
Sudah beberapa hari sejak selesainya Ujian Hunter dan saat ini para pegawai Asosiasi Hunter sedang sangat sibuk, mereka sibukkan untuk memilih calon Hunter yang akan diluluskan dan tidak diluluskan, mereka juga banyak menerima laporan penyerangan monster dan iblis diberbagai tempat yang membuat mereka membuat banyak Quest dipapan Quest.
Kebanyakan dari Quest-Quest yang ada berasal dari tempat yang jumlah monsternya banyak, dan tempat-tempat yang sering diserang atau terlihat monster. Quest-Quest ini adalah Quest Extermination yang memerlukan setidaknya seratusan Hunter untuk menyelesaikan.
Untuk hadiah yang ditawarkan tergantung dari jumlah monster yang dibunuh suatu Party atau orang, semakin banyak dan semakin kuat monsternya semakin banyak Uang yang akan didapatkan.
Alpha sebenarnya ingin menyelesaikan Quest-Quest ini karena tergiur dengan uang yang akan diberikan, tapi Abraham melarangnya karena dia tahu jika Alpha turun tangan, maka semua Quest Extermination akan dilibas habis olehnya. ini juga berlaku bagi Hunter Rank God's Knight lain dan ini juga berlaku bagi Hunters Rank God's Knight yang sudah pensiun.
Mereka sebenarnya tidak dilarang tapi pergerakan mereka hanya dibatasi seminim mungkin untuk mencegah kebocoran informasi, dan ini juga dilakukan untuk menjaga mereka tetap aman, karena mau bagaimanapun Hunter Rank God's Knight adalah pilar para Hunters dikerajaan Gottlich dan jika salah pilar runtuh maka akan terjadi ketidak seimbangan.
Kematian dua Hunters Rank God's Knight diRaid Tiamat dulu dan pensiunnya dua Hunters Rank God's Knight lain membuat pilar mereka sempat hampir hancur, tapi berhasil dipertahankan oleh kerja kerasa Ketua Abraham dan Wakil Ketua Hayes.
maka dari itu mereka harus seminimal mungkin membatasi pergerakan para Hunter Rank God's Knight, untuk menjaga pilar Hunter dikerajaan Gottlich.
Disisi lain Alpha sibuk mengumpulkan informasi atas perintah Tuannya, dirinya menulis setiap informasi yang dia dapatkan dalam sebuah buku dan buku itu ditulis secara lengkap serta detail dan mudah dipahami oleh Tuannya. dia juga menyuruh seluruh bawahannya untuk mempercepat proses pencarian The Supreme Treasure yang pernah tertunda karena kurangnya informasi.
dan kembali kemasa sekarang.
Tampak dari kejauhan kelima bersaudari itu sudah kembali bersemangat seperti dulu lagi, mereka sudah tidak lesu saat berlatih dan semangat dalam melakukan pekerjaan mereka sampai membuat Margaretha dibuat geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.
Namun disisi lain Margaretha merasa senang melihat putri-putrinya yang sudah kembali bersemangat, dia juga senang melihat rencana Alpha berhasil.
Sebagai rasa terimakasihnya Margaretha memasakkan makanan terbaik yang pernah dia buat, meski ia tidak percaya apakah rasa masakan akan seenak buatan Sebastian dan Hassan.
Meski begitu dirinya tetap optimis memasakkan makanan untuk Alpha dengan segala yang dirinya miliki. Setelah perjuangan selama 4 jam didalam dapur akhirnya dia berhasil memasakkan makanan terbaik yang pernah dibuatnya.
Dia dengan segara berlari menghidangkan makanan itu dalam piring serta sendok dak garpu yang mewah, dia ingin membawa Wine mahal yang dibeli dirinya sebelumnya tapi dirinya lupa jika Alpha tidak terlalu suka Wine, makanya dia menyajikan teh hitam favoritnya sebagai pelengkap.
Dengan rasa senang dirinya membawa hidangan itu keruang kerja alpha yang berada ditempat teratas dikediaman ini.
__ADS_1
"Eemm...ak-aku harap dia akan suka makanan yang aku buat, Ya!."Margaretha meyakinkan dirinya sendiri sambil membawa hidangan tersebut.
Setelah berjalan beberapa menit dan menaiki puluhan anak tangga dia sampai didepan pintu ruang kerja Alpha, saat sampai disini jantungnya berdetak kencang dan wajahnya tiba-tiba bersemu merah.
