri, jadi jangan marah ya."Ares tersenyum lembut dan tertawa pelan. Long Yuan mengerutkan dahinya melihat sikap Ares yang lebih mirip iblis ketimbang manusia, tidak bahkan dia jauh lebih buruk dari Iblis.


"Apa kau ini manusia?."Tanya Long Yuan dengan sinis. Sikap, pola pikir dan kelicikannya diatas manusia rata-rata. Selama hidupnya dia tidak pernah melihat orang seperti Ares, tidak. dia pernah bertemu orang seperti Ares meski ia tidak yakin orang itu masih hidup apa tidak.


Ares tertegun dan tersenyum penuh makna"Siapa yang tahu?."Jawab Ares singkat. Jawaban singkat yang Ares berikan membuat mata Long Yuan memicing"Lakukan sesuka, aku tidak akan melarangmu tapi ingatlah jangan kelewat batas."Long Yuan menyerah menghadapi orang seperti Ares, dia memutuskan untuk tidak menghalanginya meski memberikan peringatan.


Ares mendengus dan mengangguk pelan, setelah itu Long Yuan masuk kedalam pedangny–Andromeda.


"Baiklah mari kita lihat sejauh mana kekacauan ini akan menjalar."Ujar Ares lirih dan menghilang dari tempatnya berdiri.


Dengan kecepatan penuhnya Amelia berlari kearah tempat bentrokan sekaligus tempat ledakan besar terjadi sebelumnya. Dari jauh dia bisa mendengar suara-suara keributan dan aroma-aroma hangus.


"Bau ini jangan!!."Amelia merasa sesuatu yang buruk sedang terjadi. Dia mempercepat langkahnya menuju tempat tujuannya.


Mata melebar dan mulutnya menganga melihat kekacauan didepan matanya. Para Dwarf maupun Hobbit tidak henti-hentinya melemparkan berbagai macam objek mulai dari yang besar sampai yang kecil.


Kursi, meja, batu besar, kayu gelonggongan dan masih banyak lagi mereka lemparkan untuk menyerang satu sama lain. Banyak orang yang terluka dan tempat bentrokan ini hanya dipisahkan oleh kepulan asap tebal dan api dari ledakan besar sebelumnya.


Didaerah dekat ledakan dia bisa melihat terdapat potongan-potongan dengan jeroan yang terinjak-injak para Dwarf maupun Hobbit.


Mereka seakan-akan tidak mempedulikan potongan tubuh yang mereka injak, bahkan mereka menggunakan potongan-potongan tubuh dan jeroan ditanah untuk dilemparkan.


"Apa-apaan semua ini!!! Hentikan semuanya!!!.*Amelia meraung keras mencoba menghentikan bentrokan ini. Tapi dia sama sekali tidak didengarkan seakan-akan telinga semua orang tersumbat sesuatu.


Ini tidak bisa terus seperti ini!! Aku harus menghentikannya!!."Dengan tekad yang kuat Amelia menerobos kerumunan Hobbit didepannya dan menuju barisan paling depan.


Dia mencoba untuk memukul mundur para Hobbit tapi usahanya sia-sia. Dia kalah jumlah dan kekuatan untuk memukul mundur mereka semua, malah dirinyalah yang diserang oleh bebatuan.


Menggunakan Mana yang dibentuk menjadi pelindung dia bertahan dari semua gempuran bebatuan yang terlempar kearahnya.


"Kenapa mereka begitu Beringas?! Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka hingga menjadi seperti ini? Aku yakin ada seseorang dibalik semua ini!."Amelia merasa sebuah keganjilan dari semua peristiwa ini.


Para Hobbit dan Dwarf memang baru-baru ini bermusuhan tapi tidak tidak pernah sampai pada titik ini. Mereka yang ada disini menyerang seakan-akan dikendalikan sesuatu tapi mereka sendiri sadar dan membenarkan apa yang mereka perbuat.


Disaat Amelia memikirkan jalan keluar dari semua permasalahan ini sebuah suara memecah kekacauan.


"Berhenti!!."


Dari atas sosok pemuda berseru keras menghentikan bentrokan antara bangsa. Pemuda ini berdiri ditengah-tengah kedua kelompok itu dan dari matanya terpancar kemarahan.


"Tuan Ares?."


"Tuan Ares?."


"Kenapa Tuan Ares ada disini?."


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?."


Mereka semua tampak enggan untuk menyerang kembali begitu melihat sosok Ares. Pancaran mata yang berisi kemarahan membuat bulu kuduk orang yang melihatnya berdiri, mereka semua memucat dan menjatuhkan benda-benda yang mereka pegang.


Pada titik itu bentrokan berhenti karena tatapan mata kemarahan dari seorang pemuda. Ares tersenyum puas dan mengangguk pelan.


"Kalau begitu sekarang semuanya akan ku serahkan pada anda."Ares menatap Great Commander yang keluar dari istana kerajaan sambil membawa sekelompok prajurit.

