
Alpha berjalan pelan dilorong istananya dengan pakaian rapih dan diikuti oleh kelima putri Margaretha dibelakangnya, mereka semua berpakaian lengkap seperti orang yang siap bertempur dengan. mereka semua memasang wajah serius yang membuat Ares mengerutkan kening.
Sebenernya mereka hanya berniat mengunjungi Gedung Asosiasi Hunter, untuk membuat kelima saudari ini menjadi seorang Hunter. sebelumnya dia sudah meminta izin pada Margaretha karena kasihan melihat mereka yang terus-menerus seperti itu.
Margaretha yang tahu akan hal itu mau tidak mau menyetujui hal tersebut, dan memperbolehkan kelima putrinya menjadi Hunter. dengan syarat Alpha harus mengawasi kelima anaknya.
Alpha hanya berkata Ya dan menyetujui syarat tersebut, saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju Gedung Asosiasi Hunter yang akan menjadi tempat Ujian bagi para calon Hunter.
"Tuan. apa Ujian Hunter yang anda lalui sebelumnya sulit?."
"Sulit? menurutku tidak, memangnya kenapa kau bertanya seperti itu? gugup. ya?."Alpha mendengus senang.
Rosse tertawa canggung sambil menggaruk pipinya, sebenernya bukan hanya dirinya yang gugup tapi semua saudarinya yang lain juga gugup, hanya saja mereka menyembunyikan hal itu dengan baik.
Alpha mengusap kepala Rosse sambil berkata"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, percaya dirilah dengan kemampuan kalian karena kepercayaan diri itu akan menjadi kunci kemenangan kalian."Ujarnya sambil tersenyum.
Rosse beserta para saudarinya yang lain tertegun sesaat begitu mendengar perkataan Alpha, lalu beberapa saat kemudian mereka tersenyum dan berjalan dibelakangnya dengan penuh percaya diri.
Ares menaikkan satu alisnya ketika melihat perubahan pada mereka, namun ia tidak banyak bertanya dan memutuskan untuk berjalan lebih cepat.
Setelah berjalan cukup lama mereka sampai di gedung Asosiasi Hunter, Alpha memperhatikan banyaknya calon Hunter yang mengantri sampai keluar gedung Asosiasi Hunter,ini berarti terdapat lebih banyak orang yang mendaftar sebagai Hunter dibandingkan tahun lalu.
ini cukup membuatnya terkejut melihat tahun lalu terdapat sangat sedikit orang mau menjadi Hunter, ini membuatnya berpikir mungkin diantara mereka terdapat orang-orang yang berguna bagi Tuannya.
Rosse, Alice, Grace, Marisa dan Regina tertegun melihat Antrian panjang didepan gedung Asosiasi Hunter, mereka baru melihat pemandangan seperti ini karena tahun lalu hanya terdapat sedikit orang yang ikut dalam ujian Hunter.
Grace dengan gugup melirik Alpha yang terlihat mengerutkan keningnya lalu bertanya"A-ada apa Tuan?."Tanya Grace dengan malu.
"Tidak, tidak ada apa-apa. ayo masuk."
Rosse kaget"Loh? kita tidak ikut mengantri?."
Alpha hanya menghela nafas"Buat apa? apa kau tahu siapa aku disini?."Ujarnya sambil tersenyum percaya diri.
Mereka semua baru mengingat pekerjaan Alpha yang sebenarnya, mereka tidak banyak omong dan mengikuti Alpha dari belakang.
begitu mereka masuk kedalam mereka ditunjukkan pemandangan yang penuh kesibukan, Para pegawai asosiasi Hunter yang berlarian kesana-kemari sambil membawa tumpukan dokumen, para Hunter yang berdiri didepan Papan Quest, dan suara kebisingan yang memusingkan kepala.
Mereka tidak pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya, karena mereka sebelumnya selalu berlatih diluar atau didalam kastil tempat Alpha tinggal. mereka tidak pernah menginjakkan kaki kedalam Gedung Asosiasi Hunter sebelumnya dan hanya bisa melihat dari belakang.
