
Ares merebahkan tubuhnya dikasur istana ini, Kamar yang diberikan Raja cukup besar dan luas, interiornya mewah dan besar. Kasurnya juga empuk.
Ares menatap langit-langit ruangan dengan tajam namun Pikirannya saat ini pergi kemana-mana.
"Daripada aku disini lebih baik aku pergi berjalan diluar."Ares bangun lalu membuka pintu kamar lalu keluar dari sana.
Dia berjalan di koridor istana dengan wajah datar dan rambut diikat kebelakang, Selama dia berjalan sambil mempertahankan interior istana yang cukup mewah menurutnya, Dia berkeliling diistana dan bertemu dengan beberapa pelayan yang memberinya Hormat, namun Ares tidak menggubris mereka dan memilih untuk berjalan lagi.
"Luas dan juga penjagaannya ketat juga."Ares menggunakan kemampuan yang bisa melihat jebakan yang ada disekitarnya, Terdapat banyak pelayan yang rupanya Prajurit berlevel Tinggi berlalu lalang disini.
Ini bisa dibilang langkah yang tepat agar tamu yang menginap disini tidak tertekan melihat prajurit Istana yang terus berlalu lalang di koridor istana, Ares berjalan tanpa arah hingga akhirnya dia menemukan sebuah pintu yang mengarah ke taman didekat istana.
"Taman ya? Jarang aku bisa melihat bunga tumbuh subur."Ares melihat bunga-bunga yang bermekaran disekitarnya.
Dia berjalan ditaman itu dengan suasana hati yang cukup baik, Dia menyentuh Bunga-bunga itu lalu berjalan pelan sambil tersenyum tipis. Saat sedang berjalan matanya menangkap sosok Wanita yang sedang duduk di bawah pohon sambil menatap langit dengan sedih.
"Wanita? Apa dia putri dari kerajaan lain atau Pendamping para raja yang menginap disini?, Lebih baik aku tanyakan saja langsung."Ares berjalan lalu melihat wanita itu lebih Dekat dan menyadari jika yang ada didepannya merupakan Anak Haram Raja.
Didalam novel, Anak Haram Raja digambarkan memiliki Rambut Putih dengan mata berwarna Biru muda yang mirip seperti Berlian, Dan ciri-ciri itu mirip dengan wanita didepannya.
"Salam Lady, Pemandangan yang bagus, bukan?."Ares duduk disamping Wanita itu.
Wanita itu terlihat gugup dan malu-malu ketika Ares duduk disampingnya, Dia menutupi wajahnya menggunakan buku tebal yang dia pegang.
"Y-ya, Pemandangan yang indah."Ucapnya sambil menatap Taman yang dipenuhi bunga didepannya.
Ares lalu mengajak mengobrol lebih jauh dan entah karena apa, mereka berdua bisa langsung akrab walaupun baru pertama bertemu.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, Siapa Nama Lady?."Ucap Ares dengan suara lembut.
wanita itu kembali gugup dan mengalihkan pandangannya"Na-nama Saya Lissa Alvesan Libarte. saya anak haram Raja Petersburg Alvaro Negredo."Ucapnya dengan suara Kecil.
Saat itu Ares tahu Suasana hati Wanita bernama Lissa ini menjadi buruk, Ares tersenyum pahit menyadari kesalahannya.
Ares tersenyum lembut lalu memegang Tangan Lissa"Lissa Alvesan Libarte? Nama yang indah dan cantik seperti orangnya, kalau begitu Perkenalkan, Saya Ares Von Dunkenheit."Ares mencium tangan Lissa lalu tersenyum lembut. "Salam kenal Lissa."Ucapnya dengan nada Halus.
Wajah Lissa menjadi merah merona dan jantungnya berdebar kencang, Dia hanya mengangguk pelan dengan menutupi wajahnya menggunakan Buku.
"Kalau begitu Lady Lissa, Mau berjalan bersama-sama?."Ares bangun lalu menyodorkan tangannya kearah Lissa, Lissa saat itu terdiam sesaat dan memasang wajah rumit namun beberapa saat kemudian dia tersenyum lalu memegang tangan Ares.
Mereka berdua berjalan ditaman Istana sambil tertawa kecil dan tersenyum layaknya seorang yang Sedang berpacaran, Mereka berdua bermain bersama dan membaca buku bersama.
mereka berdua berlarian ditaman itu dan sesekali tertawa kecil dan bersenda gurau, Ares duduk diatas dipinggiran Bunga-bunga yang bermekaran sementara Lissa sedang membuat sesuatu entah apa.
