
Lissa Alvesan Libarte, anak haram Raja Petersburg Alvaro Negredo yang merupakan Penguasa Kerajaan Gottlich, Ibunya hanyalah Seorang pembantu yang diperkosa oleh raja lalu lahirlah dirinya.
Memiliki Mata yang sama seperti Keluarga kerajaan Membuat Lissa menjadi bahan Bullying didaerah istana kerajaan, Dia tidak memiliki apapun kecuali ibunya yang sakit-sakitan.
Dia dan ibunya tinggal disebuah rumah tidak jauh dari istana kerajaan, rumah itu adalah pemberian dari raja karena kasihan melihat mereka berdua tapi niat sebenarnya sang raja adalah agar semua aktifitas Lissa dan ibunya terpantau.
Bagaimanapun Lissa memiliki darah Keluarga kerajaan yang membuatnya mungkin naik takhta atau menjadi ratu, Maka dari itu raja selalu menyuruh para pelayan untuk menganggu Lissa dan ibunya agar mereka perlahan-lahan bisa mati.
Ibunya sendiri mengidap penyakit yang hampir tidak bisa disembuhkan yang membuat mental Lissa menjadi Turun, entah kenapa dia merasa hanya ingin mati saja bersama ibunya.
disaat-saat dia sedang bersedih karena nasibnya yang tragis, Tiba-tiba Sesosok Pria tampan bermata Merah berambut panjang dengan badan tinggi besar menyapanya dan mengajaknya mengobrol hingga akhirnya bermain bersama.
Jantungnya selalu berdebar kencang saat bermain dengan Dia, pipinya selalu bersemu merah saat mereka bersama dan pada saat itu Lissa menyadari jika ia sudah jatuh cinta dengan Ares.
setiap malam ia selalu terbayang wajah Ares, Pikirannya penuh dengan Ares yang selalu tersenyum lembut padanya. Lissa akhirnya memutuskan untuk menunggu Kedatangan Ares ditaman tempat mereka pertama kali bertemu.
Namun hal yang tidak dia duga terjadi.
***************
"Uuhhhhh...... Kenapa aku harus pergi Kerajaan ini sih? Merekakan Hanya manusia-manusia Rendahan, Beraninya mereka menatapku dengan mata seperti itu?."Ucap seorang pemuda.
pemuda itu adalah Pangeran kedua dari Kerajaan Xenia yang merupakan Kerajaan Yang ada ditengah hutan, mereka adalah Ras yang dikenal sebagai Elf yang selalu memandang rendah Ras lain selain mereka.
Dan pemuda ini adalah Pangeran kedua dari Kerajaan Xenia, dia dikenal sebagai seorang Angkuh dan sangat suka bermain-main dengan wanita, nama dia adalah Isac Khuntoria Albarte.
Dan yang disampingnya merupakan pengawalnya Deza. Mereka berjalan di koridor istana lalu Isac berhenti saat melihat seorang wanita cantik sedang duduk dibawah pohon.
"Siapa itu?."Tanya Isac.
Pengawalnya memperhatikan wanita yang Isac perhatikan lalu menggelengkan kepalanya"Maaf Tuan saya tidak tahu Siapa dia, namun melihat dari bajunya yang lusuh bisa dipastikan dia adalah pelayan atau rakyat jelata yang tidak sengaja masuk ketaman."Jawab Pengawalnya.
Isac menjilar bibirnya sambil mengusap dagunya"Rakyat jelata ya?."Isac berjalan kearah wanita itu, Dia berjalan dan akhirnya sampai di depannya.
"Lady Boleh saya tahu siapa nama anda?."Ucap Isac dengan nada lemah lembut.
Lissa hanya memasang wajah datar lalu pergi dari sana, isac terdiam Seribu bahasa melihat ketampanannya tidak bekerja didepan wanita itu.
"Apa-apaan ini? Dasar wanita sombong!."Isac menjentikkan jarinya, seketika sebuah penghalang tranparans menutupi Area Disekitar mereka.