__ADS_1


Great Commander mengangguk setuju mengisyaratkan jika ia akan menangani masalah ini. Setelah itu semua yang terlibat dalam bentrokan ini ditangkap dan semua bisa kembali seperti sedia kala.


Tapi itu hanya sementara karena—


"Tuan Ares!! Tuan Ares!!! Ini buruk!! Ini buruk!!!."Great Commander berlari sambil berteriak-teriak tidak jelas. Wajahnya pucat dan tubuhnya penuh keringat, matanya memancarkan rasa takut yang entah rasa takut pada apa.


"Apa?! Apa yang terjadi?."


"Yang Mulia....!!! Yang Mulia jatuh pingsan...!!!."


"Apa?!."Ares bergerak dengan sangat cepat tanpa semua orang sadari. Dia berlari dengan kecepatan penuh ketempat Raja Fritz berada dan benar saja.


Raja Fritz terbaring lemah di ranjangnya dengan tubuh pucat pasi dan nafas tidak beraturan. Keringat mengucur membasahi bajunya dan suhu tubuhnya turun ketitik terendah.


"Tuan Ares!! Tolong Yang Mulia, dia seperti ini karena diserang seorang Hobbit yang menyusup masuk keistana!!."Chief Magician of the Kingdom menjelaskan secara ringkas dengan terbata-bata, tampak dia juga telah menghabiskan MP-nya untuk mempertahankan nyawa Raja Fritz.


"Baiklah, kalian tunggu diluar terlebih dahulu. Aku perlu fokus sekarang."Setelahnya semua orang yang ada didalam kamar keluar dan menunggu diluar, yang menyisakan Raja Fritz dan Ares seorang.


Ares mendekat dan mengecek denyut nadi serta aliran energi didalam tubuhnya, Ares mengerutkan dahinya dan menggelengkan kepalanya"Kacau ini benar-benar kacau. Aliran energi didalam tubuhnya benar-benar rusak dan luka dalamnya menjadi lebih parah, sudah keajaiban dia bisa bertahan sampai saat ini."


Kondisi Raja Fritz kali ini benar-benar jauh lebih buruk dari pertama kali ia jatuh koma. Aliran energi didalam tubuhnya sangat kacau dan luka dalam yang pada awalnya sedikit membaik sekarang menjadi lebih parah karena kacaunya aliran energi didalam tubuh.


"Kau tidak boleh mati sekarang, ada banyak hal yang harus kau lakukan..."Ares secara perlahan mengalirkan Energi kehidupan kedalam tubuh Raja Fritz. Energi kehidupan ini jugalah yang menjadi kunci Raja Fritz bisa bertahan sampai saat ini.


Ares menggunakan ketrampilan dari Yggdrasil Ring dijarinya untuk mentransfer energi kehidupan. Sebenarnya hampir mustahil bagi seseorang melakukan transfer energi kehidupan, karena energi kehidupan merupakan akar dari segala energi yang ada Diyggdrasil, membuat transfer energi kehidupan hampir dikatakan mustahil.


Hanya orang yang mencapai ranah GrandMaster atau berlevel tinggi atau juga entitas seperti para dewa, monarch dan para true dragon lord yang bisa melakukan hal seperti ini.


Satu-satunya alasan Ares bisa melakukannya adalah karena ketrampilan dari Yggdrasil Ring yang ada jarinya yang memiliki ketrampilan mentransfer energi kehidupan. Jika bukan karena cincin ini mustahil bagi Ares melakukan hal seperti ini.


Dalam waktu sekejap energi kehidupan yang ditransfernya meningkat beberapa kali lipat, tapi itu sepadan dengan efeknya. perlahan-lahan kondisi tubuh Raja Fritz mulai membaik dan Ares menghentikan transfer energi kehidupan.


"Jumlah energi kehidupan yang ku transfer kali ini dua puluh kali lipat dari jumlah sebelumnya. Ini benar-benar sangat banyak sekali, entah berapa banyak tanaman yang kukorbankan untuk digunakan."Kata Ares pelan.


Semua energi kehidupan yang dia gunakan untuk Raja Fritz berasal dari tanaman yang ada dihutan. Ares menyerap energi kehidupan dari tanaman-tanaman yang ada dihutan untuk dijadikan tumbal untuk menyelamatkan nyawa Raja Fritz.


Cara ini juga telah dia sejak dia mentransfer energi kehidupan pertama kali pada Raja Fritz. Jujur saja Ares merasa bersalah karena mengorbankan banyak sekali tanaman-tanaman yang ada dihutan.


Entah bagaimana kondisi hutan-hutannya yang pasti itu mungkin sekarang tempat itu menjadi hutan mati.


"Aaahhh... Sudahlah untuk apa kupikirkan, lagipula mereka ini yang menawarkan diri untuk dikorban."Ares mengangkat bahunya dan mengusir rasa bersalahnya.


"Meski begitu sampai kapan dia akan bertahan hidup? Satu jam? Atau satu hari kedepan?."Kata Ares memandang Raja Fritz yang terbaring lemah.