'Lissa, anak haram Raja Petersburg, yang akan menjadi Great Magician dimasa depan, Jika aku bisa merebut hatinya maka akan bagus karena dia akan menjadi orang hebat dimasa depan. Lissa kuharap kau akan berguna sama seperti mereka.'
"Hahahah....Kau mau apa Lissa?."Ares tersenyum manis sedangkan Lissa menggembung pipinya, dia lalu menyuruh Ares untuk sedikit menunduk Lalu tiba-tiba Dia memakaikan sesuatu Dikepalanya.
Itu adalah mahkota Bunga yang dibuat dari bunga dan ranting, Ares tertegun sesaat lalu dia tersenyum manis dan mengusap-usap kepala Lissa sambil berkata terimakasih.
Lissa terdiam sesaat karena melihat ketampanan Ares lalu dia memegangi dadanya dan merasakan sebuah perasaan yang tidak dia pahami, Jantung berdebar kencang, pipinya bersemu merah dan ketika dia memandangi Ares dia merasa menjadi orang paling bahagia di dunia.
'Perasaan Apa ini? Kenapa Jantungku berdebar kencang? kenapa Aku merasakan sesuatu yang aneh?.'Batin Lissa yang terlihat Kebingungan dengan hal yang terjadi padanya.
hingga tiba-tiba dia teringat perkataan ibunya yang terbaring sakit dirumah, ibunya pernah berkata, Jika nanti jantungmu berdetak kencang, pipimu bersemu merah dan kau merasa bahagia ketika melihat dia, Ketahuilah nak kau sedang jatuh cinta.
__ADS_1
jantung kembali berderak lebih kencang lalu dia kembali melihat Ares sedikit, Dia kembali merasakan perasaan itu"Jadi ini Rasanya jatuh cinta?."Gumamnya Pelan.
"...mmmm....? Kenapa Lissa?."Tanya Ares sambil menatap mata Lissa.
Lissa menjauhkan wajahnya dari Ares lalu menutupinya dengan buku"Tidak tidak apa-apa, aku hanya Mmm....Senang?."Jawab dia dengan memiringkan kepalanya.
Ares tertawa kecil menanggapi jawaban Lissa lalu mengusap kepalanya pelan"Begitu ya? hahaha...Aku juga senang kok Lissa."ucap Ares dengan wajah penuh senyuman.
Lissa juga ikut tersenyum lalu Menarik tangan Ares sambil tertawa riang sedangkan Ares tersenyum tipis dan Tertawa Kecil juga.
**************
"Kalau begitu Ares, sampai bertemu lagi."Lissa melambaikan tangannya kearah Ares lalu pergi dengan hati gembira, Ares juga melambaikan tangannya lalu pergi dari sana dengan wajah penuh senyuman lalu beberapa kemudian senyuman itu menghilang digantikan wajah datar.
Ares lalu menatap tajam beberapa pelayan yang berjalan berlawanan dengannya"Jika kalian berani menyentuhnya, Kubunuh kalian Semua."Ucap Ares dengan Suara penuh Terror dan intimidas.
Beberapa pelayan itu dibuat pucat pasi lalu berlari menjauh darinya, Ares tersenyum puas lalu berjalan pergi dari sana dengan mahkota bunga buatan Lissa diatas kepalanya.
"Lissa, Kuharap kau bisa menjadi alat yang berguna bagi ku, Kuharap."Ares menatap Taman bunga dari dalam Koridor.
Ares berjalan ke kamarnya dan tidak sengaja berpapasan dengan Putri Rania dan beberapa pelayannya.
"Tuan Ares? Sungguh kebetulan bertemu anda disini, Sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan."Ucapnya lalu menggandeng bahu Ares, Ares Menarik Bahunya lalu tersenyum manis kepada sang Tuan Putri.
"Maaf Putri Rania, saya akan harus cepat kembali kekamar saya karena ada yang harus saya urus, saya pamit undur Diri."Ares lalu pergi dari sana meninggalkan Putri Rania yang menatapnya aneh.
namun beberapa saat kemudian Wajahnya menjadi merah merona dan tubuhnya bergetar, Dia menggigit kuku jarinya sambil melihat Punggung ares yang seperti Tembok istana.
__ADS_1
"Hanya dia yang berani berbuat begitu padaku, Aahhh....Tuan Ares kuharap kita berjodoh."Ucapnya lalu meninggalkan tempat itu juga.
Ares mendengus kesal melihat Putri Rania"Dasar wanita Aneh."Ucapnya sambil berjalan masuk kedalam kamarnya.