
Setelah kejadian ledakan besar dan bentrokan besar beberapa waktu sebelumnya. Raja Fritz, Ketiga dewan kerajaan dan para pejabat kerajaan melakukan rapat besar-besaran untuk mencari jalan keluar dalam permasalahan rumit kali ini.
Karena dipikir akan menjadi berlarut-larut Raja Fritz memutuskan untuk melakukan voting suara. Orang-orang yang mengikuti voting ini hanyalah Raja Fritz, tiga dewan kerajaan dan para pejabat kerajaan. Voting suara dilakukan dan hasil dari voting itu baru keluar beberapa jam kemudian.
Hasilnya 30% menolak dan 50% mendukung dan 10% memilih bersikap netral. Hasil dari voting suara ini sudah diduga oleh Raja Fritz, sudah pasti para pejabat kerajaan kebanyakan bangsa Dwarf memilih untuk mendukung, sementara yang menolak atau netral pastilah orang-orang yang berpikiran terbuka.
Karena voting suara telah keluar Raja Fritz tidak memiliki pilihan lain selain mengusir bangsa Hobbit keluar dari kerajaan Erde's. Berita besar ini membuat para Dwarf menjadi senang dan bahagia karena kekhawatiran dan keresahan mereka telah hilang. Sementara para Hobbit hanya bisa menerima kenyataan bahwa mereka diusir dari kerajaan Erde's.
Tidak ada yang menyuarakan penolakan karena mereka tahu kesalahan mereka terlalu berat untuk dimaafkan. Ledakan besar yang terjadi sebelumnya sudah menjadi bukti jika mereka melakukan tindakan pemberontakan atau terorisme.
Bangsa Hobbit sendiri diberikan waktu seminggu untuk bersiap dan mendiskusikan kemana mereka akan pergi. Untuk yang terakhir mereka juga kebingungan untuk pergi kemana.
Karena mereka bangsa yang dicap pemberontakan sudah bisa dipastikan mereka akan ditolak masuk banyak negara. Kalaupun mereka pergi sekarang keselamatan mereka juga tidak terjamin karena Pasukan Demon God saat ini sedang menginvasi negara-negara disekitar kerajaan Erde's.
Dengan kata lain menyuruh mereka angkat kaki dari kerajaan Erde's sama saja dengan menyuruh mereka semua untuk mati diserang Pasukan Demon God. Amelia yang menggantikan posisi ayahnya juga tidak memiliki banyak pilihan.
Dia pun juga kebingungan untuk membuat pilihan kemana tempat tujuan mereka nanti. Para sesepuh atau bisa dikatakan para tetua disana memberikan cukup banyak solusi tapi itu tidak cukup untuk membuka jalan keluar permasalahan mereka.
"Fyuhhh... Apa yang kita lakukan sekarang terasa tidak ada gunanya. Semua solusi yang mereka berikan sama sekali tidak membuka jalan keluar dalam permasalahan ini, Apa yang harus kila lakukan sekarang ya?."Amelia tersenyum bosan dengan wajah capek. Karena tidak tidur selama beberapa hari membuat wajahnya tampak sangat kecapekan.
Karena pekerjaan yang dia miliki membuat Amelia mau tidak mau harus begadang selama beberapa hari. Dan hanya bisa tidur selama beberapa jam saja. Yang paling parah adalah pekerjaan yang selalu datang setiap saat, membuatnya hampir tidak memiliki waktu tidur yang cukup. Meski begitu dia tidak pernah mengeluh karena menurutnya itu hanya membuang-buang waktu.
Amelia melirik lemas kearah tumpukan kertas yang menggunung disetiap sisinya, dia hanya bisa menghela nafas panjang dan menatapnya dengan lelah. Matanya benar-benar menyiratkan jika ia butuh tidur, tapi pekerjaannya tidak memperbolehkannya.
