Assassin Terhebat Terjebak Di dunia Novel Sebagai Antagonis

Assassin Terhebat Terjebak Di dunia Novel Sebagai Antagonis
160.Ujian Tomb of the Thousand Swords II


__ADS_3

"Ares, Ares bangunlah kita hampir sampai."Richard menggoyang-goyangkan tubuh Ares yang ada disampingnya, Ares sedang tertidur dengan tangan terlipat dan bersender.


Ares perlahan bangun dan mengucek-ngucek matanya"Jam berapa sekarang Kakek."Ujarnya sambil menguap.


"Sekitaran Jam 11 siang, bangunlah kita hampir sampai, jangan permalukan dirimu sendiri didepan mereka."Ujarnya sambil melihat keluar jendela.


Ares hanya mengangguk pelan lalu melihat keluar, dia menemukan hamparan rerumputan panjang yang terlihat seperti diusur karena terlihat rapih.


"Tempat ini seharusnya dipenuhi oleh salju yang menggunung, tapi karena kau sepertinya saljunya mencair digantikan dengan Padang rumput."Ujarnya sambil mendengus senang.


Richard tentu mengingat tempat ini karena ini cukup sering kesini, tempat ini harusnya adalah hamparan Padang salju dengan salju yang menggunung diseluruh tempat namun karena Utara telah kembali ke keadaan normalnya, membuat salju-salju itu mencair digantikan oleh padang rumput sejauh mata memandang.


Ares hanya mengerutkan keningnya melihat Padang rumput yang sangat luas ini, bukan karena kagum tapi kaget melihat barisan Formasi cukup besar disegala tempat dengan satu Susunan Formasi Raksasa yang ada ditengahnya. Entah seberapa kuat Susunan formasi-formasi ini tapi Ares bisa memastikan itu sangat berbahaya karena semuanya memiliki tingkat tinggi.


Bukan hanya susunan Formasi terdapat banyak Jebakan Sihir disini yang kebanyakan bertipe Defensif serta terdapat Jebakan Sihir bertipe Attack yanvada diseluruh tempat. Kombinasi susunan Formasi serta jebakan-jebakan sihir membuat tempat ini hampir tidak tertembus.


"Ugh.. aku tidak bisa membayangkan jika kita jatuh saat ini."Ujarnya sambil bergidik ngeri. Richard dan Catherine hanya tertawa pelan mendengar perkataannya.


Kereta sihir mereka melesat dengan cepat lalu mereka seperti menembus suatu Barrier tidak kasat mata, Ares bisa merasakan ia baru saja melewati Barrier barusan.


Pemandangan Padang rumput luas digantikan dengan pemandangan Tenda-tenda besar dan mewah yang berada didalam Barrier, dengan bendera keluarganya yang berkibar dimasing-masing tenda dan banyak kereta sihir yang ditaruh agak berjauhan dari tenda-tenda itu.


"Semuanya bersiaplah, kita sudah sampai."Ujar Gerald sambil sedikit merapihkan Bahunya. Catherine bangkit dari kursinya lalu kearah Aisyah dan Max lalu menggendongnya lalu memberikan kepada Ares.


"Kau akan keluar belakang saja bersama dengan Lissa dan muridmu itu."Ujar Catherine sambil melihat keluar.


Ares mengangguk setuju lalu mempersilahkan Gerald, Richard dan Catherine keluar terlebih dahulu, terdapat suara sorakan ketika mereka keluar dari kereta sihir setelah itu namannya dipanggil.


"Ayo semuanya kita turun."Ujarnya dengan tegas, Lissa dan Irine mengangguk penuh keyakinan lalu mengikuti Ares dari belakang.


*****************************


Ares duduk didalam tendanya sambil melihat kedua anaknya yang tertidur pulas ditempat tidur, dia sesekali mengusap kepala atau pipi mereka karena gemas.

__ADS_1


"Kedua anak ini selalu tidur ya? apa semua anak-anak seusia mereka memiliki waktu tidur sepanjang ini?."Ujarnya sambil mengusap kepala lembut kepala mereka.


Ares melihat kearah luar, dia mendengar suara keramaian dari luar yang mana Anggota keluarga cabang sedang berlalu lalang mempererat hubungan sesama saudara.


sebelumnya Gerald, Richard dan Catherine sudah lebih dulu pergi keluar sementara ia masuk kedalam tenda karena diluar terlalu berisik, ia takut bayinya akan terbangun karena suara berisik dari mereka jadinya dia masuk kedalam tenda yang sudah dipersiapkan.


Ares sebelumnya sudah merasakan banyak sekali tatapan mata yang terarah padanya, terutama pada kedua anaknya. Tatapan mata penuh tanda tanya, kebingungan dan keheranan melihat Ares membawa dua orang anak.


dari situ terdapat beberapa orang yang secara terangan memberikan tatapan permusuhan padanya, Ares tidak terlalu mempermasalahkan tatapan mereka karena dia bisa dengan mudah membunuh mereka, tapi akan cukup merepotkan menghadapi orang-orang dibelakang mereka. makanya waktu itu dia hanya memberikan Aura Intimidasi pada mereka.


"huuffffffff... jujur saja aku benci disini, jika bukan karena ayah aku sudah pergi dari sana. tapi entah kenapa terdapat sesuatu yang memanggilku sejak tadi, aku penasaran apa itu."


