
Ares menghela nafas panjang sambil duduk diatas tumpukan orang-orang yang pingsan saat melawannya, mereka hampir tidak bisa bertahan 5 menit diatas arena bahkan tidak bisa menahan satu serangannya.
Lama kelamaan dia menjadikan bosan terus terusan melawan orang-orang yang bahkan tidak bisa bertahan lima menit. dengan wajah bosan dia menatap orang-orang yang naik keatas Arena dengan membawa pedang kayu ditangan mereka.
"Tidak Perlu banyak basa-basi, langsung maju saja."Ujarnya sambil merentangkan tubuhnya.
mereka semua mengangguk satu sama lain lalu menyebar dan mengelilingi Ares, pedang kayu ditangan mereka teraliri Mana dan seketika mereka menyerang secara berbarengan.
Ares mendengus lalu dengan tenang menghindari semua serangan mereka, Ares menekuk tubuhnya kesana-kemari untuk menghindari serangan mereka yang ada di segala arah.
Ares mendengus kesal lalu mengayunkan pedang kayunya seketika pedang mereka semua patah, semua orang yang menonton tersentak kaget melihat pedang kayu tersebut patah padahal sudah dikuatkan dengan mana.
mereka semua mundur perlahan dan terlihat takut pada Ares, Ares hanya tersenyum lalu berkata"Kalian lebih memiliki turun sekarang atau jadi seperti mereka."Ares menunjuk kearah orang-orang yang sebelumnya melawan dirinya, mereka semua dilarikan ketenda perawatan untuk dirawat dan kebanyakan dari mereka mengalami patah tulang.
Mereka semua bergidik ngeri lalu pergi dari sana tanpa berkata apapun, Ares menyeringai tajam lalu merentangkan tangannya"Siapa lagi yang ingin melawanku? Maju dan dapatkan hadiah yang telah ditentukan."Ujarnya sambil kesekitarnya.
Mereka semua terlihat takut untuk melawan Ares meski jumlah mereka unggul mereka bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menyentuh Ares, meski hadiahnya menggiurkan mereka lebih memilih tetap selamat dibandingkan melawan Ares.
"Aku akan maju!."Seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang dan mata merah darah berjalan dengan penuh keyakinan kearah Arena.
mereka semua terkejut melihat wanita itu, siapa yang tidak mengenal wanita ini? dia adalah salah satu dari orang-orang berbakat yang bahkan bakatnya diakui Kepala keluarga, dia adalah Amelia Earhart De Dunkenheit.
"Lihat Amelia menantang Ares."
"Wah-wah... mungkin ini akan menjadi pertarungan yang seru!!."
Orang-orang yang ada disana mulai tidak sabaran melihat pertarungan Ares dengan Amelia, mereka semua tentu tahu kemampuan dan kekuatan Amelia karena dia cukup menonjol dibandingkan orang-orang berbakat lainnya.
Amelia naik keatas Arena dan menatap Ares dengan serius lalu berkata"Bisakah kita menggunakan pedang sungguhan dalam pertandingan kali ini?."Tanya Amelia dengan yang terarah pada pedang yang dipinggulnya.
Sontak semua yang ada disana terkejut mendengar perkataan Amelia, melihat Ares menggunakan pedang kayu saja sudah cukup kuat untuk mengalahkan ratusan orang, namun Amelia terang-terangan meminta Ares menggunakan pedang sungguhan.
__ADS_1
Ares disisi lain hanya bisa mengangkat satu alisnya mendengar pertanyaan Amelia"Kau bisa terluka loh, apa tidak masalah?."Ujarnya meyakinkan.
Amelia mengangguk yakin"Tidak masalah! dan tolong jangan menahan diri saat melawan saya."Ujarnya lalu menarik pedangnya dan mengarahkan pada Ares.
Ares mengangkat kedua bahunya lalu ikut menarik pedangnya, Mereka berdua memasang kuda-kuda dan tanpa aba-aba Amelia langsung menyerang Ares.
Ares menanggapi serangan itu dengan santai, dia memiringkan kepalanya dan serangan itu meleset namun tidak cukup sampai disitu, Amelia dengan jurus-jurusnya menyerang Ares tanpa memberikan Ares jeda untuk beristirahat.
"Dia mencoba menyudutkanmu dengan cara menyerangmu dengan cepat, dia mungkin berencana untuk membuatmu ketakutan melihat karena serangan-serangan cepat itu. namun tidak mungkinkan kau ketakutan hanya karena serangan dengan kecepatan segini?."Long Yuan menyeringai tajam sambil melihat Ares.
Ares hanya tertawa kecil mendengar perkataan Long Yuan, meski dia datang mendadak perkataan Long Yuan cukup membuatnya terhibur.
Disisi lain Amelia mengerutkan keningnya melihat Ares yang tertawa saat dia menyerangnya.
'Dia meremehkanku? sial! beraninya kau meremehkanku!!!.'
Serangan-serangan Amelia menjadi lebih cepat, tapi tidak satupun dari Serangan-serangannya yang mampu melukai Ares bahkan menyentuhnya saja tidak bisa. Amelia menggertak giginya lalu mundur beberapa langkah dan kembali memasang kuda-kuda.
Namun pedangnya berbenturan dengan pedang Ares yang membuat jurusnya gagal digunakan, dia kesal dan mencoba mendorong Ares mundur tapi Suatu hal yang tidak terduga terjadi, Ares bahkan sama sekali tidak bergerak dari tempatnya bahkan dia sama sekali tidak terlihat kelelahan sejak awal pertarungan, dan lagi Amelia sekarang seperti merasa mendorong sebuah gunung besar.