"Hey bagaimana dengan pengemasan barang-barang penduduk? Apakah semuanya berjalan dengan lancar?."Dia melirik dan berbicara pada pelayan yang ada disampingnya, pelayan itu orang kepercayaan ayahnya dan menjadi orang yang paling membantu dirinya dalam pekerjaan ini. Kalau tidak salah ingat namanya Sonna.
"Sesuai dengan perkataan anda, saat ini pengemasan barang-barang cukup berjalan dengan lancar. Meski saya sendiri tidak yakin apakah kita mampu berjalan jauh dengan kondisi kelelahan seperti ini."
Bukan cuma Amelia. Seluruh penduduk yang merupakan bangsa Hobbit bisa dikatakan sangat kelelahan karena bekerja dalam waktu yang lama. Ini semua karena pekerjaan yang mereka lebih mengandalkan tenaga dan kekuatan yang membuat mereka lebih kelelahan ditambah dengan barang-barang yang harus mereka bawa membuat prosesnya menjadi berjalan relatif lebih lambat tapi juga tidak lebih cepat.
Padahal Amelia memerintahkan untuk membawa barang yang berguna atau berharga saja, tapi kelihatannya semua orang melihat semua barang sebagai barang berharga dan berguna.
Amelia hanya bisa tertunduk lesu mendengarnya. Ketika ia tertunduk terasa ia akan tertidur tapi dengan sigap dia langsung bangun"Fyuhhh... Hampir saja. Ah kalau begitu bisakah kau mengawasi prosesnya?."
"Tentu Nona muda. Kalau begitu saya akan pergi untuk mengawasi."Kemudian Sonna pergi dari ruangan itu, meninggalkan Amelia sendirian bersama gunungan-gunungan pekerjaan.
Amelia menghela nafas panjang dan sedikit merenggangkan tubuhnya sebelum kembali bekerja"Baiklah mari kita mulai pagi hari yang cerah ini dengan tumpukan dokumen yang tidak ada habisnya!!."Dia berkata dengan semangat, tapi aslinya dia benar-benar sangat lelah hanya saja dia menyembunyikan semua itu dengan tingkahnya yang penuh energi.
"Hmmm?? Ada ribut-ribut apa diluar? Kenapa rasanya lebih ribut dari sebelumnya?."Ujarnya heran mendengar suara keributan dari luar rumahnya. Biasanya keributan sering terjadi karena cukup banyak orang yang berlalu didepan rumahnya yang membuat rumahnya hampir setiap saat selalu berisik.
Membuatnya terbiasa mendengar suara-suara keributan itu, tapi kali ini suara keributan itu terdengar lebih keras dan lebih kuat dari biasanya. Entah apa yang terjadi diluar tapi dia memiliki firasat buruk tentang hal ini.
Dengan tubuh lelah dan lemas dia turun dari ruang kerjanya menuju kebawah. Begitu dia sampai kebawah tidak jauh dari rumahnya tampak kerumunan orang yang terlihat sedang mengerumuni sesuatu.
Karena sudah tidur selama beberapa hari membuat daya penglihatannya menjadi berkurang membuatnya kesulitan melihat sosok yang dikerubungi oleh orang-orang disana.
"Apa sih yang mereka kerubungi sampai membuat ribut seperti ini? Kelihatannya tinggi besar? Apa itu barang-barang yang berat hingga membuat mereka tidak bisa mengangkat makanya membuat cukup banyak orang? Kalo iya kenapa sampai seribut itu?."Sambil mengucek-ngucek matanya dia menatap lurus kedepan, keobjek yang dikerumuni orang-orang.
Lama kelamaan kerumunan orang itu mendekat dan ketika cukup dekat dia baru bisa mengidentifikasinya.
Dengan mata membulat tidak percaya dia menatap sosok ditengah-tengah kerumunan itu"Tuan Ares? Kenapa dia ada disini?."Dengan perasaan tidak percaya dia menatap sosok ditengah kerumunan itu. Sosok yang seakan membelah kerumuman orang dengan senyum lembut dan ramahnya.
Senyum lembut dan ramah yang melelehkan hati semua wanita yang melihatnya. Dan sorot mata yang memandang semua orang disekitarnya dengan penuh kasih.