__ADS_1
"Sama seperti biasanya.... Sibuk."Gumam Alpha sambil mendengus.
"Tuan! kemana kita sekarang?!."Regina bertanya dengan tidak sabaran, yang membuat Alpha mendengus senang.
"Kita akan mendaftar dulu lalu menunggu hingga nama kelompok kita dipanggil, kalian tunggu sebentar disini aku akan kesana dulu."Alpha menunjuk kearah Meja Resepsionis lalu berjalan menuju kesana.
Sementara itu mereka memutuskan untuk duduk disalah satu kursi panjang yang ada disana sambil melihat Para pegawai Asosiasi Hunter dan Para Hunter yang berlalu lalang disekitar mereka.
"Grace menurutmu apa kita akan berhasil dalam Ujian Hunter?."Ujar Rosse dengan senyum canggung.
"Kenapa kakak berbicara seperti itu? apa kakak tidak yakin dengan kemampuan kakak saat ini?."Grace menaikkan satu alisnya, dia jarang melihat Rosse seperti ini yang membuatnya kebingungan.
"Aku bukan tidak yakin, aku hanya takut kemampuan kita tidak sesuai dengan ekspektasi Tuan Zero. Tuan Zero selalu berkata untuk percaya diri dengan kemampuan yang kita miliki tapi bagaimana jika kemampuan kita malah membuatnya menjadi kecewa?."Ujarnya dengan lesu dan senyum yang dipaksakan.
Grace beserta saudarinya yang lain tertegun mendengar perkataan Rosse, apa yang dikatakan Rosse memang benar. mereka juga takut kemampuan mereka tidak sesuai Ekspektasi Zero yang selama ini merawat dan melatih mereka, kemampuan mereka selalu dibilang hebat oleh Zero, Hassan ataupun Sebastian yang membuat mereka senang setiap kali dipuji.
Tapi bagaimana jika kemampuan mereka payah?
Kemampuan mereka tidak sesuai Ekspektasi?
Bagaimana latihan-latihan yang mereka jalin selama ini?
Pikiran-pikiran negatif berputar dikepala mereka yang membuat rasa percaya diri menurun drastis. mereka menjadi tidak percaya diri dengan kemampuan mereka yang membuat mental mereka menjadi Down.
"Tenang saja! memangnya apa salahnya jika kemampuan kita tidak sesuai Ekspektasi?! memangnya apa salahnya jika kemampuan kita payah?! jika kita gagal kita bisa mencoba lagi-lagi dan lagi sampai kita hebat!! yang harus kita lakukan adalah optimis dan percaya diri dengan apa kemampuan yang kita miliki!!."Regina berkata dengan penuh semangat.
Saudarinya yang lain tertegun mendengar perkataannya lalu menghela nafas panjang, lalu mengusap kepala Regina dengan lembut.
"Eh? Eh? apa aku mengatakan sesuatu yang salah?."Ujarnya panik melihat sifat kakak-kakaknya yang tiba-tiba berubah.
Marisa terkekeh sambil menggelengkan kepalanya"Tidak, Regina, perkataanmu tadi itu benar, terimakasih karena sudah berkata seperti itu pada kami."Ujarnya sambil memeluk Regina diikuti oleh saudarinya yang lain.
Regina pada saat itu kebingungan dengan perubahan sikap kakak-kakaknya, dan hanya bisa tenggelam dalam kebingungannya.
Pada saat itu perhatian para pegawai Asosiasi dan para Hunter tertuju pada Rosse serta saudari-saudarinya yang saling berpelukan, mereka seperti menonton drama kotak sabun yang mereka tonton sewaktu kecil.
"Hhmm? kenapa ini?."Alpha terlihat heran melihat perhatian orang-orang disekitarnya yang tertuju pada satu tempat, dia mendengus senang ketika melihat Rose dan saudari-saudarinya berpelukan bersama.
"Kalian tumbuh dari gadis kecil kewanita dewasa tanpa aku sadari, kalian benar-benar sudah menjadi wanita dewasa, ya?."Ujarnya sambil tersenyum bangga.
__ADS_1
Lalu berjalan kearah mereka yang sedang asik berpelukan seperti Teletubbies.