"Ke-kenapa denganku ini? apa aku sakit?."Ujarnya heran merasakan kondisinya saat ini, dirinya tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya yang membuat dirinya bingung harus berbuat apa.
dirinya terdiam selama beberapa saat didepan pintu sambil merasakan kebingungan dengan yang terjadi padanya, hingga dia tertegun saat melihat Alpha yang membukakan pintu.
"Kau rupanya, kukira siapa yang berdiri didepan pintu."Ujar Alpha yang berdiri didepan pintu.
Pada saat itu Margaretha tertegun saat melihat wajah Alpha, Wajah tampan berkeriput dengan rambut putih Alpha membuat Margaretha bersemu merah dan jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
Sementara disisi lain Alpha sendiri Kebingungan melihat Margaretha yang berdiri menatapnya, dengan tubuh kemerahan dan bergetar seperti orang demam.
"Kau sakit? kenapa wajahmu begitu merah?."Alpha meletakkan telapak tangannya didahi Margaretha.
'Waahhhh....!!!! apa yang sebenarnya terjadi padaku...??!!!."
"Kau demam rupanya, haduh... jika kau demam kau tidak perlu memaksakan diri untuk memasakkan makanan untukku."Alpha mengambil hidangan itu lalu membawanya kedalam dan beberapa saat kemudian dia kembali dengan tangan kosong.
Margaretha yang pada saat itu dalam keadaan kebingungan serta terdiam, dibuat kaget karena Alpha tiba-tiba menggendongnya.
"Tu-tuan!! ke-kenapa anda menggendong saya?!."Ujar dengan panik dan bersemu merah.
"dengan kondisi sakit begitu pasti sulit bagimu menuruni tangga, makanya aku menggendongmu."
"Sa-sakit?! saya tidak sakit? siapa yang sakit?."Ujarnya panik dan salah tingkah.
Alpha menaikkan alisnya"Lantas kenapa tubuhmu panas?."
__ADS_1
Seketika itu Margaretha terdiam dan menunduk dengan wajah bersemu merah, dirinya tidak bisa menjawab pertanyaan Alpha karena dia sendiri bingung dengan apa terjadi padanya.
"Sudahlah, aku akan mengantarkanmu dulu kekamarmu."Alpha menuruni tangga sambil menggendong Margaretha dengan kedua tangannya.
Margaretha pada saat itu melirik wajah Alpha lalu tertegun sesaat, wajah Alpha tampak begitu tampan meski berkeriput.
Pada saat itu Margaretha merasakan perasaan pada saat dirinya masih muda dulu, itu adalah saat dimana almarhum suaminya melamarnya dulu. tapi Margaretha merasa jauh lebih bahagia dibandingkan pada saat almarhum suaminya melamarnya dulu.
pada saat itu Margaretha menyadari sesuatu.
'Aahhh... begitu ya....? aku telah jatuh cinta padanya...'Batinnya sambil menatap wajah Alpha.
Margaretha pada saat itu memegang erat baju Alpha yang sedang menggendongnya, dirinya akhirnya tahu kenapa dirinya seperti ini yang membuatnya malu dan bersemu merah dan jantungnya berdetak kencang.
'Aku Mencintaimu Zero.'Batinnya dengan senyum bahagia.
************************
"Yang Mulia, kenapa anda belum membunuh Zero? apakah tumbal yang saya berikan kurang banyak?."Ujar Marco sambil berlutut dan menatap Satan.
Satan mendengus mendengar pertanyaan Marco"Bukan itu masalahnya, Marco."
"Lantas apa?."
"Aku tidak ingin membunuh Zero dalam keadaanku yang seperti ini, aku perlu kekuatan penuhku untuk membunuhnya karena jika aku tidak menggunakan kekuatan penuhku, maka drama yang kubuat akan menjadi tidak seru."Ujar dengan senyum bengis diwajahnya.
Marco pada saat itu merasa ketakutan dan merinding melihat senyum bengis Satan, dirinya memutuskan untuk tidak banyak bertanya untuk keselamatan nyawanya.
"Drama ini akan menjadi drama terbaik yang pernah kubuat, aku tidak sabar mendengar suara-suara jeritan penuh penderitaan dan keputusasaan dari anak-anak itu, Aaahhhh.... pasti ini akan terasa begitu menyenangkan....."
__ADS_1