"Aahhhh... Dia begitu tampan!."Amelia dibuat tidak bisa berkata-kata melihat ketampanan dan kelembutan hati yang dia miliki sampai tidak menyadari Sonna berlari kearahnya.
"Nona muda! Nona muda ini gawat Nona muda!! Tuan Ares datang kesini membawa semua bawahannya, dia datang kesini untuk berbicara dengan Anda dan para tetua!!."Sonna berkata dengan panik pada Amelia yang menatap sosok Ares yang berada cukup jauh.
Merasa dirinya diabaikan membuat Sonna menjadi kesal dan berbuat sesuatu yang diluar dugaan. Dengan keras dia memukul kepalanya dengan kepala Amelia sampai benjol.
Amelia hanya bisa meringis kesakitan merasakan kepalanya yang menerima hantaman benda keras, "Aduh!! Aduh!! Sonna apa yang sebenarnya kau lakukan?! Kenapa kau melakukan itu padaku?!."Kata Amelia sambil mengelus kepalanya yang benjol.
Sonna mendengus kesal dan menatap Amelia dengan jengkel"Jangan salahkan saya!! Yang lebih penting sekarang adalah..."Sonna menjelaskan kembali apa yang dia katakan sebelumnya dengan memotong bagian-bagian yang tidak penting.
Amelia menahan nafasnya mendengar informasi yang baru saja dia dengar, dia langsung memerintahkan semua orang-orangnya untuk memanggil para tetua secepatnya kesini.
"Sembari menunggu para tetua datang jamu Tuan Ares dan bawahannya terlebih dahulu."
"Baik Nona muda."
Sonna dengan segera melaksanakan perintah Amelia dengan menjamu Ares dan bawahannya. Sembari menunggu Amelia selesai membenahkan diri dan para tetua datang.
Ares dan orang-orangnya dijamu dengan aneka makanan ringan. Semua makanan ringan ini merupakan makanan yang berharga mahal dan sengaja disiapkan untuk menjamu tamu-tamu penting. Dan saatnya untuk makanan ringan ini menjamu Ares berserta semua bawahannya.
**********************************
Dengan Amelia yang duduk ditengah dan para tetua disisi kiri dan kanannya mereka menatap Ares dengan penuh tanda tanya. Mereka bertanya-tanya apa maksud Ares sebenarnya hingga datang kemukiman mereka.
"Ehem! Baiklah mari kita mulai pembicaraan. Saya kemari untuk menanyakan beberapa hal pada anda dan memberikan penawaran menguntungkan."
"Tawaran menguntungkan?."
"Iya tawaran yang menguntungkan sampai tidak bisa kalian tolak. Tapi terlebih dahulu bisakah kalian jawab beberapa pertanyaan yang kuajukan."Ares tersenyum penuh makna pada mereka semua yang ada diruangan.
Amelia dan para tetua disana melirik satu sama dan merasakan adanya niat tersembunyi. Tapi mereka tidak berani berkata secara langsung kepada pahlawan nasional kerajaan Erde's, bisa-bisa kepala mereka dipenggal jika salah berbicara.
Mereka saling melirik dan mengangguk setuju dan setelahnya Ares tersenyum lalu memberikan beberapa pertanyaan pada mereka.
Pertanyaan-pertanyaan yang Ares tanyakan mereka jawab dengan jujur tanpa adanya kebohongan. Mereka semua melakukan sesi tanya jawab selama beberapa saat dan beberapa saat setelahnya hawa didalam ruangan berubah.
__ADS_1
Amelia menelan ludahnya merasakan hawa didalam ruangan berubah. Bukan hanya Amelia para tetua yang ada disana juga merasakan perubahan itu.
Amelia menatap Ares dengan gugup karena Ares belum kunjung melanjutkan pertanyaannya. Setelah mengusap dagunya dan mengangguk-angguk pelan dia kembali melanjutkan pertanyaannya.
"Kalau boleh saya tahu apakah kalian sudah memiliki tujuan setelah keluar dari kerajaan Erde's?."
