
"Ini sedikit dilluar dugaanku."Ucap Ares sambil memperhatikan Medan Pertempuran dari atas pohon. Ares sebenernya sudah berada disini cukup lama namun dirinya enggan membantu karena ia Khawatir Ia akan ketahuan.
Meski ia tahu Skill Perfect Stealth memiliki peluang terdeteksi amat rendah namun lebih baik sedia payung sebelum hujan, Ares sebelumnya berada dirumah namun karena bosan ia pergi kemari dan malah keasikan nonton.
Ares sendiri menyayangkan ia tidak membawa camilan sebelum kesinil, Ares sendiri berada Didaerah barat tempat Guild Temple of Truth berada, Selama disini Ares hanya memperhatikan Gandhi yang sibuk bertarung dengan pasukan Undead digaris Terdepan.
Ares juga mencatat Dikepalanya tentang serangan-serangan yang dikeluarkan Gandhi karena dengan informasi ini setidaknya dirinya tahu sedikit kelemahannya.
Gandhi biasa bertarung menggunakan tangan kosong dan setiap pukulan yang dia lepaskan mampu membuat barisan Undead Tiamat terbang kemana-mana, Ia juga beberapa kali menggunakan Telapak tangannya untuk menahan Serangan dan yang paling membuat terkejut adalah Kekerasan tubuhnya yang mampu menahan Tebasan pedang beberapa kali tanpa terluka.
Ares berspekulasi jika kemampuan dia murni dari Fisik Tanpa mengandalkan Magic sama sekali, Karena jika ia menggunakan magic Ares akan langsung mengetahui namun dibeberapa kesempatan Ares tidak pernah melihat dia menggunakan magic Pertahanan.
"Ya pada dasarnya dia adalah Seorang Biksu wajar dia memiliki kemampuan seperti itu, Dibumi saja terdapat Biksu yang memiliki kemampuan Fisik tidak biasa, Siapa namanya ya? ah lupakan."Gumam Ares sambil memperhatikan Medan pertempuran.
meski banyak nyawa yang melayang disini Ares masih bisa bersikap tenang karena Ia sendiri hampir Setiap hari dihadapkan situasi seperti ini, Jika ini didunia ini terdapat Senapan mesin atau Semacamnya Ares bisa dipastikan akan meluncur paling dulu.
Semua pasukan Hunter Dibuat kewalahan dengan jumlah pasukan Undead Tiamat yang seperti tiada habisnya, Mereka semua telah melakukan perlawanan selama beberapa jam namun seperti Tiada perubahan sama sekali.
Malahan mereka merasa pasukan Undead Tiamat menjadi lebih banyak setiap kali mereka menyerang. Gandhi pun juga memiliki pemikiran yang sama namun ia lebih berpikir positif dari mereka, Dia banyak membantu Hunter-hunter terluka untuk diobati dan itu diikuti anggota Guildnya yang lain.
Gandhi mengelap keringatnya yang bercucuran, Didepannya Terdapat Ribuan Undead Tiamat yang siap untuk menyerang, Gandhi mengepalkan tangannya dan melesat kearah mereka, dia melepaskan pukulan yang membuat banyak dari mereka mati dalam satu pukulan.
Ia tidak berhenti sampai disitu, Ia menerobos barisan pertahanan Pasukan Undead Tiamat menggunakan kekuatan Pukulannya yang membuat Banyak Undead berterbangan karena Pukulannya.
ia masih bersikap tenang meski dikepung banyak Undead-Undead, Dia melakukan gerakan berputar yang lama kelamaan menjadi lebih cepat dan menjadi sebuah Pelindung yang bisa menyerang.
Gandhi terus melawan pasukan Undead Tiamat meski ia tahu ia berada dibarisan paling depan, Tempat paling berbahaya, Gandhi menatap tajam Jauh kearah belakang pasukan Undead Tiamat.
Dia bisa melihat Ratusan Death Knight sedang berjalan kemari dan tinggal menunggu waktu mereka sampai kesini. Gandhi Memasang kuda-kuda dan Aliran Mana dalam dirinya makin lama makin kuat.
Disaat yang bersamaan ratusan Death Knight sudah berbaris untuk menyerang dan mereka berlari kearah pasukan Hunter yang sedang bertempur. Gandhi yang pada saat itu ada didepan mereka melepaskan Skillnya.
__ADS_1
"Shaolin Blast!."
Sebuah Telapak tangan amat besar Menembus dan menghancurkan Death Knight hingga jumlahnya berkurang setengah, Telapak tangan itu tidak berhenti dan terus menembus dan menghancurkan Undead-Undead yang ia lewati sampai akhirnya berhenti dan akhirnya menciptakan ledakan besar.
Ledakan itu membuat Undead-Undead dibarisan belakang mati, Gandhi yang napasnya sudah terputus-putus Memutuskan untuk beristirahat sejenak dibarak dekat sana.