Lissa menjadi panik begitu mengetahui terdapat sebuah penghalang disini, Dia melihat Isac sekali lagi dan melihat Elf sinting itu sudah menjilati bibirnya.
"Kau! Apa kau tau dimana ini?."Lissa menatap tajam Isac yang mau berjalan kearahnya.
Isac mengerutkan keningnya lalu melesat dan menampar Lissa hingga tersungkur, Dia lalu menjambak rambutnya lalu menatap matanya tajam.
"Dasar perempuan sok jual mahal, Berani sekali kau begitu padaku, aaahh... tapi tenang saja, Nanti Seberapa keraspun kau berteriak tidak akan ada yang menolongmu."Dia menjilati bibirnya lalu mulai merobek baju Lissa.
"pangeran kita harus cepat menyelesaikan Hal ini karena saya punya firasat buruk tentang ini."Ucapnya pengawalnya sambil membalikkan badannya.
Isac sama sekali tidak menggubris perkataan Pengawalnya dan terus merobek pakaian Lissa satu persatu satu. Lissa mengeluarkan semua kekuatan yang dia punya untuk lepas dari cengkraman Isac.
__ADS_1
Dia menendang, meninju. Isac namun itu malah membuat Isac semakin Gila, Isac lalu menyuruh pengawalnya untuk Memegangi kedua tangan Lissa yang membuatnya tidak bisa memberontak.
"Tenang saja wanita murahan, sebentar lagi kau akan menikmati sesuatu yang tiada Tara."Isac sudah mencopot celananya dan Lissa hanya bisa menangis.
"ARES TOLONG!!!!!....."Lissa berteriak sekeras yang ia bisa.
"hahahaha.... Seberapa keraspun kau berteriak tidak akan ada yang mendengar."isac tersenyum mengejek.
"Oh ya? Kalau begitu kenapa aku bisa masuk?."Ares sudah ada disana, Dia memegang Sword Of Erebus yang dilapisi dengan Blood Stone.
"Kau bagaimana kau-!."Isac terlempar jauh diikuti oleh pengawalnya.
Ares memasang wajah datar lalu mencopot jubahnya lalu memberikannya pada Lissa"Maaf aku datang terlambat, Aku akan segera kembali."Ares membalikkan badannya dan wajahnya penuh amarah.
Lissa memegangi Ares"tolong berhati-hatilah."Ucapnya sambil menatap Ares khawatir, Ares tersenyum lalu mengangguk pelan. dia pergi menjauh dari Lissa dan berjalan menuju tempat Isac dan pengawalnya berada.
Ares mengeluarkan Aura yang sangat besar sampai-sampai bisa dirasakan semua orang diistana, Aura yang dikeluarkan Ares menjulang tinggi seperti Kobaran api yang bergejolak dan Rambut Ares terangkat dan matanya dipenuhi kemurkaan.
"Bangs**!!!... Beraninya mereka Menyentuh alat berhargaku, Aku akan pastikan kalian berdua akan Mati!."Mata Ares semakin memerah dan Aura yang ada disekitarnya semakin kuat.
Sementara itu Isac dan pengawalnya sedang bersiap-siap menghadapi Ares, Isace mengambil Staffnya sementara Pengawalnya akan menjadi Penyerang.
"Pangeran! Lebih baik kita pergi dari sini."Pengawalnya melihat Aura Ares semakin mendekat yang menandakan Ares sudah dekat.
Isac mengerutkan Keningnya"Apa maksudmu bodoh!? Dia telah mempermalukanku! Dia sudah mencoreng nama Keluarga Kerajaan!."Jawab Isac dengan nada Sombong dan angkuh.
Ares sudah sampai didekat mereka dan ketika mereka melihat Sosok Ares, seluruh tubuh mereka terasa merinding dan berat, Ini seperti berhadapan dengan monster tingkat tinggi.