Sebuah pertanyaan sederhana yang menusuk hati Amelia dan para tetua. Mereka tidak bisa menyembunyikan ekspresi kesedihan yang mereka rasakan, meski begitu mereka memaksakan untuk tersenyum tapi senyuman itu terasa begitu pahit.
"Seperti yang anda ketahui, kami belum menemukan tempat tujuan kami nantinya. Karena banyaknya masalah ini membuat kami harus berpikir matang-matang sebelum mengambil keputusan."Ujar Amelia sambil tersenyum kecut, rasanya benar-benar berat baginya untuk mengatakan semuanya pada Ares jadi dia hanya mengatakan sebagiannya saja.
"Begitu ya."Ares memasang ekspresi rumit, dia mengusap dagunya dan mengangguk pelan sebelum melanjutkan pembicaraan.
"Ini pertanyaan terakhir dan saya harap kalian semua dapat menjawab dengan jujur."Ares berkata dengan nada serius, tidak ada satupun orang disana yang meragukan keseriusan dari Ares.
Amelia dan para tetua menelan ludah dan mempersiapkan hati mereka untuk mendengar pertanyaan Ares selanjutnya.
"Ini pertanyaan terakhir. Sampai mana pengembangan yang kalian terhadap Metode Penempaan Runecraft?."
Pertanyaan yang tampak sederhana tapi benar-benar membuat luka dihati mereka semakin dalam. Mereka sebenarnya memperkirakan Ares akan menanyakan hal ini tapi mereka benar-benar tidak pernah berpikir jika Ares akan menanyakannya sungguhan.
Untuk beberapa saat mereka saling memandang dan mengangguk pelan. Mereka menjelaskan secara detail dan rinci pada Ares sampai mana perkembangan runecraft saat saat ini, tidak ada satupun yang dilebih-lebihkan ataupun dibelokkan.
Semua yang mereka jelaskan benar-benar murni asli tanpa adanya kebohongan apapun. Meski setiap penjelasan yang mereka berikan terasa mengiris hati, mereka tetap memberikan penjelasan pada Ares secara langsung.
Dari sudut pandang Ares, pengembangan runecraft saat ini sangatlah lambat bahkan tidak bergerak sama sekali. Ini karena banyaknya pengetahuan tentang runecraft yang hilang dan menciptakan banyak lubang disetiap bagiannya.
Setiap mereka membuat terobosan pasti ada saja halangan yang akan mereka hadapi. Entah itu kekurangan pengetahuan, kekurangan material dan lain sebagainya. Dengan kata lain pengembangan metode penempaan runecraft sudah lama tersendat atau bisa dikatakan telah lama mati.
Karena minimnya pengetahuan yang mereka miliki membuat pengembangan ini hampir tidak mengalami perubahan sama sekali, jadi tidak salah mengatakannya sudah mati atau lain sebagainya.
Tapi disatu sisi Ares lah yang begitu merasa senang disini. Rencana yang dia buat dan susun dengan rapuh membuahkan hasil yang sangat manis, ia tidak bisa menahan kebahagiaannya sampai membuat tubuhnya gemetaran.
Sosok Ares saat ini malah disalah artikan oleh Amelia dan para tetua yang ada disana.
Ares tertunduk lesu, kedua tangannya mengepal dan tubuhnya gemetaran seperti orang yang menahan kesedihan dan kemarahan disaat yang bersamaan. Ditambah dengan aura disekitar Ares membuat semuanya menjadi meyakinkan.
"Tuan Ares anda—."
"Fyuuuhhh.... Aku tahu semuanya akan seperti ini, tapi aku tidak mengira akan separah ini."Ares tersenyum tipis, senyuman itu mengisyaratkan sesuatu seperti kesedihan dan keterpurukan.
Amelia dibuat tidak bisa berkata-kata lagi melihat kepedulian Ares terhadap runecraft. Bukan hanya dirinya tapi para tetua disana juga terharu terhadap kepedulian Ares.