Dia melihat tatapan mata Ares dan seketika bulu kuduknya berdiri yang membuatnya melompat mundur tanpa sadar, barusan Ares terlihat seperti orang yang menyeramkan sampai membuatnya terkejut.
"Apa itu barusan? apa dia menggunakan suatu skill yang membuat terlihat menakutkan selama beberapa saat atau apa?."Gumamnya kebingungan. Amelia menatap Ares penuh selidik dan mencari kelemahan-kelemahan Ares.
Namun dimatanya Ares sama sekali tidak memiliki celah bahkan kuda-kudanya tanpa celah, dia hari ini merasa melawan orang yang memiliki pengalaman melampaui ayahnya, namun ia menyingkirkan pikiran tidak penting itu lalu fokus untuk menyerang Ares.
Dia memasang kuda-kuda dan memfokuskan seluruh Indranya pada Ares dan mengalirkan lebih banyak Mana kedalam pedangnya, Dari pedang hitam Ares muncul Aura yang menyelimuti pedang itu.
Amelia tidak kaget karena dia pernah melihat orang lain memakai Aura sebelumnya, tapi entah kenapa rasanya Aura milik Ares terasa jauh lebih berbahaya dibandingkan Aura lain yang pernah dirinya lihat.
Amelia mengokohkan kuda-kudanya lalu melesat dan berkata"Dunkenheit Sword Art : The Edge of Death's Sword!!!."Dia mengayunkan pedangnya dengan cepat kearah Ares dan untuk sepersekian detik dia melihat Ares menyeringai.
__ADS_1
"Vertikal Slash."Ares mengayunkan pedangnya dengan santai dan serangannya beradu dengan serangan Amelia, yang menyebabkan Tabrakan antara Aura dan Mana yang mereka pakai.
Untuk beberapa saat Amelia berhasil menahan pedang Ares, namun beberapa saat kemudian dia terdorong hingga terpental keluar arena dibarengi dengan suara ledakan, Amelia terpental kesalah satu kerumunan orang yang membuat kerumunan orang itu mau tidak mau menangkap Amelia hingga mereka sendiri terdorong mundur.
"Nona! Nona Amelia! bangunlah Nona!!!."Orang yang menangkap Amelia mencoba membangunkannya, namun Amelia tidak sadarkan diri dengan dan pedang yang ada ditangannya perlahan-lahan retak hingga hancur berkeping-keping.
Semua yang ada disana terdiam membisu melihat pemandangan yang baru saja mereka saksikan, mereka baru pertama kali melihat Amelia dikalahkan secara telak seperti ini. bahkan orang-orang jenius yang sama seperti Amelia tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Ares melihat pedangnya lalu mengusap tempat dimana pedang mereka bertubrukan"Hebat juga."Gumamnya sambil mengusap pedangnya, dia menyarungkan pedangnya lalu berjalan kearah Amelia yang terkapar.
Tapi ketika dia mendekat kerumunan Ksatria menghentikan langkahnya.
"Tuan Muda Ares tolong akhir pertandingan ini! Nona Amelia sudah tidak sadarkan diri. dia sudah kalah."Ujar mereka dengan berat hati, mereka adalah Ksatria penjaga Amelia.
Ares memiringkan kepalanya lalu menyadari apa yang terjadi lalu mengambil sebuah pedang dan sebuah cincin dari Storage Boxnya lalu memberikan pada Ksatria didepannya.
"Kedua benda ini adalah item Rank Legendary, kedua benda ini memiliki nama Virtuous Windstorm Sword dan Tears of Sorrow. berikan kedua benda ini ketika dia sudah sadar nanti."Ujarnya sambil melirik Amelia.
Ksatria itu kaget dan menundukkan kepalanya"Tapikan Nona Amelia sudah kalah, kenapa dia masih mendapatkan kedua benda ini?."Tanya Ksatria itu dengan heran.
Ares mendengus lalu berkata"Dia memang kalah tapi, tapi disatu sisi dia menang."Ujar Ares lalu pergi dari sana.
Semua orang yang ada disana tercengang dengan ucapan Ares, mereka tidak mengerti maksud dari perkataan Ares dan hanya bisa bertanya-tanya didalam hati.
Disisi lain Ares hanya bisa tersenyum dan Long Yuan yang ada disampingnya berkata"Hebat juga dia bisa bertahan tadi, dia bahkan sempat memberikan serangan sebelum dia benar-benar terpental."Ujar Long Yuan.
Sebelumnya Ares juga sempat kaget karena pada saat Amelia terpental barusan, dia sempat mendaratkan serangan padanya meski serangan itu berhasil ditangkis, itu tetap membuatnya kaget karena dia hanya memiliki waktu sepersekian detik sebelum terlempar kebelakang.
Ares mengepal-mengepalkan tangannya lalu tersenyum"Bocah yang menarik."Gumamnya laku berjalan kembali ketendanya.
Jeremy yang melihat pertandingan Ares dari awal sampai akhir dibuat kesal dan marah, awalnya dia ingin mempermalukan Ares dengan cara mengalahkan didepannya umum namun keduluan sama Amelia. ditambah lagi semua rencana yang dia buat gagal.
__ADS_1
"Sial!! jika bukan karena wanita jala** itu pasti ares sudah kalah ditanganku! tapi aku heran kenapa dia bisa kalah? aku tahu dia memang sedikit lebih lemah dariku tapi tidak mungkin dia kalah semudah itu. ini pasti karena Item yang dia pakai makanya Amelia bisa kalah!! sial!! harusnya aku menyadarinya dari tadi, tapi itt tidak apa karena mau bagaimanpun Ares akan tetap kalah ditanganku! dan kursi pewaris akan kembali menjadi milikku!!."Ujar dengan senyum lebar diwajahnya.