Ares memang beberapa kali seperti merasa dirinya dipanggil sesuatu namun dia tidak menemukan siapa itu, ini beberapa kali terjadi sampai dia menyadari dia tertarik kepada sesuatu yang ada didalam makam. entah apa itu tapi dia hampir tidak memiliki firasat apapun tentang hal ini.


seorang ksatria masuk kedalam memberi hormat lalu berkata"Tuan Muda, Anda diundang oleh beberapa anggota keluarga cabang untuk berlatih memanah ditempat latihan. mereka berharap anda bisa hadir disana."Ujarnya sambil memberikan hormat.


Ares mengusap dagunya"Baiklah aku akan kesana nanti."Ujar Ares lalu membalikkan badannya, Ksatria itu mengangguk dan memberi hormat lalu pergi dari sana.


Ares bisa langsung mengetahui hal tersebut dari wajah Ksatria tadi, Ksatria tadi terlihat menyeringai saat dia menyetujui undangan tadi yang berarti mereka memang memiliki niat tersembunyi.


"Lupakan hal itu, ini kan jauh lebih menarik dari yang kukira."Ares menyeringai tajam sambil meminum Air.


"Zeta, Epsilon."


"Ya Tuan!."Mereka berdua muncul entah darimana.


"Jaga kedua anakku jangan biarkan mereka tergores sedikitpun, jika terdapat orang menyerang anak-anakku pastikan kalian memotong tangan serta kaki mereka terlebih lalu interogasi, korek semua informasi dengan cara apapun bahkan aku tidak mempermasalahkan jika Ego mereka rusak sekalipun."Ujarnya dingin dan serius.


Zeta dan Epsilon baru pertama kali melihat Tuan mereka seserius ini, ini berarti mereka tidak bisa main-main dalam melaksanakan tugas ini atau keberadaan mereka akan menghilang dari dunia ini.


"Baik Tuan, kami akan pastikan Tuan Muda dan Nona Muda aman dari apapun."Ucap mereka berdua berbarengan, Ares mengangguk puas"Baiklah kalau, aku akan pergi selama beberapa saat pastikan kalian jaga mereka dengan benar."Ujar Ares sambil melangkahkan kakinya keluar.


Zeta dan Epsilon tiba-tiba menghilang dari sana seakan-akan mereka tidak pernah ada disana. Ares melirik kebelakang"Andromeda jaga kedua anakku selagi aku pergi."Ujar sambil berjalan.

__ADS_1


"Baik Tuan, seperti yang anda katakan."Andromeda keluar dari bayangan dan masuk kedalam Tenda.


Ares melihat sekelilingnya, hanya terdapat para ksatria disini karena ini area khusus yang hanya bisa dimasuki keluarga Utama atau tamu-tamu khusus saja.


Ares memanggil salah satu Ksatria.


"Ya Tuan Muda ada yang bisa saya bantu."Ujar Ksatria itu sambil memberikan hormat.


"Dimana Lissa dan Irine? apa mereka berdua ada didalam Tenda?."


Ksatria itu menggelengkan kepala"Nona Irine dan Nona Lissa saat ini ada sedang bersama Nyonya Besar. sebelumnya Nyonya Besar mengajak mereka untuk jalan-jalan sebentar."Tuturnya sambil melirik Ares.


Ares mengusap dagunya mendengar perkataan Ksatria itu, jarang sekali neneknya jalan-jalan karena neneknya orang yang akan orang yang tidak terlalu suka keramaian sama sepertinya. tapi melihat mereka berdua ada bersama neneknya membuatnya bernafas lega.


"Emm... bagus, kalau begitu bisa kau antara aku ketempat latihan?."


"Bisa Tuan Muda, Tolong ikuti saya."Ujarnya lalu berjalan pelan didepan Ares.


Ares mengikuti Ksatria itu dengan santai lalu mengerutkan keningnya merasakan banyak tatapan yang mengarah padanya. Itu berasal dari Anak-anak yang dibawa untuk ikut kedalam Ujian.


Ares bisa merasakan rata-rata dari mereka memiliki 3 Star Circle dengan Level 200 kebawah, mereka menatap Ares dengan aneh seakan-akan Ares adalah musuh bebuyutan mereka.


Ares mendengus senang"Ini akan lebih menarik dari yang kukira."Gumamnya sambil berjalan.


**********************


Disuatu tempat yang jauh dari Tempat perkemahan. terdapat seorang pria berambut panjang dengan senyum misterius diwajahnya dan terdapat taring dimulutnya, kaki serta tangannya dibelenggu rantai merah dan lehernya juga ikut dirantai.


Dia mengendus-endus seketika senyum diwajahnya hilang digantikan Ekspresi kaget dan tercengang "Aahhh... Aroma ini! aroma ini harusnya milik dia seorang!!! kenapa terdapat orang yang memiliki Aroma darah sana persis seperti miliknya!? apa jangan-jangan keturunan dari orang itu?! tidak!! itu tidak mungkin... aku bisa merasakan banyak sekali orang yang memiliki aroma sama sepertinya namun tidak ada yang pernah sama persis seperti ini, ini berarti perkataan orang yang mengunjungiku waktu itu memang benar."Senyum misterius diwajahnya kembali dan mata merah darah menyala.


"Ya perkataan orang waktu itu memang benar, pemilik asli aroma ini mungkin yang akan menjadi Masterku."Ujarnya dengan senyum misterius yang semakin melebar yang membuat terlihat semakin menakutkan.


"Akhirnya selama ribuan tahun aku bisa menghirup udara segar lagi dan lagi, aku bisa merasakan Aroma dia lagi Ahhh.... sungguh membuatku merasa amat senang."

__ADS_1


__ADS_2