Ares menghela nafas panjang dan tampak mengatur nafasnya, dia lalu mengeluarkan secarik kertas dari saku bajunya dan memberikan pada Amelia.
Mata Amelia maupun para tetua membulat membaca tulisan yang ada di secarik kertas ditangan Amelia.
Ares mendengus dan tersenyum tipis"Kau benar. Ini adalah penawaran yang kukatakan sebelumnya, apakah masih ada sesuatu yang kurang? Kalau iya tinggal kau tambahkan saja dibawah."Ares tersenyum lalu memberikan sebuah pulpen pada Amelia.
Amelia maupun para tetua dibuat mematung tidak percaya menatap isi dari secarik kertas ditangan Amelia.
Isi dari kertas itu diantara lain merupakan penawaran yang benar-benar sangat menggiurkan. Dan hanya ada satu syarat untuk menandatangani penawaran ini.
{ Pihak Ares akan menyediakan segala kebutuhan material, pengetahuan dan dana secara penuh pada para runesmith dan memberikan tempat tinggal yang layak bagi seluruh Hobbit.
Sebagai Bayarannya : Para runesmith diharuskan mengembangkan metode penempaan runecraft dengan segala dukungan yang ada hingga ketitik dimana runecraft kembali kemasa jayanya atau melebihi dari semua pencapaian yang diraih dimasa jaya runecraft dahulu. }
Terlalu menggiurkan! Penawaran yang Ares berikan terlalu menggiurkan untuk ditolak!! Hanya orang yang tidak waras mau menolak tawaran yang Ares berikan.
Meski terlihat terlalu menggiurkan untuk ditolak mereka tetap tahu sampai mana batasan mereka. Kalau mereka menerima tawaran ini dan tidak bisa mengembangkan runecraft sesuai harapan Ares merekalah yang akan merasa bersalah.
Maka dari itu mereka hanya terdiam membisu dan ragu untuk memilih pilihan yang akan mereka ambil. Disaat mereka semua membisu salah satu tetua bertanya pada Ares.
"Tuan Ares, apa yang sebenarnya membuat anda tertarik pada sesuatu yang pada dasarnya sudah mati? Bukankah jika kami tidak tidak bisa mengembangkan runecraft seperti harapan anda, malah akan membuang-buang uang anda?."
Sebuah pertanyaan yang logis dan rasional untuk ditanyakan. Seberapa menggiurkannya penawaran ini mereka masihlah tahu diri dan tahu dimana batasan kemampuan mereka.
Mereka semua yang ada disana sadar bagaimanapun Ares menyokong mereka belum tentu runecraft akan kembali kemasa jayanya. Dan semua orang meyakini hal itu.
Ares tidak menjawab pertanyaan tetua yang bertanya barusan, malahan dia memberikan sebuah pertanyaan lagi.
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, biarkan aku bertanya. Berapa banyak jumlah rune yang bisa kalian masukkan kedalam perlengkapan hingga saat ini?."
"Ummm... Kami semua yang ada disini bisa memasukkan 5-6 rune kedalam sebuah perlengkapan, tapi Runecraft Forgemaster bisa memasukkan 6-8 rune kedalam sebuah perlengkapan. Untuk saat ini jumlah terbanyak dipegang oleh Runecraft Forgemaster yang dapat mengukir 8 rune didalam sebuah perlengkapan."Tutur seorang tetua, yang berbicara barusan adalah seorang ahli runesmith yang dapat mengukir 6 rune didalam sebuah perlengkapan.
"Begitu ya, jadi batasannya cuma delapan."Ares mengusap dagunya, "Aku sebenarnya tidak ingin mengeluarkan ini tapi untuk meyakinkan kalian apa boleh buat."Dari Storage boxnya Ares mengeluarkan sebuah Greatsword.
Sebuah pedang besar yang tampan berat sekarang dipegang satu tangan oleh Ares"Semuanya tolong lihat kesini."Ares menunjuk kebilah pedang ditangannya, dibilah pedang itu terukir rune-rune kuno yang jumlahnya diluar kemampuan semua orang yang ada disana. Bahkan runesmith dimasa jaya runecraft dahulu tidak bisa mengukir rune sebanyak yang ada didalam pedang ditangan Ares.