******************************
Wilayah Kekuasaan Pasukan Demon God, Kota Diabolic.
Disebuah istana ditengah kota yang ditutupi langit gelap dan kekacauan, duduk Demon King Pertama Vorzan Thron. dia menatap para bawahannya yang berlutut menghadap dirinya.
Mereka yang berlutut didepannya adalah para bawahan yang ditugaskan memimpin pasukannya, yang baru kembali dari medan pertempuran.
"Jenderal Grock, Letjen Hodgson, Mayjen Roy. Katakan informasi apa saja yang kalian dapatkan dimedan pertempuran?."Ujarnya dengan suara dingin dan berat.
Mereka berdua seketika menelan ludah merasakan tekanan serta suara dingin dan berat dari Vorzan.
Jenderal Grock berkata"Tuan, berdasarkan informasi yang saya dapatkan dimedan pertempuran. Raja Petersburg saat ini sedang mempercepat proses pelatihan Para Hero agar siap menghadapi Para Demon King."Ujarnya sambil melirik Vorzan.
Tidak seperti yang dia duga, Vorzan justru tidak terlihat tertarik dan tampak tersenyum menghina. Namun dia bisa merasakan Aura yang ada disekitar dia menjadi lebih pekat.
"Apa hanya itu?."
"Ti-tidak Tuan, sebenarnya terdapat informasi lain tapi akan saya bahas yang penting dulu."
"Baiklah bicara sekarang."
Jenderal Grock menarik nafas lalu berkata"Informasi yang saya dapatkan dari Medan Pertempuran adalah soal keluarga Dunkenheit, berdasarkan informasi yang saya dapat salah satu dari anggota keluarga Utama menjadi Pendeta Pohon Dunia dan sedang membangun sebuah kota besar diwilayah kekuasaannya. saat ini kota tersebut dalam proses hampir jadi dan telah ditempati oleh Ras seperti Dark elf dan Orc."Tuturnya dengan halus.
Seketika itu Vorzan aura membunuh meledak dari dalam tubuhnya. yang membuat siapapun yang merasakan aura membunuh itu pingsan sampai sesak nafas.
Jenderal Grock, Letjen Hodgson dan Mayjen Roy berkeringat dingin dan kesulitan bernafas karena aura membunuh Vorzan, bahkan mereka akan pingsan saat ini.
"Berurusan satu Pendeta Pohon Dunia saja sudah merepotkan dan ini malah nambah lagi?! aku tidak habis pikir dengan cara kerja dunia ini!! Jenderal Hodgson kirim Scout Devil untuk mengawasi pergerakan orang yang menjadi Pendeta pohon dunia itu! dan perintah juga untuk mengawasi orang-orang dari keluarga Utama."Ujarnya dengan kesal.
Jenderal Grock sebenarnya ingin menolak perintah ini, karena mustahil untuk memasuki wilayah kekuasaan keluarga Dunkenheit yang hampir disetiap sisinya terdapat Tembok Pertahanan dengan Magic Canon dan Barrier yang tidak tertembus. kalaupun mereka bisa masuk mereka akan langsung dibunuh oleh Pasukan Dari Divisi mereka.
Walau begitu terdapat beberapa cara untuk masuk kesana meski resikonya sangat tinggi.
"Baik Tuan, saya akan mengirim Squad Blood Cursed untuk menjadi pengintai disana. kalau begitu kami pamit undur diri."Jenderal Grock memberi hormat lalu pergi dari sana bersama Letjen Hodgson dan Mayjen Roy.
Ketika mereka sudah pergi Vorzan mengubah raut wajahnya lalu berkata"Apa ini ulah Catherine? atau jangan-jangan Richard? Ah! entahlah! Keluarga itu selalu membuatku pusing! mereka tidak hanya membunuh Tuhan kami tapi juga selalu mengusik ketenangan kami, bersiaplah Dunkenheit ketika Tuhan kami bangkit sepenuhnya kalian akan menjadi yang pertama dimusnahkan!!!."Ujarnya sambil mengeluarkan Aura hifam yang meledak dari dalam tubuhnya.
__ADS_1