"Oh? melihat kalian tidak kabur itu membuktikan kalian sangat Angkuh."Ares berjalan perlahan kearah mereka.
"A-apa kau tidak tahu siapa kam-!."
Ares melesat melewatinya begitu saja dan seketika Tangan dan kakinya terpisah dari tubuhnya.
"AAAAAHHHHHHHH......... TANGANKU!!!!....KAKIKU.......AAAAHHHHHHHHH."sang pengawal menjerit kesakitan karena tangan dan kakinya terpotong.
Sang pangeran hanya bisa jatuh terduduk dengan tubuh bergetar dan mata yang dipenuhi ketakutan, Dia mengeluarkan air matanya dan mencoba menjauh dari Ares dengan cara merangkak.
"Apa ini? Kau ini elf atau tikus? Kok merangkak?."Ares menggunakan Nada penuh penghinaan untuk membuat dia semakin ketakutan.
Isac berbalik dan melihat Ares dengan rambut terangkat dan mata berwarna merah menatapnya Sangat tajam. Dia bergetar hebat dan matanya dipenuhi oleh ketakutan.
"ja-jangan mendekat atau kakakku akan membunuhmu."Isac mengancam Ares dengan tubuh bergetar.
"Hahahahahhahahah.......Dikondisi seperti ini kau masih mengancam ku? Kau ini lebih angkuh dari dugaanku."Ares mengangkat Pedangnya lalu Mengayunkan kearah Isac.
Seketika sebuah ledakan besar terjadi yang membuat daerah disana menjadi bergetar, Ares mengerutkan keningnya melihat Isac masih dalam keadaan utuh dan dia Diselimuti Barrier tranparans yang melindunginya.
begitu isac tahu dia tidak terluka dia mentertawakan Ares"Apa cuman ini yang kau punya?."Isac tersenyum menghina, Sepertinya kepercayaan dirinya telah kembali.
"Tidak, Itu baru permulaan."Ares memasang kuda-kuda dan memberikan Tebasan Beruntun di Barrier Isac.
__ADS_1
tidak butuh waktu lama, Barrier yang melindungi isac Retak lalu hancur seperti kaca, Ares dengan mata dipenuhi Amarah langsung mengayunkan pedangnya kearah Isac yang dengan cepat memotong tangan Kanannya.
Ares lalu melumpuhkan Titik Suaranya yang membuat dia tidak bisa berbicara, Ares memotong tangan kirinya lalu memotong kedua kakinya, isac kali ini terlihat sangat menyedihkan.
Dia menangis dan matanya dipenuhi rasa takut, Jika dia bisa berteriak mungkin suaranya bisa terdengar seluruh penduduk ibukota.
Ares menjambak Rambutnya lalu menatap tajam matanya"Inilah yang terjadi jika kau menyentuh barangku."Ares melirik kearah lain dan mengayunkan pedangnya.
Pedangnya bertubrukan dengan sebuah Sabit, Ares melepaskan kekuatannya dan Seketika pengguna sabit itu terpental cukup jauh. Debu-debu bertebaran lalu Ares menghempaskan tangannya seketika Debu-debu itu menghilang.
dan menunjukkan Sesosok Elf dewasa dengan pakaian mewah, dia memegang Sebuah Sabit yang rupanya sebuah Staff yang dialiri entah mana Atau prana, Namun karena itu dia bisa menggunakan Staff itu sebagai Sabit.
Isac menatapnya Elf itu"Ka...kak..."Ucapnya lirih, kini ares mengetahui jika yang ada didepannya merupakan Pangeran pertama kerajaan Xenia, Desmond Khuntoria Albarte.
Dia adalah putra mahkota kerajaan Xenia yang terkenal dengan bakatnya, dia disebut-sebut sebagai Calon Sage karena bakatnya.
"Kau...BRENGS**!!...."Desmond Melesat menyerang Ares menggunakan Sabitnya dan Ares membalasnya dengan Santai.