Mata mereka membulat dan menatap pedang ditangan Ares dengan tatapan tidak percaya. Mata mereka tidak bergeser sedikit pun memandang kearah bilah pedang yang ada ditangan Ares.
"Sekarang aku akan bertanya. Apakah runesmith terhebat dimasa lalu bisa mengukir 23 rune didalam sebuah senjata?."
"Itu tidak mungkin. Runesmith terhebat dimasa lalu hanya bisa mengukir 12 rune didalam sebuah Warhammer. Setelah itu tidak ada catatan ataupun sejarah yang menyebutkan angka yang lebih dari 12 ukiran rune."
Ares tersenyum merasakan perlahan rencananya berjalan sesuai rencana.
"Begitu ya. Jadi batasannya hanya 12..."Ares tertunduk memandang kearah Greatsword ditangannya lalu tersenyum penuh makna, "Alasanku menawarkan penawaran ini kepada kalian adalah untuk menemukan kembali rahasia-rahasia yang hilang tertelan masa lalu. Dan pedang di tanganku merupakan salah satu dari banyak rahasia yang tertelan waktu."Ares tersenyum dan memberikan pedangnya pada salah satu Hobbit.
Hobbit yang menerima pedang Ares merupakan salah satu runesmith ahli dan lebih berpengalaman dari semua runesmith yang ada disini.
__ADS_1
Mata Amelia dan para tetua tidak henti-hentinya mengangumi serta menganalisis pedang yang dibilahnya terukir 23 rune kuno.
Amelia dan para tetua menyadari maksud Ares mengeluarkan pedang dengan 23 rune kuno berwarna ungu gelap itu.
Rasa sakit dihati mereka semakin dalam dan kesedihan melanda mereka.
".... Kalau begitu maksud anda, ada lebih banyak teknik-teknik berharga yang telah hilang?."
Luka memenuhi hati mereka dan Amelia juga merasakan hal itu.
Ares bangkit dari kursinya dan berkata dengan penuh percaya diri"Maka dari itu aku ingin membangkitkan dan menemukan segala rahasia-rahasia yang hilang, tidak perduli berapapun biayanya!!."
Keheningan pun menyelimuti seisi ruangan.
Tak perlu dikatakan lagi, karena mereka tahu betapa tidak mungkinnya tugas ini.
Bahkan runesmith terhebat dimasa ini harus berusaha keras untuk mengukir 12 rune sekaligus. Dan Ares meminta yang jauh lebih banyak dari runesmith terhebat lakukan, tapi tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan " Tidak mungkin.". Karena mereka memiliki harga diri sebagai seorang pengrajin, dan setelah melihat mahakarya dari pengrajin sebelumnya, membuat mereka tidak bisa menolaknya.
"Aku ingin membuatnya."
"Aku ingin mencobanya."
"Aku juga."
"Aku ingin membuat yang jauh lebih hebat dari itu!!."
"Aku akan menunjukkan kepada dunia kekuatan senjata dari runecraft dan menjadikan sebagai legenda hidup!!!."
"Tidak akulah yang akan disanjung sebagai runesmith legendaris!!."
"Omong kosong!! Akulah yang akan menjadi runesmith terhebat!!."
Dalam waktu beberapa saat semangat menggebu-gebu menyelimuti hati mereka dan membangkitkan kembali sesuatu yang hilang didalam hati mereka. Melihat sebuah mahakarya dari masa lalu yang mustahil diciptakan oleh masa sekarang, malah membuat semangat didalam hati mereka bangkit kembali.
Pedang yang Ares tunjukkan pada mereka tidak lebih dari sebuah tantangan dari runesmith masa lalu pada runesmith masa sekarang.
Suara tepuk tangan bergema diudara. Itu berasal dari Ares dan para bawahannya yang ada dihadapan mereka.