Ia sendiri bisa menilai Pasukan Hunter bisa mengalahkan Seluruh Undead yang ada disini, Gandhi berjalan sempoyongan dengan nafas terputus-putus dan wajahnya terlihat agak pucat, Ia lalu duduk disalah satu pohon dan memutuskan untuk bermeditasi sana.
Ares duduk di atas dahan pohon tempat Gandhi bermeditasi, Ia melakukan itu dengan cepat dan tak bersuara, ia lalu memperhatikan Gandhi.
"aku tidak tahu siapa kau tapi tolong jangan bunuh siapapun."Ucap Gandhi dengan mata tertutup.
Ares dibuat jantungan dengan perkataan Gandhi lalu tertawa kecil, Ares mengubah Suaranya lalu berbicara.
"Hoh? Kau bisa melihat ku? Seperti yang diharapkan dari Great Monk Temple of Truth, kau bisa merasakanki bahkan yang tidak bisa dirasakan Ketua Guild lain, Hebat-hebat."Ares bertepuk tangan kecil.
'Orang Tua?'
Ares lalu mengambil sesuatu dari storage Box lalu meletakkannya didepannya Gandhi, Itu adalah Potion berwarna putih yang mengeluarkan Aura Suci.
"Minumlah Potion itu, Potion ini bisa menyembuhkan 60%HP dan MP, Potion ini juga memiliki efek Regenerasi HP dan MP selama sehari."Ucap Ares.
Gandhi membuka matanya lalu memperhatikan Potion itu"Apa boleh saya meminumnya?."Ucapnya sambil memandangi sekitarannya. Ia terlihat mencari-cari Sosok Ares.
"aku memberikan Potion itu memang untuk diminum, Minumlah."Ucap Ares.
"Baik saya minum Senior dan terimakasih."Gandhi menundukan kepalanya dalam-dalam. Dia membuka tutup botol Potion lalu Meminumnya hingga habis, Tidak ada keraguan jika Potion itu diracuni, ini membuat Nilai Gandhi dimatanya naik.
"Apa kau tidak takut diracuni sampai mati?."Ucap Ares sambil tertawa kecil.
Gandhi tersenyum menanggapi perkataannya"Jika anda ingin Membunuh saya maka anda seharusnya melakukan sejak Dulukan, Senior?."Ucap Gandhi sambil duduk bersender dibawah pohon.
__ADS_1
Ares menaikkan satu alisnya"Hahahahahaha........ Kau menarik biksu muda, Jarang-jarang ada orang yang berani berkata seperti itu padaku Hahahah......"Ucap Ares sambil tertawa keras.
Gandhi tersenyum, didalam hatinya ia bersyukur dan berterimakasih atas latihan seperti neraka yang gurunya berikan padanya, Ini membuat bisa sedikit merasakan kehadiran orang yang dia ajak bicara meski ia tidak tahu dimana pasti letakanya namun ini lebih baik dari pada tidak sama sekali.
"Senior Apa boleh saya bertanya?."Gandhi menelan ludah ketika ia berkata seperti itu.
"Bertanya? Tanyakan saja."
Gandhi menghela nafas lega mendengar jawaban itu"Apa senior akan ikut membantu saat kami melawan Tiamat nanti?."Ucapnya Ragu.
Ares mengerutkan keningnya"Tidak, aku tidak akan bisa membantu, Aku sudah terlalu Tua untuk hal itu, Namun, Jika situasinya menjadi lebih buruk, Mungkin aku akan membantu kalian."Ucap Ares santai.
Gandhi merasa lega setidaknya Senior yang dia ajak bicara memiliki kemungkinan untuk membantu, walaupun ia bilang mungkin sih.
"Terimakasih senior."
"Terimakasih untuk apa?.
"Terimakasih karena sudah menjawab pertanyaan Junior seperti saya."
Ares tertawa kecil"Ya sama-sama, Dan sampai jumpa, Jangan sampai mati."Ucap Ares.
Gandhi kaget dan buru-buru memberikan hormat Kepohon tempat empat dia bersender"Terimakasih Senior atas bantuannya! Hal ini akan saya kenang sampai mati dan akan menjadi hutang Budi saya pada anda! Terimakasih!."Ucapnya sambil memberikan hormat tertinggi.
"Jaga dirimu biksu muda."Suara Ares menghilang bersama terpaan angin.
"Baik!."Ucapnya lantang dan tegas.
Gandhi bisa merasakan Aura keberadaan seniornya mulai menghilang dari sana, Gandhi duduk lalu memandangi langit, ia lalu tersenyum"Tolong jaga diri anda Senior."Suara itu diucapkan dengan penuh rasa hormat.
sementara Ares sedang duduk diatas pohon menontoni orang-orang sedang berperang"HAASSSHIUUUU...... Hhmm..... sepertinya ada merindukanku."Ucapnya sambil
__ADS_1