Sebenarnya dia juga tidak bisa menebak sampai mana batasan waktu Raja Fritz. Karena Raja Fritz dalam kondisi yang sangat lemah dan tidak pasti, dia bisa saja mati saat ini atau hidup sampai beberapa jam kedepan atau mungkin beberapa hari kedepan. Tapi yang terakhir mustahil terjadi karena luka Raja Fritz sudah sangat parah.


Ares hanya bisa menebak-nebak berapa lama waktu Raja Fritz yang masih tersisa. Saat dia larut dalam dunianya Raja Fritz sadar dari tidurnya.


Dengan mata tidak fokus dia memandang sosok Ares yang terlihat buram dimatanya"Tuan Ares? Apa itu kau?."Tanya Raja Fritz dengan lirih sambil berusaha menyenderkan tubuhnya kesandaran ranjangnya.


"Ya, Yang Mulia ini saya."


"Jadi itu kau ya hahahaha.... Tepat sekali ada yang ini aku bicarakan padamu diwaktu yang tidak banyak ini."Dalam kondisi sekarat Raja Fritz masih bisa tersenyum dan tertawa kecil.


Ares sedikit kagum dengan keinginan bertahan hidup Raja Fritz. Dia mendengus dan tersenyum"Apa yang ingin anda bicarakan pada saya? Apa saya perlu memanggil orang-orang yang ada diluar?."Kata Ares memandang pintu kamar yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Raja Fritz menggelengkan kepalanya pelan"Itu tidak perlu karena sekarang ada yang harus kau bicarakan denganmu."


"Dengan saya? Apa ini soal perkataan anda kemarin?."


"Kau cepat tanggap ya Tuan Ares. Benar, ini memang soal yang kemarin. Bagaimana? Apa kau menyetujuinya?."


Ares menghela nafas panjang"Yang Mulia tunggalah disini aku akan memanggil orang-orang yang ada diluar. Mereka pasti mengkhawatirkan anda sekarang."Ares memutuskan untuk menyudahi pembicaraan yang akan berakhir panjang.


Ketika Ares hendak pergi untuk membuka pintu tangannya ditahan oleh Raja Fritz"Tuan Ares. Aku—."


"Aaahhhh.... Baiklah baiklah. Aku menyetujuinya."Kata Ares dengan nada terpaksa. Meski terdengar seperti suara paksaan Raja Fritz tetap senang mendengarnya, dia tahu jika Ares hanya malu-malu kucing untuk menerima tawarannya.


"Baiklah jika seperti itu. Karena sekarang aku tinggal mendiskusikannya dengan pejabat-pejabat istana dan ketiga dewan kerajaan. Terimakasih Tuan Ares atas kemurahan hati anda."


"Aaahh... Itu tidak apa-apa. Lagipula wilayah Utara memang sangat luas jadi tidak masalah jika bangsa Hobbit tinggal disana. Tapi apakah memang bangsa Hobbit mau tinggal bersama diutara?."Tanya Ares dengan ragu.


Raja Fritz tersenyum penuh makna"Untuk hal itu anda tidak perlu terlalu khawatir, karena aku yang akan mengurus semuanya."Kata Raja Fritz pelan dengan tersenyum penuh makna. Ares hanya mengangguk pelan dan membukakan pintu.


Diluar dia menemukan Chief Magician of the kingdom dan Forgemaster bersama dengan beberapa pejabat-pejabat penting. Mereka semua tertegun begitu melihat Ares membuka pintu kamar Raja Fritz.


"Tuan Ares! Bagaimana kondisi Raja Fritz?!."Yang pertama berbicara adalah Forgemaster. Dia bertanya dan memegang pundak Ares.


Matanya dan mata Forgemaster bertemu dan setelahnya dia menghela nafas panjang, "Yang Mulia baik-baik saja. Tapi—."


"Tapi apa?!."


"Tapi aku tidak tahu sampai berapa lama Yang Mulia bisa bertahan. Jadi jangan sia-siakan waktu singkat ini."Kata Ares dengan senyum pahit. Jantung semua orang seakan-akan berhenti mendengar jawaban yang Ares berikan.


Tidak ada yang tidak terdiam membisu mendengar jawaban Ares. Mereka semua menoleh kearah satu sama lain dan menganggukkan kepala.


"Kalau begitu kami akan masuk kedalam. Ada sesuatu penting yang harus kami bicarakan pada Yang Mulia."


"Ya, masuklah. Tapi usahakan jangan sampai membuat suasana menjadi panas, karena itu malah akan membuat waktu Raja Fritz semakin berkurang. Dan jika terjadi sesuatu pada Raja Fritz laporkan padaku."


"Baik Tuan Ares, saya akan mengingatnya."


Rombongan kecil Dwarf masuk kedalam kamar Raja Fritz. Rombongan kecil itu dipimpin oleh Chief Magician of the kingdom dan Forgemaster diikuti oleh beberapa pejabat-pejabat penting.

__ADS_1


Setelah perdebatan kecil terjadi besoknya terdengar berita Bangsa Hobbit diusir dari kerajaan Erde's.


__ADS_2