"Luar biasa!! Tapi bisakah kalian melakukannya sendirian? Bisakah kalian mengangkat suara dan menghadapi tantangan dari seorang legenda? Mungkin juga bisa, tapi juga mungkin tidak bisa. jadi aku harap pada kalian untuk tinggal di negeriku dan sepenuhnya mencurahkan diri untuk menciptakan dan menggali semua rahasia yang terkubur oleh waktu!."
Keheningan sekali lagi menyelimuti.
Amelia sangat paham dengan perasaan mereka saat ini.
Ares memberinya kesempatan kepada mereka untuk kembali membangkitkan seni mereka yang pada dasarnya sudah mati. Sebuah kesempatan bersinar didalam telapak tangannya yang terulurkan.
Bukankah mereka harus mempertaruhkan nyawanya mereka untuk tantangan ini?
"Kalau begitu aku serahkan pedang itu padamu. Pelajari dan analisis semua pengetahuan yang ada didalamnya."
Ares tersenyum dan menatap kearah runesmith yang memegang pedang yang dia berikan sebelumnya. Ini mungkin kebetulan atau Ares sudah tahu, orang yang diserahkan pedang itu adalah runesmith jenius yang dikatakan hanya satu tingkat dibawah ayahnya, Runecraft Forgemaster.
"A-apakah boleh?! Apa tidak apa menyerahkan sebuah Mahakarya ini pada kami?! Yang kami mungkin tidak pernah lihat lagi sepanjang hidup kami?!."
"Itu tidak apa-apa. Lagipula pedang ini diciptakan dari runecraft dan sudah sepatutnya aku memberikan untuk kemajuan dan perkembangan runecraft."
"Ooohhhh....!!!!."
Mereka semua menatap Ares dengan mata kagum dan terharu. Pedang yang baru saja Ares berikan merupakan sebuah mahakarya dari runesmith legendaris, dan Ares baru saja memberikannya secara cuma-cuma untuk kemajuan dan perkembangan runecraft.
Betapa rendah hati dan baik hatinya dirinya!!
"Kalau begitu semua persiapan aku akan serahkan pada sekertarisku. Damon apa kau bisa mengurus semuanya?."
"Ya bisa, Tuan. Anda bisa menyerahkan semua pada saya."
"Baiklah kalau begitu sisanya kalian bisa bicarakan pada Damon. Aku harus undur diri karena tidak lama waktuku untuk mengecek kesehatan Yang Mulia."Ares memberikan hormat sebelum pergi dari sana bersama bawahannya yang lain.
Tapi ketika dia berjalan menjauh dari sana sebuah suara serentak menghentikan langkahnya.
"Terimakasih Tuan Ares karena sudah memberikan kami kesempatan untuk bangkit dari semua keterpurukan ini!! Terimakasih Tuan!!."
Mereka memberikan penghormatan tertinggi pada Ares dan berterimakasih padanya dari lubuk hati yang paling dalam.
Ares memberikan mereka kesempatan dan mereka akan memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya agar tidak mengecewakan Ares.
Ares tertegun dan alisnya terangkat. Tidak lama kemudian dia tersenyum lembut dan mengangguk ramah sebelum pergi dari sana.
Mereka hanya bisa menatap punggung dari sosok yang penyelamat mereka yang memberikan kesempatan bagi mereka dan seluruh bangsanya untuk bangkit dari segala keterpurukan dan penghinaan yang ada.
Damon berdehem untuk memecahkan keheningan yang menyelimuti.
"Kalau begitu bisa kita diskusikan semuanya sekarang?."
"Ah ya?! Aku hampir lupa, mari Tuan Damon."
Setelahnya Damon dan Amelia serta para tetua mendiskusikan semuanya lebih lanjut. Mulai dari tempat mereka semua akan tinggal, Jumlah dana yang akan diberikan dan beberapa hal penting lainnya.
Disaat yang bersamaan kesehatan Raja Fritz terus menurun dan beberapa hari setelahnya terdengar kabar jika Raja Fritz telah wafat.
__ADS_1