Desmond mengayunkan sabitnya dengan sangat cepat sampai-sampai ia menghancurkan Area didekatnya, Ares yang masih menjambak Isac terpaksa harus menangkis semua serangannya kalau tidak Isac mungkin akan mati.
"Apa ini? Pertama kali bertemu bukannya memperkenalkan diri malah Menyerang secara membabi buta? Apa kau benar-benar Elf bangsawan?."Ares menaikkan satu alisnya, Dia sengaja memprovokasi Desmond.
Desmond menggertak gigi dan matanya melotot tajam"Persetan dengan Semua itu! kau adalah orang yang berani melukai adik tercintaku! Kau harus mati!."Desmond menghilang dari pandangannya dan muncul lagi disamping Ares.
Dia bersiap melakukan Serangan"Typhoon Slash."Sebuah gelombang Pedang yang mirip seperti Angin topan melesat kearahnya, Ares tersenyum lalu mengayunkan pedangnya"Vertikal Slash."Seketika serangan itu terbelah menjadi dua.
Desmond menjadi lebih waspada karena Ares bisa membelah Serangannya dengan mudah, Desmond kembali melesat kearah Ares dan pertarungan jarak dekat kembali dimulai.
Ares mengayunkan pedangnya dengan satu tangan namun Ayunannya dapat mengimbangi kecepatan serangan Desmond, Mereka berdua beradu kekuatan dengan cepat dan kuat.
Ares menginjakkan kakinya ketanah dengan keras yang membuat tanah dibawah mereka runtuh, Mereka berdua lalu menjaga jarak dan saling bertatapan.
Desmond melihat kearah adiknya yang sekarang masih ditangan Ares, Kondisinya saat ini sangat parah karena dia kehilangan Seluruh anggota tubuhnya yang membuat pendarahan terus keluar.
disisi lain Ares mempunyai Ide cemerlang, Dia mengangkat Tubuh Isac yang sudah lemas kehilangan darah lalu memain-mainkan didepan Desmond. tatapan mata Desmond berubah menjadi penuh Kebencian dan kemurkaan.
Desmond menggenggam Sabitnya dengan erat lalu menggertak gigi"LEPASKAN ADIKKU BAJING**!!!..."Desmond melesat kearah Ares sambil mengayunkan Sabitnya, Ares Tersenyum lalu menunggu serangan Desmond sampai padanya.
Begitu Sabit Desmond ada didepannya, Ares melemparkan Isac kearah Desmond yang sedang mengayunkan Sabitnya, Pada saat itu Desmond tidak bisa merubah arah serangannya yang membuat Sabitnya membelah Tubuh Adiknya menjadi dua.
"ka...kak..."Ucap Isac lirih saat tubuhnya terbelah menjadi dua.
Desmond menjatuhkan Sabitnya lalu memeluk erat adiknya, Aira mata kebencian keluar dari matanya dan seketika Mana dan Prana meledak dari dalam tubuhnya yang membuat area disana bergemuruh.
Desmond menaruh tubuh adiknya lalu menatap Ares dengan mata penuh Kebencian dan kemurkaan, Dia mengambil Sabitnya dan seketika tanah Disekitar mereka bergetar hebat.
"Summon Supreme Grade Earth Spirit!."dia menghentakkan ujung sabit ketanah dan seketika, Raksasa batu besar berukuran 25 meter Muncul dari tanah dan Desmond berada diatasnya, Desmond menatap Ares.
[ Supreme Earth Spirit Lvl 500+ ]
Sementara Ares tersenyum tipis"kalau begini caranya akan panjang masalahnya."Ares dari jauh bisa merasakan Prajurit dalam jumlah besar datang kearah mereka dengan cepat.
__ADS_1
Namun sepertinya Desmond tidak ingin ini semua berakhir damai, Ares tersenyum lalu menggunakan Mantra Magic { Fly } yang membuatnya terbang ke langit, Ia lalu menatap Desmond tajam lalu tersenyum.
"Kau sendiri yang meminta. Keluarlah Gargantua."